NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 027: Akuisisi Es Madu

Takeshi Yamamoto tidak suka membeli perusahaan kecil.

Perusahaan kecil terlalu banyak emosi, terlalu sedikit sistem, dan terlalu sering bergantung pada satu orang pendiri. Ia lebih suka membeli mesin. Mesin yang sudah berjalan, sudah punya pasar, sudah punya pelanggan, dan hanya perlu modal besar untuk berubah menjadi senjata.

Es Madu Kopi terlihat seperti mesin seperti itu.

Dalam beberapa bulan, jaringan itu menyebar dari Jakarta ke Bandung, Surabaya, Semarang, dan kota-kota satelit yang sebelumnya hanya menjadi catatan kecil di peta ekspansi. Dari luar, brand itu tampak sederhana: kopi, madu, harga wajar, pelayanan cepat.

Tetapi justru kesederhanaan itu yang membuat Takeshi tertarik.

Di ruang rapat hotel mewah Jakarta, Takeshi duduk di ujung meja. Di sebelahnya, Vina Maharani membuka laptop.

Vina berusia tiga puluh lima tahun, lulusan Harvard Business School, dan berbicara seperti pisau bedah: dingin, bersih, langsung ke bagian yang sakit. Ia menjabat sebagai vice president Yamamoto Group untuk wilayah Indonesia. Jika Takeshi adalah pemilik ambisi, Vina adalah orang yang membuat ambisi itu terlihat masuk akal di atas spreadsheet.

"Kami menawarkan akuisisi penuh," kata Vina. "Seratus persen saham Es Madu Kopi, termasuk jaringan gerai, merek, kontrak pasokan, sistem pelatihan, dan database pelanggan."

Di sisi lain meja, Pak Budiman Hartono duduk dengan ekspresi berat.

Pak Wahyu Santoso bersandar sambil melipat tangan.

Raka Wijaya tampak seperti pemain game yang sedang berusaha keras tidak tersenyum saat menjalankan quest rahasia.

Fajar Hidayat duduk dekat Takeshi, posisi yang sengaja dibuat terlihat ambigu. Dari luar, ia seperti mantan orang dalam Garuda Emas yang kini membantu Yamamoto memahami target.

Padahal di dalam hatinya, ia terus mengulang satu kalimat.

Mas Rian pasti punya rencana.

Rencana itu, tentu saja, tidak pernah ada.

Di tempat lain, Rian sedang menunggu kabar dengan harapan sederhana.

Semoga Yamamoto membeli.

Semoga harganya cukup rendah.

Semoga Es Madu Kopi pergi dari hidupku tanpa menambah beban terlalu besar.

Doa ketiga itu langsung kalah sejak Vina membuka halaman valuasi.

"Berdasarkan pertumbuhan gerai, loyalitas pelanggan, efisiensi pasokan, dan potensi ekspansi Asia Tenggara," kata Vina, "kami menilai Es Madu Kopi di angka Rp 16 triliun."

Pak Budiman menutup mata sejenak, seperti menahan luka.

Aktingnya sempurna.

"Angka itu terlalu rendah."

Takeshi menatapnya.

"Pak Budiman, kami tahu ekspansi Es Madu Kopi agresif. Beban gaji tinggi. Harga jual rendah. Ketergantungan pada citra Rian Prasetyo juga besar. Kami mengambil risiko."

Pak Wahyu mengetuk meja.

"Risiko? Anda membeli brand nasional yang belum mencapai puncaknya."

Raka langsung masuk, nadanya emosional.

"Es Madu Kopi itu gold mine. Kalau bukan karena Bang Rian punya rencana lain, kami tidak akan duduk di sini."

Takeshi mendengar kalimat itu dan menangkap bagian yang ia inginkan.

Rian punya rencana lain.

Artinya, Garuda Emas mungkin sedang melepas aset karena butuh fokus untuk permainan yang lebih besar, bukan karena aset itu buruk. Jika Yamamoto mengambilnya sekarang, mereka bisa mencuri langkah sebelum Rian bergerak.

Vina menatap Raka beberapa detik, lalu kembali ke spreadsheet.

"Kami bisa naik ke Rp 18 triliun jika semua investor setuju menyerahkan hak suara tanpa syarat tambahan."

Pak Budiman menghela napas panjang.

"Mas Rian mempercayakan keputusan akhir kepada kami. Tapi saya harus jujur, angka itu masih terasa seperti melepas anak sendiri."

Fajar menunduk, menyembunyikan kekagumannya.

Pak Budiman benar-benar hebat. Bahkan rasa kehilangan palsu pun terdengar seperti puisi.

Takeshi mulai tidak sabar. Ia pernah melihat banyak penjual berpura-pura berat hati. Tetapi kali ini, suasananya berbeda. Para investor ini kaya. Mereka tidak terlihat butuh uang. Jika mereka menjual, pasti ada alasan strategis.

Dan alasan strategis orang seperti Rian Prasetyo biasanya berbahaya.

Takeshi tidak ingin berada di sisi yang terlambat.

"Dua puluh triliun," katanya.

Ruangan sunyi.

Vina menoleh cepat. "Takeshi-san..."

