NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 23, NEGERI KABUT ABADI

Kapal Angin Utara membelah air yang semakin gelap, menuju perbatasan Kerajaan Morgh — negeri yang dikabarkan selalu diselimuti kabut tebal, tanah rawa yang tak berujung, dan udara yang selalu terasa dingin dan lembap. Penduduk Morgh jarang bergaul dengan orang luar, dan banyak yang percaya bahwa ada kekuatan kuno yang tidur di sana, menunggu waktu untuk bangkit kembali.

"Kabut itu bukan sekadar uap air," kata Kapten Mara pelan, matanya menatap dinding kabut yang semakin dekat. "Orang bilang kabut Morgh hidup — ia bergerak, ia menyembunyikan, dan kadang ia menelan orang yang terlalu berani masuk tanpa izin."

"Kita tidak datang untuk mencuri atau menaklukkan," jawab Zhoo tenang. "Kita datang untuk meminta izin. Dan jika kita menghormati tempat ini, ia tidak akan menelan kita."

Saat kapal melintas masuk ke dalam kabut, cahaya matahari lenyap seketika. Segalanya menjadi kelabu dan samar — air, langit, dan darat yang mulai terlihat. Suara ombak berubah menjadi bunyi pelan dan teredam, seolah dunia di sekeliling mereka sedang menahan napas. Tidak ada burung, tidak ada suara angin — hanya keheningan yang berat dan aroma tanah basah serta lumut yang tua.

"Di mana pelabuhannya?" tanya Kael berbisik, suaranya terdengar aneh di udara yang lembap.

"Morgh tidak punya pelabuhan seperti Lirael," jawab suara lembut dari kabut di sebelah kapal. "Kita tidak menyambut orang asing dengan dermaga dan lampu."

Semua orang tersentak. Sosok itu muncul perlahan dari kabut — berdiri di atas perahu kecil yang hampir menyatu dengan air, mengenakan jubah berwarna abu-abu gelap yang bergerak seolah bagian dari kabut itu sendiri. Wajahnya pucat, matanya gelap dan dalam, rambutnya hitam panjang yang basah. Ia bukan pria maupun wanita yang bisa ditentukan dengan sekilas pandang — wajahnya tenang, namun matanya menyimpan pengetahuan yang jauh lebih tua dari usianya.

"Aku adalah Ryn," ucap sosok itu pelan. "Aku yang menjaga jalan masuk ke Morgh. Dan aku sudah menunggu kalian sejak kalian meninggalkan Lirael."

"Kau tahu kami akan datang?" tanya Zhoo waspada namun tetap sopan.

"Kabut membawa bisikan dari jauh," jawab Ryn. "Dan namamu, Zhoo, sudah sering disebut di antara kita. Ada yang menyebutmu harapan, ada yang menyebutmu malapetaka. Tapi satu hal yang pasti — kau membawa perubahan, dan perubahan itu selalu berbau darah sebelum berbau damai."

"Kami tidak mencari pertumpahan darah," kata Zhoo. "Kami mencari sekutu. Seseorang yang mengerti apa artinya hidup di pinggiran, diabaikan, dan ditakuti tanpa alasan yang benar."

Ryn menatapnya lama, seolah melihat jauh ke dalam jiwanya. "Kau bicara seperti orang yang tahu rasanya diasingkan. Padahal kau tumbuh di tanah yang terbuka, di bawah matahari yang terang."

"Aku tumbuh di tanah yang miskin, di mana orang asing selalu datang untuk mengambil apa yang bukan milik mereka," jawab Zhoo. "Aku tahu rasanya tidak diinginkan. Dan aku tahu rasanya takut setiap kali ada langkah kaki asing mendekat."

Ryn mengangguk pelan. "Kata-katamu jujur. Dan itu hal yang jarang terdengar di dunia yang penuh tipu daya ini. Ikutlah. Tapi berjanjilah — jangan menyentuh apa pun yang tidak diberikan kepadamu, dan jangan bertanya tentang hal-hal yang tertutup kabut. Beberapa rahasia lebih baik tetap tersembunyi."

Mereka mengikuti perahu kecil Ryn menuju daratan. Pantai Morgh berupa tanah berlumpur dan batu-batu berlumut, dengan pepohonan yang bengkok dan gelap, akar-akarnya menjulur keluar dari tanah seperti jari-jari tangan yang meraih ke atas. Tidak ada jalan yang jelas, tidak ada rumah yang terlihat dari kejauhan — seolah seluruh negeri ini menyembunyikan dirinya sendiri.

"Penduduk Morgh hidup menyatu dengan tanah ini," kata Ryn saat mereka berjalan mengikutinya di jalan setapak yang hampir tidak terlihat. "Kami tidak membangun tembok tinggi karena kami tidak takut pada dunia luar. Kami membangun rumah di bawah tanah dan di antara akar pohon karena kami tahu bahwa bumi adalah perisai terkuat yang pernah ada."

"Apakah Raja Vereon pernah datang ke sini?" tanya Elara.

"Dia pernah mengirim utusan," jawab Ryn dengan nada dingin. "Mereka datang menuntut upeti, menuntut kesetiaan, menuntut agar kami tunduk. Kami tidak mengusir mereka. Kami hanya membiarkan kabut menutup jalan pulang mereka. Dan tidak ada yang pernah kembali."

Kael menelan ludah, namun Zhoo hanya mengangguk pelan. "Kalian mempertahankan kebebasan kalian dengan cara kalian sendiri. Dan aku tidak akan menyalahkan itu."

