NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Motor sport hitam milik Bang Edward melaju membelah jalanan aspal pinggir kota yang mulai basah oleh guyuran gerimis senja. Angin malam yang berembus dari arah depan terasa begitu menusuk, membawa hawa dingin yang perlahan menembus jaket katun tipis yang dikenakan Aurel. Di sepanjang jalur, pendar lampu jalanan memantulkan cahaya keemasan yang temaram di atas permukaan aspal.

Aurel yang duduk di jok belakang mulai merapatkan giginya yang gemetar menahan dingin. Tangannya yang memegang behel belakang motor terasa kaku dan mati rasa.

Menyadari bahu gadis di belakangnya tampak bergetar, Bang Edward perlahan memperlambat laju motornya. Di depan sebuah lampu merah yang sepi, senior itu menoleh sedikit ke belakang.

"Rel, lo kedinginan banget, ya?" tanya Bang Edward dengan nada suara yang melembut drastis—sebuah perhatian manis yang seketika membuat dada Aurel berdesir hangat.

"E-eh... iya, Bang. Anginnya kencang banget," sahut Aurel terbata-bata karena menahan gigil.

Tanpa banyak bicara, Bang Edward meraih kedua pergelangan tangan Aurel yang kaku dari belakang, lalu menariknya dengan lembut ke arah depan. "Nih, pegangan yang bener. Taruh tangan lo di saku jaket kulit gue biar anget. Kalau lo kedinginan, peluk aja nggak apa-apa. Anggap aja gue ini bantal penghangat portabel lo malam ini."

Mendengar kalimat spontan nan penuh perhatian dari cowok yang dicintainya itu, jantung Aurel seketika melompat dari ritme normalnya. Rasa deg-degan yang luar biasa kembali bergemuruh hebat di dalam dadanya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Aurel memberanikan diri untuk memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit tebal Bang Edward, lalu perlahan melingkarkan lengannya, memeluk pinggang tegap abangnya itu dari belakang.

Aurel menyandarkan pelipisnya pada punggung kokoh Bang Edward. Aroma maskulin khas bercampur wangi jaket kulit yang familier langsung menyeruak, mengalirkan rasa aman dan kehangatan yang instan ke seluruh tubuhnya. Di atas motor yang kembali melaju membelah rintik gerimis, Aurel memejamkan matanya erat-erat dengan senyuman tulus yang terpatri di bibirnya.

Perlakuan manis dari Bang Edward sepanjang jalan—mulai dari cara cowok itu sengaja memosisikan badannya lebih tegap demi menghalau terpaan angin malam dari depan, hingga sesekali menepuk pelan punggung tangan Aurel yang melingkar di pinggangnya—benar-benar membuat hati Aurel terombang-ambing dalam kebahagiaan yang semu.

Di balik kehangatan dekapan malam itu, ada rasa getir yang kembali mencuat di sudut hatinya. Aurel sadar sepenuhnya, pelukan erat ini dan segala perhatian manis yang ia rasakan saat ini murni karena Bang Edward menjaganya sebagai seorang "Adik Kecil" yang paling disayangi. Tidak ada ruang asmara untuknya. Namun, di bawah langit senja yang basah ini, Aurel memilih untuk egois sejenak; membiarkan dirinya hanyut dalam debaran cinta sepihaknya yang indah, mendekap erat sosok rumah yang tidak akan pernah bisa ia miliki seutuhnya.

Dua puluh menit membelah sisa gerimis, motor sport hitam milik Bang Edward akhirnya berbelok lambat dan berhenti tepat di depan pagar gerbang putih kediaman keluarga Aurel. Suara deru mesin motor yang menderu halus di keheningan senja itu seketika memicu pergerakan dari dalam rumah.

Belum sempat Aurel menurunkan kakinya dari jok belakang dan melepaskan pelukan eratnya di pinggang Bang Edward, pintu utama rumah sudah terbuka dengan sentakan lebar. Sosok pria paruh baya bertubuh tegap—Daddy Wira—melangkah keluar ke teras dengan langkah yang tergesa-gesa. Raut wajahnya dipenuhi oleh kecemasan yang teramat sangat, sepasang matanya langsung mengunci target pada putri kesayangannya.

