NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:708
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Teror di Kamar Mandi

Langkah kaki Sekar terasa terseret ketika dia akhirnya sampai di depan pintu pagar rumahnya yang berkarat. Jam dinding di ruang tamu mungkin sudah melewati pukul sepuluh malam, namun atmosfer di dalam rumah tua peninggalan ayahnya itu seolah tidak pernah berubah; tetap dingin, kaku, dan diselimuti keheningan yang menekan dada. Rumah itu bertipe arsitektur kolonial tua dengan langit-langit yang terlampau tinggi, menyisakan ruang kosong yang luas di bagian atas, tempat di mana bayang-bayang kegelapan selalu tampak mengendap dan mengintai.

Ibunya sudah tidak ada di ruang tengah. Hanya ada lampu minyak kecil yang sengaja dinyalakan di atas bufet kayu jatinya, memantulkan pendar jingga suram yang menari-nari gelisah di dinding semen yang lembap. Sekar tidak berniat mencari ibunya. Dia terlalu lelah, terlalu takut, dan merasa jiwanya telah diperas habis setelah pertemuan mengerikan dengan Kalingga di gang ruko tadi.

Dia segera masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu rapat-rapat, lalu menyandarkan tubuhnya di balik kayu pintu yang dingin. Napasnya masih terasa pendek dan putus-putus. Ketika dia menyentuh punggung kanannya, rasa hangat yang aneh masih tertinggal di sana, berdenyut pelan seirama dengan detak jantungnya sendiri. Tanda lahir bersisik itu kini tidak lagi terasa seperti kelainan kulit, melainkan seperti sebuah entitas asing yang hidup, yang secara perlahan mulai menyatu dengan daging dan aliran darahnya.

"Aku harus membersihkan diri," bisik Sekar pada kesunyian kamar.

Kulitnya terasa lengket oleh keringat dingin dan debu jalanan. Terlebih lagi, bau bunga kenanga yang melekat pada pakaiannya sejak kepulangannya dari gang tadi terasa begitu pekat dan menusuk hidung, terus-menerus mengingatkannya pada paras tampan berwajah pucat dengan sepasang mata ular milik Kalingga. Sekar ingin membasuh semua ingatan itu. Dia ingin membilas sisa-sisa aroma kematian itu dari tubuhnya dengan air hangat, berharap bahwa kehangatan fisik bisa mengusir hawa es gaib yang kini bersarang di dalam kepalanya.

Sekar mengambil selembar kain handuk putih bersih dan melangkah keluar menuju kamar mandi yang terletak di bagian paling belakang rumah—sebuah area yang selalu dihindarinya jika malam sudah larut.

Kamar mandi rumah tua itu berukuran cukup luas, namun terkesan primitif dan lembap. Lantainya terbuat dari ubin tegel abu-abu kuno yang permukaannya sudah mulai kasar dan ditumbuhi lumut tipis di sudut-sudutnya. Di satu sisi, terdapat sebuah bak mandi semen besar yang airnya selalu terlihat hitam saking dalamnya. Di sisi lain, sebuah pancuran kuno melekat pada dinding tembok yang catnya sudah mengelupas parah akibat kelembapan menahun.

Satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu adalah sebuah bola lampu pijar lima watt yang menggantung goyah di seutas kabel hitam di tengah langit-langit. Cahayanya kuning, redup, dan sesekali berkedip dengan suara berdengung halus yang mengganggu telinga.

Sekar menutup pintu kayu kamar mandi yang tebal, lalu memutar grendel besinya hingga terdengar suara klek yang nyaring. Dia meletakkan handuknya di atas gantungan baju, lalu mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu.

Ketika kain kausnya terlepas, hawa dingin dari ubin tegel langsung menyengat telapak kaki telanjangnya. Sekar bergidik. Dia sengaja tidak menatap ke arah cermin buram yang tergantung, takut jika dia melihat sesuatu yang tidak semestinya berdiri di belakang bayangannya sendiri.

Dia memutar kran air pancuran. Terdengar suara pipa besi yang berderit nyaring di dalam dinding, disusul oleh semburan air yang keluar dari pancuran. Air perlahan-lahan mulai mengepul, memenuhi ruangan kecil itu dengan kabut putih tipis, memberikan sedikit rasa nyaman yang semu pada saraf-saraf Sekar yang tegang.

