Ratri adalah potret perempuan sempurna: seorang istri yang berdedikasi sekaligus pilot sukses dengan jam terbang tinggi. Namun, dunianya runtuh dalam semalam ketika kejutan manis yang ia siapkan untuk suaminya, Indra, justru mengungkap pengkhianatan keji. Ratri memergoki Indra berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri, Imelda.
Rasa sakitnya kian menghujam ketika ia menyadari bahwa kedua anak mereka justru berpihak pada sang ayah. Diperlakukan layaknya mesin uang oleh keluarga parasit yang membodohinya, Ratri hanya bisa menangis dalam senyap di dalam lemari, sembari memahat sumpah untuk membalas setiap tetes air mata yang jatuh.
Setelah memutuskan pergi dengan hati yang hancur, Ratri jatuh pingsan di depan bandara karena guncangan hebat. Beruntung, seorang pria bernama Devandra datang menolongnya. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Ratri untuk menyembuhkan luka, mengepakkan kembali sayapnya yang patah, dan memulai misi menuntut keadilan mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
...Keesokan paginya, sinar matahari hangat mulai menerobos masuk melalui celah gorden apartemen....
...Ratri sudah rapi dengan pakaian kasual yang sopan namun tetap terlihat anggun....
...Di ruang tengah, Devandra sudah menunggu dengan kunci mobil di genggamannya, tampak segar dan siap untuk menempuh perjalanan jauh....
...Devandra menoleh ke arah Ratri yang baru saja keluar dari kamar tamu dengan tas kecilnya....
..."Sudah siap?"...
...Ratri menganggukkan kepalanya dengan mantap. Senyumnya pagi ini tampak jauh lebih lepas dibandingkan malam kelam kemarin....
..."Sudah, Dev."...
..."Ayo kita berangkat, Ratri. Perjalanan kita lumayan panjang," ujar Devandra seraya membukakan pintu untuk wanita itu....
...Mereka pun turun ke basemen. Tak butuh waktu lama, Devandra segera melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang mulai padat, mengarahkan kemudi menuju jalur tol Trans-Jawa untuk menuju ke Solo....
...Keheningan di dalam mobil kali ini terasa menenangkan, membawa harapan baru bagi Ratri untuk menjemput Bibi Ningsih dan memulai lembaran hidup yang bersih dari para parasit....
...Beberapa jam membelah tol Trans-Jawa, perut mereka mulai memberikan sinyal lapar....
...Devandra melirik jam di dasbor mobil, lalu mengarahkan kemudinya memasuki salah satu rest area besar yang tampak bersih....
..."Kita cari sarapan dulu ya, Rat. Perjalanan ke Solo masih lumayan jauh, kita butuh tenaga," ajak Devandra seraya memarkirkan mobilnya dengan mulus di area parkir....
...Ratri menoleh dan tersenyum tipis. "Boleh, Dev. Kebetulan aku juga sudah agak lapar."...
...Devandra membawa Ratri ke salah satu kedai makanan rumahan yang terletak di sudut rest area....
...Alih-alih memilih restoran mahal seperti yang biasa Indra tuntut, Devandra justru dengan santai memesan dua porsi nasi soto ayam hangat dan teh manis hangat....
...Baginya yang seorang pemilik maskapai, kesederhanaan seperti ini bukanlah masalah....
...Mereka duduk di meja kayu panjang dekat jendela....
...Uap mengepul dari mangkuk soto di depan mereka, menebarkan aroma kaldu yang menggugah selera....
..."Maaf ya, menunya sangat sederhana. Tidak seperti makanan di apartemen," ucap Devandra membuka obrolan kecil sambil menyodorkan sendok yang sudah ia seka bersih dengan tisu kepada Ratri....
...Ratri menerima sendok itu lalu menggeleng pelan....
..."Justru soto seperti ini yang paling nikmat kalau sedang perjalanan jauh, Dev. Terima kasih, ya."...
