NovelToon NovelToon
Sistem Sang Raja Pahlawan

Sistem Sang Raja Pahlawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Action
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Laten Kishi

Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.

Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran

Disaat Bos Monster lenyap, cuaca yang sebelumnya gelap dan hujan deras, sekarang menjadi cerah dengan cahaya matahari menyinari padang bunga penuh warna menampilkan keindahan yang sebelumnya tidak terlihat.

Lumina dari kejauhan menyarungkan pedangnya dan pergi ke arah Akira, saat ia di hadapan Akira ia sedikit menunduk sambil berbicara,

“Terima kasih Tuan, jika anda tidak melancarkan serangan terakhir itu, mungkin saya tidak akan bertahan.”

Akira dengan muka datarnya menjawab.

“Ya.” 

“Tubuhku, tidak bisa digerakkan… ” pikir akira yang kehabisan mana dan terpaku ditempat.

Ding…

[Selamat! anda telah mengalahkan Bos Monster level menengah]

[Sebagai kompensasi karena intervensi yang tak terduga, anda mendapatkan hadiah tambahan berupa:Spell Heal Dan Wind Blade]

[Kemudian saya akan melakukan penyembuhan pada anda dan pahlawan anda]

[Penyembuhan dilakukan…]

Cahaya berwarna hijau muncul di sekeliling mereka berdua dan cahaya itu perlahan menyembuhkan mereka, Akira yang sebelumnya tidak bisa bergerak menjadi bisa bergerak, kemudian Lumina yang terluka banyak karena serangan dari Monster, luka- lukanya seketika langsung sembuh.

Ding...

[Selamat! anda telah menyelesaikan Quest Ketiga Kebangkitan Sang Raja Pahlawan]

[Hadiah dari penaklukan Retakan Portal diberikan]

[Hadiah:Set Pakaian Raja Pahlawan]

[Set Pakaian Raja Pahlawan Berada di Inventory, untuk mengeceknya anda bisa mengucapkan atau memikirkan inventory]

“Yang lebih penting, aku mau cepet pulang..." pikir Akira.

Ding...

[Karena Retakan Portal sudah ditaklukan, semua orang yang berada di dalam Retakan Portal akan dikeluarkan]

Kilauan cahaya muncul dalam sekejap dan menghalangi pandangan mereka berdua.

Tak lama, Kilauan cahaya itu menghilang dan mereka melihat kembali hutan yang sebelumnya mereka datangi.

Namun, pemandangan yang mereka berdua lihat saat ini, ada yang berbeda dan bukan pemandangan yang baik.

“Apa-apaan ini.” 

Akira mengamati sekeliling menyadari bahwa dirinya dikepung oleh tentara, ia melihat banyak tentara yang sedang menodongkan senjata api ke arah mereka berdua.

“Angkat kedua tangan kalian! ikuti kami baik- baik dan jangan melawan!” teriak salah satu tentara.

“Gawat… bagaimana bisa seperti ini...”

Akira melihat Lumina memegang gagang pedang yang masih disarung, sambil sedikit mengeluarkan bilah pedangnya, dia bersiap menebas orang orang yang mengepung mereka berdua.

Walau kejadian yang tak diketahui ini menimpa mereka berdua, Akira mencoba untuk tetap tenang, lalu berbicara pelan ke Lumina,

“Jangan."

Mendengar hal itu Lumina menyarungkan bilah pedangnya dan menjatuhkannya ke tanah, kemudian, mereka berdua pun mengangkat kedua tangan mereka.

Dengan nada santai dan muka datar seolah tak takut, Akira berbicara,

“Kami tidak akan melawan.”

Para tentara itu langsung bergegas maju dan memborgol Akira serta Lumina, kemudian para tentara itu membawa mereka ke mobil dan pergi ke suatu tempat.

Beberapa Menit Berlalu...

Tak lama mereka dibawa ke sebuah bangunan aneh yang sebelumnya tidak pernah ada, bangunan itu tinggi seperti gedung namun bangunan itu sama sekali tak memiliki kaca dan sepenuhnya berwarna putih.