"Astaga, Aurel! Putri kesayangan Daddy!" seru Daddy Wira lantang, langsung berlari kecil menghampiri pagar tanpa memedulikan rintik gerimis yang masih tersisa membasahi kemejanya. "Daddy dari tadi cemas setengah mati nungguin kamu, Sayang. Di luar mendung tebal, jalanan pinggir kota kan rawan macet kalau habis hujan. Kamu nggak apa-apa? Nggak sakit, kan?"

Aurel perlahan turun dari motor, melepaskan helm putih cadangannya sembari mengulas senyum ceria yang paling tulus untuk menenangkan sang ayah. "Aurel nggak apa-apa kok, Dad. Aman sehat sentosa. Maaf ya bikin Daddy cemas."

Daddy Wira mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa lega, seolah beban berat di pundaknya baru saja diangkat. Ia membuka pagar gerbang, lalu pandangannya beralih menatap lekat-lekat pada sosok cowok kekar berjaket kulit hitam yang sedang turun dari atas motor sport-nya.

Kening Daddy Wira seketika berkerut heran, radar protektif ayahnya kembali terusik. "Lho, Edward? Kok malah kamu yang anterin Aurel pulang naik motor malam-malam begini? Bukannya tadi pagi putri Daddy pamitnya berangkat bareng si maba denim yang namanya Reyhan itu?"

Bang Edward yang baru saja melepas helm fullface-nya langsung menyengir kuda, melangkah maju untuk menyalami tangan sahabat ayahnya itu dengan takzim. "Selamat malam, Daddy Wira. Iya, tadi emang Aurel berangkatnya bareng Reyhan buat sidak lapangan. Tapi karena lokasinya jauh di kawasan industri hilir dan langitnya mendadak badai gerimis, radar intel siaga satu Edward langsung bunyi, Dad. Jadi langsung Edward susul ke pinggir kota buat Edward amankan bawa pulang."

Mendengar penjelasan dari Bang Edward, Daddy Wira langsung terkekeh renyah dan menepuk-nepuk pundak anak sahabatnya itu dengan penuh rasa bangga. "Hahaha, oalah, Edward, Edward... totalitas bener kamu jagain Aurel dari zaman bocah sampai udah kuliah begini. Ya sudah, makasih banyak ya sudah jemput dan anterin adik kamu ini dengan selamat."

"Sama-sama, Dad. Udah kewajiban Edward buat mastiin Bocil ini aman sampai rumah," sahut Bang Edward santai, lalu menjangkau kepala Aurel dan mengacak-acak rambut gadis itu dengan gemas—sebuah gerakan manis dan familier yang seketika kembali memicu debaran kencang dan rasa deg-degan yang hebat di dalam dada Aurel.

Aurel hanya bisa menunduk dalam-dalam dengan wajah yang memerah padam demi menyembunyikan debaran jantungnya yang gila-gilaan dari pandangan sang ayah. Di bawah pendar lampu taman yang temaram malam itu, rasa bahagia yang manis sekaligus getir yang mendalam kembali bergejolak di hulu hati Aurel. Di hadapan perhatian tulus Daddy Wira dan perlindungan posesif dari Bang Edward, Aurel sadar sepenuhnya bahwa labirin buntu hatinya tidak pernah bergeser barang satu senti pun. Ia memang tidak akan pernah memiliki hati Bang Edward sebagai seorang wanita, namun malam ini, didekap oleh kehangatan rumah dan kasih sayang dua lelaki yang paling menjaganya, Aurel memilih untuk menyimpan rahasia getir itu rapat-rapat dalam lembaran hidupnya.

Begitu pintu kamarnya ditutup rapat dan dikunci, Aurel langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang empuk. Ia berguling ke tengah kasur, lalu memeluk bantal gulingnya erat-erat dengan wajah yang langsung ditenggelamkan ke dalam kain katun yang lembut.

Aurel tidak bisa menahan dirinya lagi. Di dalam keheningan kamarnya yang sunyi, senyum cerianya langsung merekah lebar. Ia mulai senyam-senyum sendiri mengingat setiap detail kejadian manis yang dialaminya bersama Bang Edward di atas motor sport hitam tadi sepanjang jalan pulang.