Sekar melangkah ke bawah pancuran. Air mulai mengguyur kepalanya, mengalir membasahi wajah, dada, hingga menyusuri lekuk punggungnya. Sekar mendesah pelan, membiarkan matanya terpejam sejenak. Dia meraih botol sampo, menuangkan cairan kental itu ke telapak tangannya, lalu mulai menggosok rambutnya yang panjang hingga busa putih melimpah menutupi seluruh kepala dan sebagian wajahnya.

Dalam kondisi mata tertutup rapat oleh busa sampo, indra pendengaran Sekar mendadak menjadi jauh lebih sensitif.

Di antara suara gemercik air yang jatuh menghantam lantai tegel, dia mulai mendengar perubahan ritme pada suara air pancurannya. Suara jatuhnya air tidak lagi terdengar nyaring dan jernih seperti sebelumnya. Suara itu perlahan-lahan berubah menjadi lebih berat, kental, dan berpola lambat... seolah-olah cairan yang keluar dari pancuran di atas kepalanya telah mengental secara drastis.

Plop... plop... sreeet...

Bersamaan dengan itu, sensasi air yang semula membungkus tubuhnya mendadak lenyap. Suhu air merosot tajam dalam hitungan detik, berubah menjadi sedingin es yang membekukan pori-pori kulitnya.

Sekar tersentak di bawah guyuran air yang mendingin. Namun, kejutan fisik itu belum seberapa dibandingkan dengan apa yang kemudian menyerang indra penciumannya. Wangi segar dari busa sampo di kepalanya mendadak lenyap secara brutal, digantikan oleh bau anyir yang teramat pekat, busuk, dan tajam—bau darah segar yang bercampur dengan lendir binatang mati.

Bau itu begitu kuat hingga membuat lambung Sekar bergejolak hebat. Dia mual setengah mati.

Dengan panik, Sekar mengusap busa yang menutupi matanya dengan kedua tangan, mencoba menghalau rasa perih yang menyengat kelopak matanya demi bisa melihat apa yang sedang terjadi. Ketika dia berhasil membuka matanya di bawah pendar lampu kuning yang berkedip gila, jeritan histeris hampir saja lolos dari tenggorokannya.

Air yang keluar dari pancuran di atas kepalanya tidak lagi berwarna bening. Cairan itu berwarna merah tua pekat, kental, dan berbuih—itu adalah darah murni yang terus mengalir deras, membasahi tubuh telanjangnya, melumuri dadanya, dan menyisakan noda merah yang mengerikan di atas ubin abu-abu kamar mandi.

"Gak... gak mungkin! Ini gak nyata!" Sekar berteriak panik, suaranya gemetar hebat menembus uap air yang kini berbau anyir darah.

Dia melangkah mundur dengan tergesa-gesa, berniat mematikan kran pancuran tersebut. Namun, saat kakinya melangkah, dia merasakan sesuatu yang ganjil di bawah telapak kakinya. Lantai tegel yang semula bersih kini terasa sangat licin, berlendir, dan dipenuhi oleh tumpukan sesuatu yang bertekstur kering sekaligus rapuh.

Sekar menundukkan kepalanya, menatap ke arah lantai di bawah kakinya sendiri.

Dari lubang pembuangan air yang terletak di sudut kamar mandi, air darah yang mengalir tidak kunjung surut. Lubang itu tersumbat. Dan penyebab tersumbatnya lubang tersebut membuat seluruh darah di dalam tubuh Sekar seolah berhenti mengalir karena ngeri yang teramat sangat.

Muntah dari dalam lubang pembuangan air itu, keluar ratusan—bahkan ribuan—lembar bangkai kulit ular yang mengelupas. Kulit-kulit mati itu berwarna putih keabu-abuan, bersisik transparan, kering, dan robek-robek dalam berbagai ukuran. Mereka merayap naik, didorong keluar oleh kekuatan tak kasat mata dari dalam pipa pembuangan yang gelap, menyebar dengan cepat ke seluruh permukaan lantai kamar mandi seperti gelombang pasang yang menjijikkan.

Sreeet... sreeet... sssss...

Suara gesekan ribuan sisik kering itu menggila, memantul di dinding-dinding beton kamar mandi yang sempit, menciptakan polifoni teror yang langsung meruntuhkan sisa-sisa kewarasan Sekar.

Dan teror itu baru saja dimulai.

Di antara tumpukan kulit ular yang mengelupas dan genangan darah yang kental, sesuatu yang hidup mulai bermunculan. Dari dalam kegelapan lubang pembuangan, satu per satu kepala berbentuk segitiga dengan sepasang mata kecil berwarna merah menyala mulai menyembul keluar.

Kepala-kepala berbentuk segitiga itu mendesis, memamerkan taring-taring kecil yang melengkung tajam. Puluhan ekor ular tanah berwarna cokelat gelap dengan motif totol yang berkilat karena lendir mulai merayap keluar dari lubang pembuangan air secara massal. Mereka bergerak sangat lincah, membelah genangan darah kental, saling tumpang tindih satu sama lain, dan menyebar ke segala arah.

Target mereka hanya satu: kedua kaki telanjang Sekar yang mematung kaku di sudut ruangan.

"Pergiii! Tolonggg! Ibuuu!!!" Sekar menjerit histeris. Suaranya melengking tinggi, memantul kasar pada dinding-dinding ubin kamar mandi yang lembap.

Dia mencoba merapat ke dinding, mengangkat kedua kakinya setinggi mungkin, namun ruang geraknya teramat terbatas. Ular-ular itu mulai merayap naik, meliuk-liuk licin di atas tumpukan bangkai kulit mati yang menjijikkan. Sensasi dingin, bersisik, dan berlendir dari tubuh-tubuh reptil itu mulai menyentuh punggung kakinya, melilit pergelangan kakinya dengan cengkeraman yang kaku.

Rasa geli yang mengerikan bercampur rasa takut digigit membuat seluruh bulu kuduk Sekar berdiri. Di atas kepalanya, pancuran itu masih terus memuntahkan cairan merah kental yang kini melumuri wajah dan rambutnya, membuat pandangannya kabur oleh darah. Bau anyir kian mencekik, seolah kamar mandi itu telah berubah menjadi bagian dalam perut seekor predator raksasa.

Di tengah kepungan ular dan genangan darah yang kian meninggi setinggi mata kaki, Sekar melihat sekelebat bayangan hitam besar melintas di balik uap air yang berbau busuk. Di sudut plafon yang gelap, bayangan itu meliuk-liuk horisontal, lalu samar-samar membentuk sepasang mata kuning keemasan dengan manik vertikal yang menatapnya penuh kepuasan.

Kalingga. Mahluk itu sedang menonton penderitaannya. Dia sedang mengklaim wilayahnya, menunjukkan bahwa tidak ada tempat yang cukup suci atau aman di dunia nyata ini bagi Sekar untuk bersembunyi.

"IBUUU!!! TOLONG SEKAR, BU!!! IBUUU!!!"

Sekar memukuli pintu kayu kamar mandi dengan telapak tangannya yang gemetar dan licin oleh darah. Dia tidak lagi memedulikan rasa sakit pada buku-buku jarinya. Pikirannya benar-benar lumpuh, digantikan oleh insting bertahan hidup yang paling primitif.

Brak! Brak! Brak!

Dari luar pintu, terdengar suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa, disusul oleh suara gedoran keras yang membalas pukulan Sekar.

"Sekar?! Sekar, kamu kenapa di dalam?! Buka pintunya, Nduk!" suara ibunya terdengar panik dari balik kayu yang tebal.

"Ular, Bu! Banyak ular! Airnya darah! Tolong Sekar, Bu! Buka!!!" Sekar melolong gila. Kedua tangannya mencengkeram grendel besi pintu, mencoba memutarnya, namun jemarinya yang basah terus-menerus slip karena lendir gaib yang melumuri gagang pintu tersebut.

Brak! CRASH!

Pintu kayu tua itu bergetar hebat. Karena grendelnya yang sudah berkarat tidak juga terbuka, sang Ibu yang didorong oleh kepanikan luar biasa menghantamkan tubuhnya ke pintu. Dengan satu sentakan kuat dari luar, engsel pintu kuno itu jebol. Pintu mendobrak terbuka lebar, membentur dinding dengan suara berdentang keras.

"Sekar?!"

Bersamaan dengan tumbangnya pintu, seolah-olah sebuah tombol ilusi telah ditekan, seluruh kegilaan di dalam kamar mandi itu mendadak menguap dalam sekejap mata.

