Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Siluet di Toko Bunga
Sinar matahari pagi menembus rimbunnya daun pohon platanus di Distrik Kota Tua, menciptakan pola cahaya yang menari-nari di bahu Citra Lestari.
Ia mengenakan kemeja putih polos, ujungnya dimasukkan sembarangan ke dalam celana jins biru muda. Pakaian biasa.....tapi di tubuhnya, entah kenapa terlihat berbeda. Potongan jins yang longgar justru semakin menonjolkan lekuk alami pinggangnya yang ramping. Rambut hitam panjangnya, sedikit bergelombang, terurai bebas di punggung dan bergoyang pelan seiring langkahnya.
Citra berjalan seperti orang yang baru pertama kali keluar rumah setelah musim hujan panjang.
Ia menghirup udara pagi dengan rakus. Membiarkan angin menyentuh kulitnya. Menatap pohon-pohon di pinggir jalan seolah mereka adalah sesuatu yang ajaib....dan bagi Citra, memang begitulah adanya. Di tangannya, sebuah vas kaca bening yang baru ia beli berayun pelan. Ia berniat mengisinya dengan bunga segar, karena bisa, karena tidak ada yang melarangnya, karena ini adalah hari pertamanya benar-benar bebas.
Ia tidak menyadari bahwa di seberang persimpangan, sebuah Rolls-Royce hitam legam sedang berhenti di lampu merah.
---
Di dalam mobil itu, Arjuna Pratama duduk dengan mata terpejam.
Wajahnya datar. Kepala bersandar ke head rest kulit. Jari-jarinya mengetuk sandaran tangan secara ritmis,bukan karena gugup, tapi karena bosan. Kebosanan yang sudah menjadi kondisi permanennya belakangan ini.
"Tuan Muda Arjuna, mengenai proyek di Surabaya Barat—" Asisten khususnya melapor dari kursi depan dengan suara rendah dan hati-hati.
"Mm."
Hanya itu. Arjuna bahkan tidak membuka matanya. Proyek senilai ratusan miliar itu terasa sama membosankannya dengan semua hal lain yang sudah ia miliki dan kuasai. Tidak ada kejutan. Tidak ada tantangan.
Pikirannya justru melayang ke tempat lain.
Shafira Maharani. Wanita itu masih mengganggu pikirannya.....bukan karena ia merindukan kehadirannya, tapi karena cara ia pergi. Kepala tegak. Mata kosong yang aneh. Kartu hitam yang diletakkan di meja tanpa gemetar. Perempuan itu tidak menangis, tidak memohon, tidak melakukan hal-hal yang biasanya Arjuna harapkan agar bisa ia abaikan dengan mudah.
Justru itu yang membuatnya tidak bisa melupakan.
Lampu hijau menyala. Mobil meluncur mulus melewati persimpangan.
Karena kebosanan semata...bukan alasan lain,Arjuna membuka kelopak matanya. Tatapan lelahnya menyapu pemandangan jalanan tanpa tujuan.
Dan tiba-tiba, berhenti.
Di bingkai jendela mobil yang melaju, tepat saat kendaraan melewati deretan toko di sisi jalan, sebuah sosok muncul. Gadis itu mendorong pintu kaca sebuah toko bunga dari dalam, bahu putar, rambut panjang mengikuti gerakan tubuhnya.
Kemeja putih. Celana jins. Vas kaca di tangan.
Tidak ada kulit yang dipamerkan. Tidak ada pakaian ketat yang sengaja dirancang untuk menarik perhatian. Kesederhanaan yang mencolok justru karena kontrasnya dengan kota ini,kota yang penuh warna berlebihan dan kepalsuan yang sudah diasah.
Namun cara kemeja itu dimasukkan ke dalam celana menonjolkan garis pinggang yang sangat ramping, mengalir natural ke lekuk pinggul. Rambut panjangnya menangkap cahaya pagi, menciptakan halo samar di sekeliling kepalanya seperti sesuatu yang tidak sepenuhnya nyata.
Arjuna hanya melihat separuh profil wajahnya. Bersih. Tenang. Seperti seseorang yang tidak tahu...atau tidak peduli bahwa dunia sedang memandangnya.
Jari-jarinya yang tadi mengetuk sandaran tangan tiba-tiba berhenti.
Ia tidak bisa menjelaskan mengapa.
Biasanya Arjuna menilai wanita dari tiga hal yang sudah ia urutkan sejak bertahun-tahun: wajah, tubuh, ketersediaan. Cepat, efisien, tidak membuang waktu. Tapi kali ini ia bahkan belum melihat wajah gadis itu dengan jelas hanya siluet, hanya profil setengah, hanya punggung yang berbalik masuk ke dalam toko.
Dan entah kenapa, siluet itu lebih mengganggu dari wajah-wajah yang sudah ia lihat sepenuhnya.
Ada kontras yang aneh pada gadis itu. Aura yang murni, hampir naif,tapi bentuk tubuhnya memancarkan daya tarik yang tidak dibuat-buat, yang justru lebih berbahaya dari yang sengaja ditampilkan. Seperti seseorang yang tidak tahu kekuatannya sendiri.
Jakun Arjuna bergerak pelan.
Tatapan elangnya yang biasanya dingin menyipit sedikit.
warna matanya menggelap dengan cara yang hanya terjadi saat sesuatu benar-benar menarik perhatiannya. Bukan nafsu semata. Sesuatu yang lebih tidak nyaman dari itu: rasa ingin tahu.
Ia ingin tahu wajah di balik profil itu.
Ingin tahu apakah ekspresinya semurni siluetnya.
Ingin tahu apa yang membuat seseorang berjalan seperti itu.
seperti tidak membawa beban apa pun di dunia.
Pintu toko bunga tertutup. Sosok itu menghilang dari pandangannya.
Mobil terus melaju.
Arjuna bersandar kembali ke kursi dan menutup matanya. Tapi bayangan kemeja putih dan rambut yang bergoyang di cahaya pagi itu tidak ikut pergi. Ia menempel di balik kelopak matanya dengan cara yang menjengkelkan.
*Sayang sekali,* batinnya, datar. *Aku tidak sempat melihat wajahnya.*
Getaran ponsel memecah lamunannya. Pesan dari Raka,menagih keputusan soal taruhan.
Arjuna membuka mata, menatap layar sebentar, lalu menguncinya kembali tanpa membalas.
Pikirannya masih di persimpangan itu.