Ingatannya berputar kembali pada momen mendebarkan saat jemari tangannya ditarik lembut oleh Bang Edward untuk dimasukkan ke dalam saku jaket kulitnya. Rasa hangat dari dekapan punggung kokoh senior itu, aroma maskulin yang familier, hingga usapan gemas di kepalanya saat di depan pagar tadi—semua itu terasa begitu nyata dan masih menyisakan getaran hebat yang membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan.

Gue seneng banget, Bang... batin Aurel dengan pipi yang memerah padam menahan salah tingkah gila-gilaan, meskipun ia hanya sendirian di dalam kamar.

Rasa sesak, cemburu, dan luka getir akibat melihat kemesraan Bang Edward bersama Kak Anita di kafe rooftop kemarin, mendadak terkikis habis dan terlupakan malam ini. Bagi Aurel, tidak peduli seberapa kokoh batas tak kasatmata yang dipasang Bang Edward untuknya sebagai seorang adik, perhatian spontan dan perlindungan penuh dari cowok itu tetap menjadi kebahagiaan terbesar di hidupnya. Di bawah pendar lampu kamar yang temaram, Aurel terus memeluk gulingnya sembari menatap langit-langit dengan binar mata yang begitu hidup, memilih untuk hanyut sepenuhnya dalam dunia angan-angan cinta sepihaknya yang indah malam ini.

Tepat saat Aurel sedang asyik tersenyum sendiri menikmati debaran di dadanya, layar ponsel yang tergeletak di samping kasur tiba-tiba menyala terang, menampilkan sebuah notifikasi pesan WhatsApp baru.

Aurel buru-buru menyambar ponselnya yang tergeletak di samping kasur. Begitu ibu jarinya membuka layar kunci, matanya seketika membelalak saat mendapati nama kontak sang pengirim. Tebakannya salah. Pesan itu bukan dari Reyhan, melainkan mencuat langsung dari nama 'Bang Edward'.

Bang Edward: Bocil, lo udah tidur belum? Jangan main hp mulu ya mentang-mentang habis gue bonceng pulang.

Bang Edward: Buruan merem, tarik selimut lo. Awas ya kalau besok Senin mata lo merah gila-gilaan lagi kayak kemarin karena begadang. Gue nggak mau dituduh Om Wira lagi. Sleep tight, Dek.

Membaca untaian kalimat yang mencuat secara tiba-tiba di layar ponselnya, pertahanan dada Aurel runtuh dalam sekejap. Jantungnya bergeser ritme menjadi jauh lebih cepat, berdegup dengan sangat keras hingga dentumannya terasa bertalu-talu memenuhi rongga dadanya. Rasa salah tingkah yang luar biasa hebat bergulung bersama sensasi hangat yang menjalar sampai ke ujung kepala.

Aurel refleks memeluk ponselnya erat-erat di atas dada, lalu kembali berguling di atas kasur dengan wajah yang memerah padam sempurna.

Perhatian manis dari Bang Edward—meskipun dikemas dengan kalimat perintah yang cerewet khas cowok itu—benar-benar sukses menghempas seluruh sisa kesedihan Aurel. Di hulu hatinya yang terdalam, Aurel tahu bahwa larangan abangnya agar ia tidak begadang bermain ponsel murni karena tanggung jawab seorang kakak yang ingin menjaga adik kecilnya. Namun bagi Aurel yang terperangkap dalam lingkaran cinta sepihak ini, setiap kepedulian kecil, setiap ketikan kalimat protektif, dan setiap sapaan "Dek" di akhir pesan selalu memiliki sihir tersendiri yang sanggup menerbangkannya ke langit tertinggi.

Dengan jemari yang gemetar karena luapan rasa deg-degan yang belum juga reda, Aurel mengetikkan balasan singkat dengan senyum yang terus mengembang lebar di bibirnya.

 Aurel: Iya, Bang Edward! Ini gue udah merem kok, laptop juga udah gue matiin dari tadi. Cerewet bener deh kayak mak-mak katering! Good night juga, Abang.

Setelah menekan tombol kirim, Aurel menaruh ponselnya di meja nakas dan menarik selimut tebalnya sampai sebatas dagu. Di bawah pendar lampu kamar yang temaram malam itu, Aurel memejamkan matanya dengan damai. Labirin buntu hatinya memang belum runtuh, dan ia tahu besok di kampus ia mungkin akan kembali melihat Bang Edward menggenggam tangan Kak Anita. Namun malam ini, didekap oleh kehangatan saku jaket kulit di jalan pulang dan pesan perhatian sebelum tidur dari cowok itu, Aurel memilih untuk membiarkan hatinya terlelap dalam debaran cinta sepihaknya yang paling indah.

