**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**
Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.
Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.
Satu malam nekat mengubah segalanya.
Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.
*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*
Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.
Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023
Kamu Bukan Tipeku
“Iya,” jawab Bram. “Aku munafik kalau mengaku nggak pernah mengambil keuntungan dari keadaan.”
Tiara tampak terkejut karena ia tidak membela diri.
“Aku membiarkan kamu percaya semuanya baik selama bertahun-tahun,” lanjut Bram. “Aku juga menyembunyikan Laras. Tapi keputusan cerai bukan permainan supaya kamu jijik. Aku memang mau selesai.”
Tiara mengambil obat maag dari anak tangga, lalu menggenggamnya tanpa diminum.
“Baik.” Ia tertawa sambil menangis. “Kamu menang. Aku cerai.”
Bram tidak menunjukkan kemenangan apa pun.
“Besok gue telepon pengacara,” lanjut Tiara. “Gue baca semua dokumen. Kalau memang harta bersama lo kasih ke gue, gue ambil. Bukan karena gue cinta duit, tapi karena gue nggak mau keluar dari pernikahan ini sambil pura-pura nggak pernah membangun apa-apa.”
“Itu hakmu.”
“Dan gue nggak akan mangkir dari panggilan Pengadilan Agama.”
Bram mengangguk. “Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih seperti gue memberi hadiah.”
“Aku berterima kasih karena kita akhirnya berhenti saling menahan.”
“Semoga langgeng,” lanjut Tiara. “Semoga kalian berdua bahagia dengan semua kebusukan ini. Dasar pasangan bejat.”
Ia berdiri terlalu cepat. Kakinya goyah. Sebelum tubuhnya jatuh menuruni tangga, Bram menangkap pinggang dan mengangkatnya.
“Lepas!”
“Diam kalau nggak mau jatuh.”
Tiara memukul bahunya, tetapi tenaganya habis. Kepala perempuan itu akhirnya bersandar ke dada Bram.
“Gue sebenarnya cinta sama lo,” bisiknya.
Bram berhenti di ujung tangga.
“Jangan lihat gue begitu. Gue baru sadar setelah lo mau pergi.” Tiara mencengkeram kausnya. “Mungkin selama ini gue cuma terlalu gengsi.”
“Cinta?” suara Bram menjadi dingin. “Waktu kamu masih backstreet sama mantanmu, kamu juga cinta aku?”
Tubuh Tiara menegang.
“Apa maksud lo?”
“Fajar.”
Nama itu menghentikan semua kepura-puraan.
Tiara pernah mengatakan kepada Bram bahwa Fajar sudah pindah dan menikah. Namun setahun setelah pernikahan mereka, Bram melihat lelaki itu menunggu di parkiran rumah sakit. Tiara masuk ke mobilnya dan baru pulang lewat tengah malam.
Beberapa bulan kemudian, pesan dengan nama `Rani Lab` muncul saat ponsel Tiara tergeletak di meja. Isinya bukan soal pekerjaan. Ada rindu, foto tempat pertemuan, dan permintaan untuk tidak menghilang lagi.
Bram menaruh kembali ponsel tanpa membuka lebih jauh.
“Aku tanya sekali waktu itu,” katanya. “Kamu bilang rekan kerja.”
Tiara memeluk tubuh sendiri. “Fajar datang karena ibunya dirawat di rumah sakitku.”
“Lalu kalian mulai bertemu.”
“Awalnya cuma bicara.”
“Setelah itu?”
Tiara menutup mata. “Aku cium dia.”
Pengakuan tersebut keluar hampir tanpa suara.
“Kami nggak tidur bersama,” lanjutnya. “Tapi kami tetap chat. Kadang ketemu. Gue selalu berhenti sebelum terlalu jauh.”
“Kamu berhenti karena cinta aku?”
Tiara tidak menjawab.
“Atau karena takut kehilangan semua yang kamu punya sebagai istriku?”
“Keluarga gue nggak akan terima dia,” katanya lagi, seperti itu cukup menjelaskan semuanya.
“Itu bukan jawaban tentang aku.”
Bram menurunkan Tiara di kursi ruang depan. “Kamu pikir aku nggak tahu kamu ketemu dia lagi?”
“Kami cuma teman.”
