NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05. Pagi yang Mengerikan

Pagi harinya, pendar sinar matahari menembus celah gorden kamar 1004 yang tebal, menusuk tepat ke kelopak mata Naya.

​Sensasi pertama yang menyergap Naya adalah rasa pening yang luar biasa dahsyat. Kepalanya serasa dihantam benda tumpul bertubi-tubi, tenggorokannya kering seperti habis terbakar, dan seluruh persendian tubuhnya terasa remuk. Naya mengerang pelan, lengannya yang lemas bergerak hendak memijit pelipisnya yang berdenyut hebat.

​Namun, gerakan itu terhenti seketika.

​Ada beban berat dan kehangatan asing yang mengimpit pinggangnya. Bau aroma parfum maskulin bercampur sisa alkohol menyengat hidungnya—aroma yang sama sekali bukan milik kamar tidurnya yang tenang di rumah. Hawa dingin pendingin ruangan menusuk kulitnya yang merinding, sementara bau asing itu seolah mengunci paru-parunya, membuatnya tercekik pelan.

​Naya membuka matanya perlahan. Pandangannya yang kabur tanpa kacamata mengedar pelan, mencoba menyatukan kepingan kesadaran yang tercerai-berai.

​Ruangan di sekelilingnya asing. Ukiran art deco mewah di dinding, lampu gantung kristal yang mati, dan langit-langit bertingkat yang menjulang tinggi.

Dan di sampingnya, berjarak tak sampai sejangkauan telapak tangan, terbaring seorang pria bertubuh jangkung dengan dada bidang yang bertelanjang dada. Lengannya yang kokoh melingkar posesif di atas pinggang Naya.

​Naya membeku detik itu juga. Naya bahkan tidak langsung mampu berpikir. Tatapannya hanya terpaku pada pria di sampingnya, sementara napasnya semakin pendek. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi beberapa jam sebelumnya, tetapi yang muncul hanya potongan-potongan suara, tawa, cahaya lampu, dan rasa pusing yang semakin menyesakkan.

Tidak ada satu pun yang cukup jelas untuk menjelaskan bagaimana ia bisa berada di kamar ini.

Rasanya seluruh aliran darah di tubuhnya serasa berhenti. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga bergemuruh keras di dalam dadanya, menciptakan rasa pusing baru yang makin menghimpit rongga dadanya.

Apa ini? Ada apa ini?

​Naya menatap garis rahang tegas dan porsi wajah tampan pria di sampingnya. ia jelas pernah melihat wajah itu di lorong atau kantin kantor. Pria itu jelas dari perusahaan tempatnya bekerja, tapi Naya sama sekali tidak tahu siapa namanya. Pria itu asing, berbahaya, dan terlalu dekat.

​Kesadaran yang berlapis-lapis itu mendadak menghantam jiwa Naya seperti petir di siang bolong. Rasa asing di area privatnya, rasa ngilu yang menjalar dari pangkal paha, serta sprei dingin di bawah punggungnya membawa firasat buruk yang mengerikan.

​Naya menurunkan pandangannya dengan tubuh gemetar hebat. Jemarinya yang kaku meraba ke bawah selimut putih tebal yang menutupi tubuh mereka.

​Kenyataan mengerikan itu akhirnya menghantamnya tanpa ampun. Dia tidak mengenakan selembar benang pun.

​Rasa mual membuncah dari dasar perut Naya hingga ke tenggorokan. Gelombang trauma dan kepanikan liar langsung menguasai otaknya. Dunianya hancur seketika. Semua norma, kepatuhan, dan kesederhanaan hidup yang ia jaga setengah mati lenyap berganti kehampaan yang mematikan.

​"E-nggh..." Pria itu mengerang pelan. Lembaran selimut bergeser saat lengannya yang berat makin mengetat di pinggang Naya, menarik tubuh gadis itu merapat dalam refleks tidurnya.

​"Jangan!" jerit Naya di dalam hatinya, tapi suaranya tersangkut rapat di tenggorokan.

​Matanya yang merah dan berair membendung air mata ketakutan saat pria itu perlahan membuka mata. Manik mata pria itu berkedip lambat, mengerjap bingung mencoba menembus kabut alkohol yang masih tersisa, sebelum akhirnya pandangan mereka bertabrakan.

​Rasa kantuk dan pusing pria itu sirna seketika. Pandangannya bergetar hebat begitu menangkap bola mata Naya yang dibanjiri air mata dan ketakutan yang amat sangat.

​Ibra tersentak kaget. Ia serta-merta menarik lengannya mundur seolah baru saja menyentuh bola panas. Ibra terduduk drastis di atas kasur, menjatuhkan selimut yang menutupi dadanya hingga tersingkap batas pinggang. "K-kamu..." suara Ibra parau, sarat akan syok, kebingungan, dan ketidakpercayaan yang mendalam.

Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang mampu mengatakan apa-apa. Naya hanya menangis, sementara Ibra memandang sekeliling kamar dengan napas berat. Ia mencoba mengingat kejadian semalam, tetapi ingatannya seperti tertutup kabut tebal. Ada terlalu banyak bagian yang hilang.

​Naya terisak, mengalirkan air matanya dalam sekali hembusan napas yang pecah. Dengan tangan yang gemetar hebat hingga ke ujung kuku, ia menarik selimut tebal itu tinggi-tinggi, membungkus tubuh polosnya rapat-rapat hingga batas leher.

Isak tangisnya pecah tanpa suara, sebuah jeritan keputusasaan dan kehancuran diri yang membakar dadanya hingga terasa sesak.

​Ia merasa begitu kotor. Begitu hina. Begitu najis di depan takdir yang jahat.

​"T-tunggu... ini..." Ibra memegang kepalanya yang berputar hebat, jemarinya meremas rambutnya sendiri dengan panik. Matanya menyapu sekeliling kamar yang berantakan, menatap pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu melirik sprei kusut yang menampakkan bercak samar. Ingatannya tentang kejadian semalam seperti kepingan kaca yang hancur berkeping-keping. Gelap, kabur, dan tak berjejak.

​"Tolong... jangan mendekat..." bisik Naya amat sangat pelan. Suaranya pecah, bergetar hebat di udara kamar yang dingin. Air matanya menetes deras membasahi sprei, membasahi kain yang ia cengkeram erat.

​Naya menggeser tubuhnya menjauh secara perlahan hingga ke ujung tempat tidur, menjauhi Ibra seolah pria itu adalah monster yang siap mencabiknya lagi. Dalam kepungan dinding kamar 1004 yang dingin, Naya tahu, kehormatan dan seluruh masa depannya baru saja hancur tak berbekas, dalam satu malam.

Naya menangis tersedu-sedu di atas kasur, tangannya berguncang hebat saat ia mulai memukuli kepalanya sendiri dengan kencang. Dalam jeritan batin yang membakar, ia berulang kali berbisik pada dirinya sendiri, membodohi logikanya bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk yang akan sirna begitu ia membuka mata. Rasa frustrasi dan ketakutan menyapu habis seluruh pertahanannya.

​Melihat Naya yang mulai lepas kendali dan menyakiti dirinya sendiri, Ibra yang sudah memakai celana panjang meski masih bertelanjang dada refleks bergerak mendekat. Ia menahan jemari Naya yang memukul kepala.

​Naya tersentak hebat saat kulit dingin pria itu menyentuhnya. Dengan sisa tenaga yang melumpuh, ia menepis tangan itu perlahan. "J-jangan... jangan sentuh..." bisiknya lirih, suaranya parau menusuk udara kamar yang dingin.

​"Hei... tenang," bisik Ibra halus. Suaranya diatur sedemikian rupa agar tidak menakuti gadis di depannya.

​Naya menggeleng panik, tangisnya kian pecah dan tak terkendali. Tubuhnya gemetar hebat seolah dihantam badai. "Aku rusak...," ratap Naya berulang kali dengan suara tercekik, memeluk lututnya sendiri rapat-rapat.

​Melihat kehancuran di depan matanya, dada Ibra sesak luar biasa. Rasa bersalah dan iba menghantamnya bertubi-tubi. Ia sungguh tak menyangka malamnya akan berakhir setragedi ini.

Efek alkohol semalam menghapus seluruh ingatannya, tapi fakta di depan matanya adalah nyata. Sebagai seolah pria, ia sadar betul bahwa apa pun yang terjadi semalam, meski di luar kendalinya, ia telah mengambil kehidupan gadis ini.

Dan ia tidak akan lari.

​Ibra menghembuskan napas panjang, mencoba memegang kendali atas situasi yang kacau.

"Pakai baju kamu dulu... tenangin diri kamu," ujar Ibra lembut, berbalik memunggungi Naya untuk memberinya privasi.

​"Jangan lihat..." cicit Naya pelan, suaranya sarat ketakutan.

​"Saya enggak lihat," balas Ibra tegas namun tenang, tetap membelakangi kasur.

​Beberapa saat kemudian, Naya telah selesai mengenakan pakaiannya. Meski kemejanya terpasang agak kusut, ia kini terduduk menyudut di pojok kasur, membungkus diri dengan sisa keberaniannya sambil terus bergetar hebat. Ia enggan menatap Ibra sedikit pun.