...Ratri menyuap sendok pertamanya. Kehangatan kuah soto itu seolah menjalar ke hatinya, memberikan rasa nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan....
...Di sela-sela suapan, Devandra menatap Ratri dengan santai, menopang dagunya dengan satu tangan....
..."Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?"...
..."Nyenyak sekali," jawab Ratri jujur....
..."Kurasa itu tidur paling tenang yang kupunya dalam beberapa bulan terakhir. Rasanya seperti sebuah beban berat baru saja diangkat dari pundakku."...
...Devandra tersenyum puas mendengar jawaban itu....
..."Baguslah. Itu artinya kamu sudah siap untuk memulai semuanya dari awal. Setelah kita menjemput Bibi Ningsih di Solo, aku punya beberapa rekomendasi rumah di area lingkungan yang tenang di Jakarta. Nanti kamu bisa pilih mana yang paling kamu suka."...
...Ratri sempat tertegun sejenak mendengarkan perhatian pria di depannya ini....
..."Dev, kamu benar-benar melakukan terlalu banyak hal untukku. Kadang aku bingung bagaimana cara membalas semua kebaikanmu."...
...Devandra terkekeh pelan, meminum teh manisnya sebelum menjawab dengan tatapan mata yang mendalam....
..."Aku tidak meminta balasan, Ratri. Aku hanya ingin memastikan salah satu kapten terbaik di maskapaiku bisa terbang lagi dengan senyuman, tanpa ada badai domestik yang mengganggu fokusnya."...
...Ratri merona tipis, buru-buru menunduk untuk melanjutkan sarapannya demi menyembunyikan detak jantungnya yang mendadak berdesir aneh....
...Obrolan kecil di rest area yang sederhana itu perlahan-lahan mulai mengikis sisa-sisa trauma kelam di hati sang kapten....
...Sementara itu, di sebuah sudut kota yang jauh dari kemewahan, atmosfer pengap menyelimuti sebuah unit rumah susun sempit....
...Dindingnya yang kusam dan ruangannya yang terbatas menjadi kenyataan baru yang harus dihadapi oleh Indra, Tasya, dan Gabriel. Tidak ada lagi sofa empuk atau pendingin ruangan yang sejuk, yang ada hanyalah penyesalan dan kemarahan yang tertahan....
...Tok! Tok! Tok!...
...Pintu tripleks rumah susun itu diketuk. Gabriel membukanya dengan malas, mendapati Imelda berdiri di ambang pintu....
...Penampilan Imelda tidak lagi secantik dan se-glamor biasanya; wajahnya tampak lelah dan pakaiannya kusut....
...Di tangannya, ia menenteng empat bungkus nasi warteg—satu-satunya makanan yang mampu ia beli setelah tabungannya ludes untuk membayar denda restoran dan kafe kemarin....
..."Mas, anak-anak. Aku bawa nasi bungkus untuk sarapan," ucap Imelda lirih, meletakkan bungkusan itu di atas meja kayu kecil yang bergoyang....
...Bukannya berterima kasih, Tasya justru melirik makanan itu dengan pandangan jijik....
...Rasa frustrasinya memuncak mengingat mereka kini harus hidup melarat....
..."Semua ini gara-gara Mama!" sentak Tasya tiba-tiba, menumpahkan kekesalannya....
..."Kalau saja Mama tidak sok pamer dan pelit, kita tidak akan diusir seperti ini!"...
...Gabriel ikut menimpali dengan wajah bersungut-sungut, "Iya, Mama egois banget! Seharusnya rumah mewah dan semua fasilitas itu untuk Papa dan kita. Mama kan jarang di rumah, buat apa dia kuasai semuanya sendiri?"...
...Gabriel kemudian menoleh ke arah Indra yang sejak tadi duduk terdiam di sudut kasur lantai, menatap kosong ke arah dinding....
