NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22 SINDIRAN PERMAISURI

***

Langit kekaisaran Valeria mulai menggeser malamnya, memunculkan warna jingga lembut yang menyapu langit timur. Cahaya fajar merayap perlahan ke dalam kamar lewat jendela kaca yang tak sepenuhnya tertutup, menciptakan garis-garis keemasan di dinding kamar dan permukaan ranjang.

Di tengah keheningan itu, Iris terbaring dalam pelukan Darian, tubuhnya menyandar pada dada bidang sang Grand Duke yang masih tertidur lelap. Napasnya tenang, namun tiba-tiba... wajahnya mengernyit.

Rasa mual tiba-tiba menghantam perutnya dengan kuat.

Dengan gerakan refleks, Iris menyingkap selimut dan bangkit, kedua tangan menekan perutnya yang kian membuncit. Napasnya tersengal. Ia bergegas menuju kamar mandi, menahan diri agar tidak terjatuh.

Suara langkahnya membangunkan Darian.

Ia membuka mata, dan hanya butuh satu detik untuk sadar bahwa Iris tidak ada di sisinya.

“Iris?” panggilnya pelan.

Namun saat mendengar suara muntah dari arah kamar mandi, tubuh Darian langsung tegak dan melompat turun dari ranjang. Tanpa pikir panjang, ia menyusul ke sana.

Iris bersandar lemas pada sisi bak cuci muka, rambut peraknya sedikit menempel di pelipis yang basah oleh keringat dingin. Tangannya menggenggam erat ujung lengan baju tidurnya yang kini kusut.

“Iris,” suara Darian dalam tapi cemas. Ia segera menghampiri dan berlutut di sampingnya.

“Aku baik-baik saja...” gumam Iris, meski wajahnya jelas menunjukkan kebalikannya.

“Bohong,” balas Darian datar, tapi lembut. Ia mengambil handuk kecil dan menyeka keringat di wajah istrinya, lalu mengecup pelipisnya dengan lembut.

“Sudah lama kau tidak mual seperti ini. Bahkan semalam kau tampak lebih tenang...” ucapnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Iris menggeleng lemah. “Mungkin karena... kelelahan...”

Darian mendengus kecil. “Aku tahu kau berbohong saat sedang mencoba membuatku tak khawatir. Tapi aku tetap khawatir.”

Iris menatapnya sebentar lalu menyandarkan kepala di bahunya. “Jangan terlalu panik. Aku hamil, bukan sekarat.”

Darian menghela napas. “Kalau kehamilan ini menyebabkan tubuhmu gemetar dan muntah di pagi hari seperti ini, maka izinkan aku panik dengan terhormat.”

Ia lalu mengangkat Iris ke dalam gendongannya.

“Hei... aku bisa jalan sendiri,” protes Iris pelan, meski tangan tetap melingkar di leher suaminya.

“Sudah terlambat, istriku,” gumam Darian. “Aku merasa lebih berguna saat menggendongmu begini.”

Darian membaringkan Iris perlahan, menyelimutinya hingga dada. Ia duduk di tepi ranjang, tak melepaskan pandangan dari wajah pucat istrinya.

“Aku... sudah lebih baik,” ucap Iris. “Tidak perlu terlihat seperti... dunia akan kiamat.”

Darian memijat pelipisnya. “Dunia memang tak kiamat. Tapi sarapanku dengan Kaisar bisa.”

Iris mengerjap. “Tunggu. Hari ini—”

“Pagi ini,” potong Darian. “Sarapan bersama Kaisar, sesuai undangan resminya yang... aku lupa karena semalam terlalu sibuk mengelus perutmu dan menenangkan tangismu.”

Iris menghela napas panjang. “Kalau begitu, cepat panggil Lisa. Kita harus bersiap.”

Darian berdiri. “Tidak. Aku akan membatalkannya.”

“Tidak!” Iris langsung berseru, lalu mengerang karena terlalu keras.

Darian refleks duduk kembali. “Jangan paksa dirimu—”

“Aku tidak memaksa. Aku berusaha tetap waras,” ucapnya tajam. “Kalau aku terus di tempat tidur, aku akan merasa seperti pot tanaman.”

Darian menatapnya lama. “Pot tanaman tidak seindah ini.”

Iris terkekeh meski lemas. “Itu gombal sekali. Kau... sedang berusaha mencuri senyumku?”

