Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Janji Manis
Pagi harinya, suasana di rumah keluarga Broto berubah 180 derajat. Bau debu kusam yang menyelimuti dinding-dinding kayu selama enam bulan seolah terbilas bersih oleh tumpukan uang merah yang ditinggalkan Pak Sapta.
Bayu tampak begitu bersemangat. Sejak subuh, ia sudah bolak-balik ke pasar besar Madiun membawa sepeda motor tua milik almarhum ayahnya, mengangkut berkarung-karung beras, daging sapi segar, dan bumbu dapur kelas satu.
Di area depan, pintu Warung Nasi Broto terbuka lebar. Papan nama kayu bertuliskan nama almarhum Pak Broto yang sempat berdebu kini telah dilap bersih hingga mengilat.
Tetangga-tetangga desa yang melintas mulai menengok penasaran. Desas-desus mistis yang sempat merebak hangat perlahan tergerus oleh rasa ingin tahu dan aroma ketumbar serta kayu manis yang mulai menanai udara.
Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah mobil sedan hitam berkilat merapat pelan di teras warung. Pak Sapta turun dari kursi belakang, mengenakan kemeja kasual yang tetap tampak amat mahal dan berkelas.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Sapta hangat.
Bayu yang sedang menurunkan karung beras langsung menyapu keringat di dahinya, lalu menyambut pria itu dengan senyum lebar.
"Selamat pagi, Pak Sapta! Wah, terima kasih banyak Pak! Berkat modal dari Bapak, kita bisa belanja bahan-bahan super buat buka warung lagi."
Pak Sapta tersenyum ramah, merangkul pundak Bayu penuh keakraban. "Itu baru permulaan, Bayu. Kamu ini anak tertua, sudah sepatutnya kamu memegang kendali bisnis keluarga ini. Bapakmu dulu selalu membanggakan ketangguhanmu."
Pujian itu mendarat mulus di dada Bayu yang merindukan sosok seorang ayah. Matanya berbinar penuh rasa bangga.
"Bapak benar-benar ngomong begitu tentang saya, Pak?"
"Tentu saja. Dan saya di sini untuk memastikan mimpi ayahmu tidak terhenti," ujar Pak Sapta halus.
Ia melangkah masuk ke dalam warung, menyapu pandangannya pada Mia dan Rian yang sedang menata mangkuk di atas meja. Pak Sapta merogoh saku kemejanya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan.
"Ini buat jajan Mia sama Rian," ucap Pak Sapta lembut seraya menyerahkan uang itu pada kedua anak kecil tersebut. "Nanti sore, Pak Sapta minta sopir buat belikan kalian perlengkapan sekolah yang baru. Sepatu, tas, buku ... semuanya."
Mia dan Rian saling pandang kegirangan. "Beneran, Pak?! Makasih banyak, Pak Sapta!" seru Mia dengan mata berbinar-binar.
Dari ambang pintu dapur belakang, Galang berdiri mematung memegang pisau pemotong daging. Tangannya dingin. Ia menyaksikan bagaimana Pak Sapta dengan sangat rapi memikat hati setiap anggota keluarganya.
Pria itu menebarkan janji-janji manis, membagikan uang, dan mengisi kekosongan figur ayah yang hilang—sebuah manipulasi psikologis yang sempurna untuk membuat mereka bertekuk lutut dan pasrah.
Bu Retno keluar dari dapur, mengenakan kebaya bersih dengan rambut bersanggul rapi. Senyum kaku yang terukir di wajahnya pagi ini tampak sedikit lebih luwes, seolah-olah kehadiran Pak Hendra memberi dorongan energi ghaib yang menguatkan fisiknya.
"Pak Sapta ... repot-repot sekali pakai membelikan anak-anak baju sekolah," tutur Bu Retno lembut.
"Tidak ada yang repot, Bu Retno," balas Pak Sapta, matanya menatap Bu Retno dengan binar yang sarat akan dominasi tersembunyi. "Anak-anak ini sudah seperti anak saya sendiri. Warung ini tidak boleh cuma sekadar 'buka kembali'. Saya punya rencana besar. Kita akan merenovasi bangunan depan, menambah lima belas meja baru, dan menyuplai daging kualitas terbaik dari peternakan saya di Blitar."
"Renovasi besar-besaran, Pak?!" seru Bayu kaget sekaligus takjub. "Tapi ... itu kan butuh biaya banyak banget, Pak."
Pak Sapta terkekeh berwibawa, menepuk dada Bayu pelan.
"Soal biaya, kamu tidak usah pusingkan, Bayu. Selama saya ada di sini, kalian tidak akan pernah kekurangan satu rupiah pun. Yang saya minta dari kamu cuma satu: dedikasi penuh untuk mengurus warung ini. Kamu sanggup?"
"Sanggup, Pak! Sanggup banget!" sahut Bayu tanpa ragu sedikit pun.
Galang tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia meletakkan pisau daging di atas meja talenan dengan bunyi ketukan keras.
TAK!
Langkah kakinya membawa dirinya mendekati kerumunan itu.
"Pak Sapta," panggil Galang, suara rendahnya memotong euforia di ruangan tersebut. "Bantuan Bapak ini luar biasa sekali. Tapi ... boleh saya tahu apa kompensasi yang Bapak harapkan dari keluarga kami? Di dunia ini tidak ada bantuan belasan juta dan renovasi gratis tanpa ada imbalan."