Hening.

Suara desisan ribuan ular lenyap. Bau anyir darah yang mencekik tenggorokan menghilang dalam sepersekian detik, digantikan oleh aroma sabun mandi dan sampo yang biasa mereka gunakan. Semburan air dari pancuran kembali memancarkan air bening yang hangat, mengepulkan uap putih yang bersih.

Sekar terengah-engah, tubuhnya melorot jatuh ke lantai. Dia menundukkan kepalanya dengan mata melotot, siap melihat kakinya yang digigit atau dililit ular.

Tidak ada apa-apa.

Lantai tegel abu-abu itu bersih total. Lubang pembuangan air mengalirkan sisa air bilasan yang jernih dengan lancar. Tidak ada satu lembar pun bangkai kulit ular yang mengelupas. Tidak ada puluhan ular tanah yang mengepungnya. Dan saat Sekar mengangkat kedua tangannya dengan gemetar di depan wajahnya... telapak tangannya bersih, hanya basah oleh air biasa, tanpa ada setetes pun noda darah merah yang tadi melumuri seluruh tubuhnya.

Ibunya berdiri di ambang pintu yang rusak, napasnya memburu. Matanya menatap Sekar yang duduk telanjang di lantai sambil memeluk lutut, menangis histeris dengan tubuh yang menggigil hebat seperti orang yang kehilangan ingatan.

"Sekar... kamu ini kenapa?" suara ibunya berubah, bukan lagi panik karena bahaya, melainkan dipenuhi oleh rasa lelah, kecewa, dan ketakutan yang mendalam melihat kondisi mental anak gadisnya.

"Ular, Bu... tadi ada ular banyak banget keluar dari sana... airnya juga darah..." Sekar menunjuk lubang pembuangan air dengan jari yang bergetar hebat. Dia mendongak, menatap ibunya, memohon agar dipercaya. "Sekar gak bohong, Bu! Tadi kamarnya penuh darah! Bau anyir!"

Ibunya melangkah masuk, mengabaikan ubin yang basah. Dia mengambil handuk putih dari gantungan, lalu menyelimutkannya ke tubuh Sekar yang kaku. Ibu tidak menatap ke arah lubang pembuangan yang ditunjuk Sekar. Dia hanya menatap lurus ke dalam mata anaknya dengan tatapan yang teramat dingin, hampa, sekaligus menyimpan rahasia yang pekat.

"Gak ada apa-apa di sini, Sekar. Lantainya bersih," kata ibunya, suaranya datar, monoton, tanpa emosi. "Kamu cuma kecapekan karena urusan kampus. Jangan suka melamun di kamar mandi, pikiranmu kosong jadi gampang kemasukan."

"Tapi, Bu—"

"Cepat keringkan badanmu, lalu masuk kamar. Ibu tidak mau dengar cerita aneh-aneh lagi," potong ibunya tegas, nadanya dingin menusuk tulang.

Sang Ibu berbalik, melangkah keluar dari kamar mandi tanpa membantu Sekar berdiri, meninggalkannya sendirian di tengah sisa uap air yang perlahan mendingin.

Sekar meringkuk di dalam balutan handuknya. Isolasi psikologis itu kini terasa jauh lebih mematikan daripada gigitan ular. Ibunya tidak percaya padanya. Dunia tidak akan percaya padanya. Mereka akan menganggapnya gila, sama seperti mereka menganggap mendiang ayahnya gila sebelum kematiannya yang misterius.

Saat Sekar perlahan bangkit berdiri dengan sisa tenaganya, matanya tidak sengaja melirik ke arah cermin buram di atas wastafel yang kini mulai bebas dari embun uap air.

Di dalam pantulan cermin, di atas permukaan kulit punggung kanannya yang terbuka sebagian dari balik handuk, tanda lahir bersisik itu terlihat melar, meluas hingga hampir menutupi seluruh belikat kanannya. Dan di sela-sela sisik hitam yang mengilap itu, sisa air yang menetes di punggungnya tidak berwarna bening.

Ada satu garis kecil aliran darah merah segar yang keluar dari balik sisik tersebut, mengalir lambat sebelum akhirnya menghilang di balik lipatan kain handuk.

Kalingga telah mengakar di dalam tubuhnya, dan malam ini, Sekar tahu dia benar-benar sendirian menghadapi teror ini.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!