Setelah masuk ke gedung aneh itu, mereka melihat didalamnya seperti gedung pada umumnya dan mereka berdua dibawa ke sebuah ruangan yang tidak luas dan tidak kecil dengan minimnya barang yang terlihat, hanya ada dua kursi, satu meja dan satu kursi di sisi lain meja, di sana serba putih seperti sebuah ruang isolasi.

Para tentara yang membawa mereka berdua langsung melepas ikatan borgol mereka dan menyuruh untuk menunggu di ruangan, kemudian para tentara itu pun keluar dari ruangan meninggalkan Akira dan Lumina.

“Tempat apa ini?" Pikir Akira sambil mengamati sekitarnya.

“Tuan.” Dengan suara pelan Lumina berbicara kepada Akira.

“Apa?”

“Entah kenapa, saya merasa melemah semenjak masuk ke bangunan ini,” ucap Lumina dengan suara pelan.

“Melemah? Tapi aku tak merasakan apa apa,” pikir Akira.

Ding...

[Bangunan ini terdeteksi menjadikan suatu Item Sihir tak dikenal menjadi intinya]

[Efeknya setiap Pahlawan yang masuk ke bangunan ini kemampuannya akan berkurang 70%]

“70%!? Aku tidak pernah tau ada Item Sihir yang punya debuff sebanyak ini," pikir Akira dengan bingung.

[Namun efek itu tidak berpengaruh pada anda, karena anda memiliki Otoritas Raja Pahlawan]

Cklek!

Suara pintu terbuka terdengar, masuk seorang pria dengan postur tubuh yang gagah dan besar namun dengan wajah yang muda, menggunakan baju militer yang berbeda dari tentara yang sebelumnya.

“Maaf karena tidak menyambut kalian dengan baik sebelumnya," ucap pria itu.

Berbeda dari penampilannya saat berbicara omongannya terasa baik selain itu suaranya juga berat, kemudian pria itu langsung duduk di hadapan Akira dan Lumina yang terpisah oleh meja.

“Ada urusan apa dengan kami?” tanya Akira dengan muka datarnya sambil tangannya bersidekap di dada.

“Langsung ke intinya saja, mau kah kalian berada di bawah dukungan pemerintah?” ucap Pria itu.

Mendengar perkataan Pria didepannya Akira mencoba untuk bertanya apa maksudnya, setelah itu, pria didepannya menjelaskan secara panjang lebar, dan inti darinya pemerintah ingin merekrut Akira dan Lumina.

Karena banyak para pahlawan membuat sesuatu seperti Guild yang didukung oleh masyarakat, untuk menyaingi hal tersebut pemerintah ingin merekrut Akira dan Lumina, karena mereka menganggap Akira dan Lumina bisa mengalahkan 10 Rank C dengan mudah.

Namun Akira yang mendengar semua penjelasannya merasa tak percaya, bukan karena prekrutannya, tapi—

Ding...

[Maaf, saya tidak menyadari Fluktuasi waktu yang terjadi di dalam Retakan Portal, ternyata saat anda berada di dalam Retakan Portal yang terintervensi, bukan hanya Bos Monster yang menjadi kejanggalan]

[Saat anda di dalam Retakan Portal, waktu berjalan lambat, sehingga terjadi perbedaan waktu antara di dalam Retakan Portal dan di Luar]

[Yang dimana waktu diluar sudah berjalan selama 1 bulan]

Setelah mengetahui hal tersebut Akira bingung harus bagaimana, karena dia melewatkan invasi dari monster yang seharusnya jadi kunci utama untuk naik level.

Disaat sedang berpikir Pria di hadapannya tiba-tiba berbicara.

“Jika anda masih bingung, anda bisa memutuskannya nanti, pertama, kalian bisa mengecek Rank dan Level kalian dulu.”

“Mengecek Rank dan Level?” tanya Akira.

Cklek!

Seorang wanita berambut pendek memakai setelan jas hitam masuk ke ruangan, aura yang dipancarkannya terasa elegan, dan terlihat ia membawa sesuatu di kedua tangannya, sesuatu itu seperti sebuah bola kristal.