"Rp 20 triliun. Final. Akuisisi penuh, proses cepat, pembayaran sesuai tahapan hukum. Kami tidak ingin proses ini dibuka ke pesaing lain."

Pak Wahyu menatap Pak Budiman.

Raka menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tertawa.

Pak Budiman menunduk, seolah sedang mengambil keputusan paling menyakitkan dalam hidupnya.

"Kalau ini memang kehendak Mas Rian," katanya pelan, "kami akan menghormatinya."

Fajar memilih saat itu untuk mendekat ke Takeshi.

Suaranya rendah.

"Yamamoto-san, menurut saya ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Kalau proses terlalu lama, Mas Rian bisa berubah pikiran. Beliau sering mengambil keputusan mendadak."

Itu benar.

Masalahnya, keputusan mendadak Rian biasanya lahir dari panik yang disangka strategi.

Takeshi mendengar kalimat itu sebagai peringatan mahal.

"Siapkan dokumen."

Vina menarik napas, lalu kembali menjadi profesional. Ia memanggil tim hukum, tim due diligence, dan perwakilan bank. Selama beberapa minggu berikutnya, proses akuisisi bergerak seperti mesin besar.

Data gerai diperiksa.

Kontrak sewa dibaca.

Daftar pemasok madu dianalisis.

Struktur gaji dibuka.

Sistem pelatihan karyawan dipelajari.

Vina menemukan banyak hal yang tidak biasa: gaji karyawan tinggi, jam kerja pendek, benefit terlalu baik, standar bahan baku sulit ditekan. Tetapi brand itu tumbuh terlalu cepat untuk diabaikan. Yamamoto Group percaya dengan efisiensi skala besar, semua "kelebihan biaya" itu bisa dirapikan setelah akuisisi.

Fajar, dengan wajah paling setia kepada pengkhianatan palsu, terus membantu.

"Budaya Garuda Emas memang boros," katanya kepada tim Yamamoto. "Tapi pelanggan sangat loyal. Jika Yamamoto masuk dengan modal besar, margin bisa diperbaiki."

Takeshi menyukai kalimat itu.

Margin bisa diperbaiki.

Di sisi investor, Lingkaran Garuda terus memainkan peran. Pak Budiman terlihat berat setiap kali menandatangani persetujuan. Pak Wahyu beberapa kali berkata, "Ini keputusan yang sulit." Raka bahkan sempat mengunggah foto cangkir Es Madu Kopi terakhirnya dengan caption:

Some items must be sacrificed for the final raid.

Internet kembali heboh.

Takeshi semakin yakin ia sedang mengambil sesuatu yang sangat berharga sebelum dunia memahami nilai penuhnya.

Pada hari penandatanganan final, ruang rapat hotel dipenuhi kamera internal, pengacara, dan notaris. Tidak ada seremoni publik besar. Semua terlalu mahal untuk terlihat berisik.

Vina menyerahkan dokumen terakhir.

"Dengan ini, Yamamoto Group mengakuisisi seratus persen saham Es Madu Kopi dengan nilai transaksi Rp 20 triliun."

Takeshi menandatangani.

Pak Budiman menandatangani sebagai perwakilan investor.

Perwakilan PT Garuda Emas Group menandatangani.

Fajar berdiri di belakang Takeshi, wajahnya tenang, hatinya berdebar.

Misi tahap pertama selesai, Mas Rian.

Di kantor PT Garuda Emas Group, Rian menerima telepon dari Teguh.

"Pak Rian, transaksi selesai."

Rian langsung duduk tegak.

"Berhasil dijual?"

"Berhasil. Nilai final Rp 20 triliun."

Rian diam.

Sepuluh detik.

Dua puluh detik.

Tiga puluh detik.

Teguh di seberang telepon mulai khawatir.

"Pak?"

Suara Rian akhirnya keluar, sedikit bergetar.

"Dua puluh... triliun?"

"Betul, Pak. Ini nilai yang sangat baik."

Sangat baik.

Dua kata itu kembali datang seperti kutukan.

Rian menatap meja.

Ia berhasil menjual Es Madu Kopi.

Seharusnya itu kemenangan.

Tetapi Rp 20 triliun akan masuk ke struktur dana grup dan memperbesar tekanan siklus berikutnya. Ia bukan membuang mesin uang. Ia baru saja menukar mesin uang dengan gunung uang yang lebih besar.

Di ruang rapat hotel, Vina menerima dokumen lengkap karyawan Es Madu Kopi. Ia membalik halaman demi halaman dengan cepat.

Lalu jarinya berhenti di halaman terakhir.

Total karyawan: 20.000 orang.

Rata-rata gaji bulanan: Rp 15.000.000.

Standar pesangon: N+3.

Vina mengerutkan kening.

"Beban SDM cukup besar," gumamnya.

Takeshi bahkan tidak menoleh.

"Setelah akuisisi, semua bisa dirapikan."

Fajar menunduk agar senyumnya tidak terlihat.

Di tempat lain, Rian menutup telepon dan menatap langit-langit.

"Aku baru saja rugi," bisiknya, "atau baru saja menang terlalu besar?"

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!