Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.
Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.
Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’
Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENYELAMATKAN JERIH PAYAH ORANG TUA
Sutami berdiri menghadang Kuswara yang membawa map cokelat di tangannya. Di dalam map itu ada sertifikat rumah.
"Mau kemana? Letakkan itu!" suara Sutami bergetar menahan marah. "Aku tidak mengizinkan kamu menjual rumah ini!"
Kuswara mendengus. "Ini rumahku juga, Mbak. Aku berhak."
"Berhak? Kau berhak setelah semua yang Bapak dan Emak korbankan?" Sutami maju selangkah, menatap sang adik dengan mata berkaca-kaca. "Kau tidak tahu. Dulu waktu kita masih kecil, Bapak sama Emak membangun rumah ini hanya berdua, tanpa menyewa satu pun tukang. Bapak harus berhemat, karena waktu itu kamu sering sakit-sakitan, sementara waktu itu rumah sudah hampir rubuh!"
Sutami menepuk pelan dadanya sendiri yang terasa penuh, lalu melanjutkan. "Dengan kerja sama Bapak sama Emak lah rumah sederhana ini bisa berdiri dan bisa kita tinggali sampai sekarang! Kau tega akan menjualnya begitu saja? Apa tak ada jalan keluar lain?"
Kuswara tidak menunduk, ia justru menyeringai sinis. "Jadi sekarang kau menyalahkanku karena dulu sering sakit-sakitan? Hebat, Mbak. Memutarbalikkan fakta memang keahlianmu."
Sutami mengelus dadanya, menahan sesak. "Bukan begitu, Kuswara. Tapi aku mau kamu jangan seenaknya sendiri menjual rumah ini. Kamu bahkan tidak pernah membantu waktu kami susah payah merenovasi dapur lima tahun yang lalu. Kamu selalu punya alasan. Banyak tugas kuliah lah, PKL lah. Kamu selalu menghindar dari pekerjaan rumah!"
"Ya iyalah! Aku sibuk mencari masa depan! Beda sama kamu!" bentak Kuswara. "Kerja jadi guru TK gajinya berapa, sih? Nggak ada gunanya juga. Dari dulu sampai sekarang cuma gitu-gitu doang!"
"Kamu!"
"Aku apa?" potong Kuswara melangkah mendekat. "Justru kamu biang keroknya. Kamulah pembawa aura gelap di rumah ini, makanya nggak laku-laku, nggak ada laki yang mau sama kamu, itu sebabnya penghuni rumah ini sial terus. Perawan tua pembawa sial! Makanya utangku menumpuk, semua gara-gara aura sialmu, Mbak!"
Kata-kata itu menghantam Sutami seperti cambuk. Dadanya semakin terasa panas. Kesabarannya menipis, amarah yang ia tahan selama bertahun-tahun akhirnya putus.
Plak!
Tamparan Sutami mendarat di pipi Kuswara dengan keras.eski setelahnya Sutami menarik tangannya yang gemetar, karena hati kecilnya tak rela. 'Aku hanya sedang memberi pelajaran untuk adikku yang bandel, aku tidak bersalah!' pekiknya dalam hati untuk menguatkan diri.
Kuswara terkejut, sontak matanya melotot tajam penuh amarah. "Kamu berani?!"
Dengan kasar ia mendorong bahu Sutami hingga tubuhnya terhuyung. Tepat saat itulah Sutami berhasil meraih ujung lain map yang dipegang Kuswara. Tapi karena tubuhnya tak stabil, dokumen itu robek dan Sutami terpental lalu jatuh terjerembab di tanah.
Kuswara tertawa sinis, mengangkat map cokelat itu tinggi-tinggi lalu berteriak dengan nada kecewa. "Kan?! Jadi robek! Kau benar-benar pembawa sial, Mbak!" bentaknya tanpa ampun.
Sutami terisak di tanah, lututnya berdarah tapi Kuswara tak peduli. "Kau boleh mengatai aku apapun sesukamu, asal jangan menjual rumah ini!" ujar Sutami dengan suara yang semakin gemetar pilu.
"Bodo amat!" Tanpa menoleh lagi, Kuswara melangkah pergi meninggalkan Sutami yang masih duduk di tanah, dengan tangan mengepal dan air mata yang akhirnya jatuh.
Setelah Kuswara pergi, Pak RT segera menghampiri Sutami. "Semakin hari adikmu semakin kurang ajar saja! Apa sih yang sebenarnya terjadi?" tanya Pak RT mengulurkan tangan membantu Sutami untuk berdiri lagi.
Sutami mengusap air mata dengan ujung kemejanya, lalu menggeleng pelan. "Saya juga belum tahu pasti, Pak." Sutami berusaha berbohong, ia tak mungkin mengumbar aib keluarganya sendiri.
"Dia masih menyalahkanmu terus karena kamu belum menikah?" tanya Pak RT penuh kehati-hatian. "Memangnya yang kamu cari itu pemuda yang gimana sih, Mbak Tami... siapa tahu Pak RT punya kenalan."
Sutami menghela napas dalam-dalam setelah merapikan pakaiannya yang kotor karena jatuh tadi. "Ya yang umum aja, Pak. Yang bisa jadi pengayom keluarga, taat beragama, ya gitulah, Pak. Nggak muluk-muluk kok," sahut Sutami menahan kesal karena pertanyaan itu sudah ia dengar ribuan kali dan ia pun menjawab konsisten.
