Alena Wijaya, 24 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah total hanya karena satu tanda tangan di atas kertas. Perusahaan keluarganya di ambang kebangkrutan setelah ayahnya terjerat masalah bisnis yang tidak lagi bisa ditutupi, dan satu-satunya jalan keluar datang dari pihak yang paling tidak ia duga: keluarga Mahardika, salah satu konglomerat terbesar di negeri ini.
Syaratnya sederhana di atas kertas—Alena harus menikahi Adrian Mahardika, putra sulung yang dikenal publik sebagai pewaris lumpuh sejak kecelakaan dua tahun lalu. Satu tahun menikah, utang lunas, lalu bercerai baik-baik. Tidak ada cinta yang diminta, hanya status di depan dewan direksi dan media.
Alena datang ke rumah keluarga Mahardika dengan satu niat sederhana: bertahan selama setahun, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinyo widi Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAMA DILANTAI DELAPAN ITU
"Cocokin data akses lantai delapan sama daftar nama di laptop Ines."
Adrian memerintahkan itu ke salah satu anggota tim siber, suaranya tegang menahan rasa ingin tahu yang bercampur takut akan jawabannya sendiri. Alena berdiri di sampingnya, menatap layar dengan napas tertahan.
Beberapa menit berlalu dalam diam, hanya suara ketikan cepat memenuhi ruangan. Akhirnya, anggota tim itu berhenti, menoleh dengan wajah serius.
"Ada satu nama yang cocok, Tuan. Terdaftar sebagai direktur keuangan divisi investasi, dan namanya juga ada di daftar orang yang nerima transfer mencurigakan dari data yang Ines kumpulkan."
"Siapa?" Adrian mendesak, jantungnya berdebar kencang.
"Surya Hadinata."
Nama itu membuat Adrian terdiam, matanya menatap kosong ke layar, mencoba mencerna kenyataan yang begitu sulit ia terima.
"Pak Surya?" Alena bertanya, melihat perubahan raut wajah suaminya. "Kamu kenal dia?"
"Dia yang bantu aku susun strategi ekspansi ke Asia Tenggara dua tahun lalu," Adrian menjawab, suaranya bergetar. "Dia yang selalu duduk paling depan tiap rapat, selalu tepuk tangan pertama kali aku presentasi keberhasilan proyek. Aku bahkan pernah rekomendasiin dia buat naik jabatan tahun lalu."
Kalimat itu menggantung berat di udara, mengingatkan Alena betapa lelahnya suaminya menghadapi pengkhianatan demi pengkhianatan dari orang-orang yang seharusnya paling ia percaya.
"Kamu inget kapan terakhir kali dia kelihatan aneh?" tanya Alena, mencoba membantu Adrian mengingat detail yang mungkin terlewat.
Adrian terdiam, berpikir keras. "Sekitar sebulan lalu, dia sempet nanya-nanya soal jadwal rapat evaluasi tiga bulan yang aku janjiin ke dewan. Waktu itu aku pikir dia cuma mau bantu persiapan data. Sekarang, mungkin dia lagi ngumpulin info buat dilaporin ke pihak lain."
"Kamu nggak bisa nyalahin diri sendiri gara-gara percaya sama orang yang keliatannya baik, Adrian."
"Aku tau," Adrian menjawab pelan, "tapi tetep aja capek. Rasanya kayak tiap kali aku mulai percaya sama seseorang di lingkungan kerja aku, orang itu ternyata punya agenda sendiri."
"Nggak semua orang gitu," Alena mengingatkan, menggenggam tangannya. "Ines, Pak Bram, Rangga—mereka semua buktiin sebaliknya."
Adrian mengangguk pelan, mencoba menyerap kalimat itu meski hatinya masih dipenuhi kewaspadaan yang sulit ia lepaskan begitu saja.
"Kita harus konfrontasi dia?" tanya Alena.
"Belum," Adrian menggeleng, mencoba berpikir jernih meski dadanya bergejolak. "Kalau kita langsung tuduh tanpa strategi, dia bisa aja lolos, hapus semua jejak, atau malah makin nekat kayak Wirawan kemarin."
