Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Cahaya matahari pagi mulai mengintip dari balik celah tirai ruang perawatan, menyinari wajah Puja yang masih pucat.
Perlahan, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya.
Pandangannya terasa berat dan buram, namun perlahan mulai fokus.
Hal pertama yang ia lihat adalah sosok pria yang sangat ia kenal sedang duduk di atas sajadah kecil yang dibentangkan di lantai samping ranjang rumah sakit.
Jeffry sedang menuntaskan rakaat sholatnya dengan khusyuk.
Suara lirih bacaan sholatnya terdengar menenangkan, namun bagi Puja, hal itu justru mengundang kembali ingatan tentang pertengkaran hebat mereka semalam.
Puja mengalihkan pandangannya, mendapati tangan kanannya kini terpasang selang infus yang terhubung dengan tiang besi di samping ranjang.
Ingatannya tentang rasa pening yang hebat dan darah yang mengalir dari hidungnya perlahan kembali.
Tepat saat Jeffry mengucapkan salam terakhir, pria itu menoleh ke arah ranjang.
Ia melihat Puja sudah membuka mata, menatapnya dengan tatapan sayu yang penuh kelemahan.
"Dek, Alhamdulillah... kamu sudah sadar," suara Jeffry bergetar.
Ia segera melipat sajadahnya dengan gerakan cepat dan melangkah mendekati ranjang, menatap wajah istrinya dengan penuh kelegaan yang luar biasa.
"Mas takut sekali semalam... maafkan Mas, Dek. Maafkan semua kebodohan Mas."
Jeffry tidak menunggu jawaban. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraih gelas air mineral yang tersedia di nakas, lalu dengan telaten membantu Puja untuk sedikit bangkit dan meminum air tersebut.
"Pelan-pelan, Dek. Kamu butuh cairan."
Baru saja Puja menyesap air itu, pintu kamar rawat terbuka.
Seorang perawat masuk dengan senyum ramah, membawa nampan berisi sarapan serta perlengkapan medis.
"Selamat pagi, Ibu. Wah, syukurlah Ibu sudah sadar," sapa perawat itu dengan ceria.
Ia segera mendekat untuk mengecek tensi dan suhu tubuh Puja.
"Saya periksa sebentar ya, Bu. Setelah itu, silakan Ibu makan sarapannya agar tenaganya cepat pulih."
Jeffry berdiri di samping ranjang, menatap Puja dengan sorot mata yang penuh janji untuk memperbaiki segalanya.
Tidak ada lagi amarah yang tersisa, hanya rasa syukur yang mendalam karena istrinya masih ada di sana, bernapas di sampingnya.
"Mas suapin ya?" ucap Jeffry lembut, mencoba tersenyum di tengah sisa-sisa rasa bersalah yang masih menggelayuti wajahnya.
Ia mengambil mangkuk bubur hangat yang baru saja diletakkan perawat di meja nakas, lalu meniupnya pelan sebelum menyendoknya untuk Puja.
Puja menatap sendok di hadapannya sesaat, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
Ia membuka mulutnya, membiarkan suaminya menyuapi suapan pertama bubur rumah sakit itu dalam keheningan yang terasa begitu sarat makna.
Suasana di dalam ruangan mendadak hening, hanya menyisakan bunyi alat detektor jantung dan AC yang berdengung pelan.
Jeffry menatap lurus ke dalam mata istrinya, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum membuka suara dengan suara yang sarat akan penyesalan.
"Dek, Mas minta maaf..." bisik Jeffry tulus, tangannya yang memegang sendok perlahan terhenti di udara.
"Mas salah... Mas sangat menyesal karena semalam sudah membentakmu, merendahkan impianmu, dan tidak percaya sama kamu..."
Puja menelan salivanya yang terasa kelu. Ia mengalihkan pandangannya sesaat ke arah jendela, menatap langit pagi yang cerah namun terasa kelabu di hatinya.
Hatinya masih terluka begitu dalam. Rentetan kata-kata keji yang dilontarkan Jeffry semalam, tuduhan perselingkuhan, hingga ia yang dibiarkan menangis di tengah hujan deras—semuanya meninggalkan bekas luka yang tidak semudah itu mengering.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Puja perlahan menoleh kembali menatap suaminya.
Tidak ada amarah di matanya, yang ada hanyalah kepasrahan dan kelelahan batin yang teramat sangat.
"Mas..." panggil Puja dengan suara parau dan bergetar halus.
"Iya, Dek? Mas di sini. Mas akan tebus semua kesalahan Mas," jawab Jeffry cepat, ada kepanikan tersirat dalam sorot matanya.
Puja menggelengkan kepalanya pelan, lalu menarik napas panjang. Kalimat yang keluar selanjutnya dari bibirnya bagaikan hantaman palu berat yang langsung menghujam dada Jeffry tanpa ampun.
"Mas, kita cerai saja ya..."
Deg!
Sendok di tangan Jeffry hampir terlepas, matanya membelalak tak percaya mendengar kalimat tersebut meluncur begitu tenang dari bibir istrinya.
"Uang kuliah..." lanjut Puja, air matanya perlahan menetes membasahi pipinya yang pucat, "...uang kuliah yang sudah Mas keluarkan akan aku kembalikan semuanya setelah aku sembuh dan mendapatkan kerja. Kita sudahi saja pernikahan ini, Mas."
Mendengar kata-kata itu, wajah Jeffry mendadak pucat pasi.
Tanpa sadar, tangan yang sejak tadi memegang mangkuk bubur langsung gemetar hebat.
Dengan gerakan kaku dan napas yang tertahan, Jeffry menaruh mangkuk buburnya kembali ke atas meja nakas dengan bunyi dentingan yang cukup nyaring di ruangan yang sunyi itu.
Dada Jeffry terasa sesak seketika. Suara rintihan atau bentakan mungkin bisa ia hadapi, tapi kata-kata perpisahan yang keluar dari bibir Puja dengan begitu tenang justru meremukkan tulang-tulangnya.
Ia langsung bangkit dari kursinya, lalu jatuh bersimpuh di samping ranjang rumah sakit.
Tanpa memedulikan harga dirinya, Jeffry meraih tangan Puja yang terpasang selang infus, menggenggamnya erat-erat dengan kedua tangannya yang bergetar hebat.
Butiran air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja.
"Dek... tolong, jangan seperti ini," suara Jeffry pecah, terdengar begitu hancur dan memohon.
"Jangan bicara soal cerai. Tolong, jangan hukum Mas dengan cara seperti ini..."
Puja menunduk, menatap suaminya yang kini tengah bersimpuh di sisi ranjangnya.
Ada rasa sakit yang menyayat di dadanya saat melihat pria yang selama ini ia hormati dan kasihi menangis tersedu-sedu di hadapannya, namun rasa lelah dan luka di hatinya jauh lebih mendominasi.
"Bukannya aku ingin menghukum Mas..." lirih Puja, suaranya bergetar menahan tangis.
"Tapi pernikahan kita sudah retak, Mas. Kata-kata yang Mas ucapkan semalam... tuduhan-tuduhan keji itu... tidak mungkin bisa hilang begitu saja dari ingatanku. Kalau kita terus bersama dalam ketidakpercayaan dan kecurigaan seperti ini, kita berdua hanya akan saling menyiksa."
"Tidak, Dek! Tidak!" Jeffry menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Puja yang dingin.
"Semalam itu bukan Mas. Setan dan amarah yang menguasai pikiran Mas. Mas buta, Mas bodoh, Mas terbakar cemburu sampai tidak bisa berpikir jernih!"
Jeffry menengadahkan wajahnya, menatap manik mata istrinya dengan penuh keputusasaan dan sesal yang teramat sangat.
"Mas janji... demi Allah, Mas janji tidak akan pernah lagi meragukanmu," rintih Jeffry, suaranya parau.
"Kuliahmu... mimpimu... silakan lanjutkan. Mas akan dukung sepenuhnya. Mas akan jadi suami yang pertama bertepuk tangan untuk kesuksesanmu. Tapi kumohon, jangan minta pisah. Jangan tinggalkan Mas, Dek..."
Puja memejamkan matanya rapat-rapat. Air matanya menetes, membasahi bantal rumah sakit.
Hatinya berperang hebat antara rasa cinta yang masih tersisa dan ketakutan mendalam akan luka yang sama yang mungkin akan terulang kembali di masa depan.
Isak tangis yang tertahan di dada Puja perlahan berubah menjadi sesenggukan yang tak mampu lagi ia bendung.
Setiap tarikan napasnya terasa berat, membuat emosi yang meluap-luap di dalam dadanya kembali memicu tekanan fisik yang rapuh.
Tiba-tiba, rasa hangat yang mengalir di area hidungnya kembali terasa.
Melihat ekspresi Puja yang mendadak meringis, Jeffry membelalakkan mata.
Belum sempat Puja meraih tisu, Jeffry dengan sigap merogoh saku bajunya dan menyambar sapu tangan bersih—benda yang sama yang semalam digenggam erat oleh istrinya dalam kondisi kritis.
Dengan gerakan panik dan tangan yang bergetar hebat, Jeffry segera menempelkan sapu tangan itu ke hidung Puja untuk menyeka aliran darah segar yang kembali menetes keluar.
"Ya Allah... Dek, jangan menangis lagi," suara Jeffry terdengar pecah, dipenuhi kepanikan yang luar biasa.
Pria itu menatap noda merah yang langsung mencoreng kain putih tersebut dengan tatapan ngeri.
"Darahmu keluar lagi... Kumohon, jangan menangis lagi, Dek."
Puja tertegun di balik sapu tangan yang menutupi separuh wajahnya.
Ia melihat manik mata suaminya yang memerah, dipenuhi air mata dan ketakutan yang begitu nyata akan kehilangannya.
Tidak ada lagi sisa-sisa arogansi atau amarah seperti semalam; yang ada hanyalah seorang pria yang hancur karena takut melihat istrinya terluka.
Melihat kepanikan luar biasa di wajah Jeffry, Puja merasa tenaganya seakan tersedot habis.
Dengan napas yang masih tersenggal, ia perlahan menganggukkan kepalanya untuk menuruti permintaan suaminya, berusaha meredam isakannya meski dadanya masih terasa sesak.