Albie Putra Dewangga dan Qistina Aulia, pasangan muda yang tengah berbahagia dengan kehadiran bayi perempuan yang mereka beri nama Eloise Humaira Alqista.
Namun ditengah kebahagiaan itu, mereka terpaksa menerima kenyataan pahit.
Hasil biopsi dan aspirasi sumsum tulang Qistina keluar. Vonis Leukemia Myeloid akut bersarang ditubuhnya. Kondisinya sangat agresif. Dalam kondisi tersebut, produksi ASI-nya menurun. Sedang putri kecilnya alergi sufor.
Khalisa Hanifa hadir dalam hidup mereka. Perempuan malang yang kehilangan bayinya setelah menjadi korban pelecehan, rela menjadi ibu susu putri Qistina. Ketulusannya membuat Qistina percaya, jika suatu hari ajal menjemput, Khalisa adalah satu-satunya wanita yang tulus mencintai putrinya seperti darah daging sendiri.
Dengan hati yang hancur, Qistina membuat keputusan paling menyakitkan. Menikahkan suaminya dengan Khalisa.
Bagaimana kisah pengorbanan cinta mereka? Akankah Albie menerima keputusan Qistina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai yang Datang Diam-Diam
*
*
*
Rumah Sakit Pusat, Jakarta Selatan.
Langkah lebar Albie menyusuri lorong lantai lima. Jas dokternya masih melekat rapi, tetapi wajahnya kehilangan ketenangan yang selama ini selalu ia miliki saat memasuki ruang operasi.
Ia berhenti. Tangannya terangkat, tetapi tidak segera mengetuk pintu. Pria itu memejamkan mata sesaat. Menarik napas panjang yang terasa sesak memenuhi dada.
Dalam hati ia terus berharap, semoga firasat ini salah ...
Jemarinya sedikit gemetar, mengetuk permukaan pintu berlapis panel yang terasa dingin.
"Masuk."
Suara berat dari dalam ruangan membuat Albie membuka mata.
"Assalamualaikum, selamat siang, Dok."
Suara Albie terdengar pelan saat ia membuka pintu ruang praktik.
Aroma kopi yang masih hangat bercampur dengan bau khas rumah sakit menyambutnya. Dibalik meja kerja, seorang pria berusia lima puluh dua tahun mengangkat wajah dari berkas-berkas yang sejak tadi dibacanya.
Rambut yang mulai memutih di kedua pelipis membuat dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Hematologi-Onkologi Medik itu, tampak semakin bijaksana. Tubuhnya sedikit berisi, tetapi sorot matanya tetap tajam. Seperti tak pernah melewatkan satu detail pun dari setiap pasien yang ia tangani.
Melihat Albie datang, beliau segera berdiri. "Wa'alaikumsalam." Senyum tipis mengembang diwajahnya. "Masuk, Bie ... duduk dulu."
Albie mengangguk pelan, "Terimakasih, Dok."
Ia menarik kursi di hadapan meja kerja Dokter Surya, lalu duduk tanpa benar-benar merasa nyaman. Kedua telapak tangannya tertumpu di atas paha. Tatapannya jatuh pada map berwarna cokelat yang tergeletak di atas meja.
Dokter Surya membuka map tersebut. Ruangan seakan menahan napas. Keheningan jatuh. Beliau menatap Albie sejenak. Seolah sedang mencari cara untuk menyampaikan kabar yang mustahil terdengar ringan.
Dokter Surya menarik napas, "Saya sudah mempelajari hasil pemeriksaan darah istri kamu Bie."
Albie mengangguk pelan. Jemarinya saling menggenggam di atas lutut. "Bagaimana hasilnya, Dok?"
"Lima belas tahun saya menangani pasien Hematologi." Tatapannya beralih pada lembar hasil laboratorium di map yang tadi ia buka. "Setiap kali melihat pola seperti ini...Saya selalu berharap dugaan saya keliru."
Jantung Albie berdetak semakin keras, dadanya seakan dihantam benda besar.
Dokter Surya mendorong map itu perlahan ke hadapan Albie. "Ini hasilnya Bie ..."
Albie menerima map itu. Tatapannya menyusuri satu per satu, angka yang berderet disana. Ia mulai membaca dalam diam.
Hemoglobin menurun. Rahang Albie mengeras, teringat dengan wajah pucat yang beberapa hari terakhir terlihat begitu mudah kelelahan. Bahkan sempat mengeluh sesak ketika berjalan beberapa langkah.
Pandangannya bergeser ke baris berikutnya. Trombosit jauh di bawah batas normal. Jemari Albie mencengkram map sedikit lebih erat. Mimisan sebelum pingsan, memar kebiruan yang beberapa hari lalu ia lihat di punggung istrinya, kini seakan menemukan jawaban.
Albie menelan ludah, sebelum kembali menurunkan pandangan. Leukosit meningkat berkali-kali lipat. Dadanya mulai dipenuhi firasat yang sejak tadi berusaha ia sangkal.
Hingga matanya berhenti pada catatan paling bawah. Ditemukan banyak sel blast. Napas Albie tercekat. Menyangkut di tenggorokan.
Sel blast ...
