NovelToon NovelToon
Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

​Srek! Srek!

​Suara tangan yang memetik buah dari tangkainya terdengar bersahutan di kebun belakang rumah.

​Matahari sudah mulai naik sepenggalah, menyinari daun-daun hijau yang tampak sangat segar.

​Adit menyeka keringat di dahinya menggunakan punggung tangan.

​Dia melihat keranjang bambu besar di hadapannya yang sudah hampir penuh terisi.

​Buah cabai yang mereka panen hari ini benar-benar tidak masuk akal.

​Ukurannya dua kali lipat lebih besar dari cabai biasa di pasaran.

​Warnanya merah merona sempurna dan kulit luarnya memantulkan cahaya matahari layaknya porselen.

​"Wah, gila bener ini, Dit!" seru Bang Sopo dari ujung bedengan sebelah kiri.

​"Abang seumur-umur belum pernah lihat cabai seger dan sebesar ini."

​Bang Sopo mengangkat satu buah cabai merah besar itu dan menelitinya dari dekat.

​"Ini mah bukan cabai kampung lagi, ini cabai sultan namanya!" tambah Bang Jarwo sambil tertawa lepas.

​"Resep rahasia almarhum bapakmu memang pantas diacungi jempol seratus, Dit."

​Adit hanya bisa tersenyum tipis mendengar pujian dari kedua pamannya.

​"Alhamdulillah, Bang. Berarti hari ini kita ada harapan buat dapat uang," jawab Adit pelan.

​"Bukan cuma dapat uang, Dit, ini mah bakal jadi rebutan tengkulak di pasar," sahut Bang Sopo semangat.

​Hanya dalam waktu dua jam, mereka berhasil memanen seluruh bedengan cabai.

​Tiga keranjang bambu berukuran besar kini sudah terisi penuh hingga menggunung.

​Aroma pedas dan segar dari cabai-cabai itu menguar kuat di udara.

​Adit menatap hasil panen pertamanya dengan perasaan campur aduk.

​Rasa putus asa yang sempat menghantuinya saat di-PHK perlahan mulai terkikis.

​[Pemberitahuan Sistem: Panen Cabai Berkualitas Tinggi Berhasil Diselesaikan.]

​[Kualitas Panen: Kelas S.]

​[Tugas Baru Diterima: Jual hasil panen pertama di pasar kota untuk mendapatkan modal awal.]

​[Hadiah Tugas: 300 Poin Pengalaman dan 1 Paket Bibit Sayuran Unggul.]

​Adit membaca layar transparan biru yang muncul sekilas di depan wajahnya.

​Dia mengangguk pelan, menyetujui tugas baru yang diberikan oleh sistem.

​"Bang Jarwo, saya pinjam motor tuanya buat ke pasar kota ya?" pinta Adit sambil mengangkat satu keranjang bambu.

​"Bawa saja, Dit, bensinnya juga baru paman isi penuh kemarin sore," jawab Bang Jarwo cepat.

​"Biar Abang bantu ikat keranjangnya di jok belakang motor," Bang Sopo langsung mengambil tali tambang dari gudang.

​Setelah semua persiapan selesai, Adit langsung menyalakan mesin motor bebek tua itu.

​Brumm! Brumm!

​Asap putih mengepul tipis dari knalpot saat Adit menarik tuas gas.

​"Hati-hati di jalan, Dit! Jangan mau kalau ditawar murah sama tengkulak licik!" pesan Bang Sopo setengah berteriak.

​"Siap, Bang! Saya pamit dulu!" balas Adit sambil melajukan motornya keluar dari halaman rumah.

​Perjalanan dari Desa Sukamaju ke pasar induk di kota memakan waktu sekitar empat puluh lima menit.

​Angin pagi yang sejuk menerpa wajah Adit sepanjang perjalanan.

​Jalanan aspal yang berkelok dan berlubang tidak menyurutkan semangat pemuda itu sama sekali.

​Dia membayangkan berapa banyak uang yang bisa dia bawa pulang hari ini.

​Sesampainya di pasar induk, suasana sudah sangat ramai dan bising.

​Suara teriakan para pedagang yang menawarkan barang dagangannya bersahut-sahutan di segala penjuru.

​Adit memarkirkan motor tuanya di area bongkar muat sayuran.

​Dia menurunkan ketiga keranjang cabai miliknya dengan hati-hati.

​"Hei, anak muda! Mau jual cabai ya?"

​Sebuah suara serak dan berat mengejutkan Adit dari belakang.

​Adit menoleh dan melihat seorang pria paruh baya berkumis tebal dengan perut buncit sedang berdiri berkacak pinggang.

​Pria itu adalah Pak Kumis, salah satu tengkulak paling licik yang menguasai area sayuran di pasar ini.

​"Iya, Pak, saya mau jual hasil panen saya," jawab Adit sopan.

​Pak Kumis mendekat dan melongok ke dalam keranjang bambu milik Adit.

