Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Takdir Tak Bisa Dijebak
Petugas keamanan dan operator cctv melihat Saras keluar sendirian dari kamar Bryan. Beberapa menit berselang, pintu kamar kembali terbuka. Chantika keluar seorang diri dengan langkah terhuyung. Beberapa kali ia berpegangan pada dinding koridor agar tidak terjatuh.
"Sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja," gumam petugas keamanan.
Tatapan keduanya terus mengikuti pergerakan wanita tersebut melalui kamera yang terpasang di sepanjang koridor.
Mereka melihat wanita itu membuka tasnya, seolah mencari sesuatu. Namun, setelah beberapa saat, ia kembali menutupnya dengan wajah panik.
"Lihat... dia seperti kehilangan sesuatu," ujar operator.
"Mungkin ia mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang," sahut petugas keamanan pelan.
Wanita itu terus berjalan menyusuri lorong hotel dengan langkah yang semakin goyah. Tangannya meraba dinding, lalu berpindah dari satu pintu ke pintu lainnya.
Hingga akhirnya...
Klik.
Sebuah pintu terbuka. Wanita itu terhuyung masuk ke dalam kamar tersebut.
Operator spontan membelalakkan mata. "Astaga...."
Petugas keamanan ikut menatap layar monitor, lalu wajahnya langsung berubah tegang.
"Itu... kamar Tuan Enzo."
Ruangan kontrol mendadak sunyi. Tak seorang pun berani berkata-kata.
Semua staf hotel mengetahui satu aturan yang berlaku sejak hotel itu berdiri.
Tidak ada seorang wanita pun yang diizinkan memasuki kamar pribadi Tuan Enzo tanpa izin darinya.
Petugas keamanan dan operator saling berpandangan.
"Bagaimana ini?" tanya operator pelan.
Petugas keamanan menghela napas panjang. "Jangan bertindak gegabah. Hubungi kepala keamanan dulu."
Ia kembali menatap monitor. Namun hingga beberapa menit berlalu, pintu kamar itu tetap tertutup. Tak terlihat seorang pun keluar.
Tak lama kemudian, kepala keamanan memasuki ruang kontrol CCTV.
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
Petugas keamanan segera menghampiri. "Pak, ada seorang wanita di lobby yang sedang mencari saudarinya. Menurut pengakuannya, mereka masuk ke hotel bersama, tetapi wanita itu keluar sendirian. Sekarang nomor saudarinya juga tidak bisa dihubungi. Silakan Bapak lihat sendiri rekaman CCTV-nya."
Operator segera memutar kembali rekaman, mulai dari saat Saras dan Chantika memasuki kamar VIP milik Bryan hingga momen Chantika keluar dalam keadaan sempoyongan dan akhirnya masuk ke kamar Tuan Enzo.
Wajah kepala keamanan langsung menegang.
"Bagaimana ini, Pak?" tanya petugas keamanan. "Sudah cukup lama wanita itu berada di dalam kamar Tuan Enzo. Saya tidak berani mengambil tindakan tanpa izin."
Kepala keamanan mengangguk pelan. "Jangan gegabah. Saya akan menghubungi Manajer Hotel."
Ia segera mengambil ponselnya. "Pak, ada situasi yang berkaitan dengan kamar Tuan Enzo. Mohon segera datang ke ruang kontrol CCTV."
"Baik. Saya ke sana sekarang," jawab sang manajer dari seberang telepon.
Tak lama kemudian, Manajer Hotel memasuki ruang kontrol. "Apa yang terjadi?"
Tanpa banyak bicara, operator kembali memutar rekaman CCTV.
Manajer Hotel memerhatikan layar monitor dengan saksama. Rekaman memperlihatkan Chantika keluar dari kamar Bryan dalam kondisi sempoyongan, lalu berjalan menyusuri lorong sebelum akhirnya memasuki kamar Tuan Enzo.
Ekspresinya berubah serius. "Apakah ada yang melihat wanita itu keluar dari kamar Tuan Enzo?"
"Belum ada, Pak," jawab operator. "Sejak masuk, pintu kamar itu belum pernah terbuka lagi."
Ruangan terasa semakin tegang.
Manajer Hotel mengembuskan napas panjang. "Jangan ada satu pun yang mendatangi kamar Tuan Enzo."
"Lalu bagaimana dengan wanita yang sedang menunggu di lobby, Pak?" tanya petugas keamanan.
"Suruh dia menunggu. Katakan kita masih melakukan pengecekan."
"Baik, Pak."
Manajer Hotel kembali menatap monitor. "Selama bertahun-tahun bekerja di hotel ini, belum pernah ada seorang wanita yang memasuki kamar pribadi Tuan Enzo. Jangan bertindak sembarangan. Kita tunggu instruksi beliau."
