Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 005
Anak Pelakor?
Tiga kata itu membuat seluruh suara di ruangan menjauh.
Anak pelakor.
Laras masih melihat mulut Vina bergerak, juga beberapa ponsel yang terangkat dari meja. Namun, dengung pendingin ruangan berubah menjadi bunyi panjang di telinganya. Cahaya lampu restoran terasa terlalu putih.
Dalam satu kedipan, usianya bukan lagi dua puluh delapan.
Ia kembali menjadi gadis berseragam putih abu-abu yang duduk sendirian di sudut kelas. Anak yang menemukan dua kata itu ditulis dengan spidol di mejanya. Anak yang pernah menggosok tulisan serupa dari tas sampai buku-buku jarinya lecet, lalu menyembunyikan luka itu dari Wulan.
Punggung Laras tetap tegak, tetapi tubuhnya kehilangan rasa. Ujung kukunya menekan telapak tangan di bawah meja. Tenggorokannya menutup rapat.
Vina melihat diamnya dan tersenyum.
“Kenapa? Kaget semua orang akhirnya ingat?”
“Vina, cukup,” tegur ketua panitia.
“Kenapa harus cukup? Tadi kalian senang membahas hidupku.” Vina menunjuk Laras dengan ponselnya. “Sekarang gilirannya. Dia memang pintar pura-pura jadi korban.”
Bisik-bisik tumbuh di antara meja.
“Bukannya dulu memang ada cerita begitu?”
“Aku dengar ibunya masuk ke keluarga Prawira.”
“Tapi Laras bukan pakai nama Prawira.”
“Justru itu. Katanya nggak diakui.”
Setiap potongan kalimat mengenai Laras dari sisi berbeda. Tak satu pun diucapkan keras, tetapi semuanya cukup jelas untuk didengar.
Ia mencoba menarik napas. Udara hanya berhenti di pangkal tenggorokan.
Arkan duduk tidak jauh darinya. Laras tidak berani melihat wajah laki-laki itu. Dari semua orang di ruangan ini, justru Arkan yang paling tidak ingin ia lihat sedang menimbang apakah tuduhan itu benar.
Sherly menyilangkan tangan di dada. Rasa malu akibat sindiran operasi plastik dan pemecatannya tadi belum hilang dari wajahnya, tetapi kesempatan untuk menjatuhkan Laras membuat suaranya kembali berani.
“Bukan cuma soal keluarganya,” katanya. “Waktu sekolah dia juga suka meniru orang. Tugas Tiara pernah dijiplak sampai jawabannya sama.”
“Itu tugasku.”
Suara Laras akhirnya keluar, begitu pelan sampai orang-orang terdekat harus diam untuk mendengarnya.
Sherly mengangkat alis. “Apa?”
“Kalian mengambil tugasku sebelum dikumpulkan.”
“Buktinya?”
Satu kata itu menghantam tempat yang sama.
Bukti.
Saat itu sekolah memang memeriksa riwayat berkas dan mengembalikan nilai Laras. Tetapi siapa yang masih menyimpan catatan tugas sepuluh tahun lalu? Siapa di ruangan ini yang mau mengingat hasil pemeriksaan, jika gosip jauh lebih menarik daripada koreksi seorang guru?
Laras tidak menjawab.
Sherly tersenyum miring. “Nggak ada, kan?”
Seorang laki-laki di ujung meja mendengus. “Sher, sebelum sibuk membicarakan penampilan dan pekerjaan orang, bukannya kamu sendiri baru ketahuan operasi dan kena PHK?”
Wajah Sherly langsung memerah.
“Aku bukan kena PHK. Divisiku direstrukturisasi.”
“Makanya statusmu Open to Work?” sahut orang lain.
Beberapa orang tertawa kecil. Sherly meraih tas bermereknya dan meletakkannya di pangkuan, seolah logo besar di sana bisa menutupi wajahnya.
Vina mengetuk meja. “Jangan alihkan topik.”
“Kamu juga sebaiknya nggak bicara soal merebut milik orang,” kata seorang perempuan di dekatnya. “IG istri Pak Gunawan masih ramai.”
Ponsel Vina bergetar tepat setelah kalimat itu. Notifikasi memenuhi layarnya. Tangkapan foto dirinya turun dari mobil Pak Gunawan, masuk ke vila yang sama, dan dipeluk laki-laki bercincin kawin sudah berpindah dari akun gosip ke grup reuni.
Vina buru-buru membalik ponsel.