Suasana di meja warung mendadak hening. Bayu menoleh tajam pada Galang, matanya menyalang murka.
"Lang! Apa-apaan sih kamu?! Pak Sapta ini niatnya baik mau bantu kita, kok kamu malah curiga begitu?!"
"Aku cuma bertanya hal yang masuk akal, Mas!" balas Galang tegas. "Kita ini keluarga yang baru kena musibah. Kenapa ada orang asing yang tiba-tiba datang bagi-bagi uang dan mau nanggung kehidupan kita?!"
"Galang!" bentak Bayu, suaranya meninggi hingga Pertiwi keluar dari dapur dengan wajah takut-takut. "Jaga mulutmu! Kamu itu nggak tahu terima kasih banget! Kalau bukan karena Pak Sapta, besok kita masih makan nasi aking!"
"Sudah, Bayu, tidak apa-apa ...," sela Pak Sapta cepat dengan nada sangat tenang dan sabar. Ia mengangkat tangannya, menghentikan amarah Bayu. Pria itu kemudian melangkah mendekati Galang, berdiri tepat di hadapannya.
"Pertanyaan adikmu ini sangat wajar, Bayu," tutur Pak Sapta lembut, namun matanya yang berada di balik kacamata emas menatap lurus menembus manik mata Galang. "Galang cuma ingin memastikan keselamatan keluarganya. Dan saya sangat menghargai itu."
Pak Sapta tersenyum tipis—sebuah senyuman yang terasa menusuk dingin hingga ke sumsum tulang Galang.
"Jawabannya sederhana, Galang," kata Pak Sapta pelan namun suaranya bergema jelas di seluruh ruangan. "Saya tidak meminta kompensasi berupa uang atau bagi hasil warung. Saya adalah pria tanpa keluarga. Harta saya cukup, tapi saya tidak punya pewaris. Almarhum ayahmu adalah sahabat terbaik saya. Membantu kalian ... adalah cara saya menghormati kenangan tentang Pak Broto."
Ia mengalihkan pandangannya pada Bu Retno, lalu kembali menatap Galang.
"Lagipula ... saya ingin menjadi bagian dari keluarga ini. Bukan cuma sebagai mitra bisnis, tapi sebagai sosok yang akan melindungi kalian semua secara sah."
Galang tertegun. Kata-kata melindungi secara sah itu menggantung di udara bagai ancaman tersembunyi.
Bayu yang polos dan dibutakan oleh rasa gembira sama sekali tidak menangkap bahaya di balik kalimat itu. Ia justru makin kagum pada Pak Sapta.
"Pak Sapta benar-benar luar biasa. Kami sangat berutang budi, Pak."
"Sama-sama, Bayu," ujar Pak Sapta seraya melirik jam tangan emasnya. "Nah, sekarang mulailah menata bahan-bahan itu. Besok adalah hari pertama Warung Nasi Broto kembali beroperasi. Saya akan datang lebih awal untuk memastikan semuanya berjalan lancar."
Pak Sapta pamit pada Bu Retno, memberikan anggukan kepala yang dibalas oleh senyum kaku ibunya. Saat pria itu melangkah keluar menuju mobilnya, Bayu mengantar hingga ke teras depan dengan wajah penuh rasa hormat.
Sementara Galang berdiri kaku di tengah ruangan warung yang kini berbau bumbu dan uang tunai. Ia menoleh ke arah ibunya yang sedang berdiri di dekat kuali besar.
"Ibu ...," bisik Galang penuh keputusasaan. "Ibu beneran mau membiarkan orang itu menguasai rumah kita? Ibu tahu kan siapa dia sebenarnya?!"
Bu Retno tidak menoleh. Ia mengusap permukaan kayu meja racik dengan jemarinya yang dingin.
"Pak Sapta tidak menguasai rumah ini, Galang," balas Bu Retno, suaranya terdengar datar dan tanpa jiwa. "Dialah yang memegang kunci ... agar kalian semua tidak diseret masuk ke dalam liang lahat Bapakmu."
"Tapi dia minta imbalan nyawa adik-adik, Bu!" tekan Galang, suaranya tertahan agar tidak terdengar oleh Bayu di luar.
Bu Retno akhirnya memalingkan wajahnya. Matanya yang sayu dan cekung menatap Galang tanpa pendar kehidupan.
"Perjanjian itu butuh 'Wadah' baru yang kuat untuk mengikat hutang, Galang," bisik Bu Retno sangat pelan, hampir menyerupai desis ular. "Kalau tidak ada figur lelaki yang memimpin ritualnya ... adik-adikmu akan diambil sekaligus dalam waktu semalam. Pak Sapta ada di sini ... untuk mengulur waktu itu."
Mengulur waktu. Galang mengepalkan tangannya kencang. Ia sadar, Pak Sapta bukan hadir untuk menyelamatkan mereka dari takdir kelam pesugihan, melainkan hadir sebagai dalang utama yang akan memastikan setiap nyawa darah daging Pak Broto ditumbalkan tepat pada waktunya, satu per satu, tanpa ada yang terlewat.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya