( upload Senin - Sabtu= 6× dalam seminggu )
( jam upload 3 sore )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 }:{secret journey }
Mengapa artefak memancarkan cahaya? Sesaat kemudian, aura terang memancar, membelah langit hingga menembus lapisan demi lapisan alam semesta.
"Aura artefak apa yang akan terjadi setelah ini?" gumam Zeo.
Matanya menatap lurus ke arah cahaya yang memancar begitu terang, hingga ia sendiri tak mampu lagi menatapnya.
Di atas sana, para penghuni dari berbagai planet ikut terpaku menatap aura artefak tersebut hingga mereka meneteskan air mata di pipi. Namun di sisi lain, Zeo justru merasakan dua hal bergejolak sekaligus di dadanya: rasa hancur dan rasa senang.
"Ahhh, kenapa aku hingga berada di posisi ini?" teriak Zeo frustrasi. "Aku sudah kehilangan istriku, temanku... Ambil aku, Alam! Aku tidak sanggup lagi menanggung derita ini. Aku tak sanggup, Bunga... Aku sangat merindukanmu. Peluk aku, Bunga."
Zeo akhirnya jatuh berlutut di atas tanah yang kini basah oleh tetesan air matanya sendiri. Sambil menatap pasrah ke arah langit, ia menjerit, "Alam semesta, kembalikan Dewi Bunga! Aku mohon kembalikan dia kepadaku!"
Sesaat kemudian, terdengar langkah kaki dan suara napas yang mengembus di dekatnya. Zeo terhening sesaat. Ia langsung menoleh dan menatap ke arah belakang.
"Bunga?!"
Zeo langsung berlari dan memeluk erat tubuh wanita itu. "Kemana saja, Bunga? Aku mencarimu di setiap detak jantungku!"
"Zeo, aku tahu kamu merindukanku. Tapi aku tidak percaya dengan apa yang telah kamu lakukan. Aku sangat kecewa, Zeo," ucap Dewi Bunga. Bibirnya bergetar , seakan ia sendiri tak percaya harus berbicara sekeras itu kepada lelaki yang dicintainya.
Zeo menatapnya dengan pandangan kecewa dan tidak mengerti.
Dewi Bunga menarik napas . "Biar aku beritahu, Zeo, di mana aku selama ini. Aku disembunyikan di tempat ciptaan Sora. Dia yang membawaku ke sana. Dan dia melakukan semua itu hanya agar kau bisa selalu bersama denganku."
Zeo menatap Dewi bunga terpaku .
"Aku tidak bisa keluar dari sana, Zeo," dengan air mata yang mulai menetes . "Selama terkurung, aku terus melihatmu menyerang Sora tanpa mau mendengarkan penjelasannya sedikit pun! Kamu sudah buta, Zeo! Kembalikan Zeo yang dulu!"
Dewi Bunga meluapkan seluruh emosinya sambil memukul-mukul dada Zeo.
Mendengar kenyataan itu, runtuh sudah pertahanan Zeo. Ia tidak percaya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan karena amarahnya sendiri.
"Maafkan aku, Bunga... Aku benar-benar bodoh. Maafkan aku," bisik Zeo sambil kembali memeluk erat Dewi Bunga, mencoba menenangkan nya.
Dewi Bunga melepaskan pelukannya perlahan. "Tangisanmu tidak akan bisa mengubah apa yang telah terjadi. Ikuti aku, Zeo."
Dewi Bunga kemudian membawa Zeo berjalan menuju puncak tertinggi di tempat itu.
"Lihat cahaya yang telah turun dari langit," "Cahaya itu adalah jiwa-jiwa yang kembali lagi pada raga mereka.
Satu demi satu, mereka kembali terbangun. Suara riyah terdengar di sepenjuruh negeri.
"Kamu bisa melihatnya. Tidak ada gunanya bila kamu menyesal saat ini," benar bunga andai kan aku tak buta dengan apa yang aku lakukan.
Ini tidak akan terjadi begitu lama. sudah zeo waktu membawa kita ketempat yang kini kita injak. aku mohon jangan menyebut diri mu bodoh .
"Cinta mu untuk ku yang membuat jatuh pada kesalahan. Tapi aku sangat mau sebagai penjaga artefak, keseimbangan melakukan hal seburuk ini," dewi bunga menutup mulut Zeo dengan lembut.
"Zeo, ini jalan takdir kita. Asal kamu tahu seumur hidup ini aku hanya cinta kamu Zeo. Jangan lakukan hal yang sama lagi Zeo. Aku hancur, aku sakit melihat mu selalu bersalah."
Zeo dan bunga mulai berdamai dengan keadaan. Zeo mengajak dewi bunga ke negeri api.
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
dan maaf bilah kurang haku
ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya