NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 — Retak Kecil

Josh membuka mata dengan jantung berdebar tanpa sebab yang jelas, seolah tubuhnya baru saja tersentak dari sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia alami. Kamar masih gelap, hanya diterangi cahaya samar dari lampu jalan yang menembus celah gorden. Ia meraba meja di sampingnya, mencari ponsel untuk memastikan

waktu. Pukul 02.02.

Pukul 02.02. Ia mengerutkan kening, mencoba mengingat apakah ia pernah bangun di jam yang sama sebelumnya. Rasanya iya—tapi ia tidak pernah benar-benar memperhatikannya sampai malam ini, ketika angka itu terasa begitu mencolok, seolah sengaja ditunjukkan kepadanya.

Ia menghela napas, menyalahkan rasa lelah dan pikiran yang terlalu banyak bekerja akibat nilai ulangan tadi siang, lalu mencoba memejamkan mata kembali. Namun sebelum benar-benar terlelap, terdengar suara pelan dari luar jendela seperti gesekan kain yang tersapu angin, atau mungkin hanya dedaunan pohon mangga di halaman yang bergoyang tertiup malam.

Ia tidak mempedulikannya, menganggapnya hanya bagian dari rumah tua yang sesekali berbunyi aneh karena termakan usia—kayu yang menyusut, pipa yang berdenyit, atau angin yang menyelinap lewat celah kusen jendela yang sudah longgar. Rumah itu memang penuh suara-suara kecil di malam hari, dan selama enam belas tahun hidupnya, Josh tidak pernah sekalipun menganggapnya sebagai sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Pagi harinya, Josh terbangun bukan karena alarm seperti biasa, melainkan karena suara berisik dari lantai bawah. Ia turun dengan mata masih setengah terpejam, mendapati ibunya berdiri di ruang tamu sambil berbicara di telepon dengan nada khawatir yang tidak biasa.

"Iya, Bu, saya juga nggak ngerti kenapa jam dinding di ruang tamu berhenti persis di angka yang sama tiap pagi,"

ibunya berkata sambil sesekali tertawa kecil, seolah berusaha meredam kecemasannya sendiri di hadapan lawan bicaranya di telepon.

"Mungkin baterainya emang udah lemah, ya. Nanti saya beliin yang baru."

Josh melirik jam dinding tua peninggalan neneknya yang tergantung di sudut ruang tamu, benda yang sudah ada di rumah itu sejak sebelum ia lahir. Jarumnya berhenti tepat di pukul 02.02—jam yang sama dengan waktu ia terbangun semalam.

Kebetulan, pikirnya, mencoba meyakinkan diri sendiri. Jam tua memang sering rewel, baterainya bisa melemah kapan saja, dan tidak ada alasan logis untuk mengaitkannya dengan waktu ia terbangun tadi malam. Tapi ada sesuatu yang mengganjal jauh di dasar pikirannya, semacam rasa familiar yang sulit dijelaskan, seolah angka itu punya makna lain yang belum bisa ia pahami.

Di sekolah, hari berjalan seperti biasanya—pelajaran demi pelajaran, obrolan ringan saat istirahat, tawa Brandon yang selalu terdengar dari ujung kelas. Namun pikiran Josh terus melayang, sulit fokus meski ia berusaha keras memperhatikan penjelasan guru di depan kelas.

Veron, teman sekelasnya yang dikenal tenang dan jarang bicara kecuali benar-benar diperlukan, duduk di bangku depan Josh saat jam kosong menjelang siang. Ia menoleh sejenak, memperhatikan Josh yang tampak melamun menatap keluar jendela.

"Lo kelihatan nggak fokus dari tadi," katanya sambil membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. "Ada apa?"

"Nggak ada apa-apa," jawab Josh cepat, meski nadanya sendiri terdengar kurang meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.

Veron menatapnya sejenak, seolah tahu ada sesuatu yang disembunyikan, namun tidak memaksa.

"Kalau berubah pikiran, gue di sini,"

katanya singkat, lalu kembali membuka bukunya, membiarkan Josh dengan pikirannya sendiri.

Malam harinya, Josh kembali berusaha tidur lebih awal, kali ini dengan persiapan lebih matang ia menyalakan lampu tidur kecil di sudut kamar, memutar musik lembut dari ponselnya sebagai pengantar tidur, bahkan mencoba teknik pernapasan yang pernah ia baca di internet untuk membantu tidur lebih nyenyak.

Namun entah bagaimana caranya, matanya kembali terbuka di tengah malam, seolah ada sesuatu yang membangunkannya secara paksa, menariknya keluar dari alam mimpi dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia meraih ponsel di meja, jantungnya sudah mulai berdebar bahkan sebelum melihat layar.

Pukul 02.02.

Angka yang sama, malam kedua berturut-turut.

Ia menghela napas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kebetulan lain—sampai matanya menangkap sesuatu di luar jendela kamarnya yang membuat seluruh tubuhnya membeku seketika.

Sesosok bayangan berdiri diam di ujung gang kecil dekat rumahnya, mengenakan jas hitam panjang meski malam itu sama sekali tidak dingin. Sosok itu tidak bergerak, tidak melakukan apa pun selain berdiri tegak menghadap langsung ke arah jendela kamar Josh, seolah tahu persis di mana harus mengarahkan pandangannya.

Lampu jalan di dekatnya berkedip pelan, seolah keberadaan sosok itu mengganggu aliran listrik di sekitarnya. Josh menahan napas, tubuhnya membeku di tempat, tidak berani bergerak sedikit pun khawatir gerakannya akan menarik perhatian sosok tersebut. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri memukul-mukul dadanya dengan keras, begitu keras hingga ia yakin suaranya bisa terdengar hingga ke luar jendela.

Josh mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya efek kantuk atau permainan cahaya lampu jalan yang temaram. Namun saat ia mengerjap untuk ketiga kalinya, sosok itu masih berdiri di sana, tidak bergerak sedikit pun, seolah waktu di sekitarnya telah berhenti sepenuhnya.

Tangan Josh gemetar saat ia menutup gorden dengan gerakan tergesa, jantungnya berdebar begitu keras hingga ia bisa mendengarnya sendiri di tengah keheningan kamar. Ia berusaha tidur kembali meski butuh waktu lama sebelum matanya benar-benar terpejam, dan sepanjang sisa malam itu, ia merasa seolah ada sepasang mata yang terus mengawasinya dari balik gorden yang tertutup rapat.

Pagi harinya, ia memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang ia lihat kepada siapa pun—bukan karena ia yakin itu tidak penting, melainkan karena ia tahu persis, tanpa bukti nyata, ceritanya hanya akan terdengar seperti halusinasi anak yang kurang tidur.

Namun ketika ia melangkah keluar rumah menuju sekolah, matanya sekilas menangkap sesuatu di aspal dekat gang tempat sosok itu berdiri semalam jejak sepatu basah yang mengarah lurus ke rumahnya, lalu berhenti tepat di depan pagar, seolah pemiliknya baru saja lenyap begitu saja tanpa jejak lebih lanjut.

...****************...

Next Besok 02.02 🙏🙏

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!