NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#5

Di sudut kanan kantin yang luas, riuh rendah suara ratusan murid Oakridge High School kembali normal setelah ketegangan beberapa menit lalu mereda.

Di meja kayu ek hitam, suasana justru sebaliknya. Suara tawa dan obrolan terdengar lebih keras dari biasanya, merayakan kemenangan kecil atas mundurnya si murid beasiswa baru.

"Kau lihat bagaimana wajahnya tadi? Pucat pasi seperti melihat hantu!" George terbahak, menyandarkan punggungnya ke kursi beludru dengan gaya pongah.

"Kira-kira dari lubang mana jalang tua di dinas pendidikan menemukan anak beasiswa seperti itu untuk dimasukkan ke sini?"

"Kudengar dia pindahan dari Eropa. Aksen Inggrisnya aneh, sangat kaku," sahut Skylar, salah satu atlet sekolah berjaket tebal, sambil menusuk daging steiknya dengan garpu.

"Siapa pun dia, dia harus tahu posisinya di rantai makanan sekolah ini," timpal Grey, sementara Frank—pria jangkung di ujung meja—hanya terkekeh sambil mengangguk setuju.

Mereka berempat terus membicarakan Issabelle, melempar spekulasi murahan tentang seberapa lama gadis miskin itu akan bertahan sebelum akhirnya menangis dan memohon untuk pindah sekolah.

Namun, di tengah lingkaran obrolan yang bising itu, sang pusat perhatian justru terdiam.

Navarro Von-Riccardo duduk bersandar di kursi utamanya.

Kedua tangannya menyatu di atas meja, jemarinya mengetuk permukaan kayu ek hitam dengan ritme yang lambat dan konstan.

Ia tidak menggubris satu pun ucapan dari sahabat-sahabatnya.

Suara George, Skylar, Grey, dan Frank hanya terdengar seperti dengungan lalat yang lewat di telinganya.

Matanya yang gelap dan tajam menatap lurus ke arah kursi kosong di depannya—kursi yang beberapa saat lalu diduduki oleh Issabelle.

Navarro tidak sedang memikirkan kelancangan gadis beasiswa itu. Ia juga tidak sedang memikirkan bagaimana gadis itu menatap matanya tanpa rasa takut sebelum akhirnya mundur.

Pikiran Navarro terkunci pada satu hal yang sama sekali tidak masuk akal. Sebuah anomali yang baru saja mengguncang seluruh sistem sarafnya.

Gadis beasiswa tadi... memiliki aroma.

Navarro menarik napas dalam-dalam melalui hidungnya, mencoba menangkap sisa-sisa molekul udara yang tertinggal di sekitar meja.

Saraf-saraf di rongga hidungnya masih merekam dengan sangat jelas jejak wangi yang ditinggalkan oleh Issabelle saat gadis itu berdiri dan melangkah mundur.

Itu adalah aroma yang sangat tipis, dingin, menyerupai wangi salju yang bercampur dengan esens kelopak bunga mawar putih yang membeku.

Sebuah aroma yang murni, tajam, dan tidak terasa seperti parfum-parfum kimia murah.

Bagi orang awam, mencium aroma tubuh seseorang yang lewat adalah hal yang sangat biasa. Namun bagi seorang Navarro Von-Riccardo, hal ini adalah sebuah keajaiban yang mengerikan.

Sejak hari ia dilahirkan, selama 16 tahun hidupnya di dunia ini, Navarro tidak pernah tahu bagaimana rasanya mencium aroma wewangian.

Ia hidup dalam dunia yang hampa bau. Ia tidak tahu bagaimana wanginya kopi yang baru diseduh di pagi hari, ia tidak bisa membedakan aroma parfum mewah berharga ribuan dolar yang dipakai ibunya, dan ia tidak pernah tahu seberapa menyengatnya bau alkohol yang sering diminum ayahnya.

Indra penciumannya lumpuh total terhadap segala bentuk wewangian dan aroma lingkungan.