Matahari hari Senin pagi bersinar begitu cerah, memantulkan pendar keemasan di atas deretan kendaraan yang memadati pelataran parkir kampus. Langkah kaki Aurel berderap santai menyusuri aspal parkiran setelah ia memarkirkan motor matiknya. Di sepanjang jalan menuju gedung fakultas, ia sama sekali tidak memedulikan keriuhan mahasiswa lain yang lalu lalang.

Pikiran Aurel masih sepenuhnya tertinggal di kamar tidurnya semalam. Ingatan tentang pelukan erat di pinggang Bang Edward, aroma jaket kulitnya, hingga pesan singkat penutup malam yang menyuruhnya segera tidur, kembali berputar manis di kepalanya.

Tanpa sadar, sudut-sudut bibir Aurel melengkung lebar. Ia berjalan sembari senyam-senyum sendiri, sesekali menggigit bibir bawahnya demi menahan rasa salah tingkah dan debaran jantungnya yang mendadak kembali berpacu cepat hanya karena ingatan itu.

"Hayo! Ketahuan ya! Senyam-senyum sendiri udah kayak orang kurang waras pagi-pagi!"

Sebuah tepukan cukup keras di pundaknya seketika membuyarkan seluruh lamunan manis Aurel. Ia refleks tersentak kaget dan hampir saja menjatuhkan folder tugas di tangannya. Begitu menoleh, sosok Shirin sudah berdiri di sampingnya dengan kedua tangan bersedekap di dada, menatapnya dengan pandangan penuh selidik yang sarat akan godaan.

"Shirin! Astaga, lo hobi banget sih muncul kayak jaelangkung, bikin jantung gue mau copot tahu nggak!" gerutu Aurel dengan wajah yang dalam hitungan detik langsung berubah menjadi merah padam akibat tertangkap basah.

Shirin justru meledak dalam tawa renyah, merangkul pundak sahabatnya itu dengan gemas sembari menuntunnya berjalan menuju koridor utama. "Lagian lo aneh banget, Rel. Belum juga jam delapan, mata kuliah Pak Baskoro yang menegangkan itu sebentar lagi dimulai, tapi muka lo udah berseri-seri kayak habis menang lotre. Jujur nggak lo sama gue! Pasti ini gara-gara insiden penjemputan tak terduga dari Bang Edward di kawasan industri semalam, kan?"

"E-eh... apaan sih, Rin! Enggak kok! Gue cuma lagi inget video lucu di media sosial aja tadi pas sarapan," kilah Aurel cepat, mencoba memasang wajah datar yang sayangnya gagal total karena rona merah di pipinya tidak bisa diajak bekerja sama.

Shirin memutar bola matanya malas, sama sekali tidak percaya dengan alasan klise sahabatnya. "Halah, alasan! Nggak usah bohong sama gue deh, Rel. Gue tahu betul bedanya senyum habis nonton video lucu sama senyum seorang Aurel yang lagi kasmaran akibat dosis perhatian dari Abang Siaga Satu. Berarti semalam ada momen manis di atas motor ya sepanjang jalan pulang?"

Aurel tidak bisa membalas kata-kata Shirin. Ia hanya bisa menunduk dalam-dalam sembari menyembunyikan senyumnya yang kembali merekah di balik folder kertas tebalnya. Di tengah riuhnya area kampus pagi ini, rasa cemburu dan getir akibat cinta sepihaknya sempat terlupakan. Di balik pelukan hangat Shirin yang mendampinginya, Aurel memilih untuk menyimpan debaran gila-gilaan malam tadi rapat-rapat, siap menghadapi kelas perkuliahan hari ini dengan energi baru yang membuncah.

Langkah kaki Aurel dan Shirin akhirnya membawa mereka sampai ke koridor depan ruang kuliah Pak Baskoro. Dari kejauhan, sosok Gino sudah melambaikan tangan heboh di dekat pintu masuk. Namun, perhatian Aurel tidak tertuju pada Gino, melainkan pada sosok cowok jangkung berjaket denim yang sedang berdiri bersandarkan dinding di sebelahnya.

