"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 6 Masuk IGD
Menjelang sore, gerimis kecil turun membasahi ruas tol. Wiper mobil bergerak teratur menyapu butiran air di kaca depan.
Di kursi penumpang, kantong berisi kain sampel dekorasi dan buku katalog gaun pengantin bergeser pelan setiap kali mobil berbelok.
Kiara tersenyum sendiri saat lampu merah membuatnya sempat berhenti. Ia membuka foto hasil fitting gaunnya yang baru saja dikirim penjahit.
Tiga minggu lagi. Ia bahkan sudah membayangkan bagaimana wajah Kaia ketika melihatnya berjalan menuju pelaminan. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Elio masuk.
...Hati-hati di jalan Sayang....
...Sampai rumah jangan lupa istirahat....
Senyum Kiara semakin lebar. Ia baru saja hendak membalas ketika arus kendaraan di depannya mendadak melambat.
Jauh di depan, sebuah truk oleng untuk menghindari benda yang jatuh di jalan, membuat mobil-mobil di belakangnya mengerem mendadak.
Kiara refleks menginjak rem sekuat tenaga. Ban berdecit di atas aspal yang licin. Mobilnya berhenti hanya beberapa jengkal dari bumper kendaraan di depan.
Belum sempat ia mengembuskan napas lega, tiba-tiba.
Brak!
Benturan keras dari belakang menghantam mobilnya. Tubuh Kiara terhempas ke depan, lalu terdorong lagi ketika mobilnya menabrak kendaraan di depannya.
Airbag mengembang. Suara kaca pecah, klakson panjang, dan jerit orang-orang bercampur menjadi satu.
Pandangannya berkunang-kunang. Dengan napas yang terasa berat, Kiara meraba ponselnya yang terjatuh di lantai mobil.
Di tengah rasa sakit yang mulai menjalar, yang terlintas di benaknya bukanlah dirinya sendiri, melainkan Kaia, adiknya yang sebentar lagi akan kembali ke Melbourne.
"Maaf, Kai..." bisiknya lirih.
Di luar, suara orang-orang yang selamat dari benturan berlari berhamburan keluar dari kendaraan mereka dan hujan yang semakin deras.
Beberapa pengemudi berlari menghampiri mobil Kiara yang bagian depannya ringsek. Seseorang mengetuk kaca samping, berusaha menenangkannya, sementara yang lain segera menghubungi layanan darurat.
Tak lama kemudian, sirene ambulans meraung mendekat, memecah riuh hujan dan kemacetan. Petugas medis bersama tim penyelamat bekerja cepat mengevakuasi para korban.
Setelah pintu mobil berhasil dibuka, Kiara dipindahkan dengan hati-hati ke atas brankar. Matanya sempat terbuka sesaat, namun kembali terpejam ketika rasa sakit dan lelah menguasainya.
"Masih sadar, Mbak? Dengar saya?" Seorang petugas menggenggam tangan Kiara saat tandu didorong menuju ambulans.
Kiara membuka mata dengan susah payah. "Tolong... bawa saya ke Meganthara..." bisiknya.
"Baik, Bu. Kami akan hubungi keluarga. Sekarang tarik napas pelan, ya."
Di dekat mobil yang ringsek, seorang relawan menyerahkan dompet dan ponsel Kiara kepada petugas.
"Identitasnya ada. Bawa ke Rumah Sakit Meganthara, cepat!" seru salah seorang paramedis.
Sirene pun meraung, sementara pintu ambulans ditutup rapat dan kendaraan melaju membelah kemacetan.
Tiba di rumah sakit Meganthara, pintu belakang ambulans terbuka dengan keras begitu kendaraan itu berhenti di depan IGD.
Hujan gerimis masih turun, membasahi seragam para petugas yang sigap menurunkan tandu satu per satu.
"Korban perempuan, sekitar dua puluh lima tahun!" seru paramedis sambil mendorong tandu Kiara ke dalam. "Trauma kepala, dada dan perut, sempat kehilangan kesadaran. Tekanan darah turun."
Suasana IGD pagi itu berubah riuh. Sepuluh korban kecelakaan beruntun tiba hampir bersamaan.
Suara monitor berbunyi bersahutan, langkah kaki berlari memenuhi lorong, dan instruksi para tenaga medis saling bertumpuk.
"Pasang infus! Siapkan ruang resusitasi!" perintah dokter jaga.
Saat membantu memindahkan Kiara ke ranjang pemeriksaan, seorang perawat perempuan mendadak tertegun.
Meski wajah itu pucat dan sebagian tertutup goresan, ia tetap mengenalinya.
"Dok... ini Mbak Kiara, influencer tunangan Dokter Elio."
Dokter jaga hanya mengangguk singkat. "Tetap ikuti prosedur. Cepat stabilkan pasien."
Perawat itu segera menoleh kepada rekannya. "Hubungi Dokter Elio. Bilang Mbak Kiara ada di IGD."
Sementara itu, Kiara membuka matanya sesaat.
Pandangannya kabur. Lampu- lampu putih di langit-langit tampak berputar di atas kepalanya.Di tengah rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh, bibirnya bergerak pelan. "Elio..."
