NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisik di Malam Hari

Malam telah larut. Bulan purnama menggantung di langit Ragonves seperti mata raksasa yang mengawasi setiap gerak-gerik di bawahnya. Angin malam berhembus dingin, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang berguguran.

Di lorong lantai dua kediaman keluarga Vincentes, seorang gadis berdiri dengan gelisah di depan pintu kamar yang kosong.

Ressa Narvieta menggenggam erat ujung celemeknya, jari-jarinya memutih karena cemas. Sudah tiga hari Grey tidak pulang. Sejak pagi itu ia pergi dengan kereta kuda menuju kediaman Sienta, tidak ada kabar apa pun yang datang.

"Tuan Grey belum pulang juga..." gumamnya pelan, matanya menatap pintu kayu jati yang tertutup rapat. "Kalau terus seperti ini, aku seperti tawanan yang diinterogasi di depan hakim."

Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang.

Sejak statusnya berubah menjadi pelayan pribadi Grey, Ressa menjadi sasaran pertanyaan dari berbagai pihak di keluarga Vincentes. Para pelayan tua, pengurus rumah, bahkan kerabat jauh—semua ingin tahu keberadaan tuan muda mereka. Dan semua pertanyaan itu selalu mengarah padanya, seolah ia adalah satu-satunya orang yang tahu jawabannya.

Padahal, ia tidak tahu apa-apa.

Ressa menunduk, matanya menatap lantai marmer yang dingin.

"Aku yakin Tuan Grey baik-baik saja," hibur hatinya sendiri. "Tapi... kenapa aku merasa ada yang tidak beres?"

"Sepertinya ada yang memikirkan seseorang?"

Suara serak itu tiba-tiba muncul dari balik bayangan lorong, membuat Ressa hampir melompat kaget. Ia menoleh cepat.

"P-Paman Sebastian?"

Seorang pria tua dengan tubuh kurus dan rambut putih keperakan berdiri di hadapannya. Wajahnya keriput namun matanya masih tajam—mata yang telah melihat banyak hal selama puluhan tahun melayani keluarga Vincentes. Di tangannya, ia memegang tongkat kayu hitam yang sering ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk lantai saat marah.

Sebastian Holward. Kepala pelayan keluarga Vincentes. Pria yang telah bekerja di rumah ini sejak sebelum Grey lahir.

Ressa menunduk hormat. "Paman Sebastian... saya hanya—"

"Ingatlah pesan paman," potong Sebastian, suaranya tegas. "Jangan sampai jatuh hati pada Tuan Muda Grey. Dia sudah punya tunangan. Kau hanyalah pelayan, dan pelayan tidak boleh mencampuri urusan majikannya."

Ressa menggeleng cepat. "Tidak, Paman. Saya hanya memikirkan Tuan Grey yang tak kunjung pulang. Saya khawatir—"

"Sudah cukup." Sebastian mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Ressa. "Kembali bekerja. Jangan memikirkan Tuan Grey. Dia baik-baik saja, dan itu bukan urusan kita untuk ikut campur."

Ressa membuka mulutnya hendak membantah, tetapi Sebastian menatapnya dengan tatapan yang membuatnya terdiam.

"Tapi, Paman..." Ressa mencoba lagi, suaranya bergetar. "Tuan Grey belum kembali dan itu membuat saya khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu—"

Sebastian menggeram kesal. Tangannya terangkat, hendak memukul—

"Hey, tua bangka! Jangan kasar kau pada seorang gadis."

Sebuah tangan menangkap pergelangan Sebastian tepat sebelum tongkatnya mengenai Ressa.

Vega Arcsein berdiri di samping mereka dengan senyum menyeringai, meskipun matanya tajam. Jari-jarinya menggenggam erat pergelangan Sebastian, cukup kuat untuk membuat pria tua itu tidak bisa bergerak.

Sebastian mendengus kesal. "Kau lagi?"