​Mata pria berkumis itu seketika membelalak kaget melihat ukuran dan warna cabai tersebut.

​"Boleh juga barangmu ini," gumam Pak Kumis pelan, mencoba menyembunyikan rasa kagumnya.

​"Berapa Bapak berani bayar untuk tiga keranjang ini?" tanya Adit langsung ke inti pembicaraan.

​Pak Kumis berdehem pelan, lalu memasang wajah meremehkan.

​"Ah, ini cabainya kelihatan bagus di luar saja, pasti dalamnya banyak yang busuk."

​"Bapak bisa cek sendiri, tidak ada satu pun yang busuk," Adit membalas dengan tenang.

​"Sudah, sudah, tidak usah banyak alasan, anak muda."

​Pak Kumis melambaikan tangannya dengan gaya arogan.

​"Karena saya lagi baik hari ini, saya borong semua keranjangmu dengan harga seratus ribu rupiah."

​Adit mengerutkan keningnya, merasa dihina dengan tawaran yang sangat tidak masuk akal itu.

​"Seratus ribu untuk tiga keranjang penuh cabai sebesar ini? Bapak pasti bercanda."

​"Bercanda apanya? Harga pasar memang lagi turun drastis minggu ini!" bantah Pak Kumis nyaring.

​"Saya tahu harga pasar, Pak, dan ini kualitas super, bukan cabai sisaan."

​"Hei, anak kemarin sore! Kamu mau jual tidak? Kalau tidak, bawa pulang saja sampahmu itu!"

​Pak Kumis mulai membentak kasar untuk menjatuhkan mental Adit.

​Beberapa pedagang lain di sekitar mereka hanya menunduk, tidak berani mencampuri urusan Pak Kumis.

​Adit mengepalkan tangannya perlahan.

​Dia teringat pesan Bang Sopo agar tidak tertipu oleh tengkulak licik di pasar.

​"Kalau begitu saya tidak jadi jual ke Bapak," ucap Adit dingin sambil menarik keranjangnya menjauh.

​"Heh! Kamu pikir ada orang lain di pasar ini yang berani beli barangmu selain saya?" ancam Pak Kumis dengan mata mendelik.

​"Biar saya bawa pulang saja daripada harus rugi besar," Adit tidak gentar sedikit pun.

​Saat Adit hendak mengangkat keranjangnya kembali ke atas motor, sebuah suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat.

​Tuk! Tuk! Tuk!

​"Permisi, apakah saya boleh melihat cabai-cabai itu sebentar?"

​Suara wanita yang lembut namun tegas menghentikan perdebatan mereka berdua.

​Adit menoleh dan melihat seorang wanita muda berdiri tepat di belakangnya.

​Wanita itu mengenakan kemeja putih bersih yang pas badan dan celana bahan berwarna hitam.

​Rambut hitamnya yang panjang dan lurus diikat rapi ke belakang.

​Wajahnya sangat cantik dengan sorot mata yang tajam dan cerdas.

​Kulitnya yang putih bersih sangat kontras dengan lingkungan pasar yang kotor dan berdebu.

​Pak Kumis langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi ramah dan menjilat.

​"Eh, Nona Riana! Sedang cari bahan untuk restoran lagi ya?" sapa Pak Kumis sambil membungkuk hormat.

​Wanita bernama Riana itu tidak mempedulikan sapaan Pak Kumis sama sekali.

​Mata indahnya sepenuhnya tertuju pada tumpukan cabai merah di dalam keranjang Adit.

​"Ini hasil panenmu sendiri?" tanya Riana sambil menatap mata Adit.

​"Iya, Nona, baru saya panen pagi ini dari kebun," jawab Adit sambil mengangguk pelan.

​Riana berjongkok dan mengambil satu buah cabai.

​Dia menelitinya dengan sangat teliti, bahkan mematahkan ujungnya sedikit untuk mencium aromanya.

​Wajah Riana yang tadinya datar tiba-tiba berubah menjadi sangat antusias.

​"Luar biasa," gumam Riana pelan seolah berbicara pada dirinya sendiri.

​"Kadar airnya sempurna, ketebalan daging buahnya pas, dan aroma pedasnya sangat kuat tanpa bau tanah."

1
Astiana 💕
cerita mu sungguh keren Thor, walaupun aku lagi sibuk nulis juga, tapi nyempetin banget baca cerita mu yang ini.😁
kiyoe: heheh harus semangat terus pokoknya kak
total 3 replies
adib
saran dikiit...

hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.

sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
kiyoe: terimakasih kak adib untuk saran nya ☺️🙏
total 1 replies
adib
beneran udah bucin ma riana..ayam grade SS cm dihargai 150rb.. telur jg cm segitu.. hadeehh
kiyoe: heheh iyaa kak soalnya dia yang membantu Adit dari 0 hingga menjadi sangat sukses 😂
total 1 replies
Astiana 💕
mampir Thor,
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.
kiyoe: hehehe makasih kak udah mau mampir hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!