"Tenang, Mbak. Kami di sini," ujar seorang perawat sambil menggenggam tangannya.
Kiara berusaha membalas genggaman itu, tetapi kelopak matanya kembali terasa berat.
Di sekelilingnya, para tenaga medis terus bergerak cepat, berjuang mempertahankan nyawa yang perlahan terlepas dari genggaman mereka.
Sementara itu, di lantai dua klinik kecantikan Rumah Sakit Meganthara, Elio baru saja menutup rekam medis pasien terakhirnya.
Seusai makan siang dan rapat singkat bersama wedding organizer serta Kiara, ia bersiap melanjutkan jadwal praktik sore.
Tok...
Tok...
Tok...
Pintu ruangannya diketuk pelan. Asistennya masuk dengan wajah pucat.
"Dokter, barusan ada telepon dari IGD..." ucapnya pelan, seolah takut melanjutkan.
Elio mengangkat sebelah alis. "Ada apa mbak?"
"Itu, Dok... Mbak Kiara mengalami kecelakaan."
Elio terkekeh kecil, lalu menggeleng. "Jangan bercanda.
Tadi kami baru makan siang bersama dengan WO. Dia baik-baik aja. Bisa jadi dia lagi ngerjain saya."
Ia bahkan sempat melirik jam di pergelangan tangannya, seolah menghitung berapa lama sejak mereka berpisah.
"Dok... ini bukan kejutan dari mbak Kiara." Sang asisten menelan ludah. "Saya harap saya juga salah dengar. Tapi IGD yang menelepon. Mereka bilang Mbak Kiara termasuk korban kecelakaan beruntun di tol. Beritanya sudah masuk media sosial."
Senyum tipis di bibir Elio perlahan memudar. Untuk sesaat ia hanya menatap asistennya, menunggu perempuan itu tertawa dan berkata bahwa ini hanya candaan.
Namun tak ada tawa. Hanya wajah pucat dan sepasang mata yang dipenuhi kecemasan.
Senyum tipis di wajah Elio perlahan lenyap. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dengan tangan yang mulai dingin, ia merogoh ponsel dan membuka berita terkini.
Di layar terpampang foto kecelakaan beruntun. Mobil sedan hitam yang ringsek itu begitu ia kenali. Itu mobil Kaia yang dipakai Kiara tadi.
Tubuh Elio membeku. Tanpa sempat berkata apa-apa, ia berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser keras. Langkahnya berubah menjadi lari menuruni tangga menuju IGD.
Koridor terasa terlalu panjang. Napasnya memburu. Bayangan tawa Kiara saat makan siang tadi terus berputar di kepalanya, bertabrakan dengan gambar mobil yang hancur di layar ponsel.
Setiap langkah menggema di kepalanya bersama satu doa yang terus berulang.
Jangan Kiara. Tolong, jangan dia.
Pintu IGD didorongnya hingga terbuka lebar. Ruangan dipenuhi korban kecelakaan. Suara monitor berbunyi bersahutan, brankar berlalu-lalang, dan perintah para tenaga medis terdengar dari segala arah. Tirai-tirai terbuka dan tertutup silih berganti.
Dengan tangan gemetar, Elio menyingkap satu per satu tirai pasien, berharap Kiara tidak ada di sana. Hingga akhirnya ia membeku.
Di balik tirai terakhir, seorang perempuan terbaring dengan wajah pucat dan tubuh berlumur darah. Dress yang dikenakannya sama persis dengan yang dipakai Kiara beberapa jam yang lalu.
"Kiara..." bisiknya nyaris tak terdengar.
"Dok..." " salah seorang dokter menoleh.
Elio seolah tak mendengar sapaan itu, ia melangkah mendekat, tetapi seorang perawat pria segera menahannya.
"Dokter, biarkan kami bekerja dahulu."
Air mata yang sedari tadi ditahannya luruh. Sebagai dokter ia tahu ia tak boleh mengganggu tindakan di ruang IGD. Namun sebagai tunangan, hatinya menjerit ingin berada di sisi Kiara.
Dengan langkah goyah, ia mundur dan terduduk di kursi dekat meja triase. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Beberapa menit yang terasa seperti selamanya berlalu.
Dokter yang menangani Kiara akhirnya menghampirinya.
"Elio," ucapnya hati-hati, "Kiara mengalami cedera kepala berat dan perdarahan internal.
Saat ini kondisinya sangat kritis.Kami sudah menstabilkan jalan napas dan tekanan darahnya, tetapi dia harus segera dipindahkan ke ICU untuk penanganan intensif."
Elio menatap rekannya tanpa berkedip. "Dia sadar?"
Dokter itu menggeleng.
"Belum. Kesadarannya menurun. Tetapi kami akan melakukan semua yang kami bisa" lanjut dokter itu lembut.
"Sekarang yang terpenting, kamu harus tetap kuat."
Kali ini, sebagai dokter, Elio merasa begitu tak berdaya. Ia hanya mampu menunduk, menggenggam kedua tangannya yang bergetar, sementara di balik pintu ICU, perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya sedang berjuang antara hidup dan mati.
...****************...
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