Update santai sesuai mood Othor 😋
Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
#34
Rescue Team 919 kembali ke markas setelah api padam sempurna, tak ada korban jiwa serius, serta selanjutnya penyelidikan tentang penyebab kebakaran, diambil alih oleh tim dari kepolisian.
Nagara dan Zira berjalan gontai karena tubuh mereka sangat lelah, pakaian mereka penuh dengan debu dan arang sisa pembakaran. untungnya tempat istirahat mereka tak jauh dari markas, jadi selesai bertugas mereka bisa langsung beristirahat.
“Haruskah kita makan lagi?” cetus Gara karena ia sangat lapar.
“No, lebih baik aku berpura-pura tidak lapar,” tolak Zira, yang tak mau melanggar pantangan makan di luar jam makan.
Gara mencibir sini, “Apa enaknya?”
“Gak usah sirik, yang ngerasain, kan, perutku sendiri,” jawab Zira, ia melirik kesal ke arah Gara yang tiba-tiba melingkarkan lengan di pundaknya.
Mereka keluar dari lift, hampir mencapai kamar masing-masing, tapi tatapan mereka tertuju pada Zain yang sepertinya melupakan sesuatu.
Zira buru-buru menyingkirkan lengan Gara. Meski mereka teman dekat, tapi Zira menyimpan perasaan pada Zain, dan ia tak mau pria itu salah paham melihat kedekatannya dengan Gara.
“Apa yang kamu cari?” tanya Gara.
“Aku kehilangan kunci kamarku.” Zain kembali mencari-cari, meraba saku celana serta saku kemejanya.
Secara otomatis, Zira dan Gara melihat ke bawah, barangkali kunci kamar tercecer di jalan yang mereka lalui. “Tidak ada di sekitar sini.”
“Iya, sepertinya ketinggalan di mobil patroli, aku turun dulu.” Zain kembali menghampiri Lift, untuk turun ke lantai bawah.
“Aku temani, Zira, kamu istirahatlah duluan,” celetuk Gara.
“Hmmm,” sahut Zira. “Apakah Zain tak ingin menyapaku? Sejak dulu aku seperti makhluk tak kasat mata baginya,” gerutu Zira gondok, selepas kedua temannya pergi.
Gadis itu pun masuk ke kamar yang ditempatinya sendiri.
Tiba di dalam kamar, ia bersandar sejenak di pintu, jika dipikir-pikir bodoh sekali dia, mengejar Zain hingga sejauh ini, padahal Zion sudah melarangnya. Adik kembar Zain itu pun mengatakan, bahwa ia akan bantu dengan solusi lain, melalui jalur ordal, alias langsung ke mommy dan daddynya. Tapi Zira tetap tak mau.
Zira justru rela ikut latihan semi militer demi bisa memenuhi kualifikasi sebagai petugas medis di lapangan, padahal ia bisa bekerja di rumah sakit bergengsi sebagai dokter spesialis. Selain itu, Zira memang tipe gadis yang menyukai tantangan. Dan menaklukkan Zain adalah salah satu tantangan terberatnya.
Tapi begitulah logika cinta, tak bisa dinalar menggunakan otak manusia pada umumnya, kadang bodohnya melebihi orang-orang yang tak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah. “Tak apa, Zira. Ini yang terakhir, jika masih gagal, artinya pria itu memang bukan jodohmu,” gumam Zira menyemangati diri dengan pikiran positif.
•••
“Mama! papa!”
Zea menjerit senang, karena pagi ini ia terbangun diapit kedua orang tuanya.
Lizie membuka kedua matanya yang masih terasa lengket, ia tidur pulas sekali, mungkin karena akumulasi rasa lelah yang menggunung selama beberapa tahun terakhir. Lagipula, para orang tua memang menyuruhnya beristirahat total, sebelum kembali beraktivitas seperti sedia kala.
“Mama cama Papa tenapa pyangnya yama cekayi? Hiks, campe tcape aku belhitung, kata Onty Mayla hayus banak jajan, bial hepi, tidak cetles, tetep aja aku cebel aku cetles juga kalena Papa Mama yama puyangnya, huaaaa!”
Duh, betapa rindunya Lizie dengan suara cadel nan lucu putrinya, karena itulah ia dan sang suami fokus mendengarkan saja celotehan Zea, tanpa bermaksud menimpali sebelum diminta. “Iya, maafkan Mama dan Papa, ya.”
“Dimaafkan, tapi nda boyeh pelgi yama-yama yagi,” katanya lucu.
