NovelToon NovelToon
Tak Akan Aku Biarkan Kau Ambil Suamiku, Mbak!

Tak Akan Aku Biarkan Kau Ambil Suamiku, Mbak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Aryani Ningrum

Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.

Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.

Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.

Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.5 Jatuh Cinta

Wajah Larasati bersemu merah, pagi yang biasa dia lalui seorang diri kini ada sosok Rayyan yang menemani. Walau hanya suami kontrak, Rayyan tetap menjalankan semua kewajibannya sebagai suami. Hanya yang belum adalah nafkah batin.

Laras sudah memberi tahu Rayyan bahwa dirinya tidak usah bingung masalah tentang nafkah lahir atau batin. Toh pernikahan mereka hanya satu tahun saja, meskipun mereka menikah resmi secara agama dan negara.

Ibu laras tidak mau dibodohi sang anak, tanpa menyaksikan ijab kabul sah secara agama dan Negara, ibu laras tetap akan bunuh diri.

"Mbak kok melamun?" ucap Rayyan membuyarkan lamunan Laras. Duri yang menusuk jari Laras sudah diambil dan lukanya pun sudah di perban oleh Rayyan.

"Ah, iya. Tolong jangan panggil aku mbak, takutnya kalau ibu dengar sewaktu-waktu dia bisa curiga," ucap Laras memperingatkan Rayyan agar merubah panggilannya. Walaupun Rayyan patut memanggilnya mbak karena Rayyan lebih muda dua tahun dari Laras.

"Eh iya, Mbak. Lantas aku panggil apa?" jawab Rayyan.

"Terserah mas saja. Asal jangan, Mbak," jawab Laras dengan malu-malu. Hal yang sama juga dirasakan oleh Rayyan, entah mengapa dia begitu canggung dengan Laras, padahal dengan Naya dulu dia tidak seperti itu.

"Baiklah, Mbak. Kalau saya panggil mami gimana?" tanya Rayyan saat kata mami yang keluar dari pikirannya.

"Boleh lah," jawab Laras mengangguk dengan wajah bersemu merah, membuat Rayyan ingin mencubit pipi dengan tahi lalat itu.

Rayan dan Laras keduanya saling menatap intens. Namun keduanya jadi salah tingkah ketika si emak datang.

"Lhoh, Ras. Sudah bangun? Pengantin baru biasanya bangun kesiangan. Kenapa kalian bangun pagi sekali? Emak belum bangun saja kalian sudah bangun! Nak, Rayyan bisa tidur kan? Laras tidak mengecewakan kan? Emak sangat ingin segera menimang cucu! Biar dunia emak ini lebih berwarna lagi. Adik -adik Laras yang perempuan sudah pergi ikut suaminya, sedangkan yang laki-laki sudah punya usaha-usaha sendiri. Dan semua itu Laras yang bantu," ucap Mak Harti-- ibu dari Laras.

"Waduh, Emak! Pakai acara tanya yang aneh-aneh dan apa?! Dia ingin cucu!!" ucap Laras di dalam hati, dia tidak menyangka bakal panjang permintaan sang ibu. Tidak hanya memiliki menantu akan tetapi juga ingin punya cucu.

"Mak, Dek Laras baik kok, dia memang istri idaman Rayyan. Emak tenang aja, kami akan segera memberi cucu pada emak. Tapi semua tentu atas kehendak Allah saja. Jika belum waktunya memiliki, mau usaha sehebat apapun juga tidak akan punya juga. Berdoa yang baik, semoga Allah segera memberikan cucu untuk emak," jawab Rayyan dengan sopan.

Blussh ....

Pipi Larasati kembali memerah, walau dia tahu kata-kata yang diucapkan oleh Rayyan hanyalah sekedar ucapan untuk menyenangkan hati ibunya. Akan tetapi Laras yang belum pernah dekat dengan lelaki merasa dadanya berdebar dengan kencang.

"Ya sudah, emak percaya kalian akan memberi emak cucu. Emak ingin sebelum emak pergi selamanya, Laras sudah memiliki penerus. Tidak merasa kesepian lagi jika emak sudah tiada," ucap Mak Harti sembari membelai rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.

Rayyan tersenyum kecut, dia bisa melihat kepolosan dan keinginan paling terdalam dari seorang wanita yang berstatus janda dengan empat anak yang sudah mentas semua itu.

"Iya, Mak. Kami akan berusaha untuk yang terbaik bagi masa depan kami. Emak tenang aja, Rayyan berjanji akan jadi suami yang baik untuk Laras," ucap Rayyan menggenggam tangan wanita tua yang sudah mulai mengeriput itu.

Laras mencuri pandang ke arah Rayyan, andai saja bukan suami kontrak tentu saja saat ini dia akan menjadi wanita yang paling bahagia. Laras menyayangkan mengapa mereka dipertemukan dalam keadaan yang dipaksakan. Ada perjanjian hitam di atas putih yang menjadi batu pengganjal hubungan pernikahan mereka.

"Sudah lah, Emak. Jangan berharap terlalu tinggi, serahkan semua pada Allah. Biarkan Dia yang mengatur semua. Yang penting Laras sudah menikah, dan tidak ada yang memanggil Laras perawan tua lagi. Emak senang kan? Ayo sekarang kita bikin sarapan," ucap Laras menghentikan pembicaraan yang jika dilanjutkan maka akan membuatnya semakin sesak napas.

"Baiklah, emak akan bantu membuatkan sarapan yang enak untuk kalian," sahut Mak Harti menyetujui ajakan Laras.

Harum bau masakan Laras dan. Mak Harti membuat Rayyan tidak sabar untuk segera mengisi perutnya yang sudah berbunyi nyaring. Selama menikah dengan Naya, tidak pernah dia dapatkan sarapan enak. Selalu dirinya sendiri yang menyiapkan sarapan, bahkan untuk Naya pun Rayyan yang menyiapkan sebelum pergi berkeliling menjual siomay.

"Nak Rayyan, ayo sarapan. Sudah siap semuanya, makan yang banyak biar bisa menghamili anak emak," ucap Mak Harti absurd. Mak Harti yakin jika Rayyan gizinya terpenuhi maka bisa mudah membuahi sel telur Laras.

"Makasih, Mak," ucap Rayyan mengikuti mak Harti menuju ke meja makan besar terbuat dari kayu ukiran.

"Laras, kau layani Rayyan. Emak mau buat jamu perkasa buat Rayyan dan jamu subur buat kamu. Pokoknya kalian harus cepat punya momongan, jika tidak emak akan tenang sebelum Laras hamil!" ucap Mak Harti dengan wajah serius. Mak Harti sewaktu muda sampai Laras dewasa jualan jamu gendong.

Berbagai jamu herbal ia kuasai, hal itu dia dapatkan dari leluhurnya. Mak Harti bertekad akan membuat anaknya cepat hamil mengingat umur Laras juga semakin bertambah. Suara lesung untuk menumbuk tanaman herbal terdengar bertalu. Pertanda Mak Harti mulai menumbuk jamu herbal untuk Rayyan dan Lastri.

"Nak Rayyan, cobalah jamu buatan emak ini. Mak yakin kamu akan kuat sepanjang hari," ucap Mak Harti memberika ramuan jamu itu pada Rayyan.

Rayyan menatap ke arah Laras untuk meminta persetujuan darinya. Laras mengangguk karena tidak ingin membuat wanita tua itu kecewa.

"Terima kasih, Mak. Nanti Rayyan akan minum," ucap Rayyan menerima secangkir jamu dari tangan Mak Harti.

"Jangan nanti, Rayyan. Emak mau kamu minum sekarang juga. Kalau nanti maka khasiatnya akan hilang," tolak Mak Harti tidak bisa ditawar lagi.

Rayyan kembali menoleh ke arah Laras. Dan Laras hanya bisa mengangguk tidak ingin sandiwaranya terbongkar di depan ibu kandungnya.

"Ya udah, Mak. Rayyan minum ya, habis ini Rayyan mau jualan siomay ya, Mak. Kasihan pelanggan Rayyan pasti menunggu kedatangan Rayyan," sahut Rayyan ingin hari ini dia tetap jualan agar pelanggannya tidak kabur.

"Lhoh, pengantin baru kok jualan!"

"Aduh!" pekik Rayyan lirih karena kakinya diinjak Laras. Seketika Rayyan menoleh ke arah Laras dan Laras membalas dengan kode agar Rayyan tidak jualan. Mak Harti bisa curiga.

"Eh! Mas Rayyan kan hanya mau ambil barang dagangan iya kan, Mas?" ucap Laras memotong pembicaraan Rayyan dan Mak Harti.

"Iya, Mak. Hari ini hanya ambil dagangan untuk buat jualan besok pagi. Mak, Rayyan harus kerja agar bisa menafkahi istri Rayyan, Mak. Benar begitu kan dek Laras. Selain itu juga demi masa depan anak-anak Rayyan nanti, Mak. Gak apa-apa kan kalau besok Rayyan jualan," ucap Rayyan yang memikirkan masih punya tanggungan mengangsur sepeda motor yang ia pakai buat jualan siomai.

"Oh begitu, bagus kalau begitu, Nak Rayyan. Kamu buat saja di sini, nanti emak bantu siapin jualan nak Rayyan. Bukan begitu, Laras. Sebelum kamu berangkat ke butik, kamu bisa kan bantu Rayyan dulu?" tanya Mak Harti membuat Larasati mendelik. Akan tetapi lagi-lagi dia hanya bisa mengiyakan apa yang dikatakan oleh Ibunya.

Tok!

Tok!

"Mbak Laras selamat pagi, maaf menganggu mbak Laras. Gea lupa kalau hari ini ada undangan pesta dari Nyonya Indira, pelanggan VIP kita. Kata Nyonya Indira, mbak Laras suruh bawa pasangan karena pesta ini pesta dansa, ulang tahun pernikahan nyonya Indira dengan suaminya. Mbak nanti datang kan? Karena nyonya Indira pelanggan terbesar kita, jangan sampai beliau marah dan berpindah butik," ucap Gea yang datang dengan tiba-tiba.

Larasati terdiam sejenak, sungguh undangan dari pelanggannya itu bikin serba salah saja.

"Bagaimana, mbak?"

1
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!