Sel darah yang seharusnya masih tinggal di dalam sum sum tulang, tumbuh hingga matang sebelum menjalankan tugasnya.Namun ketika sel- sel muda itu justru memenuhi aliran darah, hanya ada sedikit kemungkinan yang terlintas di benak Albie.
Perlahan ia mengangkat wajah, menatap dokter Surya.
"Dok ..."
Dokter Surya mengembuskan napas panjang. Jemarinya saling bertaut di atas meja. "Saya berharapnya, sekali ini saja pengalaman saya Keliru."
Ruangan kembali tenggelam dalam sunyi, bahkan terasa begitu menyempit bagi Albie. Tatapan pria itu jatuh kelantai. Berusaha meredam gelombang ketakutan yang mulai memenuhi dadanya.
"Kalau berdasarkan pengalaman Dokter ... Seberapa kemungkinan itu benar?
Dokter Surya terdiam sejenak. Ia tahu pertanyaan itu tidak lahir dari seorang dokter bedah trauma, tapi pertanyaan dari seorang suami yang sedang mencoba berpikir jernih ditengah rasa takut yang perlahan meruntuhkan pertahanannya. "Cukup besar, Bie ... hasil pemeriksaan darah Qistina mengarah ke Myeloid Leukimia akut."
Albie memejamkan mata. Ditelinganya semua suara terputus. Tenggorokannya terasa kering, bahkan untuk menelan ludah saja rasanya sulit.
Bayangan wajah Qistina tadi ... senyuman konyolnya tadi saat bicara kalau dia hanya pingsan saja, berputar-putar seperti kaset rusak di kepala Albie.
Detik berikutnya, Albie kembali mengangkat wajah, kembali menatap Dokter Surya. "Langkah berikutnya bagaimana Dok?"
Dokter Surya mengangguk, "Saya sarankan dirawat inap mulai hari ini." Beliau menarik map hasil pemeriksaan kembali ke hadapannya. " Besok pagi kita lakukan aspirasi sumsum tulang belakang. Pemeriksaan itu yang akan memastikan apakah benar ini Myeloid Leukimia akut atau bukan."
"Kalau hasilnya mengonfirmasi hal tersebut ... kita tidak boleh membuang waktu. Kita akan segera menyusun protokol pengobatan dan menjadwalkan kemoterapi secepat mungkin."
Setelah mendengar penjelasan itu, Albie keluar ruangan dengan langkah yang terasa lebih berat. Map hasil pemeriksaan masih berada dalam genggamannya. Menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang perawatan.
Albie berhenti di depan pintu ruang rawat. Jemarinya menggenggam gagang pintu cukup lama sebelum mendorongnya pelan.
"Mas!"
Qistina langsung tersenyum begitu melihatnya masuk. Meski wajahnya masih pucat dan infus menempel di punggung tangan, semangatnya seolah tak berkurang sedikitpun.
"Mas, aku mau pulang." rengeknya. "Aku cuma kecapekan aja 'kan? Makanya pingsan."
Ia mengembangkan kedua tangannya, memperlihatkan dirinya yang terlihat baik-baik saja.
Namun Albie hanya membalas dengan senyum tipis. Senyum yang terasa terlalu berat dan terlalu dipaksakan. Ia duduk disamping ranjang, lalu menggenggam jemari istrinya. "Nggak bisa, Sayang."
Qistina mengernyit, "Kok nggak bisa?"
"Kamu harus rawat inap malam ini, Besok ada pemeriksaan lanjutan."
Qistina langsung mengembuskan napas panjang. "Pemeriksaan lagi? Mas, aku ini cuma pingsan. Masa iya harus di periksa berulang kali. Udahlah, aku mau pulang, aku udah nggak kenapa-kenapa kok." Ia tersenyum sambil mengerling, "Bilang aja, Mas yang terlalu panik, karna terlalu sayang sama aku. Makanya Mas jadi lebay gini."
Kalimat itu membuat dada Albie terasa diremas. Andai Qistina tahu ... Beberapa menit yang lalu, hidup mereka nyaris berubah oleh selembar hasil pemeriksaan darah.
Albie mengusap pelan puncak kepala istrinya. "Nurut dulu sama Mas, ya..." ucapnya penuh harap.
"Tapi Eloise gimana?" Wajah Qistina berubah cemas. "Dia pasti nyariin aku. Dia ngga pernah ditinggal semalaman."
"Mas udah minta Rani buat urus Eloise, Mas juga minta Hilman buat siapkan susu formula kalau El lapar. Udah ... Kamu jangan khawatir, sekarang fokus sama kesehatan kamu dulu."
Qistina masih ingin membantah, tetapi tatapan Albie membuatnya memilih diam. Sejak menikah, baru kali ini dia terlihat sangat tegas padanya. Seolah sama sekali tidak mau dibantah.
"Sekarang kamu istirahat, nggak ada pulang malam ini." Baru selesai kalimat Albie, tiba-tiba bponselnya berderit panjang.
Nama Rani muncul di layar. Albie segera mengangkatnya.
"Pak ..." Suara Rani terdengar panik. "Eloise muntah, setelah minum susu formula ... badannya mulai muncul bercak merah."
Seketika wajah Albie menegang ...
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍
apa... gaada yang curiga? selain anggota keluarganya?🤔🤔