Rangga menyarankan pendekatan berbeda—memantau pergerakan Surya diam-diam selama beberapa jam sebelum mengambil tindakan, sambil terus mencoba melacak identitas kelompok di balik "Proyek Elang" secara paralel.
"Kita punya waktu kurang dari dua puluh jam sebelum ultimatum mereka," Rangga mengingatkan, "jadi kita nggak bisa nunggu terlalu lama."
Sore harinya, tim pengawas melaporkan pergerakan mencurigakan—Surya tiba-tiba mengajukan cuti mendadak, mengemasi barang pribadinya dari kantor lebih awal dari biasanya, dan terlihat menerima beberapa panggilan telepon yang membuatnya tampak gelisah sepanjang sore.
"Dia mau kabur," Adrian menyimpulkan, menatap laporan pemantauan itu dengan rahang mengeras.
"Kita harus gerak sekarang," Rangga memutuskan, "sebelum dia sempet ilang kayak Wirawan kemarin."
Sementara persiapan penangkapan berlangsung, Alena mendapati Herman berdiri canggung di ambang pintu ruang kerja, membawa sekotak makanan yang sepertinya ia masak sendiri.
"Yah? Ngapain di sini?" Alena bertanya, sedikit terkejut melihat ayahnya masih berada di rumah Mahardika, padahal semua orang sibuk dengan krisis baru.
"Ayah bikinin kalian makan," Herman menjawab kikuk, menyerahkan kotak itu. "Ayah tau kalian pasti lupa makan seharian gara-gara semua kekacauan ini. Ayah cuma... pengen ngerasa berguna."
Alena tersenyum kecil, dadanya menghangat melihat ketulusan sederhana itu di tengah semua kekacauan yang melanda. "Makasih, Yah. Ini... ini berarti banget."
"Alena," Herman ragu sejenak, "Ayah tau Ayah udah banyak bikin masalah selama ini. Utang, tekanan buat kamu, terus insiden konferensi pers itu. Tapi ngeliat kamu sekarang, berjuang bareng suamimu ngehadepin semua ini... Ayah bangga banget sama kamu, Na."
Kalimat itu membuat mata Alena berkaca-kaca, memeluk ayahnya erat di tengah kesibukan yang mengelilingi mereka. "Aku juga bangga sama Ayah. Ayah udah banyak berubah, dan itu nggak gampang."
Herman mengusap punggung putrinya lembut, sebelum akhirnya pamit pulang, meninggalkan Alena dengan hati yang sedikit lebih hangat di tengah ketegangan yang belum juga usai.
Adrian, yang sejak tadi mengamati momen itu dari kejauhan, mendekat begitu Herman pergi. "Ayahmu orang baik, Alena. Aku senang dia mulai berani nunjukin sisi itu."
"Dulu dia nggak selemah ini," Alena bercerita, suaranya lembut mengenang masa lalu. "Sebelum bisnisnya bangkrut, dia orang yang paling percaya diri yang aku kenal. Kegagalan itu yang bikin dia jadi kayak kemarin-kemarin, gampang ditekan, gampang takut."
"Sekarang dia keliatan mulai nemuin lagi versi dirinya yang dulu."
"Iya," Alena tersenyum kecil, "berkat kamu juga, yang selalu ngasih dia kesempatan buat nebus kesalahannya, bukannya nolak dia."
Adrian menggenggam tangan Alena, tersenyum lelah tapi tulus. "Keluarga kamu udah jadi keluarga aku juga sekarang. Wajar aku pengen dia baik-baik aja."
Menjelang malam, tim gabungan bergerak menuju apartemen Surya, berharap masih bisa menangkapnya sebelum ia benar-benar menghilang. Adrian dan Alena menunggu di mobil terpisah, mengikuti perkembangan lewat radio komunikasi yang disediakan Rangga.
"Kami udah di depan unit apartemennya," suara salah satu anggota tim terdengar dari radio. "Pintu terkunci, nggak ada respons dari dalam."
Beberapa menit tegang berlalu sebelum suara itu kembali terdengar, kali ini dengan nada kecewa yang kentara.
