"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu Baru di Mulai
Sentuhan kapas beralkohol dari tangan Senja sukses bikin otot perut Arsen menegang seketika. Senja bisa mendengar helaan napas berat pria itu tertahan tepat di atas kepalanya.
"Sakit, Pak? Makanya kalau punya luka tuh diobatin ke dokter, bukan malah petantang-petenteng di kantor," gerutu Senja pelan, mencoba mengalihkan rasa gugupnya sendiri karena posisi mereka yang intim ini. Jarak mereka dekat banget, sampai-sampai Senja bisa merasakan hawa hangat dari tubuh Arsen.
"Banyak bicara kamu. Cepat selesaiin," balas Arsen, suaranya agak serak menahan perih.
Senja mendengus pelan, tapi tangannya bergerak selembut mungkin menempelkan kasa steril baru, lalu melilitkan perban bersih ke pinggang Arsen. Pas jemari Senja nggak sengaja menyentuh kulit pinggang Arsen yang liat, dia ngerasa kayak ada setruman aneh yang bikin jantungnya makin gak karuan.
Setelah memastikan perbannya terpasang rapi, Senja mundur satu langkah, memberi jarak yang aman. Dia buru-buru merapikan sisa kasa dan botol alkohol ke dalam kotak.
"Udah selesai, Pak. Kancingin lagi tuh kemejanya. Nanti kalau ada yang masuk, dikira saya ngapa-ngapain Bapak lagi," ucap Senja, berusaha sedatar mungkin padahal mukanya masih terasa agak panas.
Arsen menatap perban baru di pinggangnya, lalu perlahan mengancingkan kembali kemeja putihnya dengan satu tangan. Setelah rapi, dia menatap Senja lurus-lurus. Tatapan mata elangnya kembali dingin, tajam, dan penuh selubung misteri.
"Luka itu..." Senja menggantung kalimatnya, menimbang-nimbang apakah dia punya hak buat bertanya. Tapi dasar Senja keras kepala, dia nekat juga. "Itu bukan luka jatuh kan, Pak? Bentuk jahitannya... kayak abis kena benda tajam."
Arsen berjalan memutari meja marmernya, lalu duduk kembali di kursi kebesarannya dengan santai, seolah-olah darah yang merembes tadi cuma fiktif belaka.
"Kecelakaan waktu tanding fencing (anggars) sama kolega bisnis minggu lalu. Alatnya patah," jawab Arsen lempeng banget. Komuknya bener-bener meyakinkan kayak orang nggak lagi bohong.
Senja menyipitkan mata, merasa agak sangsi. Main anggar sampai robek kayak gitu? Emangnya mainnya pakai pedang beneran zaman kerajaan? Tapi ya sudahlah, Senja juga nggak punya bukti lain buat mendebat.
"Terserah Bapak deh mau alasan apa," sahut Senja sambil menyambar cangkir tehnya yang mulai dingin. "Yang jelas, tugas saya bantuin Bapak udah kelar. Saya permisi balik kerja."
Pas Senja baru aja mau memutar knop pintu yang tadi dia kunci, suara bariton Arsen kembali menginterupsi.
"Senja."
Senja menoleh malas. "Apa lagi, Pak? Mau minta tolong pasangin dasi sekalian?"
Arsen sempat tertegun denger kalimat sarkas asistennya itu, tapi sedetik kemudian, wajahnya kembali datar. "Soal kejadian kemarin di mobil... dan apa yang kamu lihat hari ini. Jangan sampai ada satu orang pun di kantor ini yang tahu. Paham?"
Senja terdiam sebentar. Dia tahu, di balik nada perintah itu, ada peringatan serius yang nggak boleh dia sepelein. "Saya emang benci sama metode kerja Bapak yang tiran. Tapi saya bukan tipe orang yang hobi nyebar gosip atau ngerusak privasi orang lain. Bapak aman sama saya."
Arsen menatap Senja cukup lama, seolah lagi menilai apakah perempuan di depannya ini bener-bener bisa dipercaya atau enggak. Sampai akhirnya, Arsen mengangguk tipis sekali—hampir nggak kelihatan kalau dia nggak jeli.
"Bagus. Sekarang keluar," usir Arsen dengan nada bossy-nya yang biasa.
Senja memutar bola matanya jengkel, lalu membuka pintu dan melangkah keluar dari ruangan laknat itu dengan perasaan campur aduk.
Begitu Senja kembali duduk di kubikelnya, jam kantor sudah resmi dimulai. Suasana divisi kreatif mulai ramai dengan suara ketikan keyboard dan obrolan tim. Tapi fokus Senja udah nggak bisa seratus persen ada di sana.
Sambil pura-pura ngecek email masuk, Senja menopang dagunya, menatap kosong ke arah kubikel Rara.
Arsen Malik... cowok itu bener-bener penuh teka-teki. Alasan soal olahraga anggar tadi kedengaran masuk akal buat orang awam, tapi insting Senja tetep menolak buat percaya. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap yang lagi disembunyiin sama bos barunya itu.
Tepat jam sembilan pagi, sebuah notifikasi pesan internal kantor bunyi di laptop Senja. Pengirimnya: Arsen Malik.
Senja mengernyit, deg-degan pas mau ngeklik pesannya. Mau ngomel soal revisi apa lagi nih orang?
Begitu dibuka, isinya cuma satu kalimat pendek yang sukses bikin Senja tertegun di kursinya:
[Arsen Malik]: Thanks buat perbannya. Dan proposal kamu kemarin... kerja bagus.
Senja mengerjapkan mata beberapa kali, memastikan kalau dia nggak salah baca. Seorang Arsen Malik—manusia tanpa hati yang hobi ngerombak kerjaan orang sesuka jidat—baru aja ngucapin terima kasih dan muji kerjaan dia?
Tanpa sadar, sudut bibir Senja terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang buru-buru dia hapus pas Rara mendadak lewat di depan mejanya.
Senja mengembuskan napas panjang, bersandar di kursinya sambil menatap layar laptop. Rasa bencinya ke Arsen emang belum hilang seutuhnya, tapi hari ini, benteng pertahanan Senja buat jaga jarak dari cowok itu perlahan mulai retak sedikit demi sedikit.