Perempuan itu menaruh sesuatu seperti bola kristal itu di meja.

“Ini adalah bola kristal yang dapat mengecek Rank dan Level kalian,” ucap Pria itu.

Pria itu meletakkan tangannya di bola kristal, tak lama, di bola itu muncul sebuah bentuk huruf dan angka yang berantakan, namun tetap terlihat sebuah huruf B dan angka 41.

“Kalian lihat? Yang huruf adalah Rank ku sedangkan angka adalah Levelku."

“Kau cobalah dulu.” ucap pria di hadapan Akira sambil menyodorkan bola kristal di meja ke arah Akira.

Akira pun menyentuh Bola Kristal itu dan hanya muncul angka 20.

“Sudah kuduga, tidak muncul huruf," pikir Akira.

Dihadapan Akira, Pria dan wanita itu terlihat kebingungan melihat bola kristal yang disentuh Akira.

“Aneh… kenapa tidak muncul Ranknya, padahal selama ini tidak ada masalah pada Alatnya," ucap Pria itu sambil menunjukan raut wajah ragu.

"Hmm… mohon maaf, bukannya tidak percaya padamu, tapi aku bakal menganggap Rank Pahlawanmu F, apa tidak apa apa?”

“Ya, tidak apa apa.” ucap Akira dengan tenang, karena ia sendiri sekarang tidak terlalu peduli pada Ranknya.

“Selanjutnya anda nona.” Pria itu menyodorkan bola kristal ke arah Lumina.

Lumina menyentuh bola kristal dan seketika bola kristal menunjukkan Huruf F dan Angka 22.

Pria itu melihat bola kristal dan berbicara,

"Jika berdasarkan Rank dan Level, kalian mungkin tidak bakal dapet dukungan banyak dari pemerintah."

“Yaa… biarlah, lagian aku belum memutuskannya,” pikir Akira.

“Dan maaf sebelumnya aku telat memperkenalkan diri, namaku Kyougo Kato, kalian bisa memanggilku Kato.” Pria itu tersenyum dengan tangan yang menunjuk dirinya sendiri dengan jempol.

Kato menunjuk wanita di sebelahnya lalu berkata,

“Dan wanita ini adalah Rihona Amamiya, dia asistenku.”

"Salam kenal, kalian bisa memanggil saya Amamiya," ucap Wanita itu sambil sedikit menunduk.

“Namaku Akira Yoshikawa, kalian bisa memanggilku Yoshikawa,” ucap Akira dengan datar.

"Dan perempuan di sebelahku adalah Lumina, dia teman jauh dari luar negeri.” ucapnya.

“Aku harus merahasiakan identitasnya," pikir Akira.

“Kalau begitu, kami akan tunggu keputusan kalian berdua nanti, lalu, Amamiya akan mengantar kalian ke hadiah kecil yang kami beri." ucap Kato.

"Hadiah?" pikir Akira.

Setelah perbincangan yang panjang, Akira dan Lumina diantar Amamiya menggunakan mobil.

Mereka berdua tidak diantar ke apartemen tempat tinggal sebelumnya, namun diantar ke sebuah tempat yang berbeda, tak jauh dari gedung aneh sebelumnya, dan juga sepi akan penduduk.

Karena sudah sampai, mereka turun dari mobil, lalu Amamiya menghampiri Akira karena ingin memberikan sesuatu.

“Ini kuncinya, jika ada pertanyaan kalian bisa menghubungi nomor di kartu ini, barang-barang Anda juga akan saya ambil nanti.” Amamiya menyerahkan kunci dan sebuah kartu bertuliskan nomor miliknya.

Setelah itu Amamiya kembali naik ke mobilnya dan pergi meninggalkan mereka berdua.

Akira pun berbalik dan melihat sesuatu yang membuatnya terdiam.

“Ini... hadiah yang katanya kecil?” pikirnya.

Akira yang sedang berdiri bersebelahan dengan Lumina, melihat bangunan rumah mewah bertingkat 2 dan berwarna putih yang ada di hadapan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!