Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Identitas Sagara
"Anda betah di sini?" pertanyaan Zaki mengalun bersama desiran halus mobil yang berjalan pelan karena melewati gang-gang sempit.
"Ya, udara di sini segar. Warganya pun ramah-ramah, walaupun tidak semuanya," jawab Sagara yang langsung mengingat sosok Nurlela, si biang gosip yang pernah adu bacot dengannya. Mengingatnya lagi, membuatnya tersenyum tipis. Bisa-bisanya, dirinya beradu mulut dengan ibu-ibu.
"Entah saya salah atau tidak, dari pengamatan saya ... Anda banyak tersenyum di sini, Tuan." Zaki melihat senyuman tipis di bibir sang atasan.
Sagara tidak menampik. "Tidak ada yang membuatku stres di sini," jawabnya.
"Woah ... benar juga." Zaki terkekeh. Tidak ada si kembar Anne dan Anna, dua remaja biang masalah untuk Sagara. "Saya baru ingat, Nona Anya menanyakan Anda."
Anya Abriella merupakan teman masa kecil Sagara, sekaligus sumber stress terbesarnya.
"Hais, tolong jangan sebut nama Si Ratu Drama itu!" mengingatnya saja sudah memunculkan kejengkelan yang hakiki bagi pria itu.
Zaki terkekeh ringan, lalu berujar maaf hanya sebagi formalitas.
"Oh ya, kamu membawa semuanya berkas yang ku minta 'kan?" Sagara mengalihkan topik pembicaraan mereka, sama sekali tidak ingin membahas teman masa kecilnya itu.
"Tentu saja, Anda sudah mewanti-wanti saya untuk itu," lugas Zaki. "Tapi, Tuan. Untuk apa membawa berkas-berkas data pribadi Anda?" Apalagi berkas yang diminta adalah surat pindah nikah dan pasfoto resminya yang berlatar biru dengan dua ukuran.
Sagara menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis. "Itu sudah sangat jelas, masa kamu masih bertanya lagi." Ia menoleh sekilas pada asistennya yang kini menautkan alisnya. Kekehan ringan pun keluar dari bibir pria itu, ada sesuatu yang menggelitik dadanya.
Pernikahan yang terlaksanakan secara kilat itu, sebentar lagi akan tercatat secara resmi. "Tentu saja itu untuk mendaftarkan pernikahanku ke KUA di desa ini. Berkas-berkas itu harus masuk minggu ini agar pernikahan kami sah dan tercatat resmi secara hukum negara."
Walaupun sudah mengira demikian, Zaki masih saja terlonjak kaget sampai mobil sedikit oleng.
"Hais, hati-hatilah. Aku belum mau terluka apalagi mati, masih masa-masa pengantin baru ini!" rutuk Sagara dengan gaya slengeannya, sementara tubuhnya ikut oleng.
"Hah?! Anda ... Anda benar-benar sudah menikah di sini, Tuan?!"
"Hm," dehem Sagara singkat. Melipat kedua tangannya di depan dada menikmati ekspresi syok sang asisten.
Zaki geleng-geleng, masih tidak percaya. Lebih pada tidak ingin percaya. "Anda tega sekali membiarkan saya melajang seorang diri." Padahal saya lajang juga karena Anda yang memberikan saya banyak pekerjaan. Namun, kata-kata itu hanya tersangkut di tenggorokannya. Tidak berani ia suarakan.
"Itu deritamu." Sagara menyugar rambut, jumawa. "Eh, eh ... salah! Seharusnya kita belok kanan. Bukan malah lurus. Bukanya tadi kamu bilang sudah melihat kantor desa?"
"Aduh! Maaf, Tuan!" Zaki segera memundurkan mobilnya untuk kembali ke jalur yang semestinya.
"Tidak usah terlalu kamu pikirkan mengenai jodoh, nanti juga datang sendiri." Nasehat Sagara yang mengira asistennya ini tengah menghawatirkan teman hidupnya sehingga membuatnya tidak fokus.
"Iya, Tuan. Terima kasih nasehatnya." Angguk Zaki singkat, tanpa ingin memperpanjang.
"Hm, ya ... jangan memanggilku Tuan di sini. Kesannya terlalu berlebihan dan formal. Jadi, panggil nama saja." Peringat pria itu, baru menyadari.
Mereka sedang di desa, dipanggil seperti itu kesannya sangat berlebihan. "Lagi pula kita seumuran, 'kan?"
"Tidak, Tuan. Saya mana berani." Zaki segera menolak.
"Ini perintah Zaki Ilyas, bukan tawaran!"
Jika suara Sagara sudah tegas dan namanya dipanggil lengkap, Zaki mana bisa menolak. "Baik, Sagara!" ujarnya yang kelewat mantap.
"Cih! Pura-pura sungkan kamu, ya. Tapi, mulutmu langsung lancar. Apa jangan-jangan selama ini kamu sering memakiku dengan nama saja karena aku yang memberikanmu pekerjaan yang banyak?" Sagara memicing, menatapnya curiga.
Itu nyadar! gumam Zaki dalam hati. Tetapi memaki nama atasannya karena pekerja tidak pernah ia lakukan. Bagaimana pun, itu sesuai dengan gajinya yang bak roket. Maksudnya, naik terus tiap tahun.
"Fitnah lebih kejam dari pada p*mbunuhan!" jawab Zaki, lalu mengangguk sekilas pada Sagara, kemudian kembali fokus mengemudi.
