Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Kantor Baru
Rhea terbatuk-batuk kecil sambil tertawa renyah, mengibas-ngibaskan confetti dari rambutnya. "Zora, kena muka gue tahu."
"Biarin. Biar berasa perayaannya." Zora tertawa lepas, lalu dengan cekatan mengangkat ponselnya yang terpasang diatas stabilizer. "Oke, stay in position Bu bos. Gue mau rekam video transisi buat konten launching di medsos. Dalam tiga... dua... satu... senyum paling profesional."
Rhea menggeleng-gelengkan kepala, tapi tetap memasang pose terbaiknya di depan kamera. Dipeluknya map berkas tebal di dada sambil tersenyum yakin ke arah kamera.
Di dalam hatinya, ada gejolak rasa bangga dan keharuan yang luar biasa meluap-luap. Empat tahun dia kerja membantu tulang untuk memperkaya firma hukum orang lain yang akhirnya membuangnya tanpa rasa iba.
Tapi hari ini, di ruko kecil Rhea adalah bos untuk dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa memecatnya lagi.
"Sumpah Rhe, lu keliatan keren banget," puji Zora tulus setelah mematikan rekaman videonya. Dia berjalan menghampiri Rhea dan merangkul pundak sahabatnya itu.
"Gue bangga banget sama lu. Dari koma di rumah sakit, terus di PHK dan sekarang lu punya kantor sendiri. Lu benar-benar manusia baja."
Rhea menatap sekeliling ruangan rukonya yang beraroma cat tembok baru. "Gue nggak bakal sampai di titik ini kalau nggak ada lu yang selalu dorong gue, Ra. Makasih banyak ya."
"Duh, jangan bikin gue terharu deh, nanti make-up gue luntur." Zora mengipas-ngipas matanya dengan bercanda. "Pokoknya makan ini kita syukuran sederhana dulu. Gue udah pesen pizza ukuran jumbo sama minuman dingin. Kita makan di lantai atas."
Aroma cat tembok yang masih baru bercampur dengan wangi gurih pizza yang mereka pesan masih memenuhi seluruh ruangan lantai dua.
Jam dinding bulat yang tergantung di dekat rak buku menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Hujan gerimis yang membasahi jalanan luar membuat suasana di dalam ruko dua lantai itu terasa makin hangat dan nyaman.
Rhea bersandar di kursi kerjanya yang baru, memeluk segelas teh chamomile hangat dengan kedua tangannya. Di seberang meja, Zora meluruskan kedua kakinya di atas sofa santai sambil mengusap perutnya yang kenyang.
"Sumpah ya Rhe." ujar Zora sambil meregangkan tangannya ke atas. "Gue gue masih nggak nyangka kira beneran berdiri di sini sekarang."
Rhea terkekeh pelan, menyesal tehnya sedikit. "Gue juga ngerasa kayak mimpi Ra. Tapi dipikir-pikir lagi, kalau gue nggak di PHK dan nggak kecelakaan.. mungkin sampe sekarang gue cuma jadi buruh ketik berkas yang dimanfaatin sama atasan."
"Nah. Itu namanya berkah di balik musibah." Zora menjentikkan jarinya antusias.
Zora mengubah posisinya jadi duduk tegak, menatap Rhea dengan mata berbinar. "Lu tuh pinter, lulusan terbaik, jam terbang penanganan kasus perdata lu juga udah gila-gila pas di firma lama. Cuma gara-gara lu terlalu jujur dan polos aja makanya sering dimanfaatin."
"Makanya di kantor ini, gue yang bikin aturannya sendiri," balas Rhea mantap.
Tangannya mengelus permukaan meha kayu jati bekas yang terpajang rapi di depannya. "Gue nggak mau cuma ngebela orang yang punya uang banyak. Gue mau biro ini benar-benar jadi tempat berlindung buat orang-orang yang tertindas dan nggak punya suara."
Zora tersenyum haru, menatap sahabatnya dengan tatapan bangga. "Duh, sahabat gue mulia banget. Tapi ingat ya Bu Bos, ideologi mulia tetap butuh bayar listrik sama sewa ruko tahun depan. Jadi kita tetap butuh klien kaya raya buat subsidi silang."