“Jika perlu, aku akan menyewa bard untuk menyusun puisi demi satu senyummu,” ucap Darian serius, lalu menambahkan, “Tapi jangan tertawa terlalu keras, nanti mual lagi.”

Iris menggeleng pelan. “Kau sangat menjengkelkan. Tapi... terima kasih.”

Darian menyentuh tangannya. “Kalau kau tetap ingin datang, maka kita berangkat setelah kau benar-benar siap. Tidak lebih cepat satu detik pun.”

Iris menatap suaminya dalam-dalam. “Aku tahu kau ingin menjagaku, Darian. Tapi izinkan aku... tetap merasa sebagai diriku. Seorang Duchess. Seorang istri. Seorang ibu.”

Darian mencium tangan itu, penuh hormat. “Maka akan kuantar engkau seperti permaisuri.”

Darian berdiri, melangkah ke pintu untuk memanggil Lisa. Namun sebelum keluar, ia menoleh.

“Kalau kau masih merasa mual nanti... beritahu aku lebih dulu sebelum memaksakan dirimu.”

Iris mengnoduk. “Tentu. Karena hanya kau yang bisa membuat sarapan dan muntah terasa seperti... cinta.”

Darian tersenyum samar. “Sarapan cinta? Akan kupertimbangkan untuk mengganti chef kekaisaran.”

Iris menutup wajah dengan bantal, tertawa kecil. Meski tubuhnya masih lelah, hatinya mulai menghangat lagi. Ia tahu... pria itu, dengan segala kekakuan dan dinginnya di luar, sedang mencoba untuk menjadi rumah paling lembut baginya.

Langit sore menjelang siang menggantung kelabu di atas ibu kota kekaisaran Valeria, namun di dalam istana kekaisaran Valeria, cahaya dari ratusan lentera kristal menyinari aula utama dengan gemilang. Gaun-gaun mengalir, mantel panjang para bangsawan, dan kilatan pedang para pengawal elit memenuhi ruangan megah tempat sang Kaisar Agung Severan mengundang para bangsawan tertinggi—termasuk adik kandungnya, Grand Duke Darian von Ravengard, dan istrinya, Grand Duchess Iris von Draewyn.

Pintu besar dari kayu mahoni dengan ukiran naga bermata permata terbuka perlahan.

Semua kepala menoleh.

Darian memasuki aula, tinggi dan gagah dalam mantel hitam keabu-abuan berlapis beludru perak. Di sampingnya, Iris tampil anggun dengan gaun panjang warna senada, dibalut brokat halus dan aksen kerah tinggi berhias safir. Tangan kirinya menggandeng erat lengan Darian—lebih dari sekadar simbol kemesraan, itu juga cara halusnya menjaga keseimbangan tubuhnya yang mulai sering terasa lelah belakangan ini.

Langkah mereka selaras. Namun saat pandangan Iris menyapu ruangan dan berhenti pada sosok Kaisar Agung dan sang permaisuri berambut emas yang duduk di singgasana perunggu, jantungnya seperti melompat.

Ia meremas lengan Darian dengan tiba-tiba.

Darian segera menoleh, alisnya turun. “Iris?” bisiknya, suaranya hanya cukup untuk ia dengar. “Kau merasa tidak nyaman?”

Iris mengerjapkan mata, sejenak bingung antara rasa gugup dan gejolak kecil yang baru saja muncul dari perutnya. “I-aku... tidak apa-apa. Mungkin hanya... gerakan kecil,” bisiknya, menyentuh perutnya perlahan.

Darian menatapnya lebih lama dari yang perlu, lalu mengnoduk kecil. “Kalau perlu kita bisa pergi kapan saja.”

“Tentu saja tidak,” Iris mengerling padanya. “Kita sudah datang jauh-jauh kemari. Lagipula, ini hanya... undangan kerajaan.”

Senyum Darian samar, tetapi tetap setia memayungi istrinya. Bersama, mereka mendekati singgasana.

Kaisar Agung, Severan Althorion Valeria, bangkit dari takhtanya dengan tangan terbuka lebar. “Adikku yang terkasih!” suaranya menggema hangat, memecah ketegangan sejenak. “Sudah terlalu lama istana tidak menerima jejak langkah Grand Duke kita.”

Darian membungkuk ringan. “Yang Mulia,” sapanya dengan sopan. “Maaf atas keterlambatan kami. Ada beberapa hal di Ravengard yang perlu diselesaikan mendadak.”

