Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Pagi kelima sejak meninggalkan pantai utara, kapal nelayan itu merapat di dermaga kecil yang sepi di utara Jakarta. Tidak ada petugas bea cukai, tidak ada pos pemeriksaan—hanya tumpukan peti ikan dan beberapa pekerja yang sibuk menurunkan hasil tangkapan. Rendra dan kawan-kawannya turun menyamar sebagai buruh bongkar muat, lalu berbaur dengan kerumunan orang yang menunggu angkutan umum.
Kota Jakarta tampak sangat berbeda dari tempat mereka tinggal sebelumnya: gedung-gedung beton menjulang tinggi menutupi langit, suara kendaraan bersahutan tanpa henti, dan orang-orang berjalan terburu-buru seolah tidak punya waktu untuk berhenti sebentar pun. Udara terasa tebal dengan debu dan asap, seolah setiap sudut kota ini menyembunyikan ribuan rahasia yang tak sempat diceritakan.
“Kita tidak bisa diam di satu tempat lama,” bisik Dika saat mereka naik ke dalam kereta api kota yang penuh sesak. “Di sini pengawasan lebih ketat. Hampir setiap sudut ada kamera, dan jaringan komunikasi mereka sangat rapat. Ridwan pasti sudah mengirimkan peringatan ke seluruh instansi di ibu kota.”
Mereka turun di stasiun tua yang agak sepi, lalu berjalan kaki menuju rumah sewa sementara yang disiapkan Pak Haris bertahun-tahun lalu—sebuah kamar kecil di lantai tiga gedung tua di kawasan padat penduduk. Tempat itu tidak terdaftar atas nama siapa pun dari mereka, dan tidak ada tanda yang mencurigakan dari luar.
Sore itu, mereka duduk melingkar di lantai yang dilapisi tikar tipis. Di hadapan mereka ada peta kota Jakarta dan daftar catatan tentang Ibu Ratna Dewi.
“Menurut informasi yang saya dapat,” kata Surya sambil menunjuk lokasi kantor komisi di pusat kota, “Ibu Ratna sangat sulit ditemui secara langsung. Jadwalnya penuh, dan setiap tamu yang datang harus melalui pemeriksaan ketat. Ditambah lagi, nama agen rahasia yang diberikan Asep menunjukkan bahwa dua orang staf pribadinya adalah mata-mata Ridwan.”
“Berarti kita tidak bisa datang ke kantornya,” tambah Rendra. “Kalau kita muncul di sana, berita itu akan sampai ke telinga musuh sebelum pintu kantor terbuka.”
“Lalu di mana lagi kita bisa bertemu dia?” tanya Bapak Harun. “Kita tidak punya kenalan lain di kota besar ini.”
Asep yang sejak tadi diam memandang jendela yang menghadap ke jalan raya, tiba-tiba berkata: “Saya pernah membaca laporan pengawasan tentang dia. Setiap hari Minggu pagi, dia datang ke sebuah perpustakaan tua di kawasan Menteng. Dia datang sendirian, tanpa pengawal, dan duduk di sudut yang sama selama dua jam. Katanya dia mencari buku-buku sejarah lama yang tidak tersimpan di perpustakaan negara.”
“Minggu pagi masih dua hari lagi,” kata Pak Haris. “Kita harus memastikan rencana ini aman. Kita tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun di sini.”
Dua hari itu mereka habiskan untuk memantau perpustakaan itu dari jarak aman. Mereka melihat sendiri bagaimana Ibu Ratna datang tepat waktu, mengenakan pakaian sederhana, dan duduk tenang di sudut dekat jendela kaca patri. Tidak ada pengawal yang mencolok, tidak ada mobil mewah yang menunggu terlalu lama.
Hari yang ditunggu pun tiba. Rendra berjalan duluan masuk ke perpustakaan, menyamar sebagai pengunjung biasa yang sedang mencari buku. Ia berjalan perlahan mendekati sudut tempat Ibu Ratna duduk, lalu mengambil buku dari rak di sebelahnya.
