Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Clarissa tidak membuang waktu.
Dia segera menghubungi bagian keamanan dan meminta mereka untuk membawa Riko ke ruang rapat utama dalam waktu sepuluh menit.
"Kamu ikut denganku," perintah Clarissa dengan nada yang jauh lebih lembut daripada biasanya.
Devan berdiri dari sofa dan mengangguk patuh, namun tatapannya tetap tenang dan waspada.
Sesampainya di ruang rapat, Riko sudah berada di sana dengan wajah yang tampak berantakan dan pakaian yang agak kusut.
Dia terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan akal sehatnya, terus mengoceh tentang konspirasi yang tidak masuk akal.
Di belakang Riko, berdiri dua orang pria berbadan besar dengan potongan rambut cepak yang terlihat sangat mencolok.
Mereka bukanlah karyawan kantor, melainkan preman bayaran yang sering dikaitkan dengan kelompok Keluarga Sanjaya.
Riko menyeringai saat melihat Clarissa masuk ke ruangan bersama Devan.
"Akhirnya datang juga sang ratu dan peliharaan barunya!" ejek Riko dengan tawa yang terdengar sangat nyaring dan gila.
Clarissa berhenti di depan meja rapat besar, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Riko, cukup drama ini," suara Clarissa bergema dingin di ruangan yang sunyi itu.
"Aku sudah tahu semua tentang rekening fiktif dan penggelapan dana proyek apartemen yang kamu lakukan."
Riko terdiam sejenak, namun seringainya justru semakin lebar dan menyeramkan.
Dia menoleh ke arah dua pria besar di belakangnya, memberi isyarat dengan kedipan mata yang sangat jelas.
"Wah, sepertinya sang CEO sudah menemukan semuanya ya," ucap Riko sambil berjalan maju perlahan.
"Tapi sayangnya, di dunia bisnis, bukti saja tidak cukup untuk menjaga seseorang tetap hidup."
Kedua preman itu bergerak maju, memblokir pintu keluar ruangan rapat dengan tubuh kekar mereka.
Clarissa merasakan jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang mulai menyelimuti dirinya.
Dia tidak pernah membayangkan bahwa Riko akan senekat ini untuk membawa preman ke dalam kantor di siang bolong.
"Apa yang mau kamu lakukan, Riko?" tanya Clarissa dengan suara yang berusaha dia jaga agar tetap tegas meski tubuhnya menegang.
Riko berhenti tepat di depan Devan, dia menatap pria itu dengan tatapan meremehkan yang sangat dalam.
"Aku cuma mau memberikan pelajaran pada pesuruh sombong ini karena sudah berani ikut campur urusanku," desis Riko.
"Hajar dia sampai babak belur, jangan sampai dia bisa bangun lagi!" perintah Riko kepada dua preman bayarannya.
Salah satu preman itu maju dengan kepalan tangan yang siap menghantam wajah Devan tanpa ampun.
Clarissa secara spontan memejamkan matanya, dia tidak sanggup melihat Devan dipukuli di depan matanya sendiri.
Namun, detik berikutnya, suara dentuman keras dan jeritan kesakitan memenuhi ruangan itu.
Bugh!
Bukan suara tulang Devan yang patah, melainkan suara tubuh pria besar itu yang terhempas menghantam dinding ruang rapat.
Devan berdiri dengan posisi yang sama sekali tidak berubah, bahkan tangannya masih berada di dalam saku celananya.
Hanya gerakan kakinya yang sangat cepat, sebuah tendangan kilat yang menghancurkan pertahanan si preman.
Semua orang di ruangan itu melongo, termasuk Riko yang langsung pucat pasi melihat jagoannya terkapar di lantai.
Preman kedua yang melihat temannya kalah dengan satu serangan, langsung mengeluarkan pisau lipat dari balik jaketnya.
"Kau berani melawan kami?" teriak preman itu sambil mengayunkan pisau dengan membabi buta.
Devan menghela napas panjang, tatapannya kini berubah menjadi sangat dingin dan mematikan.
Bagi seorang mantan Dewa Perang, gerakan preman ini terasa sangat lambat seolah-olah waktu sedang melambat.
Devan menangkap pergelangan tangan preman itu dengan sekali gerakan, lalu memelintirnya dengan kekuatan yang tepat.
Krak!
Bunyi tulang pergelangan tangan yang patah terdengar sangat jelas di tengah keheningan ruang rapat.
Preman itu meraung kesakitan dan pisau lipatnya jatuh ke lantai dengan suara denting yang nyaring.
Dengan satu dorongan ringan dari telapak tangan Devan, preman itu terpelanting jatuh tepat di samping temannya.
Suasana ruang rapat mendadak sunyi total, hanya tersisa suara napas berat dari Riko yang kini gemetar ketakutan.
Devan berjalan maju selangkah demi selangkah mendekati Riko yang perlahan mundur hingga menabrak kursi.
"Tadi kamu bilang apa, Riko?" tanya Devan dengan suara bariton yang rendah dan menakutkan.