"Sebenarnya saya ke sini karena ada urusan. Jadi, ada kolega saya, dia orangnya baik, seiman. Katanya tertarik untuk... melamar Mbak Sutami. Besok rencananya mau silaturahmi ke sini. Bagaimana?"
Sutami menunduk, jemarinya meremas tali tas selempangnya. "Sebenarnya saya nggak yakin, Pak. Situasi keluarga kami sedang tidak baik-baik saja."
Pak RT mengangguk pelan, berusaha memahami. "Oh... begitu. Ya sudah. Kalau nanti berubah pikiran, datang ke rumah Bapak ya. Kita bicarakan baik-baik."
Pak RT lalu melirik ke arah rumah Sutami yang pintunya menutup rapat. "Eh, Bapakmu dirawat di mana? Setelah ini para warga sepakat mau bergantian menjenguk. Biar cepat pulih."
"Di RSUD, Pak. Ruang Melati," jawab Sutami lirih.
Dalam hati Pak RT bergumam, 'Ah, aku harus mengabarkan hal ini pada Pak Sukimin. Semoga berita perjodohan ini bisa menghibur hatinya sedikit.'
Sebelum Pak RT pamit, Sutami memberanikan diri bertanya. "E... Pak RT tahu di mana alamat kerja Kuswara?"
"Yang di pabrik selep itu, to? Tahu. Di Kampung Majumapan. Kamu tanya aja, warga disana pasti tahu semua. Tanya aja, nama pemiliknya Pak Waluyo."
Sutami mengangguk mengerti. "Hmm, baiklah terimakasih banyak, Pak."
"Memangnya ada apa?" tanya Pak RT bernada khawatir.
"Nggak apa-apa, Pak. Cuma tanya aja buat nyari Kuswara." Terpaksa Sutami berbohong lagi. 'Aku harus ke bosnya Kuswara dulu. Semoga dia orang baik dan mau mendengarkanku.'
Dengan motor matik kesayangannya, Sutami tancap gas menuju pabrik tanpa peduli dengan debu jalanan dan angin sore yang menerpa wajahnya.
Sampai di pabrik, saat Sutami mengutarakan maksud kedatangannya, ia disambut gelengan sang satpam. "Pak Waluyonya sudah pulang dari tadi, Mbak."
Sutami menghela napas setengah putus asa. "Kalau gitu, bolehlah saya minta alamat rumah beliau, Pak?"
"Hm, itu... saya nggak berani ngasih ke sembarang orang, memangnya ada keperluan apa, Mbak? Kembali saja kemari besok, biasanya Pak Waluyo akan datang sekitar jam 10-an, setelah mengurus putri bungsunya yang sakit jiwa." Sepertinya si satpam terlalu jujur menjelaskan. Ia baru menyadari setelah kalimatnya selesai. "Eh, maksudnya sakit... Ah, maaf ya Mbak. Jangan di dengar yang terakhir saya katakan tadi," ralatnya seraya memohon, lalu menampar pelan mulutnya sendiri yang ceroboh.
"Kalau gitu, berikan saja alamat rumahnya, saya adalah kakaknya Kuswara, saya cuma mau bicara untuk membantu menyelesaikan persoalan adik saya," jujur Sutami. "Atau saya besok datang lagi, terus bilang ke pak Waluyo kalau Anda mengatai putri bungsunya gila? Pilih mana Pak?" tekannya.
Akhirnya satpam itu tak punya pilihan. "Rumahnya di desa Sukamampu, Mbak. Rumah paling megah di pinggir kampung." Satpam itu menjawab lirih.
Dengan jantung berdegup semakin kencang, Sutami menarik tuas gasnya menuju ke alamat yang disebutkan tadi.
Tepat sesuai gambaran si satpam. Rumah itu pagarnya tinggi dan megah. Begitu gerbang besi dibuka oleh pembantu, Sutami tertegun.
Halamannya luas, ada taman bunga tertata rapi dan kolam ikan di sudut kanan, ada gazebo kayu dengan bangku untuk duduk di sudut lainnya.
"Ini beneran rumah orang?" gumam Sutami menciut. "Ya Tuhan... ini istana! Alangkah nyamannya tinggal dirumah seperti ini!" lirihnya tak rela mengedipkan mata saking takjubnya.
"Tunggu di teras sana ya, Mbak. Saya panggilan Bapak dulu," kata sang pembantu.
Sutami mengangguk tanpa menjawab karena mulutnya sibuk menganga mengagumi bangunan megah bak rumah-rumah yang sering ia lihat di televisi, sebagai latar sinetron ikan kena kail.
"Ibu?! Ibu pulang? Ibu hidup lagi?!" Dari arah gazebo, terdengar suara ceria yang menyadarkan Sutami dari lamunannya.
Seorang gadis kecil dengan rambut berkuncir dua, berlari ke arahnya. Mata mungil itu berkaca-kaca, kemudian langsung memeluk Sutami erat.
Sutami terpaku, jantungnya pun berdegup kencang. "Ibu!" terdengar Isak gadis itu semakin erat memeluk pinggang Sutami.
...****************...
Bersambung
rasain tuh 😏