"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Musibah
Suara gemericik air hujan yang menetes dari atap bocor kamar kosnya jadi satu-satunya suara di ruangan itu. Adam meringkuk di atas kasur tipis di dalam kamar kos sempit yang dia sewa sementara waktu di Bandung. Tangan kirinya memeluk dadanya yang terasa diremas kencang. Sakitnya luar biasa, menusuk sampai ke punggung. Sesak napas yang mengganggunya beberapa hari ini makin jadi, menyedot habis sisa tenaga di tubuhnya yang makin kurus.
Di atas lantai keramik, ponsel tuanya yang retak tergeletak bisu. Baru saja paman Fitri menutup telepon dengan makian pedas dan penolakan mentah-mentah saat Adam coba meminta maaf. Semakin Adam mencoba mengingat penolakan paman Fitri, ketegasan Dokter Danu, dan hancurnya sisa harga dirinya, kepalanya makin terasa mau pecah.
"Fit... Aiden..." bisik Adam serak. Tenggorokannya rasanya kering bagai padang pasir. Air matanya menetes, membasahi bantal kusam yang bau apak.
Adam mencoba bangkit, mau mengambil gelas air di atas meja kayu. Tapi baru juga kakinya menginjak lantai, kepalanya langsung berputar hebat. Pandangannya gelap seketika. Nyeri tajam menghantam dadanya, menjalar cepat ke leher.
PRANG! BRUK!
Tubuh Adam ambruk menghantam lantai dingin. Gelas kaca di tepi meja terdorong jatuh dan pecah berkeping-keping. Adam terbaring kaku, napasnya tersendat-sendat di balik bibir yang mulai membiru, sebelum akhirnya kegelapan menelan kesadarannya bulat-bulat.
"Dam? Adam!"
Yudi, teman satu kosnya yang baru pulang shift malam, tersentak mendengar suara benturan keras. Dia menggedor pintu kamar Adam yang ternyata tidak terkunci rapat. Begitu mendorong pintu, napas Yudi seolah berhenti.
"Astaga! Dam! Lu kenapa, Dam?!" teriak Yudi panik.
Dia mendobrak masuk, merengkuh tubuh Adam yang terkulai di antara pecahan kaca. Pipi sahabatnya itu dingin bagaikan es, wajahnya pucat pasi seperti mayat. Yudi buru-buru memeriksa leher Adam, tapi denyut nadinya terasa sangat lemah dan acak-acakan.
"Dam, bangun, Dam! Jangan becanda lu! Tahan!" Yudi menepuk-nepuk pipi Adam dengan tangan gemetar. Panik setengah mati, dia merogoh saku dan menekan nomor darurat. "Tolong! Panggil ambulans cepat! Teman saya pingsan, napasnya udah satu-satu!"
Tak sampai lima belas menit, raungan sirine ambulans membelah keheningan malam kota Bandung, membawa tubuh Adam yang tak berdaya menembus jalanan basah. Yudi duduk di samping brankas, memeluk erat tas kain usang milik Adam. Tas yang berisi diary tua, foto kecil Aiden, dan amplop cokelat hasil tes DNA 99,9% yang selalu dibawa Adam ke mana-mana.
"Tolong bertahan, Dam..." bisik Yudi, air matanya menetas. "Lu harus minta maaf langsung sama Fitri. Lu belum ketemu Aiden lagi, Dam!"
Mobil medis itu meluncur deras menuju rumah sakit rujukan terdekat yang punya fasilitas ICU lengkap: Rumah Sakit Medika Utama tempat Fitri dan Dokter Danu bertugas.
WUW... WUW... WUW...
Lampu rotator merah ambulans memantulkan pendar darurat di dinding kaca lobi IGD. Petugas medis bergerak cepat mendorong brankar menembus pintu otomatis.
"Pasien pria, dugaan serangan jantung dan gagal napas! Saturasi terus drop!" teriak petugas ambulans.
"Bawa ke ruang resusitasi sekarang! Panggil dokter jaga!" sahut perawat senior cekatan.
Yudi berlari kecil di samping brankar, wajahnya acak-acakan penuh keringat dan air mata. "Tolong, Sus! Teman saya pingsan dari kamar kosnya!"
Di ujung koridor, Fitri baru saja keluar dari ruang perawatan anak bersama Dokter Danu. Langkah kaki mereka terhenti seketika melihat keributan di ruang resusitasi. Mata Yudi tanpa sengaja menangkap sosok Fitri.