"Unit kosong. Barang-barang pribadinya udah nggak ada. Kelihatannya dia udah pergi sejak siang tadi, sebelum kita mulai pengawasan intensif."
Dada Adrian merosot mendengar kabar itu. "Dia udah tau kita curiga."
"Atau," Alena menambahkan pelan, "seseorang kasih tahu dia lebih dulu."
Kalimat itu membuat Adrian menoleh cepat, matanya melebar menyadari implikasi yang lebih mengerikan. "Berarti, ada orang lain lagi yang bocorin informasi soal penyelidikan kita. Orang yang tau kita udah curiga sama Surya, sebelum kita sempat gerak."
Rangga, yang mendengar percakapan itu lewat radio, ikut menambahkan dengan nada berat. "Lingkaran orang yang tau soal investigasi ini makin lama makin sempit, Adrian. Itu artinya, siapa pun yang bocorin, orangnya ada di antara sedikit orang yang benar-benar dekat sama kita."
Ucapan itu membuat suasana di dalam mobil mendadak terasa dingin. Alena menatap Adrian, mencoba membaca pikirannya, tapi yang ia temukan hanya kelelahan dan kewaspadaan yang bercampur menjadi satu di wajah suaminya.
"Siapa aja yang tau soal rencana kita malam ini?" tanya Alena pelan.
Adrian mulai menghitung dalam hati—Rangga dan timnya, Pak Bram, dirinya sendiri dan Alena, Wisnu dan Ratna yang baru saja pulang dari rumah sakit setelah insiden bandara.
"Terlalu banyak orang," Adrian mengakui, suaranya berat. "Dan aku nggak sanggup lagi curigain semua orang di sekitar kita satu per satu."
"Kita nggak harus curigain semua orang sekaligus," Alena mencoba menenangkan, meski suaranya sendiri terdengar lelah. "Kita cuma perlu lebih teliti, satu langkah demi satu langkah, kayak yang udah kita lakuin selama ini."
"Kamu masih bisa positif di tengah semua ini?" Adrian menoleh, menatapnya dengan campuran heran dan kagum.
"Nggak selalu," Alena mengaku jujur, "tapi kalau aku ikut down, siapa yang bakal nenangin kamu pas kamu down? Kita gantian aja, Adrian. Malam ini giliran aku yang kuat."
Adrian tersenyum lelah, menggenggam tangannya erat sebagai balasan yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.
Malam itu, dalam perjalanan pulang yang sunyi, ponsel Adrian tiba-tiba bergetar. Bukan dari Rangga, bukan pula dari nomor misterius yang biasa membantu mereka.
Ia membuka pesan itu dengan tangan yang mulai terasa berat oleh kelelahan yang menumpuk sejak pagi, matanya membaca setiap kata dengan jantung yang kembali berdebar kencang.
"Kamu terlalu sibuk cari Surya, sampai lupa periksa siapa yang duduk paling dekat sama kamu setiap hari, di rumahmu sendiri. Coba cek riwayat panggilan telepon rumah, khususnya nomor yang sering dihubungi setiap kali kamu dan Alena keluar rumah."
Adrian menatap layar itu lama, dadanya mencelos membayangkan siapa pun di rumah besar Mahardika yang mungkin, selama ini, diam-diam menjadi mata dan telinga bagi pihak yang ingin menjatuhkan mereka dari dalam.
"Adrian," Alena berbisik, melihat wajah suaminya berubah pucat, "ini soal siapa?"
Adrian menyerahkan ponselnya, membiarkan Alena membaca sendiri kalimat yang baru saja menghantam kepercayaannya pada rumah yang selama ini ia anggap paling aman di dunia.
"Riwayat panggilan rumah," Alena mengulang pelan, "berarti orangnya beneran tinggal di rumah kita."
Adrian tidak menjawab, hanya menatap lurus ke depan, pikirannya berkecamuk menyusun ulang setiap wajah yang selama ini ia temui setiap hari di rumah besar itu—satu per satu, mencoba mencari siapa yang mungkin, selama ini, menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.