“Teman yang kamu simpan pakai nama perempuan di ponsel? Teman yang kamu temui saat bilang shift malam?”
Wajah Tiara memucat.
“Aku nggak pernah tanya karena aturan kita jelas,” kata Bram. “Aku punya hidupku, kamu punya hidupmu. Tapi jangan bilang kamu baru kehilangan cinta terbesar malam ini. Sebagian hati kamu nggak pernah meninggalkan Fajar.”
“Kenapa lo diam selama ini?”
“Karena aku juga nggak setia.”
“Jadi kita impas?”
“Nggak ada yang impas. Kita cuma sama-sama salah dan terlalu nyaman untuk mengaku.”
Tiara menatap lantai. “Kalau Laras nggak datang, lo akan tetap diam?”
“Mungkin.”
“Berarti dia tetap alasan semuanya selesai.”
“Dia alasan aku berhenti menerima hidup kosong. Bukan alasan hidup itu kosong.”
“Dia cuma masa lalu.”
“Kalau cuma masa lalu, kenapa kamu menangis setiap pulang ketemu dia?”
Tiara menutup wajah. “Keluarga gue nggak akan pernah terima Fajar.”
“Jadi kamu memilih namaku, uangku, lalu menyimpan dia di belakang.”
“Lo juga begitu!”
“Benar.” Bram duduk berjongkok di depannya. “Makanya kita sama-sama nggak berhak berpura-pura ini pernikahan penuh cinta.”
Tiara tidak lagi membantah. Ia menelan obat maag setelah Bram membuka botol air, lalu meminum beberapa teguk.
“Pengacara akan tetap hubungi kamu,” kata Bram. “Tinjau semua dokumen. Kalau ada yang nggak adil, ubah.”
“Gue nggak mau apa-apa.”
“Jangan ambil keputusan saat mabuk.”
“Tadi lo bilang gue cinta duit.”
“Aku bilang jangan bohong soal alasan menahan pernikahan. Harta bersama tetap hakmu.”
Mobil pesanan tiba di depan kos. Bram mengantar Tiara keluar, membuka pintu belakang, dan memasangkan sabuk pengaman karena tangannya masih lemas.
Tiara menatap wajahnya dari dekat. “Kalau dulu gue nggak pernah cinta siapa-siapa, lo bakal suka sama gue?”
Bram berhenti dengan tangan pada pengunci sabuk.
“Kalau waktu menikah gue benar-benar coba, kalau nggak ada Fajar, kalau gue masak dan nunggu lo pulang...”
“Jangan ubah dirimu jadi Laras untuk membayangkan masa lalu yang nggak terjadi.”
“Jawab.”
Bram menarik diri dari mobil. “Maaf. Kamu bukan tipeku.”
Air mata Tiara kembali memenuhi mata.
“Laras iya?”
“Laras iya.”
Tiara tertawa pahit. “Kejam.”
“Aku bisa bohong supaya kamu merasa lebih baik malam ini,” kata Bram. “Tapi besok kebohongan itu akan membuatmu bertanya lagi.”
“Gue cuma ingin satu kali dipilih.”
“Fajar memilih kamu bahkan waktu keluargamu nggak memilih dia.”
Tiara menatap ke luar jendela mobil. “Lo mau gue kembali sama dia?”
“Aku mau kamu berhenti memakai aku untuk menghindari keputusanmu sendiri.”
“Dan kalau Fajar sudah nggak mau?”
“Kamu tetap punya hidupmu.”
Tiara menggenggam sabuk pengaman. Untuk pertama kalinya, perceraian tidak hanya tampak sebagai kehilangan Bram. Ada sebuah pertanyaan lain yang lebih menakutkan: siapa dirinya jika tidak lagi bersembunyi di balik nama suami atau cinta masa lalu.
“Aku sudah terlalu lama nggak jujur.”
Bram menutup pintu. Sebelum mobil pergi, Tiara menurunkan kaca.
“Bilang ke dia gue belum maafin.”
“Dia tahu.”
“Dan bilang gue tetap benci kalian.”
“Bilang sendiri waktu kamu siap.”
Mobil melaju. Bram berdiri sampai lampu belakangnya hilang, lalu menelepon layanan kebersihan dan toko furnitur yang buka dua puluh empat jam.
