NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Negosiasi Utang dan Bunga Majemuk

"Mia! Kalau nasabah mulai nangis, lo kasih tisu! Tapi ingat, tisunya masukin ke tagihan biaya admin, lima emas per lembar!"

"S-siap, Bu Bos! Dicatat: tisu berbayar!"

Aura mondar-mandir di ruang VIP Keuangan. Ia sudah berdandan sangat profesional dengan setelan rompi hitam dan kemeja sutra putih. Di atas mejanya, tergeletak artefak kristal biru yang menyala redup, beserta setumpuk dokumen kontrak yang baru saja ia ketik ulang.

Tepat pukul sembilan pagi, pintu ruangan dibuka perlahan.

Pangeran Arthur melangkah masuk. Penampilannya sangat berbeda dari biasanya. Rambut pirangnya kusut, kantung matanya menghitam, dan pakaiannya terlihat belum disetrika. Aura protagonisnya benar-benar hancur lebur tergantikan oleh aura orang yang terjerat pinjaman online (pinjol).

"Elara..." sapa Arthur lirih.

"Selamat pagi, Yang Mulia Pangeran Arthur! Silakan duduk," sambut Aura dengan senyum lebar ala Customer Service bank. "Ada yang bisa dibantu oleh Departemen Keuangan Pangeran Caden hari ini?"

Arthur duduk di kursi tamu, matanya langsung tertuju pada artefak kristal di atas meja Aura. Tangannya mengepal.

"Kau tahu tujuanku ke sini, Elara. Jangan mempermainkanku lagi," kata Arthur dengan suara serak. "Aku datang untuk membeli artefak itu. Sesuai penawaranmu semalam di pelelangan. Satu setengah juta koin emas."

"Wow, ternyata Anda berhasil dapat approval utang dari Bank Pusat? Hebat juga credit score Anda," puji Aura sarkas.

Aura menopang dagunya, menatap Arthur dengan tatapan iba yang dibuat-buat. "Tapi Pangeran, penawaran satu setengah juta itu berlaku tadi malam. Di dunia saham, harga itu fluktuatif. Berita wabah di wilayah sekutu Anda pagi ini makin parah, kan? Artinya, demand (permintaan) atas artefak ini naik drastis."

Arthur membelalakkan matanya ngeri. "A-apa maksudmu?! Kau ingin menaikkan harganya lagi?!"

"Bukan menaikkan, Pangeran. Saya hanya menyesuaikan dengan harga pasar," Aura menyodorkan sebuah dokumen kontrak tebal ke hadapan Arthur.

"Harga artefaknya tetap satu setengah juta koin emas. TAPI, karena saya tahu Anda pasti bayarnya pakai skema cicilan utang dari Bank Pusat yang cairnya masih bulan depan, saya harus mengenakan biaya kompensasi penundaan pembayaran. Atau bahasa kerennya: Bunga."

"Bunga?!" Arthur membaca dokumen itu dengan tangan gemetar. "Sepuluh persen per bulan?! Dan... dan ini bunga majemuk?! Elara, ini perampokan! Dalam setahun, utangku akan membengkak jadi jutaan emas!"

"Bukan perampokan, Pangeran. Ini kapitalisme," jawab Aura santai, menyilangkan kakinya. "Anda butuh barangnya sekarang untuk nyelamatin nyawa rakyat dan nyelamatin takhta Anda. Saya butuh cuan. Kalau Anda nggak setuju, silakan keluar. Saya dengar tabib di pasar bawah jual obat herbal ramuan cacing, mungkin itu bisa nyembuhin wabah."

"Kau benar-benar tidak punya hati nurani!" bentak Arthur, menggebrak meja kaca.

"Hati nurani nggak bisa bayar gaji karyawan gue, Pangeran!" balas Aura tak kalah keras. "Lagian, Anda yang dari awal nggak becus ngurus wilayah sampai wabah menyebar! Terus sekarang Anda mau nyalahin gue karena jualan obat? Mikir!"

Arthur terdiam. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Beban dari kegagalannya sendiri akhirnya menghancurkan egonya.

"Aku... aku tidak sanggup membayar bunga majemuk sepuluh persen, Elara," lirih Arthur putus asa. "Bank Pusat hanya memberiku limit utang satu setengah juta. Tolong... apa tidak ada cara lain?"

Aura tersenyum tipis. Nah, ini dia saat yang ditunggu-tunggu.

