NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 — Dua Sisi Permainan

Kafe kecil di dekat kompleks perkantoran Cendana Data Nusantara dipilih Wulan dengan cermat — cukup ramai untuk tidak menarik perhatian, cukup sepi di sudut tertentu untuk percakapan yang tidak ingin didengar orang lain. Ia duduk di sana, menyamar sebagai "peneliti independen" bernama Sari Wulandari, menunggu balasan pesan yang sudah ia kirim tiga kali dalam dua hari terakhir.

Dimas Prakoso akhirnya muncul, duduk di seberangnya dengan gerakan gelisah orang yang jarang melakukan pertemuan semacam ini. "Aku masih tidak yakin ini ide bagus," katanya, mengaduk kopinya tanpa benar-benar meminumnya.

"Aku menghargai kau tetap datang," Wulan menjawab tenang, mempertahankan perannya sebagai peneliti. "Aku hanya ingin memahami lebih jauh soal apa yang kau tulis di forum itu — instruksi aneh dari manajemen, permintaan akses data yang di luar prosedur normal."

Dimas menghela napas, melirik sekeliling sebelum melanjutkan, suaranya turun menjadi bisikan. "Aku bekerja di divisi infrastruktur server. Beberapa bulan lalu, ada permintaan langsung dari kantor pusat — bukan dari manajer langsungku — untuk membuka akses replikasi data ke server eksternal yang tidak tercantum di dokumentasi resmi perusahaan mana pun."

"Kau tahu ke mana data itu dikirim?"

"Tidak seluruhnya. Tapi aku sempat melihat alamat IP tujuan sekali, sebelum log itu dihapus otomatis dalam waktu kurang dari sejam — sesuatu yang tidak pernah terjadi untuk log rutin biasa." Dimas menatap Wulan lebih lama, ketakutan dan kelegaan bercampur di wajahnya karena akhirnya bisa membicarakan ini pada seseorang. "Aku bukan orang jahat, Bu. Aku cuma insinyur yang ingin gajiku dibayar tepat waktu. Tapi belakangan ini, aku merasa sedang membantu sesuatu yang seharusnya tidak boleh aku bantu."

Wulan menahan diri untuk tidak langsung menekannya lebih jauh, tahu betul pentingnya membangun kepercayaan sebelum meminta lebih. "Kalau kau bersedia, aku ingin bicara lebih jauh soal ini — bukan untuk mencelakaimu, tapi untuk memastikan hal yang menurutmu tidak seharusnya terjadi ini, benar-benar dihentikan oleh pihak yang tepat."

Dimas terdiam lama, menatap kopinya yang mulai dingin. "Beri aku waktu memikirkannya. Aku punya keluarga yang harus aku pikirkan juga."

"Tentu," Wulan mengangguk, menyerahkan kartu nama palsu dengan nomor kontak aman. "Tidak ada tekanan. Tapi kalau kau berubah pikiran, waktu kita tidak banyak."

Di sisi lain kota, malam yang sama, Reza kembali menerima panggilan di tempat yang sepi — kali ini bukan sekadar permintaan informasi jadwal keluarga.

"Kami butuh sedikit lebih dari sebelumnya, Tuan Reza," kata suara di ujung telepon, tetap tenang meski permintaannya kali ini jauh lebih berat. "Perangkat kecil ini perlu ditempatkan di ruang kerja pribadi ayah Anda. Cukup ditempel di bawah meja kerjanya, tidak akan ada yang menyadarinya."

Reza menatap kotak kecil yang baru saja diserahkan seorang kurir tak dikenal di parkiran, tangannya gemetar membukanya — sebuah perangkat sekecil kancing baju, terlihat tidak berbahaya, tapi ia tahu persis apa fungsinya.

"Ini... ini penyadap," katanya, suaranya tercekat.

"Anggap saja alat untuk memastikan kelancaran kerja sama bisnis kita bersama," jawab suara itu, halus tapi tanpa ruang untuk menolak. "Anda sudah membantu kami sejauh ini, Tuan Reza. Langkah kecil ini akan memastikan posisi Direktur Operasional yang kami bicarakan benar-benar terwujud, secepat merger ini selesai."

"Aku bilang informasi jadwal terakhir kali—"

"Dan kami menghargainya," potong suara itu, kali ini dengan nada yang sedikit lebih dingin. "Tapi kesepakatan berkembang seiring situasi, Tuan Reza. Anda tentu tidak ingin ayah Anda tahu, bukan, betapa banyak informasi keluarga yang sudah Anda bagikan selama ini? Itu akan sulit dijelaskan sebagai 'hanya sekali', mengingat riwayat percakapan kita berbulan-bulan terakhir."

Reza memejamkan mata, merasakan jerat yang perlahan mengetat di sekitar lehernya sendiri — jerat yang ia buka sendiri berbulan-bulan lalu karena kecemburuan yang kini terasa begitu murahan dibandingkan konsekuensi yang harus ia hadapi.

"Aku akan melakukannya," katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar, kekalahan yang jauh lebih dalam dari sekadar menyerah pada satu permintaan kecil.

Telepon terputus, meninggalkan Reza sendirian di parkiran gelap.

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!