Reyhan ada di sana, sedang melipat kedua tangannya di dada dengan pembawaan yang tenang. Begitu menyadari kedatangan kedua gadis itu, Reyhan perlahan menegakkan punggungnya. Sepasang mata teduh miliknya langsung mengunci pandangan tepat pada wajah Aurel.

Sebagai cowok dengan intuisi yang tajam, Reyhan langsung menangkap sesuatu yang berbeda. Pagi ini, rona wajah Aurel tampak begitu cerah. Ada binar kebahagiaan yang sangat nyata dan tak bisa disembunyikan di manik matanya. Sisa-sisa senyum manis yang sejak di parkiran tadi menghiasi bibir Aurel masih membekas jelas, memancarkan aura seorang gadis yang hatinya baru saja dihujani oleh perhatian dari orang yang paling dicintainya.

Reyhan tahu betul, ekspresi sebahagia itu hanya bisa terbit di wajah Aurel karena satu nama: Bang Edward. Insiden penjemputan di germis kawasan industri semalam jelas telah menumbuhkan kembali harapan-harapan indah di hati gadis itu.

Melihat pemandangan tersebut, dada Reyhan seketika terasa berdesir perih. Sebuah denyut halus yang hampa mendadak merayap di hatinya, terasa dingin dan mengiris pelan. Namun, cowok denim itu tidak memalingkan wajah. Ia memilih untuk tetap menatap Aurel dengan tatapan mata yang luar biasa tenang dan lempeng.

Reyhan menarik napas panjang secara perlahan, mengembuskannya lambat demi menata gejolak di dalam dadanya. Ia hanya bisa bersabar.

Reyhan sadar sepenuhnya akan batasan posisi dirinya sekarang. Sejak ia mendengar pengakuan jujur Aurel di kafe rooftop tempo hari, ia sudah memantapkan hati untuk tidak memaksakan egonya. Ia paham bahwa mencintai Aurel berarti ia juga harus berlapang dada menerima kenyataan bahwa hati gadis itu masih sepenuhnya terkunci di dalam labirin masa lalu bersama Bang Edward. Baginya, melihat senyum ceria Aurel telah kembali hari ini—walaupun bukan karena dirinya—sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa lega. Kesabarannya adalah bentuk perlindungan sunyi terjujur yang bisa ia berikan saat ini.

Reyhan mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat teduh, menyapa Aurel dengan nada suara beratnya yang stabil dan biasa saja seperti seorang sahabat kelompok yang suportif. "Pagi, Partner. Ceria bener mukanya hari ini. Berarti draf kesimpulan laporan bab tiga yang lo bawa udah aman terkendali, kan?"

Aurel tersentak pelan, rona merah di pipinya mendadak kembali mencuat akibat salah tingkah tertangkap basah. "E-eh, pagi, Rey! Aman dong, udah fiks masuk folder semua kok!"

Gino yang melihat suasana mulai mencair langsung merangkul pundak Reyhan dengan heboh. "Nah, mantap! Kalau kelompok spek dewa udah kompak begini, fiks jam delapan ini kita siap bantai balik nilai dari Pak Baskoro!"

Di balik riuhnya candaan Gino dan Shirin yang mulai melangkah masuk ke dalam ruang kelas, Aurel berjalan mengekor di samping Reyhan. Rasa canggung yang sempat ia khawatirkan semalam terbukti tidak terjadi karena ketenangan sikap Reyhan yang luar biasa dewasa. Aurel tersenyum tipis, merasa bersyukur di tengah perjuangan cinta sepihaknya yang pelik bersama Bang Edward, sosok cowok denim di sebelahnya ini selalu memilih untuk bersabar dan tetap tinggal menjaganya sebagai pelindung terbaik.

Tepat pukul delapan pagi, jarum jam di dinding ruang kuliah seakan bergerak lebih lambat, membawa atmosfer ketegangan yang pekat. Pintu ruang kelas tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mencekam setelah Pak Baskoro duduk di kursi kebesarannya. Dosen senior berwajah kaku itu membetulkan letak kacamatanya, lalu menatap tajam ke sekeliling ruangan dengan pandangan mengintimidasi yang sangat familier.

Di atas meja kayu dosen, sebuah tumpukan map sudah tertata. Namun, Pak Baskoro tidak menyentuhnya. Ia mengetukkan bolpoinnya ke meja, menuntut perhatian mutlak dari seluruh mahasiswa baru yang menahan napas.