Dan hal itu bukan sekadar cacat medis biasa. Itu adalah rahasia terbesar dan paling kelam dari garis keturunan murni keluarga besar Riccardo.

Di dunia bawah tanah yang dikuasai oleh jaringan sindikat, keluarga Riccardo dikenal sebagai penguasa absolut yang bertangan dingin.

Namun, di balik dinding-dinding kastel dan mansion mereka, sebuah kutukan genetika yang aneh selalu diturunkan kepada setiap pewaris utama pria secara turun-temurun.

Para pria berdarah murni Riccardo dilahirkan dengan kondisi anosmia selektif—ketidakmampuan mutlak untuk merasakan atau mencium aroma apa pun di dunia ini.

Mereka hidup dalam kekosongan sensorik yang mutlak sejak kecil.

Namun, legenda internal keluarga mereka menyebutkan bahwa kondisi itu bukanlah cacat abadi, melainkan sebuah mekanisme pengunci genetika.

Ada satu hukum tak tertulis yang diturunkan oleh para leluhur Riccardo dalam dokumen rahasia klan: Indra penciuman seorang pewaris Riccardo hanya akan terbangun jika ia bertemu dengan satu-satunya orang yang memiliki kecocokan genetika mutlak dengan darahnya. Seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi kelemahan sekaligus pelengkap jiwanya.

Selama belasan tahun, Navarro menganggap cerita itu hanyalah dongeng pengantar tidur yang dikarang oleh kakeknya untuk menghibur dirinya yang frustrasi karena tidak bisa mencium bau apa pun.

Ia tumbuh menjadi pria yang dingin, skeptis, dan mengabaikan segala hal yang berkaitan dengan romansa atau takdir.

Bagi Navarro, wanita tidak lebih dari sekadar alat politik atau hiasan sosial.

Sampai hari ini. Sampai menit ini.

Ketika ia melangkah mendekati meja tempat Issabelle duduk, tepat saat ia menundukkan kepala untuk mengintimidasi gadis itu, seberkas udara dingin menerobos masuk ke dalam rongga hidungnya.

Saraf-sarafnya yang selama 16 tahun mati dan mati rasa, mendadak bergetar hebat.

Jantungnya sempat melewatkan satu detakan ketika aroma dingin dan murni dari tubuh gadis itu menghantam kesadarannya seperti sengatan listrik.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Navarro bisa mencium sebuah aroma. Dan satu-satunya aroma yang bisa ia cium di seluruh dunia yang luas ini adalah aroma tubuh gadis beasiswa tadi.

"Navarro? Hei, Nav, kau mendengarku tidak?"

Suara George Clooney kembali menembus lamunan Navarro. George melambaikan tangannya di depan wajah Navarro dengan dahi berkerut heran. "Kau melamun? Tidak biasanya kau mengabaikan makananmu."

Navarro perlahan mengalihkan pandangannya pada George.

Sepasang mata gelapnya memancarkan intensitas yang begitu pekat, membuat George refleks menurunkan tangannya dan menelan ludah dengan gugup.

Aura intimidasi yang mendadak keluar dari tubuh Navarro terasa berkali-kali lipat lebih berbahaya daripada biasanya.

"Siapa nama gadis itu?" tanya Navarro. Suaranya rendah, serak, dan dingin, memotong seluruh tawa yang ada di meja tersebut.

George berkedip beberapa kali, tampak terkejut dengan pertanyaan mendadak dari sahabatnya.

"Eh... siapa? Gadis beasiswa tadi? Aku... aku tidak tahu nama lengkapnya. Tapi tadi pagi, kulihat dia berangkat bersama si kembar anak bengkel itu, Claire dan Chloe. Kurasa dia anak pungut atau semacamnya."

Navarro tidak merespons. Ia kembali mengetuk permukaan meja dengan jemarinya.

Anak beasiswa. Terkait dengan keluarga Wadde'. Pindahan dari Eropa. Data-data kecil itu tersusun di dalam kepalanya.