Pagi berikutnya, Laras terbangun dengan kepala berdenyut dan pinggang pegal. Lidahnya pahit. Ia membutuhkan beberapa detik untuk mengingat bir, pengakuan, lalu tubuh Bram di pintu.
Suara benda digeser terdengar dari ruang utama.
Laras keluar sambil memegang kepala. Sofa lamanya sudah hilang. Sebuah sofa baru berwarna abu-abu berdiri di tempat yang sama, lebih kecil agar pas dengan ruangan. Lantai yang semalam penuh sabun kini hampir kering.
Bram berdiri tanpa kaus sambil memeras pel. Celana panjangnya digulung sampai betis. Otot punggung bergerak setiap kali ia mendorong gagang pel.
“Kenapa kamu ada di sini?” suara Laras serak.
Bram menoleh. “Pagi.”
“Tiara?”
“Sudah pulang.”
“Apa yang terjadi?”
“Kami bicara. Dia setuju melanjutkan cerai.”
Laras melihat sofa baru. “Ini apa?”
“Sofa.”
“Aku tahu. Kenapa diganti?”
“Yang lama bau lemon, bir, sama sabun. Sudah dicuci dua kali tetap lengket.”
“Kamu mencuci sofa?”
“Jangan ketawa.”
Bayangan Bram yang dikenal tidak pernah menyentuh kerja rumah berjongkok menyikat sofa membuat Laras nyaris tersenyum. Ia justru memegang pinggang karena pegal.
Bram meletakkan pel dan mendekat. “Sakit?”
“Cuma salah tidur.”
“Minum air dulu.”
Ia menyodorkan segelas air dan obat sakit kepala. Laras meminumnya, lalu melihat kaus Bram tergantung basah di kamar mandi.
“Kamu dari semalam?”
“Aku pulang dulu setelah antar Tiara. Balik pagi waktu petugas kebersihan datang. Ibu kos izinkan selama pintu terbuka.”
Laras mengangguk, lega ia tidak melanggar aturan tempat tinggal.
“Tiara bilang apa?”
Bram menyentuh pipinya. “Banyak.”
“Dia cerita soal kami minum?”
“Kondisi ruangan sudah cukup menjelaskan.”
Laras menunduk. “Aku cerita semuanya ke dia.”
“Bagus.”
“Bagus?”
“Dia berhak tahu. Aku juga seharusnya yang bicara lebih awal.”
“Dia bilang kamu akan mencampakkan aku seperti mencampakkan dia.”
Bram tidak langsung menjawab. Ia mengambil kain lap, membilasnya, lalu kembali berdiri di depan Laras.
“Aku memang pernah berganti-ganti perempuan sebelum kamu,” katanya. “Aku nggak akan pura-pura jadi laki-laki suci. Tapi aku nggak pernah meninggalkan Tiara setelah menjanjikan cinta. Kami memang nggak pernah punya janji itu.”
“Apa bedanya buatku?”
“Kamu boleh menilai dari apa yang kulakukan setelah ini. Jangan percaya hanya karena aku bilang.”
Jawaban itu tidak menghapus ketakutan Laras, tetapi Bram tidak mencoba menutupnya dengan janji besar.
“Dia benar-benar setuju?”
“Kita tetap harus menjalani proses hukum. Tapi dia nggak akan menahan hanya demi status.”
Laras melihat tangan Bram yang memerah karena cairan pembersih. “Kamu nggak perlu melakukan semua ini.”
“Aku tahu kamu suka bersih.”
“Bisa panggil orang.”
“Sudah. Mereka yang angkat sofa. Pel terakhir ini aku.”
Bram membungkuk dan mencium keningnya. “Tunggu, ya.”
“Tunggu apa?”
“Sampai semuanya selesai dengan benar.”
Laras tidak sempat menjawab. Panci di dapur berbunyi karena air mendidih. Ia mematikan kompor dan mulai mencuci gelas yang tersisa.
Bram bersandar pada meja, diam-diam memperhatikannya. Di antara sofa baru dan lantai yang bersih, tatapan itu terasa hangat, tetapi Laras tidak tahu apakah ia sedang melihat awal sebuah rumah atau hanya kenangan indah berikutnya yang suatu hari akan ditinggalkan.
Ia terus mencuci gelas agar Bram tidak melihat ketakutan yang kembali memenuhi wajahnya sendiri.