"Tentu saja ada," Aura menarik kembali dokumen pertama, lalu melempar dokumen kedua yang lebih tipis namun jauh lebih mematikan. "Saya ini asisten yang solutif. Kalau Anda nggak sanggup bayar cash atau cicilan, kita pakai sistem barter aset alias Collateral (agunan)."

Arthur menatap dokumen itu dengan curiga. "Aset apa lagi yang kau inginkan? Kau sudah mengambil setengah dari ladang gandumku!"

"Nah, kebetulan saya mau sisanya," jawab Aura dengan mata berbinar-binar memancarkan kelicikan.

"A-apa?!"

"Tanda tangani kontrak ini, Pangeran. Anda menyerahkan sisa 49% saham kepemilikan Wilayah Pertanian Timur kepada Departemen Keuangan Pangeran Caden. Sebagai gantinya, artefak ini milik Anda, lunas, tanpa bunga, tanpa cicilan."

Aura mencondongkan tubuhnya ke depan. "Nyawa rakyat Anda selamat, dan takhta Anda aman. Sayangnya, Anda tidak akan punya sepetak tanah pun atas nama Anda lagi. Anda akan resmi menjadi pangeran yang hanya hidup dari uang saku kerajaan."

"Ini gila... kau ingin memonopoli 100% produksi pangan kekaisaran?!" desis Arthur, menatap Aura seolah menatap iblis.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Caden masuk dengan langkah pelan yang menggema di ruangan sunyi itu. Ia tidak memakai jas, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, terlihat sangat santai namun berbahaya.

"Bukan dia yang ingin memonopolinya, Arthur. Tapi aku," kata Caden. Ia berjalan mendekati meja Aura, berdiri tepat di samping kursi gadis itu layaknya seorang penguasa sejati. Tangan besarnya bertumpu di bahu Aura.

"Kau berutang nyawa padaku dan asistenku, Saudaraku," lanjut Caden dingin. "Jika kami menjual artefak ini ke Fraksi Utara, wabah di wilayahmu akan membunuh puluhan ribu orang dalam seminggu. Pilihanmu hanya dua: serahkan tanahmu pada asistenku, atau biarkan rakyatmu mati untuk mempertahankan egomu."

Arthur mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya berkaca-kaca menatap dokumen itu. Ia melirik Mia, mantan pelayan pujaannya, yang kini justru memandangnya dengan tatapan datar sambil memegang sekotak tisu berbayar.

Semua orang di ruangan ini berada di pihak Caden dan asisten bar-barnya.

"Baiklah..." suara Arthur bergetar hebat. Ia mengambil pena bulu yang disodorkan Aura. "Kalian menang. Ambil tanah terkutuk itu."

Dengan cepat, Arthur menandatangani dokumen penyerahan hak milik mutlak. Ia langsung merampas artefak kristal itu dari meja, berbalik, dan lari keluar ruangan tanpa menoleh lagi.

Pintu tertutup rapat. Keheningan berlangsung selama dua detik.

"MIAAAAAA!" teriak Aura memecah keheningan, langsung melompat berdiri di atas kursinya. "KITA BERHASIL! MONOPOLI SERATUS PERSEN! MONOPOLI GANDUM NASIONAAAAAL!"

"YEEEEY! BU BOS HEBAAAAT!" Mia ikut melompat-lompat sambil menghamburkan tisu berbayarnya ke udara layaknya kembang gula.

Caden hanya bisa menutupi wajahnya dengan sebelah tangan, tawanya kembali pecah melihat kelakuan dua gadis barbar di ruangannya.

Aura melompat turun dari kursinya, langsung memeluk Caden dengan sangat erat tanpa sadar.

"Bos! Bos! Kita kaya raya! Laba lima persen gue bulan depan pasti nembus ratusan ribu emas!" teriak Aura, mendongak menatap Caden dengan mata berbinar-binar gembira.

Caden membalas pelukan itu, mengangkat tubuh Aura hingga kaki gadis itu melayang dari lantai marmer. Matanya menatap bibir Aura yang tersenyum lebar.

"Kerja yang sangat memuaskan, Asisten Elara," bisik Caden. "Monopoli gandum sudah di tangan. Sekarang, bagaimana kalau kita membahas monopoli hal lain?"

"Hal apa lagi, Bos?! Tambang emas? Rute perdagangan laut?!" tanya Aura masih dipenuhi euforia bisnis.

"Monopoli hatimu, Gadis Serakah," bisik Caden, tepat sebelum ia mencium bibir Aura lagi di tengah ruangan kantor itu, di bawah hujan tisu yang disebar oleh Mia yang kini langsung pingsan kegirangan melihat adegan romance bosnya.

1
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!