"Sesuai perintah saya kemarin sore, draf laporan bab tiga hasil sidak lapangan harus sudah terkumpul di meja saya tepat pukul delapan," suara berat Pak Baskoro menggema, memecah kesunyian. "Saya tidak mentoleransi keterlambatan satu detik pun. Kelompok Aurel dan Reyhan, bawa draf kalian ke depan sekarang."

Mendengar nama kelompoknya disebut pertama kali untuk menghadapi penilaian krusial ini, jantung Aurel seketika berdegup dua kali lebih cepat. Rasa gugup mendadak menyerang rongga dadanya, membuat folder tebal berwarna biru di genggamannya terasa sedikit gemetar.

Namun, sebelum rasa panik menguasai pikirannya, sosok Reyhan yang berdiri di sebelahnya langsung mengangguk tenang. Jalannya yang tegap, pembawaan lempeng, dan wajah luar biasa tenang andalannya seolah menjadi jangkar pelindung yang instan mengusir kepanikan Aurel.

Mereka berdua melangkah maju menuju depan kelas, meletakkan folder tugas di hadapan Pak Baskoro. Di barisan kursi tengah, Gino dan Shirin kompak mengepalkan tangan ke udara, memberikan kode dukungan mental terselubung untuk menanti hasil kerja keras semalam di kawasan industri hilir.

Pak Baskoro membuka folder tersebut dengan gerakan lambat yang sangat menyiksa mental. Sepasang matanya meneliti lembar demi lembar grafik komparatif statistik dan narasi kesimpulan yang tertera di sana. Selama hampir dua menit yang menegangkan, tidak ada suara lain selain desiran kertas yang dibalik. Aurel berdiri kaku, menahan napas dengan debaran jantung yang bertalu-talu keras di dadanya.

Setelah memeriksa halaman terakhir, Pak Baskoro perlahan meletakkan kacamatanya di atas meja. Gurat kaku di wajahnya perlahan melunak, digantikan oleh sebuah anggukan mantap yang sarat akan penilaian positif.

"Metodologi pengolahan data sekunder dan primer yang sangat taktis untuk tugas lapangan mendadak," ujar Pak Baskoro tegas, memecah ketegangan. "Variabel grafiknya tajam, dan pembagian narasinya seimbang. Kelompok kalian membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukan alasan untuk menghasilkan draf yang asal-asalan. Sempurna. Nilai penuh untuk bab tiga ini."

Seketika itu juga, seisi kelas langsung mengembuskan napas lega bercampur riuh tepuk tangan meriah. Gino bahkan nekat bersiul heboh dari kursinya sebelum buru-buru disenggol oleh Shirin agar diam di bawah pelototan sekilas Pak Baskoro.

Aurel berjalan kembali menuju bangku belakang dengan perasaan lega yang membuncah luar biasa di dalam dada. Rasa cemas dan ketegangan yang menguras energinya sejak pagi tadi kini menguap sepenuhnya. Saat mereka kembali duduk berdampingan, Aurel melirik ke arah Reyhan yang sedang merapikan tas ranselnya dengan senyuman tipis nan teduh yang sarat akan keikhlasan. Di tengah kebahagiaan suksesnya nilai tugas kelompok mereka hari ini, Aurel sadar, meski hatinya masih sepenuhnya milik Bang Edward, ketenangan dan kesabaran dari cowok denim di sebelahnya terbukti menjadi pelindung terbaik yang selalu siap pasang badan menjaganya di tengah badai perkuliahan.

Denting bel tanda istirahat siang akhirnya berbunyi, memecah ketegangan yang sejak pagi menggelayuti gedung fakultas. Pintu ruang kelas terbuka lebar, memuntahkan puluhan mahasiswa yang tampak lelah namun lega. Di koridor yang mulai ramai, Aurel berjalan berdampingan dengan Shirin, Gino, dan Reyhan. Wajah Aurel memancarkan binar kebahagiaan yang sangat kentara, tawa cemprengnya sesekali lepas saat ia dengan heboh menceritakan ulang ekspresi manggut-manggut Pak Baskoro tadi.

"Sumpah ya, Rel, lo kalau lagi bahagia auranya kayak lampu taman baru diganti bohlam, terang benderang!" seloroh Gino memicu tawa Shirin.