Rhea tertawa renyah. Suara tawa yang sudah lama sekali tidak terdengar begitu lepas dari mulutnya. Rasa sesak dan trauma sempat membayanginya selama beberapa minggu terakhir seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa optimis yang membara.
Zora merangkul pundak Rhea erat-erat. "Lu tuh kuat, Rhe. Lu udah melewati masa-masa paling kritis dalam hidup lu. Kecelakaan itu nggak merusak lu, justru itu membuat lu jadi lebih tangguh. Gue yakin banget, biro hukum lu ini bakal sukses besar."
"Yaudah, yuk beres-beres." ajak Zora dan meregangkan ototnya. "Gue bantu rapihin bekas kotak pizza sama cangkir tehnya ke bawah, habis itu gue mau pamit pulang. Lu juga harus istirahat, besok kan hari pertama kantor kita resmi beroperasi."
"Eh gak usah, Ra. Biar gue aja yang bereskan besok pagi," cegah Rhea.
"Dikit doang kok, sekalian gue turun ke bawah mau ambil jaket yang ketinggalan di kursi tamu," pangkas Zora santai sambil mengumpulkan kotak pizza kosong di atas meja.
Rhea tersenyum geleng-geleng kepala melihat kegigihan sahabatnya itu. Dia ikut menyambar dua cangkir kotor untuk dibawa ke wastafel kecil di lantai bawah.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuruni tangga menuju lantai satu yang agak remang-remang karena hanya diterangi lampu penerima tamu. Suara langkah kaki mereka beradu dengan candaan-candaan kecil yang tak henti-hentinya terlontar dari mulut Zora.
Namun, tepat ketika Zora menyambar jaketnya di atas kursi tamu dan Rhea meletakkan cangkir di dapur kecil belakang, jam dinding di lantai satu berdenting nyaring menunjukkan tepat pukul sepuluh malam.
Tiba-tiba dari arah luar ruko yang sepi, terdengar suara ketukan pelan di pintu kaca depan yang terkunci.
Tokk... Tokk... Tokk...
Zora menghentikan gerakannya yang sedang memakai jaket. Dahi Zora berkerut bingung. Dia menoleh ke arah Rhea.
"Eh, Rhe..." bisik Zora pelan. "Ada orang ngetuk pintu depan tuh? Jam sepuluh malam begini siapa ya?"
Rhea pun menghentikan langkahnya di dekat dapur kecil, memegang dua cangkir kosong yang mendadak agak tegang.
"Siapa ya malam-malam begini? gumam Zora pelan. Sambil berjalan perlahan mendekati pintu kaca ruko, menyingkap sedikit tirai tipis yang menutupi bagian dalam.
Rhea menyusul di belakangnya, menahan napas. " Ada orangnya gak, Ra?"
Zora menyipitkan mata, menempelkan wajahnya ke kaca untuk melihat kondisi jalanan di luar. Hujan gerimis masih menyisakan genangan air di trotoar yang basah, memantulkan cahaya kuning dari lampu jalanan. Dan tidak ada siapa-siapa di depan ruko itu.
"Gak ada siapa-siapa Rhe," ujar Zora sambil berbalik, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mungkin angin kencang atau dahan pohon yang ngetok pintu kaca depan. Atau emang telinga gue aja yang rasa keliru gara-gara ngantuk."
Rhea menghela napas lega. "Bisa jadi, Ra. Hujankan dari tadi lumayan ada anginnya. Yaudah, mending lu langsung pulang aja, udah makin malam nih."
"Iya deh, gue juga udah merem melek ini." Sahut Zora sambil mengancingkan jaketnya rapat-rapat. Dia menyambar kunci motor dan helmnya di meja tamu.
"Lu jangan lupa kunci pintu bawah sama matiin lampu luar yah, Bu Pengacara. Sampai ketemu besok pagi."
"Siap, Ra. Hati-hati di jalan, kabarin kalau udah sampai kosan," seru Rhea sambil mengantar Zora sampai ke depan pintu.