Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak. Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja. Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop. Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja. Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut. Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Pertama kalinya Dinzy menerima gaji yang cukup besar untuknya. Dinzy merasa begitu senang, ia bisa menabung dan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membantu panti dimana ia dibesarkan.
Begitu menerima gaji, Dinzy segera memisahkan uang untuk makan, menabung dan untuk panti asuhan. Sisanya Dinzy gunakan untuk kebutuhan darurat yang mungkin suatu hari akan dia butuhkan.
"Dinzy, meu belanja gak?" tanya Siska
"Boleh Mbak. Mbak Siska mau belanja apa?" tanya Dinzy
"Aku perlu sepatu baru, sama beberapa baju untuk outing divisi kita minggu depan"
"Oh iya, kita ada outing ya Mbak"
"Kita belanja yuk"
"Oke Mbak Siska"
Dinzy mmbereskan meja kerjanya, kemudian mengambil tas dan segera meninggalkan kantor. Kali ini Dinzy bersama Siska menggunakan mobil milik Siska untuk menuju pusat perbelanjaan.
"Mbak Siska tinggal sama siapa dirumah?" tanya Dinzy
"Sendiri Dinzy. Orangtuaku di luar kota" jawab Siska
"Mbak Siska punya pacar?"
"Punya, tapi sayangnya aku gak bisa kenalkan dia atau mungkin memberi tahu kalian siapa dia"
"Hehehe... Tidak apa-apa Mbak, di rahasiakan aku rasa lebih baik"
"Beda Dinzy, dia suami orang"
DEG!
"M-maaf Mbak" ucap Dinzy panik
"Dinzy, gak perlu minta maaf. Memangini realita. Hidup di kota besar gak mudah Dinzy, kalau aku hanya memiliki hubungan dengan pria yang ekonominya sama sepertiku, mungkin aku tidak bisa bertahan. Banyak godaannya" jelas Siska
"Godaan?"
"Iya. Misal melihat tas dan sepatu orang-orang kantor. Siapa yang gak mau punya brand mewah? Tapi dengan gaji kecil ini, tidak akan bisa untuk membelinya Dinzy"
Dinzy hanya menganggukan kepalanya, Dinzy tidak begitu tahu tentang brand namun Dinzy mencoba memahami Siska dari sudut pandangnya, tanpa menghakimi.
Sampai di pusat perbelanjaan, Dinzy dan Siska turun dari mobil, lalu mereka masuk ke dalam dan menuju toko dimana Siska biasanya belanja.
Dinzy hanya mengikuti Siska, memperhatikan barang yang Siska beli, dan memperhatikan harga dari beberapa pakaian yang dijual di toko tersebut.
Siska mengambil dua pakaian, yang dia anggap pakaian itu cocok untuk Dinzy pergi outing bersamanya minggu depan.
setelah membayar, Siska memberikan tas belanjaan tersebut kepada Dinzy yang membuat Dinzy bingung.
"Ini aku beli untuk kamu Dinzy" ucap Siska
"Mbak, ini mahal banget. Kenapa Mbak Siska belikan buat aku"
"Ambil ya, aku tulus kok sama kamu. Nanti di pakai saat outing. Kamu pasti cantik dengan dress ini"
"Mbak Siska, gimana caranya aku balas semua ini"
"Gak perlu di balas, aku anggap kamu seperti adikku sendiri"
Dinzy masih menatap Siska dengan tatapan bingung, tapi Siska tidak peduli dan meraih tangan Dinzy untuk menuju toko lain karena ia harus membeli semua kebutuhan untuk outing.
Dan di dalam toko yang sama, Siska melihat sosoj yang sangat ia kenal, yaitu pria yang selama ini memberikan kemewahan untuknya.
Namun keduanya pura-pura tidak kenal. Siska melewati pria tersebut dan istrinya kemudian memilih pakaian yang berada tidak jauh dari mereka.
Sementara Dinzy hanya mengikuti langkah Siska dan membantu Siska memilih pakaian yang cocok untuknya.
"Cantik Mbak, tapi ini terlalu terbuka. Mbak Siska gak apa-apa?" Tanya Dinzy yang dijawab dengan tawa lirih oleh Siska
"Gak apa-apa Dinzy. Kamu mau gak?" tanya Siska
"Gak Mbak, sudah cukup. Mbak Siska jangan hambur-hamburkan uang" ucap Dinzy lirih namun terdengar di telinga wanita yang tidak lain adalah istri dari kekasih Siska.
Wanita itu tersenyum, dia tidak menyangka jika di kota ini masih ada wanita seperti Dinzy.