Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. TAMAN TAWANAN
Lantunan musik klasik beralun lembut di sudut ruang santai tempat Aira menghabiskan sorenya. Dengan secangkir teh chamomile hangat di jemari, ia menikmati setiap detik ketenangan yang terasa sangat mahal di kehidupan lalu. Namun, kedamaian itu pecah seketika saat getaran nyaring ponselnya menghentak meja kaca.
Nama sang ayah tertera di layar. Baru saja Aira mendekatkan ponsel ke telinganya, suara bentakan bernada tinggi langsung memekakkan gendang telinga, beradu riuh dengan suara isak tangis dramatis Rani yang melengking di seberang sana.
"Aira! Pulang kamu sekarang juga! Dasar anak tidak tahu diri!"
Tanpa rasa panik sedikit pun, Aira mematikan sambungan telepon. Ia mengusap sudut bibirnya, mengulas senyum tipis yang sarat akan cemoohan, lalu melangkah tenang menuju kediamannya. Game ini baru saja dimulai.
Begitu pintu jati rumah utama terdorong terbuka, atmosfer dingin yang mencekam langsung menyambut kedatangan Aira.
Ruang tamu besar itu kini sesak oleh dua keluarga. Di sudut sofa, Rani tengah terisak histeris dalam pelukan Azka, sementara Tante Sofi sibuk mengusap punggung anaknya dengan raut wajah penuh derita yang dibuat-buat. Di sisi lain, Tante Mia dan Sinta duduk dengan melipat tangan, menatap Aira seolah-olah wanita itu adalah seorang kriminal kelas berat.
Belum sempat Aira melangkah dua pijakan, sang ayah yang berdiri di tengah ruangan langsung menerjang maju.
PLAKKK!
Tamparan dahsyat mendarat telak di pipi kiri Aira. Ayahnya mengayunkan tangan dengan seluruh tenaga, hingga kepala Aira terlempar ke samping dan sudut bibirnya robek, meneteskan darah segar yang amis di atas kulit mulusnya.
Ruangan hening seketika. Rani mengeratkan pelukannya pada Azka, menyembunyikan senyum puas di dada pria itu.
Aira mengusap jejak darah hangat di bibirnya menggunakan punggung tangan. Rasa sakit fisik ini... sungguh tidak ada apa-apanya dibanding memori jemari yang diremukkan oleh tumit stiletto atau siksaan dingin di gudang pengap di masa lalunya. Bukannya meringis atau menangis histeris meminta belas kasihan seperti Aira yang dulu, Aira justru mendongak.
Sebuah tawa renyah, dingin, dan tanpa beban meledak dari tenggorokannya. Tawa yang bergema nyaring, membuat semua orang di ruangan itu menatapnya dengan raut kaget dan bingung.
Ayahnya mengepalkan tangan erat-erat, dadanya naik-turun menahan emosi yang kian meluap melihat respons Aira yang di luar dugaan. "Kamu... kenapa malah tertawa, Aira?! Otakmu sudah tidak waras, ya?!"
"Kenapa?" Aira menghentikan tawanya perlahan, menatap ayahnya lurus-lurus tanpa berkedip. "Memangnya salah kalau saya tertawa melihat sandiwara murahan di rumah ini?"
"Kurang ajar!" bentak ayahnya dengan suara menekan yang berat. "Kamu sudah menampar adikmu di rumah orang lain, mempermalukan nama keluarga di depan Tante Mia dan Sinta, dan sekarang kamu malah berlagak tidak punya salah sedikit pun?! Mana rasa bersalahmu?! Cepat minta maaf pada Rani dan keluarga Gunawan sekarang!"
Tante Sofi menyusul maju dengan langkah gontai, memasang raut wajah melankolis lengkap dengan air mata buaya yang menetes membasahi pipinya.
"Aira... Ibu benar-benar tidak tahu kenapa kamu begitu membenci Rani? Kalau kamu memang menyimpan rasa benci pada Ibu, cukup tumpahkan semuanya pada Ibu saja, Nak... Jangan siksa Rani. Dia adikmu..."
Aira menatap wanita tua itu dari atas ke bawah dengan pandangan yang mampu membekukan darah di pembuluh nadi.
"Ooh... tidak, Tante Sofi," ujar Aira dengan nada bicara yang begitu tenang namun menyengat. "Aku sama sekali tidak membenci kalian. Hanya saja... aku merasa sangat jijik jika harus memberikan wajah dan rasa hormatku pada keluarga gundik."
"KAUUU!" Ayah Aira berteriak geram, mukanya merah padam sampai urat lehernya menonjol.
"Tutup mulutmu! Dia itu ibumu juga!"
"STOP!" potong Aira tajam dengan intonasi memotong yang dingin bagaikan belati. Matanya menghujam lurus ke arah ayahnya.
"Jangan pernah paksa saya memanggil wanita ini 'Ibu'. Saya tidak akan pernah sudi memanggil ibu pada seorang gundik murahan yang merusak rumah tangga almarhumah ibu kandung saya!"
Kalimat brutal itu membuat suasana ruangan meledak. Tante Mia dan Sinta terperanjat dari duduk mereka, sementara Tante Sofi menangis makin jadi.
Sang ayah yang kehilangan kendali emosi kembali mengangkat tangannya tinggi-tinggi di udara, siap mendaratkan tamparan kedua untuk membungkam mulut anak sulungnya.
Namun, Aira tidak melangkah mundur satu senti pun. Dengan kesadaran penuh dan pandangan mata yang berkilat tantangan yang mengerikan, Aira justru memajukan wajahnya ke depan.
"Tampar lagi, Ayah," tantang Aira dengan suara berbisik yang amat pekat akan intimidasi. "Ayo tampar lagi! Kenapa berhenti? Kenapa tidak jadi?"
Tangan ayahnya membeku di udara, gemetar hebat menahan amarah bercampur rasa gentar yang mendadak menyerang dadanya. Ia belum pernah melihat sorot mata Aira yang seperti ini—sorot mata seseorang yang tidak lagi memiliki rasa takut akan kematian.
Melihat ayahnya yang mematung, Aira merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia tegakkan tubuhnya kembali, menatap seisi ruangan dengan senyum cemooh yang paling menghina.
"Sudahlah. Aku lelah meladeni drama murahan dan tidak bermutu ini. Aku mau istirahat," cetus Aira santai sambil membalikkan badan.
"Aira! Aira, tidak sopan sekali kamu!" jerit Tante Mia yang ikut terpancing emosi. "Kamu mau kabur begitu saja setelah berbuat kekacauan?!"
Aira melangkah menuju tangga tanpa memedulikan teriakan histeris Rani, amukan ayahnya, maupun makian dari Tante Mia dan Sinta yang bersahut-sahutan di belakangnya. Ia menaiki anak tangga satu per satu dengan anggun, menyisakan kekacauan total di lantai bawah yang tak lagi mampu menyentuhnya.