"Baik, Pak."
***
Di lobby hotel, Saras mondar-mandir dengan gelisah. Sesekali ia melirik pintu lift, berharap petugas keamanan segera turun membawa kabar tentang Chantika. Namun, yang memenuhi kepalanya bukanlah keselamatan sang kakak.
"Kalau Bryan sampai murka, habislah proyek ini. Investasinya pasti batal."
Ia menggigit bibir bawahnya. "Kalaupun Chantika ditemukan... apa yang akan kukatakan? Bagaimana kalau dia sadar bahwa wine itu sudah dicampur obat? Bagaimana kalau dia melaporkan Bryan... lalu menyeret namaku?"
Semakin dipikirkan, dadanya semakin sesak.
Ting!
Pintu lift akhirnya terbuka. Seorang petugas keamanan melangkah keluar.
Saras segera menghampirinya. "Bagaimana, Pak? Apa kakak saya sudah ditemukan?"
Petugas itu menggeleng pelan. "Mohon bersabar, Bu. Kami masih melakukan pengecekan."
"Tapi ini sudah lama, Pak." Nada suara Saras mulai meninggi. "Kalau memang sudah tahu dia masuk ke mana, kenapa belum juga dijemput?"
Petugas keamanan menarik napas pelan sebelum menjawab dengan hati-hati. "Maaf, Bu. Ada prosedur yang harus kami ikuti."
"Prosedur apa? Kakak saya bisa saja dalam bahaya!"
"Kami memahami kekhawatiran Ibu." Petugas keamanan bicara dengan nada terkontrol. "Namun, lokasi terakhir yang terekam CCTV merupakan area privat. Kami tidak dapat memasukinya tanpa izin."
Saras mengernyit. "Maksud Bapak?"
Petugas keamanan tampak ragu selama beberapa detik. "Maaf, Bu. Untuk sementara kami belum bisa memberikan informasi lebih lanjut. Pihak manajemen sedang menangani masalah ini."
Jawaban itu membuat Saras semakin tidak sabar. "Kalau begitu saya yang akan mencarinya sendiri."
Saras baru saja hendak melangkah menuju lift ketika petugas keamanan buru-buru menghalangi jalannya.
"Maaf, Bu. Demi keamanan, kami tidak bisa mengizinkan Ibu naik ke area tersebut sebelum mendapat arahan dari pihak manajemen."
Saras mengepalkan kedua tangannya. Mau tak mau ia kembali menahan diri, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang semakin membuatnya gelisah.
Beberapa meter setelah petugas keamanan pergi, ponsel di dalam tas Saras kembali berdering.
Nama Bryan muncul di layar.
Saras terdiam menatap nama itu. Tangannya yang menggenggam ponsel sedikit gemetar. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menerima panggilan tersebut.
"Halo, Tuan."
"Mana kakakmu? Sampai kapan aku harus menunggu?" tanya Bryan tak sabar.
"Saya masih mencarinya. Tolong Tuan bersabar dulu."
"Kamu pikir aku ini pengangguran?" bentak Bryan. "Waktuku sangat berharga."
"Tuan..."
"Sepuluh menit," potong Bryan tegas. "Kalau dalam sepuluh menit kakakmu belum juga ditemukan, kamu yang akan menggantikannya."
Mata Saras langsung membulat. "Apa?!"
Namun sebelum ia sempat berkata lebih banyak...
Tut... tut... tut...
Sambungan telepon kembali terputus. Saras menggenggam ponselnya erat. Hampir saja ia memekik dan membanting benda itu ke lantai karena panik, kesal, sekaligus marah.
Namun, menyadari ada resepsionis dan beberapa tamu hotel yang berlalu-lalang, ia memaksa menahan emosinya. Meski begitu, wajahnya yang tegang tak mampu menyembunyikan kepanikan yang mulai menguasai dirinya.
"Menggantikan Kak Chantika? Menghabiskan malam bersama playboy itu?"
Napas Saras memburu. Semua ini benar-benar di luar rencananya.
Detik demi detik terasa begitu menyesakkan. Petugas keamanan belum juga kembali, sementara waktu sepuluh menit yang diberikan Bryan terus berkurang.
"Bagaimana ini...?"
...🔸🔸🔸...
..."Manusia bisa merancang jebakan untuk orang lain, tetapi takdir selalu memiliki cara untuk membalikkan keadaan."...
..."Setiap pengkhianatan selalu meninggalkan jejak, dan setiap jejak akan membawa seseorang pada kebenaran."...
..."Orang yang berniat menjatuhkan orang lain sering kali lupa bahwa takdir dapat memutar arah dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Rahardja setuju ngga tuh bermenantukan Bryan.
Rasakan akibatnya dari menjebak kakaknya, akhirnya terjebak sendiri oleh permainannya.
punya rasa malu. Seperti itu kok mau jadi manajer. Harusnya malu tadi malam kelakuannya sudah ditelanjangi Papanya.
Di saat sarapan masih di buka lagi.
Malunya Saras dah gak ketulungan. Tapi mana tahu dia apa itu malu. Tahunya pingin mendapatkan Enzo bagaimanapun caranya. Sudah punya sekutu sih dia. Yang dipikirnya bakal berhasil.
Enzo laki-laki baik. Dia bicaranya baik, sangat menjaga perasaan Papa mertuanya.
Ranti ini Ibu yang gagal mendidik putrinya. Bukan Rahardja. Malah dipikirannya menuduh Rahardja lebih sayang sama Chantika. Saras saja yang banyak tidak tahu diri. Masih berkobar keinginannya.
Ranti mesti dicariin lobang untuk ngumpetin mukanya. Anak dan Ibu sama saja.
Rahardja tahu Saras mulai mendeka0ti suami kakaknya sendiri setelah tahu Enzo bukan karyawan biasa.
Rahardja bicara semua yang dia tahu tentang Saras dalam mencari perhatian dari pria yang sudah menjadi suami kakaknya.
Ranti ini serasa buta dan tuli masih belain anaknya yang gak bener kelakuannya.
Saras juga, bukannya malu sudah serasa ditelanjangi Papanya, semua kelakuannya sudah diketahui. Masih tidak tahu diri.
Masih punya pikiran kalau Enzo dan Chantika pindah rumah tidak akan memiliki kesempatan untuk mendekati Enzo. Niat banget nih mau jadi pelakor.
Setan Saras bersekutu dengan setan Bryan uuupppsss
Kran wastafel di kamar mandinya dibikin bocor.
Minta tolong Enzo dengan sengaja memakai baju basah tanpa bra. Enzo sempat melirik sekilas.
Saras sudah senang bakal berhasil. Enzo mau menolong.
Senyumnya memudar ketika tahu yang datang ke kamarnya bukan hanya Enzo.
CEO disuruh betulin kran.
Pak Joko yang betulin.
Lagi Saras mencari celah untuk mendekati Enzo.
Sayangnya Enzo tahu trik murahan Saras untuk mencari perhatiannya.
Pura-pura terpeleset ketika menuruni tangga.
Kenapa Saras tidak dibiarkan jatuh saja. Biar tahu rasa.
Keduanya sudah berbaring di atas ranjang. Chantika memeluk Enzo, lengan Enzo dijadikan sebagai bantal.
Rasa capeknya langsung hilang begitu sampai rumah, dan tidur memeluk Enzo.
Enzo sangat pengertian sama Chantika. Menghargai keputusan Chantika mau tidaknya tinggal di apartemennya
Harapan Enzo memutuskan pindah ke apartemen dapat melindungi keluarganya.
Semoga saja Chantika segera setuju dengan usulnya Enzo itu.
Posisi duduknya Saras langsung menarik perhatian Rahardja.
Enzo sadar kalau Saras mulai mendekat.
Posisi duduknya dikomentari Papa dan Mamanya, Saras tak punya rasa malu. Ada saja alasannya. Sudah terkontaminasi omongan Bryan.
Rahardja tahu ada sesuatu yang sedang Saras rencanakan.
Mulai berlagak menjadi perhatian mengambilkan nasi, ikan bakar, tapi ditolak Enzo dengan ramah, dan juga menjaga jarak.
Kemarin mendatangi Arkana. Gagal. Sekarang minta nomer telepon. Gagal.
Kalau yang ingin diketahui hanya jabatan Enzo sebagai CEO Arkana, tidak masalah bagi Enzo.
Yang mengkhawatirkan Enzo rasa penassran Ssras berubah menjadi keinginsn untuk mendekat.
Enzo ingat permintaan Chantika untuk menyembunyikan identitasnya dari Saras. Maka dia tidak bakal kasih Saras satu celah pun untuk mengganggu rumah tangganya.
Enzo sudah siap menghadapi apapun yang akan dilakukan Saras.
Identitas Enzo disembunyikan. Hanya Saras dan Ranti yang tidak diberi tahu.
Semua yang sebelumnya terasa janggal, kini perlahan mulai terasa masuk akal.
Dia sadar apa sebabnya Chantika sengaja merahasiakan semuanya.
Saras mulai memainkan permainannya. Berawal dari minta nomer telepon Enzo. Gagal.
Awalnya hanya ingin tahu pria seperti apa yang berhasil mendapatkan Chantika. Ia semakin penasaran siapa Enzo sebenarnya.
Mimpi nih Bryan bisa dapetin Chantika, dan Saras dapat Enzo.
Bryan semakin bikin bodoh Saras nih. Ngajarin gak bener untuk merebut Enzo dari Chantika.
Mimpi kalian terlalu mustahil untuk menjadi nyata.
Bryan sudah masuk lift diantar Marco.
Di ruang rapat Marco dan Enzo bicara tentang Bryan yang sudah yakin kalau Enzo adalah CEO Arkana. Dan tentunya akan terus menyelidiki Enzo.
Enzo membiarkan Bryan menyelidiki dirinya.
Pembicaraan bisnis berlanjut.
Tujuan awal Bryan sebenarnya bukan murni bisnis kerja sama. Enzo tahu itu. Bryan malah dikuliti sampai habis oleh Enzo.
Ujung-ujungnya - Enzo mendorong kembali proposal ke arah Bryan. Kerja sama di tolak.
Rasa penasaran Enzo kenapa Bryan harus memilih Arkana.
Bryan sudah menyiapkan jawabannya, karena sudah menduga pertanyaan itu.
Enzo bicara tentang Bryan yang sempat menjalin komunikasi bisnis dengan Rahardja Group.
Bryan menjawab dengan jantung berdetak lebih cepat.
Pembicaraan kejadian di Rahardja Group rupanya menjadikan Bryan merasa tersindir.
Bryan mengalihkan pembicaraan. Terus terang menanyakan kehidupan pribadi Enzo.
Tujuan bertemu untuk membahas bisnis. Bukan kehidupan pribadi. Itu Enzo.
Di ruang rapat VIP, Enzo menghampir sambil mengulurkan tangan, menyebut namanya.
Disambut Bryan jabatan tangan Enzo, dan menyebut namanya.
Marco menyampaikan maaf pada Bryan yang telah menunggu. Memberi tahu kalau Enzo sedang menyelesaikan rapat internal, memintanya menyampaikan permohonan maaf.
Sudah lima belas menit Bryan menunggu ditemani secangkir kopi.
Rupanya dia sadar kalau sengaja diuji. Tidak merasa kesal.
Bryan datang ke gedung Arkana Global Logistics.
Bryan memang terlalu meremehkan Enzo.
Enzo diberi tahu Marco, kalau ada tamu - Bryan Adi Jaya, dengan keperluan ingin menawarkan kerjat sama investasi.
Enzo langsung tahu, tamunya bukan datang membawa investasi. Nelainkan datang membawa rasa penasaran.
Marco yang di suruh menemui Bryan.
Bagi Enzo, kalau benar-benar ingin membahas bisnis, akan menemuinya. Kalau tujuan utamanya mancari tahu siapa dirinya, buat dia menunggu.
Beberapa pertanyaan Rahardja, membuat Saras tidak bisa menjawab dengan benar. Bahkan kadang cuma diam.
Rahardja sudah mendidik putri-putrinya dengan baik. Ranti yang tidak baik mendidik Saras.
Chantika saja tahu kalau sejak kecil Ayahnya selalu menanamkan sopan santun kepada kedua putrinya. Rasa hormat kepada keluarga tetap harus dijaga. Tak peduli setinggibm apa jabatan seseorang.
Menjadi tak tenang ketika Saras meletakkan sendoknya sedikit keras dari seharusnya.
Tidak sopan nih anak. Bicara yang baik-baik tidak bisa apa.
Tuh jadi ketahuan Rahardja, Saras untuk apa ke Arkana Global Logistics.
Tanpa sengaja saat menyerahkan paper bag, pandangan Marco jatuh ke leher Chantika. Bekas kemerahan sudah tertutup kerah seragam, masih sedikit terlihat.
Marco pamit.
Chantika penasaran membuka paper bag.
Isi di dalam paper bag membuat mata Chantika langsung membulat. Chantika malu sekali, gara-gara Enzo, Marco jadi dibuat repot dan tentunya tahu untuk apa benda itu.
Enzo tak merasa bersalah. Dia hanya bertanggung jawab atas pekerjaannya. Jadi dia yang mencari solusinya 🤦🏻♀️😄.
Dia juga yang bertanggung jawab menyamarkan warna kemerahan yang terlihat.
Marco segera menuju kamar Enzo di lantai dua melalui tangga.
Baru beberapa anak tangga ia naiki, langkahnya terhenti.
Dihadapannya berdiri Saras yang menatapnya tajam.
Saras ngomel - kenapa Marco pura-pura tidak mengenalnya waktu di Arkana Global Logistics.
Marco enteng saja menjawabnya. Masih tetap menjaga kesopanan.