Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Perempuan yang Salah Diremehkan
Pesanan pertama Astarasa hampir gagal sebelum satu porsi pun dimasak.
Dua minggu setelah kunjungan Arka, Ningsih menemukan harga bahan pokok pada laporan gudang tiga puluh persen lebih tinggi daripada nota pemasok. Lebih buruk lagi, truk pendingin yang dijanjikan untuk uji pengiriman ternyata tidak pernah dipesan.
"Besok pagi tim pengadaan datang," katanya. "Kalau suhu makanan tidak stabil, kita gugur."
Sekar menutup laptop. "Kita ke gudang sekarang."
Pak Djoyo mencoba meminta mereka menunggu pagi, tetapi Sekar sudah mengenakan jaket. Bening mengemudikan mobil menuju Astarasa cabang Puncak, sementara Ningsih menelepon seluruh pemasok dalam daftar.
Gudang lebih kacau daripada laporan. Kardus bahan kering diletakkan dekat dinding lembap. Catatan masuk barang tidak cocok dengan jumlah di rak. Kepala gudang menyalahkan perusahaan perantara yang dipilih kantor pusat.
"Mulai malam ini, tidak ada barang keluar tanpa dicocokkan dengan surat jalan," putus Sekar. "Pindahkan bahan dari dinding. Pisahkan yang kemasannya rusak."
"Bu, itu butuh lembur."
"Lembur dibayar. Kerugian karena barang rusak juga dicatat. Saya tidak meminta siapa pun bekerja gratis, tapi saya ingin angka yang jujur."
Ia duduk di meja plastik bersama Ningsih sampai lewat tengah malam. Mereka membandingkan nota, memotong satu lapis perantara, lalu menghubungi koperasi petani lokal untuk pasokan sayur. Truk pendingin disewa dari mitra Astarasa cabang Bogor dengan harga yang dapat diverifikasi.
Ketua koperasi datang langsung membawa dua contoh sayuran. Ia semula ragu karena Astarasa terkenal membayar pemasok kecil terlambat.
"Tiga tagihan kami belum lunas sejak empat bulan lalu," katanya. "Kalau pesanan baru juga menunggu persetujuan Jakarta, kami tidak sanggup."
Sekar meminta Ningsih memeriksa nomor tagihan. Ketiganya tercatat sebagai sudah dibayar, tetapi uang tidak pernah masuk ke rekening koperasi.
"Kami bayar pengiriman besok saat barang diterima," putus Sekar. "Tunggakan lama diaudit terpisah. Bapak jangan menandatangani bukti lunas sebelum uang masuk."
"Ibu berani menulis itu di kontrak?"
"Ningsih, tambahkan klausulnya."
Pria itu membaca rancangan baru, lalu menjabat tangan Sekar. Pasokan sayur aman. Sebagai gantinya, Astarasa mendapat harga langsung yang lebih rendah tanpa menekan petani.
Sekar memandang tiga tagihan palsu. Kebocoran bukan hanya mengurangi keuntungan keluarga. Seseorang telah memakai nama Astarasa untuk mengambil uang sekaligus membuat pemasok kecil menanggung utang.
"Buat kanal pengaduan langsung," katanya. "Setiap pemasok harus bisa mengecek status pembayaran tanpa melalui kepala pembelian."
Pak Djoyo yang sejak tadi mengawasi mengangguk puas. "Cara bicara Mbak mengingatkan saya pada Eyang Wiryo."
"Saya belum pernah mengelola usaha sebesar ini."
"Eyang juga mulai dari dua belas meja. Yang penting beliau mau turun melihat sendiri."
Kalimat itu menahan Sekar tetap tegak ketika kantuk dan nyeri kepala mulai datang.
Pagi hari, Sekar memimpin uji pengemasan dengan mata merah tetapi suara mantap.
Suhu dicatat saat makanan keluar dapur, ketika masuk kendaraan, dan saat tiba di lokasi pelatihan. Setiap kotak diberi kode produksi agar bahan dapat dilacak.
Yudha memeriksa formulir. "Tim akan membawa sampel ke laboratorium pangan."
"Silakan. Data pemasok dan dapur ada di sini."
Arka datang bersama Bimo dan Nala menjelang siang. Ia tidak ikut menilai penawaran, hanya menjemput Yudha setelah rapat logistik. Namun dari ambang kantor gudang, ia melihat Sekar menghadapi seorang pria di layar konferensi.
