NovelToon NovelToon
Komplotan di Malam Basah

Komplotan di Malam Basah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:723
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.

Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—

*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*

Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.

Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**

Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:

*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*

Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**

Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.

Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**

Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**

Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:

*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*

Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.

——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Pelukan yang Salah Alamat

“Sayang, kucing liarmu pulang, nih.”

Suara Laras tenggelam dalam ruang tamu yang gelap. Di luar dinding kaca, lampu gedung-gedung SCBD berpendar setelah hujan, membentuk garis-garis basah di lantai marmer Apartemen Senopati Suites.

Pria di depannya tidak menjawab.

Laras tersenyum kecil. Galih memang suka berpura-pura dingin setiap kali sedang kesal. Mungkin karena ia datang tanpa memberi kabar. Mungkin karena jam sudah hampir sebelas malam.

Atau mungkin karena kejutan yang ia siapkan terlalu berani.

Setengah jam sebelumnya, Laras masih duduk di sudut lounge lobi. Trench coat krem menutupi slip dress hitam yang baru lunas dicicil minggu lalu. Kain tipis itu terlalu mahal untuk ukuran rekeningnya, tetapi di lingkaran Galih, penampilan bukan kebutuhan. Penampilan adalah tiket masuk.

Ponsel terjepit di antara telinga dan bahunya saat ia mengancingkan kembali mantel.

“Gue masih nggak ngerti kenapa lo mau repot begini,” omel Nadia dari seberang telepon. “Keluarganya Galih aja lihat lo kayak lagi nilai barang lelang.”

Laras melirik pantulan dirinya pada dinding kaca. Lipstiknya masih rapi.

“Namanya juga investasi, Nad.”

“Investasi apaan sampai beli baju tidur pakai cicilan?”

Laras tertawa pelan, sengaja merendahkan suara. Beberapa meter darinya, seorang pria berbaju gelap duduk sendirian di sofa. Wajahnya tertutup bayang-bayang. Segelas minuman ada di tangannya, tetapi sejak tadi tidak disentuh.

“Tahan sebentar lagi,” kata Laras. “Kalau gue bisa hamil anak Galih, masuk keluarga Prasetyo, semua yang gue tahan dua tahun ini nggak sia-sia. Orang bilang apa? Hamil dulu, naik kelas kemudian.”

“Ras!”

“Bercanda.”

“Bercanda lo selalu bikin umur gue pendek.”

Laras mengakhiri panggilan sambil terkekeh. Ia tidak melihat jempol pria di sofa menyentuh layar ponselnya. Ia juga tidak melihat ikon rekaman yang menyala, lalu mati.

Lift membawanya ke lantai teratas. Kartu akses cadangan pemberian Galih membuka pintu tanpa masalah. Di dalam apartemen, semua lampu padam. Laras sempat mengernyit, tetapi aroma parfum kayu yang familier membuatnya santai lagi.

“Mas Galih?” panggilnya sekali.

Tak ada jawaban.

Sosok tinggi berdiri membelakanginya di dekat jendela. Kemeja putih, celana gelap, bahu lebar. Persis siluet Galih bila dilihat tanpa cahaya.

Laras menaruh tas di konsol. Mantelnya melorot ke lantai. Dengan langkah tanpa suara, ia mendekat, menyelipkan kedua tangan ke pinggang pria itu, lalu menempelkan pipi pada punggungnya.

Tubuh di dalam pelukannya langsung menegang.

“Masih marah?” Laras berbisik. “Aku sudah datang sendiri, lho.”

Pria itu menarik napas pelan. Bukan napas terkejut, melainkan napas seseorang yang sedang menahan reaksi.

Laras menganggapnya permainan. Ia berjinjit, menyentuhkan bibir pada daun telinganya, lalu menggigit sangat pelan. Jemarinya bergerak ke simpul dasi.

“Atau perlu kubujuk dulu?”

Pergelangan tangannya mendadak tertangkap.

Genggaman itu keras, lebih keras daripada yang biasa Galih gunakan. Laras terdiam. Ada sesuatu yang berbeda pada telapak tangan pria itu, pada tinggi bahunya, juga pada aroma tembakau samar yang menempel di kerahnya.

“Mas?”

Tit. Tit.

Bunyi kunci digital datang dari pintu utama.

Laras tidak sempat melepaskan diri.

Pintu terbuka bersamaan dengan lampu foyer yang menyala. Cahaya putih menyapu lantai, sofa, mantel Laras yang tergeletak, lalu tubuh mereka yang masih saling menempel.

Galih berdiri di ambang pintu dengan tas kerja di tangan.

Wajahnya tampak lelah setelah lembur. Dasi birunya sudah longgar, rambutnya sedikit berantakan. Ia menatap Laras, lalu pria yang dipeluk Laras, dan berkedip dua kali seolah matanya baru saja membuat kesalahan.

“Ras?”