“Maaf, Bu,” bisiknya pelan. “Saya membawa pesan dari Lembah Pertemuan.”
Tangan Ibu Ratna yang sedang membalik halaman buku berhenti seketika. Ia tidak menoleh ke arah Rendra, tidak mengubah ekspresi wajahnya, hanya bertanya dengan suara tetap tenang: “Pesan apa yang dibawa orang yang berani masuk ke tempat terlarang?”
“Bahwa batu yang menyimpan nama kebenaran sudah hancur, tapi tulisannya masih tersimpan di ingatan dan di rekaman suara,” jawab Rendra sesuai kode yang disepakati.
Ibu Ratna perlahan menoleh. Matanya yang tajam menatap Rendra lama, seolah sedang memeriksa setiap kata bohong yang mungkin tersembunyi di wajahnya. “Kalian tahu risikonya mendatangi saya. Banyak orang yang mencoba menjebak saya dengan cerita-cerita serupa.”
“Kami tidak menjebak Ibu,” kata Rendra tulus. “Kami hanya minta waktu sebentar untuk menunjukkan bukti. Jika Ibu ragu setelah melihatnya, kami akan pergi dan tidak akan pernah mengganggu Ibu lagi.”
Ibu Ratna mengangguk pelan. “Bertemu saya di halaman belakang gereja tua di sebelah barat sini, satu jam lagi. Datang berdua saja. Jangan bawa senjata apa pun. Dan lihat sekeliling dengan saksama sebelum melangkah—di kota ini, dinding pun punya telinga.”
Rendra mengangguk, lalu berjalan keluar lebih dulu. Di jalan, ia memberi isyarat pada teman-temannya yang sedang berjaga. Hati mereka berdebar kencang—ini adalah pintu terakhir. Jika Ibu Ratna menolak atau ternyata dia juga berpihak pada musuh, mereka tidak punya tempat lain untuk berlindung.
Satu jam kemudian, Rendra dan Pak Haris berjalan menuju tempat pertemuan. Halaman gereja itu tenang, dipenuhi pohon beringin besar yang rindang. Ibu Ratna sudah menunggu di bawah pohon, duduk di bangku batu tua.
“Katakan sekarang,” katanya singkat begitu mereka duduk.
Rendra menyerahkan ponsel yang berisi rekaman suara Ridwan dan foto batu bertulis. Ia juga menyerahkan daftar nama yang disusun selama ini. Ibu Ratna melihatnya satu per satu, wajahnya perlahan berubah dari tenang menjadi serius, lalu penuh kemarahan yang tertahan.
“Sudah puluhan tahun saya menduga ada jaringan seperti ini,” katanya pelan. “Tapi saya tidak pernah memiliki bukti yang nyata. Saya kira saya berjuang sendirian melawan bayangan yang tak berwujud.”
Ia menatap mereka berdua dengan pandangan baru. “Kalian tahu apa yang akan terjadi jika bukti ini terungkap? Seluruh sistem yang dibangun selama bertahun-tahun akan berguncang hebat. Banyak orang yang berkuasa akan berusaha menghancurkan kalian—bahkan orang-orang yang kalian percaya sekalipun.”
“Kami tahu,” jawab Rendra tegas. “Tapi kebenaran tidak boleh terus dikubur di bawah debu kota ini.”
Ibu Ratna menarik napas panjang, lalu berdiri. “Baiklah. Mulai detik ini, saya tidak akan membiarkan kalian berjalan sendirian. Tapi bersiaplah—perang di ibu kota jauh lebih dingin dan lebih kejam daripada perang di lembah terpencil.”
Di balik dinding gereja tua itu, seseorang mencatat pertemuan mereka diam-diam. Laporan itu segera dikirim ke nomor yang tidak terdaftar: “Mangsa sudah masuk ke dalam kandang. Sekarang tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menutup pintunya.”