Setelah berjalan hampir dua jam di dalam kabut yang semakin tebal, mereka tiba di sebuah lembah yang tersembunyi di antara bukit-bukit rendah. Di sana, tersembunyi dari dunia luar, berdiri pemukiman Morgh — rumah-rumah yang dibangun dari batu hitam dan kayu tua, dengan api unggun yang menyala redup di setiap halaman, memberikan cahaya oranye yang hangat di tengah kelabu kabut. Penduduk Morgh keluar menyambut mereka — kulit mereka pucat, mata mereka tajam namun tenang, dan mereka bergerak dengan keheningan yang luar biasa, seolah tidak menyentuh tanah sama sekali.

Di tengah pemukiman itu, di atas batu datar yang besar, duduk penguasa Morgh — Ratu Lyra. Ia tampak tua, wajahnya penuh kerutan dalam yang terukur oleh waktu dan kesedihan, namun matanya masih menyala dengan kekuatan yang belum pudar. Di sebelahnya berdiri dua orang penjaga yang memegang tongkat kayu hitam berukir simbol-simbol kuno.

"Jadi inilah pemuda yang membuat benua ini bergetar," suara Ratu Lyra terdengar lemah namun jelas, menembus keheningan kabut. "Kau datang ke negeri yang paling dihindari orang, Zhoo. Apakah karena kau putus asa? Atau karena kau tahu bahwa di tempat yang paling gelap, cahaya yang paling terang sering kali tersembunyi?"

"Aku datang karena aku tahu bahwa orang-orang Morgh tidak pernah diizinkan berbicara di meja para raja," jawab Zhoo sambil berlutut hormat, lalu berdiri tegak. "Kalian dianggap aneh, ditakuti, dan diabaikan. Dan saat perang datang — seperti yang pasti akan terjadi — kalian akan menjadi korban pertama yang dikorbankan demi keamanan kerajaan lain. Aku datang bukan untuk meminta kalian berperang untukku. Aku datang untuk mengajak kalian duduk bersama kami — sebagai yang setara — dan memastikan bahwa masa depan Benua Est juga milik kalian, bukan hanya milik mereka yang lahir di istana emas."

Ratu Lyra terdiam lama, matanya menatap ke arah kabut seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

"Kata-katamu indah," ucapnya pelan. "Tapi dunia ini tidak pernah berjalan dengan keadilan. Selama ratusan tahun, kami membiarkan dunia luar melakukan apa yang mereka mau, selama mereka membiarkan kami hidup. Namun sekarang... bahkan kami tidak bisa lagi bersembunyi."

Ia mengangkat tangannya, dan di udara di antara mereka muncul bayangan samar — bayangan pasukan Veyra yang berbaris menuju perbatasan Morgh.

"Vereon tidak akan berhenti sampai ia menguasai seluruh benua ini," lanjut Ratu Lyra. "Dan ia tahu bahwa selama Morgh tetap bebas, ia tidak akan pernah tidur nyenyak. Kabut ini bisa menyembunyikan banyak hal — termasuk pasukan yang bisa muncul di belakang garis pertahanannya tanpa peringatan."

"Maka bergabunglah dengan kami," ajak Zhoo tulus. "Kita tidak perlu menjadi sama. Kita tidak perlu memiliki budaya atau kepercayaan yang sama. Kita hanya perlu satu hal — saling menghormati, dan saling melindungi. Jika Vereon menyerang Morgh, kami akan ada di sini berdiri di samping kalian. Jika ia menyerang tempat lain, kalian bisa datang membantu kami. Bukan karena kewajiban, tapi karena pilihan."

Ratu Lyra menatap wajah Zhoo, dan di matanya yang tua itu perlahan muncul kilatan harapan yang sudah lama padam.

"Ryn benar tentangmu," ucapnya pelan. "Kau berbeda dari penguasa lain. Mereka datang untuk mengambil. Kau datang untuk berbagi." Ia berdiri perlahan, dan seluruh pemukiman menjadi hening. "Maka dengarkanlah, penduduk Morgh! Hari ini, kita keluar dari bayang-bayang! Kita berdiri bersama Zhoo dan persekutuan kerajaan-kerajaan bebas! Bukan karena kita takut, tapi karena kita ingin menjadi bagian dari dunia yang lebih baik!"

Tepuk tangan pelan namun penuh makna terdengar dari penduduk Morgh. Tidak ada sorak-sorai yang berlebihan — itu bukan cara mereka — namun di mata mereka terlihat sesuatu yang baru: kepercayaan.

Namun saat Zhoo merasa lega karena akhirnya satu kerajaan lagi bergabung, Ratu Lyra mendekatinya dan berbicara dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua:

"Aku memberimu kepercayaanku, Zhoo. Tapi ada satu hal yang harus kau ketahui sebelum kau melangkah lebih jauh. Di antara mereka yang mengikutimu, ada satu orang yang hatinya terbelah. Bukan karena jahat — tapi karena ia terjebak antara kesetiaan lama dan jalan yang baru. Hati-hatilah. Karena saat perang semakin dekat, keteguhan hati akan diuji lebih berat daripada pedang apa pun."

Zhoo menahan napas. Ia tahu siapa yang dimaksud — atau setidaknya, ia mulai menduganya. Dan kenyataan itu menyakitkan lebih dari luka apa pun.

"Terima kasih atas peringatannya, Yang Mulia," jawabnya pelan. "Aku akan berhati-hati. Tapi aku tidak akan menghakimi sebelum aku tahu kebenarannya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!