​Ibra memutar tubuhnya perlahan, melangkah mendekat lalu berjongkok di dekat kasur agar posisi mata mereka sejajar. "Nama kamu siapa? Dari divisi mana?" tanya Ibra pelan.

​"N-Naya... Administrasi..." bisik Naya amat pelan.

​Mendengar nama dan divisi itu, Ibra terdiam sejenak. Nama itu terdengar familiar, meski ia tidak yakin pernah benar-benar berbicara dengannya. Ia yakin beberapa kali melihat gadis itu di kantor. Selalu membawa map atau laptop, berjalan cepat sambil menundukkan kepala, seolah berusaha tidak menarik perhatian siapa pun.

Ingatan Ibra pun mendadak terlempar ke kejadian beberapa waktu lalu di depan lift kantor. Gadis kacamata yang tak sengaja bertabrakan dengannya, yang notanya berserakan di lantai sampai Ibra harus menitipkannya pada Dion. Gadis polos itu.

​Ibra menghembuskan napas berat, meremas rambutnya sebentar menyadari betapa kejamnya takdir mempermainkan mereka. Ia lalu berdiri, mengambil kemejanya di sofa dan mengenakannya dengan cepat.

​"Saya Ibra. Ayo, kita bicarakan sembari pulang, saya antar kamu," tawar Ibra dengan nada bertanggung jawab.

​Naya mengangguk pasrah. Ia tidak punya kekuatan lagi untuk membantah atau sendirian di luar sana.

Sepanjang beberapa detik berikutnya, mereka hanya diam. Naya sibuk merapikan pakaiannya dengan jemari yang masih gemetar, sedangkan Ibra berdiri di dekat pintu sambil menatap lantai. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan, tetapi melihat wajah Naya yang pucat dan sembap, ia tahu sekarang bukan waktu yang tepat.

Yang bisa ia lakukan saat ini hanya memastikan Naya sampai di rumah dengan selamat. Setelah itu, mereka bisa membicarakan semuanya ketika keadaan sudah lebih tenang.

​Naya mencoba berdiri dari kasur. Namun, begitu kakinya menapak lantai dan bobot tubuhnya bertumpu, rasa sakit dan ngilu yang menusuk di area privatnya membuat kakinya hilang tumpuan. Naya terduduk kembali ke atas kasur sambil meringis menahan sakit.

"awhh," ringisnya.

​Mata Ibra bergulir mengikuti gerakan Naya, hingga pandangannya menumpuk pada sprei putih yang kusut di samping tempat Naya duduk. Di sana, terlukis jelas bercak merah yang menjadi saksi bisu malam kelam mereka.

​Ibra, apa yang udah lo lakuin... desah Ibra menjerit dalam hati. Penyesalan teramat dalam menghantam dadanya hingga terasa sesak.

​Naya yang menyadari arah pandang Ibra mendadak panik dan malu luar biasa. Wajahnya memerah padam bercampur air mata. Ia berniat bangkit beranjak ke toilet, hendak mengambil kain atau spons untuk membersihkan noda kehormatannya yang tersisa di sprei itu.

​Ibra yang peka langsung menahan pergerakan Naya. "Tunggu di sini," cegah Ibra halus.

​Ibra melangkah ke kamar mandi, mengambil handuk kecil hotel dan membasahinya dengan air hangat. Ia kembali dan menyerahkannya pada Naya.

​Dengan tangan gemetar dan emosi yang membuncah, Naya menggosok bercak darah di sprei itu secara emosional. Isak tangisnya kembali pecah, begitu dalam dan pilu di setiap usapan kain yang ia lakukan seolah mencoba menghapus takdir buruk yang telah terukir permanen dalam hidupnya.

​Ibra menatap punggung kecil itu dengan kepalan tangan mengeras. Setelah Naya sedikit lebih tenang, Ibra mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

​"Naya," panggil Ibra mantap. "Catat nomor saya. Dan simpan nomor kamu di HP saya."

​Naya menatap layar ponsel itu dengan ragu, namun ketegasan dan raut penuh penyesalan di wajah Ibra membuatnya akhirnya mengetikkan nomor ponselnya dengan jemari gemetar, lalu meraba ponselnya sendiri untuk menyimpan nomor Ibra.

​"Saya tidak akan lari dari ini," janji Ibra tegas, menatap lurus ke mata Naya yang sembap. "Saya akan tanggung jawab atas apa yang terjadi. Sekarang, mari saya antar kamu pulang."

Saat Ibra membuka pintu kamar, Naya berhenti sejenak. Tatapannya jatuh pada nomor kamar yang terpampang di samping pintu.

1004.

Ia menghafalnya tanpa alasan yang jelas. Mungkin karena sebagian dari dirinya tahu, pagi ini akan menjadi salah satu pagi yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.

1
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!