“Itu urusan pribadi.”
“Tadi kamu bilang asal-usul orang pantas dibahas.”
“Hubunganku nggak seperti yang kalian pikir.”
“Istrinya berpikir apa?”
Wajah Vina kehilangan warna. Untuk beberapa detik, perhatian beralih kepadanya. Orang-orang yang tadi membisikkan nama Laras sekarang membaca keterangan di bawah foto dan saling menunjukkan cincin Pak Gunawan yang tampak jelas.
Itulah pukulan yang benar-benar memiliki bukti.
Sherly punya unggahan klinik dan jejak pemecatan. Vina punya foto bersama suami orang serta pernyataan istri sah yang dapat dibaca siapa saja.
Sementara Laras hanya punya satu kebenaran yang tersimpan dalam ingatan Wulan.
Tak ada akta di tasnya. Tak ada catatan lama di ponselnya. Tak ada seorang pun dari keluarga Prawira yang berdiri untuk membenarkan bahwa Wulan menikah lebih dulu, lalu diusir setelah suaminya membawa perempuan lain masuk.
Kebenaran ada di pihak Laras.
Namun, bukti tidak.
Vina rupanya menyadari hal yang sama. Setelah gagal mematikan notifikasi di ponselnya, ia mengangkat wajah dan kembali menyerang.
“Setidaknya aku nggak bohong soal siapa keluargaku.”
Tawa kecil di meja berhenti.
“Kalau ibumu benar istri sah,” lanjut Vina, “kenapa kamu pakai nama Anjani? Kenapa keluarga Prawira nggak pernah mengakui kamu?”
Laras merasakan darah kembali ke ujung jarinya, dingin dan menyakitkan.
Ia bisa menceritakan malam ketika Wulan pulang hanya membawa satu koper. Bisa mengatakan Darmawan memaksa ibunya pergi dan membiarkan versi keluarga barunya menyebar ke mana-mana. Bisa menyebut bahwa mengganti nama adalah cara Wulan memutus putrinya dari seorang ayah yang tak pernah melindungi mereka.
Tetapi semua itu tetap hanya cerita dari mulutnya.
Di mata orang yang sudah memilih percaya kepada keluarga kaya dan terpandang, penjelasan panjang hanya akan terdengar seperti pembelaan yang putus asa.
Laras menekan ujung lidah ke langit-langit mulut. Rasa asin muncul. Ia baru sadar bagian dalam bibirnya tergigit.
“Mama saya,” katanya perlahan, “adalah istri sah yang diusir dari rumahnya sendiri.”
Tidak ada kalimat tajam setelahnya.
Tidak ada dokumen yang bisa ia banting ke meja.
Hanya satu pernyataan yang keluar dengan suara kecil, tetapi utuh.
Beberapa orang menatapnya dengan simpati. Seorang teman perempuan mengangguk tipis, seolah mempercayainya. Namun, di meja belakang ada yang memiringkan bibir. Seseorang berbisik, “Ya, itu versi mamanya.”
Yang lain menjawab, “Kita juga nggak tahu kejadian sebenarnya.”
Laras mendengar semuanya.
Matanya mulai panas. Ia memusatkan pandangan pada pinggir gelas agar wajah-wajah di sekelilingnya tidak berubah menjadi koridor sekolah. Setetes air mengalir di sisi gelas, menuruni permukaan bening sampai membasahi taplak.
Jangan menangis.
Bukan di depan mereka.
Ia telah menelan tuduhan itu selama sepuluh tahun. Malam ini ia mungkin belum mampu mencabutnya, tetapi ia tidak akan membiarkan Vina melihatnya patah.
“Versi yang nyaman sekali,” kata Vina. Keberaniannya tumbuh lagi karena Laras tidak bisa membuktikan apa pun. “Semua pelakor juga bisa mengaku sebagai istri sah.”
Kursi bergeser keras di lantai.
Arkan berdiri.
Ia tidak melihat Laras lebih dulu. Tatapannya langsung mengarah kepada Vina.
“Cukup.”
Suaranya datar, tanpa bentakan. Ruangan tetap mendadak diam.
Vina berkedip. “Kapten, kamu baru datang. Kamu nggak tahu dia seperti apa.”
“Aku tahu apa yang sedang kalian lakukan.”
“Kami cuma membicarakan fakta.”
“Nggak.” Arkan melangkah ke sisi Laras. Bahunya berada sedikit di depan, memutus garis pandang Vina kepadanya. “Kalian sedang mempermalukan seseorang di depan satu ruangan penuh orang.”