..."Iya kan, Pa? Ayo, Pa, kita lawan Mama! Kita tuntut hak kita atas rumah itu. Kita tidak bisa tinggal di tempat kumuh seperti ini terus!"...
..."Benar, Mas! Kamu kan suaminya, kamu punya hak!" kompor Imelda, ikut memanaskan suasana karena diam-diam ia juga berharap bisa mencicipi kembali kemewahan harta Ratri....
...Mendengar ocehan anak-anak dan selingkuhannya yang tak henti memekakkan telinga, kepala Indra rasanya mau pecah....
...Kenyataan bahwa seluruh aset mutlak atas nama Ratri membuatnya sadar bahwa posisi hukum mereka sangat lemah....
..."CUKUP! DIAM KALIAN SEMUA!" bentak Indra dengan suara tertahan, lelah mendengar rengekan yang tidak berguna....
...Ruangan sempit itu seketika hening. Indra memijat pelipisnya yang berdenyut kencang, lalu menatap kedua anaknya dengan pandangan tajam....
..."Jangan banyak bicara lagi. Sekarang makan nasi itu, dan setelah itu kalian cepat berangkat ke kampus!"...
...Tasya dan Gabriel tersentak, tidak berani membantah lagi....
...Dengan wajah cemberut, mereka terpaksa membuka nasi bungkus tersebut, sementara Indra kembali tenggelam dalam pikirannya, memutar otak mencari cara kotor untuk bisa menjatuhkan Ratri....
...Setelah menghabiskan makanan mereka dengan ogah-ogahan, Tasya dan Gabriel melangkah keluar dari rumah susun dengan wajah yang ditekuk dalam-dalam....
...Sengatan matahari pagi langsung menyambut mereka, kontras dengan kenyamanan mobil mewah ber-AC yang biasanya siap mengantar mereka ke mana saja....
...Hari ini, tidak ada lagi kunci mobil di genggaman mereka. Kartu debit mereka kosong, dan uang tunai yang tersisa di dompet benar-benar menipis....
..."Gara-gara wanita tua itu, kita harus panas-panasan begini!" gerutu Gabriel sambil menghentakkan kakinya di tepi jalan raya yang berdebu....
..."Sudahlah, Gabriel. Nanti teman-teman kampus lihat," bisik Tasya cemas, sibuk menutupi wajahnya dengan jaket karena gengsinya yang setinggi langit mendadak runtuh....
...Sebuah angkutan umum berwarna biru berhenti di depan mereka setelah Gabriel dengan terpaksa melambaikan tangannya....
...Bau asap knalpot dan hawa pengap langsung menyergap begitu mereka melangkah masuk dan duduk berhimpitan dengan penumpang lain....
...Sepanjang perjalanan menuju kampus, Tasya dan Gabriel hanya terdiam dengan tatapan kosong....
...Setiap guncangan angkot seolah mempertegas posisi mereka yang kini telah jatuh miskin, menjadi awal dari balasan atas segala kesombongan dan kedurhakaan yang telah mereka perbuat kepada Ratri....
tinggal tunggu karmaa yg menghampiri kalian ,,
sama2 gx punya maluu ,, sama2 gx tau diri ,, dan sama2 haus harta yg bukan milik ny ,, 😏😏😏😏
jgn hidup ngandelin keringat orang lain ,, apa lagi istri yg sbntar lgi jd mantan ,, gx maluu tuuh ma b*lalai ,,
😒😒😒😒😒😒😒😒
tp tdk memungkinkan badai yg sebenarnya baru aj di mulai ,,
😒😒😒
semoga cepat bisa di temukan ,
gregeet bangeet
😒😒😒😒
😒😒😒😒
udh numpang hidup tp gx tau diri ,,
jgn2 si indra juga gx kerja ,, hidup Dr uang istriny Selama ni ,,
dasar tak tau malu ,,
skraaang masa aktif ATM berjalan kalian sudah habis ,,
waktuny kerja keras sendri buat gaya hidup kalian ,,, 😒😒😒😒