"Dokter Fitri! Mbak Fitri!" teriak Yudi histeris. Dia berlari dan langsung memegang lengan baju jas putih Fitri. "Mbak, tolongin Adam! Tolong..."
Fitri mengerutkan dahi, terkejut. "Mas Yudi? Ada apa? Siapa yang sakit?"
"Adam, Mbak! Adam drop parah!" Yudi terisak, suaranya putus-putus. "Dia pingsan di kamar kosannya di Bandung. Dari tadi malam dia cuma memanggil-manggil nama Mbak Fitri sama Aiden... Tolongin Adam, Mbak..."
Jantung Fitri serasa berhenti berdetak. Matanya membelalak menatap tubuh pria di atas brankar yang sedang dipasangi masker oksigen. Pria yang beberapa hari lalu mencegat mobilnya dengan penuh emosi dan kesombongan, kini terkapar tak berdaya bagai sosok yang digerogoti penyesalan.
Dokter Danu yang berdiri di samping Fitri langsung mengusap lembut bahu calon istrinya itu. "Fitri, kamu tenang ya. Biar aku dan tim medis yang tangani Pak Adam di dalam."
Fitri menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai jiwanya sebagai seorang profesional. "Tolong, Mas Danu... Lakukan yang terbaik buat dia."
Danu mengangguk mantap. Tanpa ragu sedikit pun, dia melangkah cepat masuk ke ruang resusitasi. Tidak ada dendam di matanya, hanya ada fokus seorang dokter yang ingin menyelamatkan nyawa manusia.
"Pasang monitor! Suntikkan epinefrin satu miligram! Naikkan tekanan oksigen ventilator!" perintah Danu tegas pada perawat di sekelilingnya. Danu mulai memompa dada Adam, melakukan resusitasi jantung paru dengan ritme teratur.
Di luar ruangan, Fitri berdiri mematung menatap perjuangan Danu menyelamatkan mantan suaminya lewat kaca transparan. Yudi mendekat, menyerahkan tas kain lusuh milik Adam ke tangan Fitri.
"Ini punya Adam, Mbak," ujar Yudi pelan, suaranya parau. "Dia udah gak punya siapa-siapa lagi. Sejak diusir dan dikuras habis sama Mbak Rosa, dia cuma tinggal di kosan sempit. Tiap malam dia cuma nangis sambil meluk foto Aiden dan surat penyesalan yang gak pernah berani dia kasih ke Mbak Fitri..."
Fitri meremas tas kain itu di dadanya. Ada gulungan rasa sesak yang menghantam ulu hatinya. Air mata hangat menetes perlahan di pipinya. Bukan karena cinta yang tersisa, tapi rasa iba yang luar biasa melihat betapa hancurnya hidup pria yang dulu begitu tega membuangnya.
Di dalam ruangan, grafik monitor jantung Adam yang tadinya hampir datar, perlahan-lahan mulai membentuk gelombang kembali, walau masih sangat lemah. Danu menghela napas panjang, menyapu keringat di dahinya, lalu melangkah keluar.
"Kondisinya berhasil distabilkan untuk sementara, Fitri," kata Danu lembut. "Tapi fungsi organ dan parunya sangat kritis. Kita harus pindahkan dia ke ICU sekarang."
Fitri menatap Danu dengan mata berkaca-kaca, penuh rasa hormat. "Terima kasih banyak, Mas Danu... Terima kasih udah nyelamatin dia tanpa mandang masa lalu."
Danu tersenyum tulus, menggenggam jemari Fitri hangat. "Menyelamatkan nyawa itu kewajibanku sebagai dokter, Fit. Dan menjaga hatimu tetap tenang itu janjiku."
Namun, belum sempat Fitri membalas ucapan Danu, tiba-tiba terdengar suara alarm nyaring dari dalam ruang resusitasi!
BEEP! BEEP! BEEP!
Perawat dari dalam berteriak panik, "Dokter Danu! Grafiknya mendadak flatline! Pasien mengalami cardiac arrest lagi!"
Danu langsung berbalik cepat dan menerobos masuk kembali. Di saat yang sama, jemari Adam yang tergeletak lemah di atas brankar mendadak bergerak perlahan.
Kelopak mata Adam terbuka sedikit. Di balik masker oksigen yang berembun, matanya yang sayu bergerak liar menembus kaca pintu menatap lurus tepat ke arah Fitri, sebelum akhirnya garis di monitor jantung berubah menjadi satu garis lurus yang berbunyi nyaring tanpa henti.
BEEEEEEEP...!
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.