“Kalau dia merasa malu, berarti ada yang benar.”
Rahang Arkan mengeras.
“Aku nggak tahu dokumen keluarga mereka,” katanya. “Aku juga nggak akan berpura-pura tahu siapa yang benar hanya dari gosip reuni.”
Kalimat itu tidak membersihkan nama Laras.
Justru karena jujur, kalimat itu terasa lebih menyakitkan. Bahkan Arkan tidak bisa mengatakan bahwa tuduhan tersebut salah.
Namun, ia tidak mundur satu sentimeter pun dari sisi Laras.
“Tapi aku tahu,” lanjutnya, “apa pun yang dilakukan orang tua, kalian nggak punya hak menempelkan hinaan itu kepada anaknya.”
Vina membuka mulut, tetapi Arkan belum selesai.
Tatapannya berpindah kepada Sherly, lalu kembali kepada Vina.
“Dari SMA sampai sekarang, kalian nggak capek nindas dia?”
Darah di wajah Sherly lenyap.
“Nggak ada yang menindas,” bantahnya. “Kami cuma membahas masa lalu.”
“Kalian mengulang tuduhan yang sama di depan kamera, menertawakan saat dia kesulitan bicara, lalu menuntut bukti yang kalian tahu tidak dia bawa ke acara makan malam.” Arkan menatap meja yang dipenuhi ponsel. “Kalau itu bukan menindas, kalian menyebutnya apa?”
Tak ada yang menjawab.
Vina melirik Arkan, lalu Laras. “Kamu membelanya cuma karena kemarin dijodohkan?”
“Aku menghentikan kalian karena kalian salah.”
“Jadi kamu percaya ceritanya?”
Arkan tidak masuk ke perangkap itu.
“Aku percaya dia berhak makan malam tanpa dihina.”
Jawaban itu memotong Vina lebih bersih daripada pembelaan yang dibuat-buat.
Ketua panitia berdiri dan meminta semua orang menghentikan pembicaraan tentang keluarga Laras. Tidak ada pengusiran. Tidak ada permintaan maaf. Sherly menunduk sambil menggenggam tasnya, sedangkan Vina duduk kembali dengan wajah kaku karena unggahan tentang Pak Gunawan masih beredar di setiap meja.
Percakapan reuni perlahan bergerak ke topik lain, tetapi suasananya tidak pernah benar-benar pulih.
Beberapa orang menghindari mata Laras. Sebagian menatapnya dengan rasa iba yang justru membuat dada Laras semakin sesak. Dua orang masih berbisik saat mengira ia tidak mendengar.
Anak pelakor.
Tiga kata itu tidak hilang hanya karena ruangan berhenti mengucapkannya.
Laras duduk kembali. Lututnya lemas dan kedua tangannya masih dingin. Ia berhasil tidak menangis, tetapi itu tidak terasa seperti kemenangan. Keadilan yang ia inginkan tetap berada di tempat yang tidak bisa dijangkaunya malam ini.
Sebuah gelas air bergeser ke depannya.
Arkan yang mendorongnya.
“Minum.”
Laras memegang gelas itu, tetapi tidak mengangkatnya. Air di dalamnya bergetar mengikuti jemarinya.
Arkan melihat getaran itu. “Mau keluar?”
Ia seharusnya mengangguk. Ia ingin menjauh dari tatapan, bisikan, dan label yang kembali melekat di punggungnya.
Namun, ketika Laras mengangkat wajah, yang dilihatnya adalah laki-laki yang berdiri di depannya tanpa menawarkan kebohongan. Arkan tidak mampu menghapus tuduhan itu. Ia hanya menolak membiarkan orang lain terus melukainya.
Perlindungan yang tidak sempurna itu justru merobek tempat paling lunak di hati Laras.
Rasa pahit karena tidak dipercaya bercampur dengan kehangatan yang telah ia simpan selama sepuluh tahun. Ia membenci bahwa pada malam serendah ini, jantungnya masih bisa berdebar karena Arkan berdiri di sisinya.
Kalimat laki-laki itu bergaung seperti suara lama.
Dari SMA sampai sekarang, kalian nggak capek nindas dia?
Di balik wajah dewasa Arkan, Laras melihat bayangan seorang anak laki-laki berseragam putih abu-abu yang mengangkat ponsel di tangga belakang sekolah.
Dan di dalam ingatannya, sebuah gelas boba jatuh lagi.