Pak Handoko, direktur pelaksana Reksa Group, bersandar di kursinya di Jakarta.
"Bu Sekar tidak perlu repot turun ke gudang," katanya. "Urusan operasional sebaiknya diserahkan kepada orang yang berpengalaman."
Sekar mengangkat tabel biaya. "Orang berpengalaman yang mana? Perantara yang menaikkan harga tiga puluh persen atau kepala pembelian yang memesan truk fiktif?"
"Jangan membuat kesimpulan dari satu malam pemeriksaan."
"Saya tidak membuat kesimpulan. Saya menunjukkan tiga puluh dua nota, enam surat jalan, dan rekening penerima yang sama."
Ningsih membagikan layar. Angka-angka muncul dalam kolom sederhana: harga pemasok, harga perantara, selisih, dan pihak yang menyetujui.
Pak Handoko terdiam sesaat. "Ini bisa dijelaskan."
"Silakan jelaskan sebelum pukul lima sore. Mulai hari ini, pembayaran kepada perantara itu dihentikan sementara dan seluruh persetujuan pembelian di atas batas tertentu harus memakai dua tanda tangan."
"Anda tidak punya kewenangan operasional penuh."
"Saya punya hak sebagai pemegang manfaat dan pihak yang dirugikan. Kalau Bapak menolak audit, kirim penolakan tertulis."
Pak Handoko tidak mengirimnya.
Ia hanya berkata akan memeriksa, lalu memutus panggilan.
Arka masuk setelah layar gelap. "Anda membuat orang di Jakarta berkeringat dari gudang kecil di Puncak."
Sekar menoleh. "Saya hanya meminta dia membaca angkanya."
"Cara Anda meminta cukup efektif."
"Apakah tim pengadaan terganggu oleh masalah internal kami?"
"Mereka justru melihat Anda memperbaikinya sebelum kontrak berjalan. Selama semua standar dipenuhi, itu nilai tambah."
Nala menarik ujung jaket Sekar. "Aku boleh bantu?"
Sekar memberi kedua anak satu lembar hitung sederhana. Ia menggambar kotak-kotak makanan dan meminta mereka mencocokkan jumlah dengan angka pengiriman.
"Kalau ada seratus kotak dan satu mobil membawa dua puluh lima, perlu berapa mobil?"
"Empat!" jawab Nala cepat.
Bimo menunjuk satu baris. "Yang ini salah. Ditulis sembilan puluh sembilan."
Sekar memeriksa. Anak itu benar. Satu kotak uji belum masuk daftar.
"Mata Bimo lebih tajam daripada auditor kita," katanya.
Sudut bibir anak itu terangkat.
Selama beberapa hari berikutnya, Sekar bolak-balik antara vila dan gudang. Pesanan uji lolos laboratorium. Pengiriman pertama tiba tepat waktu tanpa satu kotak pun kehilangan suhu aman. Tim pengadaan memberi Astarasa kontrak percobaan terbatas, lengkap dengan evaluasi bulanan.
Tidak ada hadiah. Tidak ada jalur belakang.
Hanya pekerjaan yang selesai.
Arka datang lagi pada akhir pekan untuk mengambil dokumen evaluasi yang dititipkan kepada Yudha. Kali ini Sekar tampak berbeda. Wajahnya masih kurus, tetapi warna pucatnya berkurang. Ia berbicara sambil berdiri di depan papan alur distribusi yang dibuat sendiri.
Arka menatapnya beberapa detik terlalu lama.
"Ada yang salah?" tanya Sekar.
"Tidak. Saya hanya berpikir banyak orang pasti pernah salah menilai Anda."
"Termasuk Anda?"
"Saya tidak sempat menilai. Pertama kali bertemu, Anda sedang mengeluarkan anak saya dari mobil yang hampir jatuh. Standar awalnya sudah terlalu tinggi."
Sekar tertawa kecil sebelum sempat menahannya.
Di sudut ruang kerja, Bimo membantu menyusun nota berdasarkan angka. Setelah Arka memanggil untuk pulang, anak itu berdiri di depan Sekar sambil meremas ujung kertas.
"Tante..."
"Iya?"
Bimo menatap lantai. Suaranya begitu rendah hingga hampir hilang di antara bunyi printer.
Jari Sekar berhenti di atas tumpukan nota. Pertanyaan sederhana itu menyentuh ruang kosong yang selama ini tidak berani ia lihat.
"Aku boleh panggil Tante apa?"