***
Nara menghela napas panjang. "Ayolah!" gumamnya.
Berkali-kali menghentakkan kakinya pada pedal kick starter motor matic miliknya. Namun, mesin itu hanya batuk sesaat sebelum kembali mati total.
Napas Nara memburu, ia menyerah. Motornya tidak ingin menyala. Duduk sejenak untuk istirahat, kemudian membuka jok motor untuk membuktikan firasatnya.
Gadis itu menepuk dahinya tak kala melihat isi tangki bensin yang ternyata benar-benar kering kerontang. "Kan! Benar. Bisa-bisanya aku lupa isi bensinnya. Jadi ribet kalau di saat genting begini!" rutuknya pada diri sendiri terkait salah satu kebiasaan buruknya ini.
Nara melihat sekitar gang, sama sekali tidak ada yang lewat untuk dimintai tumpangan. Padahal ia harus segera pergi ke jalan raya besar untuk mengambil barangnya yang dititipkan pada seseorang yang rutenya melewati area desanya.
Nara membalikkan badan, lalu pandangannya langsung tertambat pada motor besar milik Sagara yang masih terparkir rapi di samping teras. "Eh, dia nggak bawa motornya."
Gadis itu tampak terdiam sejenak, lalu beberapa saat kemudian mengeluarkan ponselnya. Berniat menghubungi Sagara untuk meminta ijin menggunakan motornya. Namun, jemarinya mendadak berhenti. "Kalau minta ijin dikasih apa nggak, ya?" Tidak ingin mengambil resiko tidak mendapatkan ijin dari pria itu, Nara tidak jadi menghubunginya. "Hais, pakai saja dulu lah! Minta izinnya nanti," gumamnya.
Nara melangkah mendekat dan mengamati kendaraan roda dua itu dengan saksama, seketika ia menutup mulutnya. "Benar-benar Royal Enfield Classic."
Saat menaiki bersama Sagara beberapa hari lalu, ia sudah mengiranya. Namun, ini telah dimodifikasi sedemikian rupa membuat harganya lebih fantastis dari harganya yang ratusan juta.
Nara tahu tentu saja karena pernah melihat-lihat berbagai Royal Enfield Classic saat pergi menemani mantan sialannya itu untuk membeli motor tersebut, bahkan mengendarainya beberapa kali tak kala pria itu bosan dan memilih beralih ke mobil saat karirnya semakin sukses. Hais, Nara jadi ingat kebodohannya karena motor itu juga dicicil dengan uannya.
Tapi lupakan itu sejenak, ada hal yang lebih peting yang baru Nara sadari. "Apa dia benar-benar seorang CEO dari perusahaan besar?" Ia mengingat pembicaraan mereka kemarin yang dianggapnya sebagai sebuah kekonyolan.
Karena penasaran, Nara membuka aplikasi pencarian di ponselnya lalu mengetikkan nama Sagara secara lengkap. Tidak menunggu lama, detik berikutnya, layar ponsel Nara dipenuhi oleh berbagai artikel dan muncul lah wajah pria itu di banyak situs. Foto Sagara yang sedang memakai setelan jas mahal terpampang nyata di berbagai media bisnis.
Nara menutup mulutnya dengan mata terbelalak, ia membaca tiap judul berita itu satu persatu.
‘CEO MUDA Adhiyaksa Food Group (AFG) Kembali dengan Inovasi: Adhiyaksa Beverages Siap Kuasai Pasar Teh Kemasan Botol Siap Minum yang Kini Sedang Booming dan Ramai Peminat.’
‘Tuan Muda Kedua Adhiyaksa Berhasil Ekspansi Rantai Pasokan Alami, Andalkan Ribuan Hektar Lahan Adhiyaksa Plantation untuk Pasok Kopi Gayo Hingga Teh Berkualitas Tinggi.’
‘Satu Dekade Adhiyaksa Food Group: Merajai Sektor Hulu ke Hilir dari Adhiyaksa Dairy, Frozen Food Eksportir Daging, Hingga Komoditas Perkebunan Nusantara.’
Nara tidak banyak bereaksi saking terkejutnya akan kebenaran yang baru saja didapatinya ini, tubuhnya seolah membeku di tempat. Sampai bunyi ponselnya mengembalikan kesadarannya, membuat Nara mengingat tujuan utamanya bahwa ia harus segera bergegas.
Tidak menunggu lama lagi, gadis itu langsung menaiki Royal Enfield tersebut, menyalakan mesinnya yang menderu gagah, dan segera menjalankan motor tersebut membelah jalanan desa menuju jalan raya besar di ujung sana.
***
Bersambung ...
cukup layani suamimu, hormati, jaga dari pelakor
dijamin bucin tuh Aa saga
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
lanjut kak
wuih bau baunya ibu mertua bakal ketagihan masakan nara nih
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
mereka dekat dengan cara yg lucu
makasih upnya kak😍/Coffee//Rose/
dan suami juga seneng
hati hati menhaga istri ya sagara
lanjut /Coffee//Rose/
balas dendam yg elegan dengan suami sah ya nara
yg akhirnya tumbuh rasa cinta
lanjut kam
hayo pilih mana kak othornya
atau jangan jangan nanti pas gara pulang dari kantor melihat nara naik motor sagara
lanjut kak 😍
libatkan sagara semua akan bere
lanjut kak😍
tenang aj bang... nara juga mulai suka lho..
lanjut A saga ma neng nara
semangat kak😍