Kaisar tertawa pelan. “Tak masalah. Kau datang, dan itu cukup.” Pandangannya berpindah ke Iris. “Dan Grand Duchess Iris, semakin bersinar. Sepertinya peranmu sebagai istri Grand Duke membuatmu bertambah menawan.”

Iris membungkuk lembut. “Yang Mulia terlalu baik. Kehormatan besar bisa kembali ke aula ini.”

Namun, senyum yang menyambutnya dari sisi lain tidak semanis itu.

Permaisuri istana, rambut emasnya ditata tinggi dengan mahkota ringan bertatahkan mutiara, menatap Iris dengan tatapan sulit diartikan. Tak ada senyum, tak ada anggukan penghormatan.

Hanya diam.

“Grand Duchess Iris,” katanya akhirnya, suaranya seolah manis namun mengandung nada tajam yang terbungkus halus. “Aku sempat mengira kau tak akan datang. Mengingat... kondisi kesehatanmu yang katanya agak rapuh.”

Iris tetap tersenyum. “Kesehatan wanita mengandung memang penuh kejutan. Tapi istana dan keluarga kekaisaran adalah alasan yang cukup kuat untuk memulihkan tenaga.”

Permaisuri menyipitkan mata. “Ah, tentu. Aku hampir lupa. Kau berasal dari garis bangsawan di utara yang... tak sepenuhnya kita kenal secara dekat, ya?”

Seketika suasana di sekeliling meja tamu bangsawan menegang. Beberapa wanita mulia menahan napas. Darian bergerak sedikit, namun Iris lebih dulu bicara—senyumnya tetap tenang, tetapi suaranya sekarang membawa gema yang tak asing dari ingatan Iris asli yang terkubur dalam dirinya.

“Saya mengerti. Garis keluarga saya mungkin bukan dari selatan seperti keluarga Anda, Yang Mulia,” ucap Iris dengan nada manis, “tetapi setiap tanah punya sejarahnya masing-masing. Kadang sejarah itu... bahkan lebih tua dari catatan perpustakaan kekaisaran.”

Senyum permaisuri sedikit retak.

Darian menoleh cepat pada istrinya. Mata mereka bertemu, dan meskipun ia tidak tahu pasti apa maksud kalimat itu, ia bisa melihat Iris sedang memainkan permainan berbahaya... dan menanganinya dengan sangat baik.

Kaisar tertawa, mencoba mencairkan suasana. “Kalian wanita selalu punya cara bicara yang memesona sekaligus menegangkan. Mungkin setelah ini kita bisa makan malam bersama? Ada anggur dari utara dan madu pilihan.”

Namun permaisuri masih menatap Iris.

“Grand Duchess Iris,” katanya kemudian, lembut namun menyayat, “semoga kau bisa menikmati waktumu di istana. Kuharap kau tidak merasa... terasing.”

Iris tersenyum lagi—senyum yang lebih seperti bayangan dari seorang duchess yang pernah ditakuti karena ketajamannya.

“Oh, tentu saja tidak, Yang Mulia. Saya tak pernah merasa asing... di tempat yang aroma intriknya begitu akrab.”

Tangan Darian menegang di sampingnya, dan beberapa bangsawan wanita menoleh dengan mulut terbuka setengah. Tetapi Kaisar hanya tertawa lebih keras—entah karena tidak peka, atau justru karena tahu betul permainan verbal yang tengah terjadi.

“Ah, kalian berdua akan membuat istana hidup kembali,” katanya. “Setelah makan malam, izinkan aku berbicara sebentar denganmu, Darian. Ada beberapa hal yang perlu kita bahas.”

Darian mengnoduk hormat. “Tentu, Yang Mulia.”

Sementara itu, Iris tetap berdiri dengan kepala tegak, perutnya yang mulai membuncit tampak membentuk siluet indah di balik gaunnya. Ia tahu, di mata sebagian orang, dirinya masih 'perempuan dari utara', tak murni dari pusat kekaisaran. Tapi ia bukan Iris yang dulu lemah. Bukan wanita yang akan membungkuk karena cibiran halus dari seorang permaisuri bermahkota.

Ia adalah Iris dari Ravengard, dan di dalam dirinya, kini tumbuh harapan baru—harapan yang mungkin suatu hari akan mengubah wajah istana Valeria selamanya.

****

Bersambung

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!