"Heh, Bocil! Senang bener muka lo, habis nemu duit segepok ya?"

Suara lantang yang sangat familier itu seketika memotong keriuhan mereka. Dari ujung koridor, Bang Edward berjalan mendekat bersama Kak Anita. Langkah kaki kating siaga satu itu santai, dengan satu tangan menggenggam jemari Kak Anita erat—sebuah visual kemesraan yang biasanya langsung memicu denyut perih di dada Aurel.

Namun siang ini, karena rasa lega yang membuncah akibat nilai kuliah, Aurel berhasil menepis rasa cemburu itu dengan cepat. Ia langsung berkacak pinggang, menatap abangnya dengan dagu terangkat bangga. "Yee, sembarangan! Ini tuh senyum kepuasan seorang maba berprestasi, Bang! Tugas bab tiga kelompok gue sama Reyhan barusan dapet nilai sempurna dari Pak Baskoro! Sempurna, lo denger nggak?!"

Mendengar kata 'sempurna' dan 'Pak Baskoro' bersanding dalam satu kalimat, langkah kaki Bang Edward langsung terhenti. Sepasang matanya membelalak sempurna, menatap Aurel dan Reyhan bergantian dengan wajah yang sarat akan rasa tidak percaya.

"Hah?! Serius lo?!" pekik Bang Edward heboh, beralih melirik Kak Anita seolah meminta konfirmasi hukum alam. "Sayang, kamu denger kan? Pak Baskoro yang killer-nya tingkat dewa itu ngasih nilai sempurna buat maba? Ini kiamat awal semester atau gimana?"

Kak Anita langsung menyenggol lengan kekasihnya gemas sembari tertawa renyah. "Kamu itu ya, Edward, adik sendiri dapet nilai bagus kok malah dituduh konspirasi. Reyhan kan emang pinter, Aurel juga kerjanya totalitas."

Bang Edward terdiam sejenak, lalu gurat kaku di wajah posesifnya perlahan mencair sepenuhnya, digantikan oleh sebuah senyuman lebar yang memancarkan rasa bangga seorang kakak. Ia melangkah maju, lalu menepuk-nepuk pundak Reyhan dengan cukup keras, menghancurkan protokol jarak satu meter yang selalu ia dengungkan.

"Gila, gila! Boleh juga lo, Rey! Benteng pertahanan Pak Baskoro tembus juga sama lo berdua," seru Bang Edward puas. Ia kemudian merangkul pundak Aurel dengan gemas, menarik adik tingkat kesayangannya itu ke dalam dekapan lengan kekarnya. "Berhubung hari ini hari bersejarah dan otak lo berdua nggak jadi meledak, fiks! Siang ini kalian semua gue traktir makan di kafe seberang kampus! Rayain nilai sempurna dinasti maba kita!"

"Wah, asyik! Ini baru namanya rasa keadilan abang kating!" sorak Gino paling kencang, langsung mengacungkan jempolnya penuh semangat.

Aurel yang berada di dalam rangkulan Bang Edward refleks menahan napasnya sejenak. Jantungnya mendadak bergeser ritme menjadi jauh lebih cepat, membawa debaran keras yang familier di dalam dadanya. Berada sedekat ini dengan Bang Edward selalu sukses membuatnya deg-degan setengah mati. Namun, saat ia melirik ke arah samping, ia mendapati Reyhan sedang berdiri tenang sembari merapikan tas denimnya.

Reyhan menatap Aurel dengan sepasang mata teduhnya yang sarat akan kesabaran dan keikhlasan yang besar. Cowok denim itu hanya menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat hangat, ikut merasa lega melihat tawa lepas Aurel telah kembali sepenuhnya walau pelukan itu bukan miliknya.

Aurel tersenyum tulus, melepaskan pelukan Bang Edward perlahan sembari mengulas senyum manis ke arah sahabat kelompoknya. Di bawah terik matahari siang koridor kampus, rasa sesak masa lalunya kini terasa jauh lebih ringan. Bersama riuhnya rencana traktiran makan siang dari Bang Edward dan perlindungan sunyi penuh kesabaran dari Reyhan, Aurel tahu lembaran hidupnya akan tetap berjalan dengan penuh warna yang indah.

1
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!