“Nggak akan, Sayang. Lain kali kita pergi sama-sama,” sahut Zion.
“Benel, ya. Kayo boong hidumnya boyong.”
“Kan hidung memang bolong, nih, lihat hidung Zea.” Zion menunjuk hidung zea.
“Hehe, iya, ya?” Zea tertawa geli, sembari meraba hidungnya sendiri.
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu membuat obrolan penuh rindu mereka terhenti. “Biar aku yang buka.”
Zion segera bangun dan berjalan menuju pintu, rupanya Mommy Dhera yang mengetuk.
“Kalian sudah bangun? Atau Mommy yang mengganggu?”
“Nggak, Mom. Kami sudah bangun.” Lizie menyahut dari dalam.
Mommy Dhera melongok masuk, rupanya Zea sedang memeluk mamanya penuh rindu. “Oma, kok da biyang-biyang kalyo mama papa mau puyang?”
“Yang penting sudah pulang, kan?”
Lizie tersenyum, sementara Zea semakin erat memeluk leher Lizie. “Ayo turun, kita sarapan sama-sama.”
“Iya, Mom. Kami cuci muka dulu.”
“Cepat, ya.”
“Iya, Mom.”
“Zea mau turun duluan sama Oma?” tanya Mommy Dhera, namun, Zea menggeleng. Ia masih ingin bermanja dengan mama dan papanya.
Selepas kepergian Mommy Dhera, Zion segera ke kamar mandi, setidaknya harus cuci muka dulu sebelum turun menemui seluruh keluarganya. Begitu pula Zea, Lizie membantunya dengan telaten, lalu mereka turun sama-sama.
•••
hari ke 4 mereka memutuskan kembali ke rumah, sebab Lizie sudah merasa sangat fit, bekas luka operasi di punggungnya sudah tak terasa sakit, jadi ia merasa sudah bisa kembali beraktivitas dengan normal.
Yang utama, sih, dia rindu rumahnya sendiri, kerajaan kecil, tempat ia membangun rumah tangga bersama sang suami.
Pagi ini setelah mereka mengantar Zea ke sekolah, keduanya akhirnya tiba di rumah.
“Kok, rumahnya bersih? Tak terlihat seperti sudah lama tak ditinggali?” gumam Lizie, sebab rumahnya tak sebersih ini saat terakhir kali ditinggalkan. Ia ingat saat itu ia sedang dalam kondisi sangat sedih, hingga tak ingin melakukan apa-apa, jadilah rumah dibiarkan berantakan.
“Mulai sekarang, ART yang melakukan tugas bersih-bersih,” sahut Zion.
Pada umumnya ibu-ibu, mereka akan bahagia karena ada tenaga tambahan yang bertugas membersihkan rumah. Tapi Lizie berbeda, ia justru manyun. “Lalu, tugasku di rumah apa?”
Zion yang baru saja menggantung kontak mobil, menoleh ke arah istrinya. Otaknya sudah terlalu lama travelling tak jelas, karena sudah berminggu-minggu tak menyentuh istrinya.
Maksudnya menyentuh secara intim, yang pertama karena jarak, yang kedua karena situasi mereka tak mengizinkan, sebab Lizie masih harus menjalani pemulihan pasca operasi pengangkatan peluru dari punggungnya.
“Serius, kamu tak tahu apa tugasmu, hmm?” Zion melangkah lebih dekat pada istrinya. Kedua lengannya memeluk pinggang Lizie yang sedang berdiri mengamati lemari es, memikirkan akan berbelanja, karena banyak makanan expired di sana.
“Sayang, kamu ngaphmmmpftt—” kalimat Lizie terputus sebab Zion membungkam bibir Lizie dengan bibirnya. Pelan-pelan tanpa melepaskan pagutan, pria itu memutar tubuh sang istri hingga mereka berdiri berhadapan.
Tak seperti ciuman mereka beberapa hari terakhir ini, kini ciuman Zion terasa lebih dalam, ganas, dan tak memberi Lizie celah untuk menolaknya. “Sepertinya beberapa menit sebelum berangkat kerja masih bisa, kan?” bisik Zion penuh maksud.
Lizie tersenyum mengangguk, memberikan waktu paginya sebab ia pun rindu bermesraan dengan suaminya.
“Let's play—” katanya, lalu tanpa banyak bicara ia menggendong istrinya masuk ke kamar.
Brak!
Klek!
“Othor belum masuk, wooyyy!! Kenapa udah dikunci?!! Mana banting pintu tepat di depan idung!” 😤😤🤬🤬