Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian II)
...Rahasia Batu Ingatan dan Pertanyaan kepada Sang Pencipta...
Deak Parujar berlari meninggalkan lembah itu. Napasnya memburu. Bukan karena tubuhnya lelah, melainkan karena jantung kecilnya belum pernah mengenal rasa takut sebesar itu.
Bayangan mata hijau yang muncul dari balik kabut masih menempel di benaknya. Mata itu bukan sekadar melihat. Mata itu seakan mengenal dirinya.
"Putri!" Suara-suara kecil Partondion terdengar berlarian dari balik rumpun bunga.
Mereka menemukan Deak yang terduduk di bawah lengkungan akar Hariara Bolon. Rambutnya yang hitam menutupi sebagian wajahnya. Tangannya masih gemetar.
"Putri... apakah ada yang menyakitimu?" salah satu Partondion bertanya.
Deak menggeleng pelan, lalu sesaat kemidian ia manjawab: "Aku... melihat laut."
Para Partondion saling berpandangan. "Laut?"
"Apakah laut itu seperti kolam cahaya?" tanya salah satu Partondion.
"Bukan." jawab Deak cepat.
"Apakah seperti Sungai Aek Na Mardalan?" tanya salah satu Partondion yang lain.
"Bukan..." Suara Deak hampir berbisik ketika melanjutkan penjelasannya: "Laut itu tidak bertepi. Tidak ada bunga. Tidak ada pohon. Tidak ada langit yang bernyanyi. Hanya air... dan dibawahnya ada seekor makhluk yang sangat besar. Apakah kalian mengetahuinya?"
Para Partondion terdiam. Mereka memang mengetahui banyak hal tentang bunga, embun dan kehidupan kecil di Banua Ginjang. Namun tentang dunia di bawah sana, mereka hanya pernah mendengarnya dari cerita para tetua. Tidak seorang pun berani menjawab dan mereka pun hanya terdiam.
...****************...
Menjelang senja langit, Banua Ginjang berubah warna menjadi jingga keemasan. Pada saat itulah Mulajadi Nabolon biasa berjalan seorang diri mengelilingi Hariara Bolon.
Beliau tidak sedang mengawasi. Tidak pula memerintah. Beliau hanya mendengarkan.
Sebab menurut kebijaksanaan Banua Ginjang, seorang pemimpin yang berhenti mendengar alam akan kehilangan kemampuan mendengar rakyatnya.
Kelak, falsafah ini diwariskan kepada manusia.
Para raja yang bijaksana bukanlah mereka yang paling keras berbicara, melainkan mereka yang paling sabar mendengarkan.
Ketika Mulajadi Nabolon melihat Deak duduk sendirian di bawah Hariara, beliau segera menghampiri dan memanggil: "Anakku."
Deak mengangkat wajahnya dan menjawab hormat: "Ayah..."
"Angin membawamu ke Batu Ingatan." ujar Mulajadi Nabolon. Bukan pertanyaan. Melainkan pernyataan akan kepastian.
Mata Deak membesar. "Ayah tahu?" tanyanya.
Mulajadi Nabolon tersenyum tipis dan menjawab lugas, "Tidak ada daun Hariara yang gugur serentak tanpa sebab."
Beliau lalu duduk di samping putrinya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya memandang cahaya yang menetes dari daun-daun Hariara seperti hujan emas.
Deak akhirnya memberanikan diri bertanya, "Ayah... Apakah benar... ada dunia lain?"
Mulajadi Nabolon tidak segera menjawab. Beliau memetik sehelai daun emas yang baru jatuh. Daun itu diletakkan di telapak tangan Deak.
"Menurutmu... Apakah daun ini hidup?" tanya sang Ayah.
"Iya." jawab Deak cepat.
"Lalu jika daun ini gugur?" tanya sang Ayah lagi.
"Ia mati." jawab Deak ragu-ragu.
Mulajadi Nabolon menggeleng perlahan, "Ia tidak mati. Ia hanya kembali menjadi bagian dari Hariara."
Deak mengernyit kurang memahami pernyataan itu.
Beliau lalu menunjuk akar pohon yang menjulur jauh ke bawah. "Lihatlah pohon ini. Yang kau lihat hanyalah batang dan daunnya. Tetapi kehidupan pohon tidak hanya berada di sana. Ia berada juga pada akar yang tak terlihat. Begitu pula alam semesta. Yang tampak hanyalah satu bagian kecil. Masih ada kehidupan yang tidak dapat dilihat mata."
Deak memandang ke arah akar Hariara yang menghilang jauh ke bawah awan, lalu bertanya: "Apakah akar itu menuju laut yang kulihat?"