Darah di wajah Laras seperti berhenti mengalir.

Kalau Galih berada di pintu, lalu siapa yang sedang ia peluk?

Pria di hadapannya berbalik.

Cahaya memperlihatkan rahang yang lebih tegas, mata yang jauh lebih dingin, dan garis bibir tanpa keramahan. Laras pernah melihat wajah itu di halaman bisnis, di layar televisi hotel, bahkan di unggahan orang-orang yang gemar memamerkan undangan gala. Narendra Hardjanto. Orang yang mengendalikan Grup Wibisana tanpa pernah perlu meninggikan suara.

Orang yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung.

Sampai malam ini.

Laras buru-buru menarik tangannya, tetapi Naren belum melepaskan pergelangannya. Ibu jarinya tepat menekan denyut nadi Laras yang berlari liar.

“Maaf.” Suara Laras keluar serak. “Saya kira…”

“Kamu kira dia gue?” Galih akhirnya tertawa, pendek dan bingung. Ia masuk lalu menutup pintu. “Gila. Pantes Naren mukanya kayak baru ditabrak.”

Naren tidak tertawa.

Tatapannya turun pada slip dress Laras, kembali ke bekas lipstik tipis di dekat telinganya, lalu berhenti pada wajah Laras. Bukan tatapan pria yang tersanjung. Tatapan itu terasa seperti sorot lampu di ruang pemeriksaan.

Laras memaksa bibirnya membentuk senyum. “Lampunya mati. Dari belakang kalian memang agak mirip.”

“Agak?” Galih menaruh tas kerjanya. “Tinggi gue kalah dua senti, Ras.”

“Kalau gelap, dua senti tidak kelihatan.”

Galih terkekeh lagi. Ia selalu menyukai Laras yang bisa menyelamatkan suasana. Bagi Galih, kekeliruan ini mungkin bahan candaan yang akan habis dalam dua hari.

Bagi Laras, ruangan itu mendadak kekurangan udara.

Ia tahu bagaimana orang-orang akan menamainya bila cerita ini keluar. Cewek matre. Simpanan tak tahu diri. Perempuan yang mencoba dua pria dalam satu lingkaran. Tak seorang pun akan peduli bahwa apartemen gelap atau bahwa ia benar-benar salah mengenali orang.

Mereka hanya akan mengingat gaunnya, pelukannya, dan bibirnya di telinga pria lain.

Galih berdiri di sebelah Naren dan menepuk bahunya. Gerakannya akrab, tanpa jarak sedikit pun.

“Oh iya, kalian belum pernah dikenalin resmi, kan?” Ia menunjuk Laras lebih dulu. “Naren, ini Laras, pacarku.”

Kata pacar meluncur mudah dari mulutnya, rapi menutupi transaksi dua tahun yang hanya mereka berdua pahami.

Kemudian Galih merangkul bahu Naren.

“Ras, ini Naren. Sahabat gue dari kecil. Keluarga kami juga sudah dekat dari zaman orang tua.” Senyumnya melebar. “Dia udah kayak saudara gue sendiri. Malah kalau pakai urutan umur, gue kakaknya.”

Saudara.

Satu kata itu lebih dingin daripada air hujan yang menempel di kaca.

Laras menatap tangan Galih di bahu Naren. Kepercayaan pada gerakan sederhana itu terasa telanjang. Galih membiarkan Naren berada di apartemennya sendirian. Galih menyerahkan punggung tanpa curiga. Dan beberapa detik lalu, Laras menggigit telinga pria yang dianggapnya saudara sendiri.

“Senang bertemu dengan Anda, Pak Naren,” katanya akhirnya.

Formal. Aman. Seolah mereka baru saja berjabat tangan di lobi kantor.

Mata Naren berubah tipis ketika mendengar suaranya.

Baru saat itulah Laras teringat pria di sofa lounge. Baju gelap. Segelas minuman. Wajah tertutup bayangan.

Naren.

Jantungnya jatuh satu tingkat.

Apakah dia mendengar percakapannya dengan Nadia?

“Pak Naren?” Galih mengulang sambil tertawa. “Jangan resmi amat. Panggil Naren aja. Kalau jadi sama gue, dia juga bakal jadi keluarga lo.”

Laras tidak mampu menjawab.

Naren akhirnya mengangkat sudut bibir. Senyum itu tipis, tanpa hangat, seakan ia baru menemukan potongan terakhir dari teka-teki yang tidak terlalu sulit.

“Senang bertemu denganmu juga, Laras,” ucapnya.

Ia menunduk. Tatapannya berhenti pada jemari Laras yang masih menyentuh lengan bajunya.

Laras hendak menarik tangan.

Jari Naren justru mengencang sedikit pada pergelangannya.

1
𝐀⃝🥀Weny
niat hati ingin bermesraan sama pacar.. eee.. ternyata salah orang, gara² lampu gak di nyalain/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!