Ia melepaskan cengkeraman Vega dengan kasar, lalu melangkah mundur. Wajahnya menunjukkan kekesalan yang mendalam. Ia sangat mengenal pemuda ini—Vega Arcsein, sahabat Grey sejak kecil, penyebab utama setiap kekacauan di rumah ini saat mereka masih remaja.

"Hehe, Paman tampak semakin beruban saja," ledek Vega dengan senyum nakal.

"Cih, kau sudah belagu, anak muda," gerutu Sebastian. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak—Vega adalah teman Grey, dan ia tidak punya wewenang untuk mengusirnya.

Sebastian menoleh ke arah Ressa. "Ressa, ingat selalu pesan paman."

Tanpa menunggu jawaban, Sebastian berbalik dan melangkah pergi dengan langkah cepat, tongkatnya berketukan di lantai marmer. Suasana di lorong kembali sunyi.

Ressa menghela napas lega, lalu menatap Vega dengan tatapan bingung.

"Tuan... siapa? Apa Tuan juga anggota keluarga Vincentes?"

Vega menatap gadis itu dari atas ke bawah, lalu tersenyum kecil. "Singkat saja, aku Vega Arcsein. Teman sejati Grey."

Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu melanjutkan.

"Kedatanganku ke sini karena aku meminta bantuanmu, gadis cantik."

"Bantuan?" Ressa mengerutkan kening. "Apa yang bisa saya bantu, Tuan Vega?"

Vega mencondongkan tubuh ke depan, suaranya berbisik serius. "Begini... Grey sudah gila. Dia menyewa banyak mata-mata, pembunuh bayaran, orang suruhan—semuanya demi membalaskan dendamnya pada keluarga Sienta."

Ressa terdiam. Matanya membelalak.

"Tuan Grey... menyewa pembunuh bayaran?"

Vega mengangguk. "Dia tidak bisa berpikir jernih. Setelah melihat Keilla bersama pria lain, Grey seperti kehilangan akal sehatnya. Aku sudah memperingatinya untuk bersabar, untuk menghancurkan mereka dari dalam dengan perlahan. Tapi dia keras kepala—dia ingin segera membalas dendam."

Ia menghela napas panjang, wajahnya tampak lelah.

"Aku harap kau dapat menghentikannya, karena itu sudah gila. Rencana kita benar-benar kacau. Grey bersikeras menghancurkan langsung keluarga Sienta tanpa perhitungan matang."

Ressa menatap Vega dengan bingung. "Kenapa harus saya, Tuan? Saya hanya pelayan baru. Tuan Grey tidak akan mendengarkan saya."

Vega tersenyum tipis. Matanya menatap Ressa dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Karena aku yakin kau dapat menghentikan niat gilanya." Ia menghentikan sejenak, lalu menambahkan, "Lagipula... Grey pasti akan menurut dengan perkataanmu."

Ressa terdiam. Ada sesuatu di mata Vega—seolah ia tahu lebih banyak dari yang ia katakan.

"Kalau begitu..." Ressa akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, antarkan saya pada Tuan Grey."

Vega tersenyum lega. "Ayo, kita temui dia. Kita harus menghentikan Grey dan membujuknya agar tidak gegabah. Jika dia bertindak ceroboh, itu akan menjadi petaka baginya—dan bagi kita semua."

Ia berbalik dan melangkah menuju tangga, memberi isyarat pada Ressa untuk mengikutinya.

Ressa menatap punggung Vega sejenak, lalu mengikuti dengan langkah hati-hati. Di dalam hatinya, berbagai pertanyaan berputar.

"Kenapa Vega begitu yakin aku bisa menghentikan Grey?" pikirnya. "Apa yang dia ketahui tentang diriku?"

Namun, ia tidak bertanya. Untuk saat ini, ia hanya perlu menemui Grey dan menghentikannya sebelum semuanya terlambat.

Di luar, angin malam menderu kencang, membawa serta bisik-bisik tak terdengar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!