"Nav, ada apa?" Grey ikut bertanya, merasa ada yang tidak beres dengan ketertarikan mendadak dari seorang Navarro terhadap seorang gadis kasta bawah.

"Kau tertarik padanya? Kalau kau mau, aku bisa menyuruh anak-anak untuk membawanya ke gudang belakang sekolah sepulang sekolah nanti."

"Jangan sentuh dia."

Kalimat itu keluar dari mulut Navarro seperti sebuah perintah mutlak dari seorang jenderal perang. Dingin, tanpa bantahan, dan mematikan.

George, Skylar, Grey, dan Frank seketika terdiam.

Mereka saling pandang dengan raut wajah bingung sekaligus ngeri.

Selama bertahun-tahun berteman dengan Navarro, mereka tahu bahwa jika pria itu sudah mengeluarkan nada suara seperti itu, maka itu berarti garis batas yang sangat suci telah ditarik.

Siapa pun yang berani melangkahinya, konsekuensinya adalah kehancuran total.

"Aku tidak suka mengulang perkataanku," tambah Navarro lagi, matanya menyipit menatap mereka berempat satu per satu.

"Biarkan dia. Jangan ada satu pun dari kalian, atau orang-orang di sekolah ini, yang menyentuh atau mengganggunya sebelum aku memberi izin."

"Y-ya, tentu saja, Nav. Kami paham," jawab George dengan terbata-bata, buru-buru memakan kembali makanannya untuk menyembunyikan rasa takutnya.

Navarro kembali menyandarkan tubuhnya, mengabaikan piring steik mahalnya yang sudah mendingin.

Indra penciumannya kini berusaha mencari kembali jejak aroma mawar es yang tipis itu, namun udara kantin yang bercampur bau makanan lain kembali terasa hampa bagi hidungnya.

Kekosongan itu kembali, menyisakan rasa lapar yang aneh di dalam dadanya—bukan lapar akan makanan, melainkan lapar akan kehadiran sosok gadis beasiswa itu.

Rahasia keluarga besar Riccardo yang selama ini terkunci rapat di dalam darahnya, kini telah terbuka.

Dan kuncinya berada di tangan seorang gadis miskin berlogo beasiswa yang saat ini entah berada di mana.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara itu, di area taman belakang sekolah yang sepi, Issabelle duduk di sebuah bangku batu di bawah pohon ek yang rindang.

Ia mengeluarkan ponsel pintarnya, jemarinya bergerak cepat di atas layar yang terenkripsi, membuka pesan rahasia yang baru saja masuk dari Jerman.

“Nona Muda, kami mendeteksi pergerakan dari faksi Riccardo di wilayah pantai barat tempat Anda berada sekarang. Harap berhati-hati. Jangan memicu konflik apa pun dengan mereka.” — Martha.

Issabelle menatap layar itu dengan mata abu-abunya yang dingin, lalu mengetik balasan singkat: “Terlambat. Pusat dari mereka sudah berada di depanku hari ini. Tapi semuanya terkendali. Aku tetap berada di bawah radar.”

Setelah mengirim pesan itu, Issabelle memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia menatap ke langit Los Angeles yang biru cerah, merasakan embusan angin yang menerpa wajah pucatnya.

Ia tidak tahu bahwa penyamaran sempurna yang ia bangun dengan susah payah, yang bahkan tidak bisa ditembus oleh agen intelijen terbaik sekalipun, kini terancam hancur bukan karena kesalahan taktik atau dokumen, melainkan karena seberkas aroma tubuh yang tidak bisa ia sembunyikan dari hidung seorang Navarro Von-Riccardo.

1
Game Semut
semoga happy ending issabele dan navvaro serta putri nya Cassandra
Ros 🌷🦋: author suka yang happy ending kak🤭😅
total 1 replies
Game Semut
ini cerita gmna ending nya nih thor kasian bngt kisah percintaan asmara antara issabele dan Navarro...semoga bs bersatu.
Ros 🌷🦋: author buat ending nya happy 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Ros 🌷🦋: masih lanjut ya kak reader🥰😅
total 3 replies
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!