Mulajadi Nabolon mengangguk perlahan dan menjawab: "Ya. Namanya Banua Tonga."
"Lalu... Apa yang berada lebih dalam lagi?" tanya Deak kemudian.
"Banua Toru." jawab sang Ayah.
Deak mengulang kedua nama itu pelan-pelan. Seakan takut melupakannya.
"Ayah... Siapa makhluk yang kulihat di dalam laut?" tanya Deak beberapa saat kemudian.
Kali ini, Mulajadi Nabolon benar-benar terdiam. Angin berhenti. Daun Hariara tidak lagi bergoyang. Bahkan burung-burung Sijonggi yang biasanya berkicau menjelang malam ikut membisu.
Setelah cukup lama terdiam, beliau akhirnya menjawab: "Namanya Padoha."
"Itukah naga?" tanya Deak cepat.
"Ya." jawab sang Ayah lugas.
"Apakah ia jahat?" tanya Deak lagi.
Mulajadi Nabolon memandang jauh ke langit dan menjawab: "Tidak semua yang menakutkan adalah jahat. Dan tidak semua yang tampak indah selalu membawa kebaikan. Setiap makhluk memiliki tugasnya masing-masing. Padoha sedang menjaga dunia yang belum selesai. Seperti Hariara menjaga tiga banua. Seperti angin menjaga keseimbangan. Seperti embun menjaga bunga."
Deak semakin bingung dan kembali bertanya: "Kalau begitu... mengapa aku takut kepadanya?"
"Karena kau belum mengenalnya." jawab sang Ayah bijak. Beliau tersenyum lembut ketika melanjutkan kata-katanya: "Ketakutan sering lahir dari sesuatu yang belum kita pahami."
Kalimat itu terpatri dalam hati Deak. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia menghadapi banyak makhluk dari Banua Toru, nasihat itu akan menjadi pelita yang mencegahnya membenci sebelum mengenal.
...****************...
Malam turun perlahan. Bintang-bintang mulai menyala satu demi satu. Namun malam itu berbeda.
Di atas langit Banua Ginjang, tiga bintang besar membentuk segitiga sempurna. Parbaringin yang sedang mengamati langit segera berdiri. Beliau mengenali pertanda itu.
"Tiga Penyangga..." bisiknya.
Dalam ajaran tua Banua Ginjang, tiga bintang itu melambangkan keseimbangan.
Tidak ada yang lebih tinggi.
Tidak ada yang lebih rendah.
Masing-masing saling menopang.
Parbaringin memandang ke arah Deak dan Mulajadi Nabolon yang masih duduk di bawah Hariara.
Ia tahu, semesta sedang mengajarkan sesuatu kepada sang putri. Sesuatu yang kelak diwariskan kepada manusia. Bahwa kehidupan tidak akan kokoh bila hanya berdiri di atas satu penyangga. Harus ada keseimbangan. Harus ada saling menghormati. Harus ada saling menguatkan.
Benih dari kebijaksanaan itu kelak tumbuh dalam falsafah yang dikenal manusia Batak sebagai kehidupan yang ditopang oleh tiga hubungan yang saling menjaga —sebuah cerminan bahwa manusia tidak pernah hidup sendirian. Dalihan Na Tolu, tiga tungku.
...****************...
Sebelum kembali ke istana cahaya, Deak berhenti sejenak. Ia memandang ke arah lembah tempat Batu Ingatan berada dan bertanya: "Ayah... Apakah aku boleh datang lagi ke sana?"
Mulajadi Nabolon memandang wajah putrinya. Beliau mengetahui bahwa rasa ingin tahu anak itu tidak akan pernah bisa dihentikan. Dan justru rasa ingin tahu itulah yang suatu hari akan mengubah wajah dunia.
"Datanglah. Tetapi jangan pernah datang sendirian. Angin akan selalu menemanimu." ujar sang Ayah kemudian.
Deak mengangguk. Ia belum memahami makna kalimat itu. Namun ia dapat merasakan angin yang berhembus lembut di sekelilingnya seolah tersenyum.
Dan jauh di balik kabut Banua Tonga, Batu Ingatan kembali memancarkan cahaya. Seakan menunggu saat ketika Putri Langit akan kembali. Karena masih banyak rahasia yang belum siap diceritakan. Masih banyak kenangan purba yang belum berani terbangun.
Dan yang paling tua di antaranya, masih tertidur di dasar Banua Toru. Menunggu waktu ketika takdir akhirnya mempertemukan mereka.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke BAB 4. Sahabat Bersayap Perak & Telaga Sipaet, Cermin Kemungkinan.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/