Rumah mewah di tengah hutan yang di akui kepemilikan nya oleh sepasang suami istri , karena rumah mewah itu memiliki banyak kamar dan dekat dengan tempat wisata akhir nya mereka sewakan untuk para wisatawan yang ingin menginap dengan harga murah tapi pemandangan alam sekitar mampu memanjakan mata .
Tanpa di sadari sepasang suami istri itu jika tak gratis untuk bisa memiliki rumah mewah itu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zulia Almanshur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Rumah Tengah Hutan
Setelah mengatakan itu pak Soni merasa kelapa yang lebih mirip kepala itu menggelinding ke samping dan menjauh .
" Astaghfirullah pak .. ibu sudah ngga kuat lagi kalau terus - terusan ketemu sosok - sosok menakutkan itu " . Bu Wati menangis di bahu pak Soni .
" Sabar ya bu , perbanyak doa lagi agar kita selamat sampai tujuan " . Pak Soni menenangkan bu Wati dengan segera mengajak kembali berjalan .
Meskipun terasa sangat lelah , pak Soni dan bu Wati terus berupaya melanjutkan perjalanan .
" Pak , aku menyesal " .
" Kenapa bu ? " .
" Entah sudah berapa lama kita melupakan kewajiban kita pak " .
" Iya bu , bapak juga takut kalau sudah seperti ini " .
" Apa gusti Allah masih mau melindungi kita ya pak ? " .
" Kita berdoa saja bu , mudah - mudahan gusti Allah melindungi kita dari marabahaya supaya kita bisa punya kesempatan untuk bertaubat " .
Dalam pikiran mereka mengingat kelalaian masing - masing . Memang benar kalau manusia sedang bergelimang harta , sering nya mereka lupa dengan siapa yang telah memberi mereka kekayaan .
Kalau sudah habis harta nya , barulah mengingat Tuhan Sang Pemberi nikmat .
Rasa haus , rasa lelah , rasa takut telah bercampur menjadi satu dan sampai pada akhir nya mereka berdiri di depan sebuah bangunan tua , lebih tepat nya sebuah rumah tua yang masih berdiri kokoh meskipun banyak tanaman rambat mengelilingi sebagian dinding rumah itu .
" Ada rumah pak " .
" Iya bu tapi seperti nya sudah di tinggalkan lama oleh pemilik nya " .
" Bagaimana ini pak , apa kita numpang beristirahat di sini saja ? " .
Pak Soni mengamati beberapa saat bangunan rumah tua di hadapan mereka .
" Bismilah , Assalamu'alaikum , permisi , nuwun sewu " . Pak Soni mengucap salam dan ditirukan oleh bu Wati sembari turut berjalan maju mendekat ke pintu rumah .
" Tunggu " .
Pak Soni dan bu Wati terkejut ketika tiba - tiba mendengar suara tua dari seseorang di belakang mereka .
" Apa yang akan kalian lakukan ? " .
" Mbok Derep " . Bu Wati menyebut nama mbok Derep dengan bibir bergetar .
" Apa yang akan kalian lakukan ? " .
" Ka .. kami ingin menumpang beristirahat di sini mbok " . Jawab pak Soni masih dengan perasaan kaget dan bingung .
" Kalau kalian ingin masuk , masuklah .. tapi kalian harus terima akibat nya , jika kalian ragu sebaik nya segera tinggal kan tempat inj " .
" Apa maksud nya mbok ? " . Bu Wati yang sudah kepalang penasaran tentu saja menginginkan jawaban dari mbok Derep .
" Hahahahaha ... ada takdir yang ngga bisa kalian hindari , hahahaha .. " . Mbok Derep berlalu begitu saja tanpa memberi jawaban .
" Gimana pak ? " .
" Ya wes lah bu , kita masuk saja , besok kita tinggalkan rumah ini kalau sudah pagi , bapak juga sudah sangat cape bu '' .
" Tapi pak , mbok Derep tadi bilang .. " .
" Iya bu , tapi bapak sudah ngga kuat berjalan lagi bu " .
" Bismillah , Assalamu'alaikum , permisi , nuwun sewu , kami tidak mengganggu , kami meminta ijin untuk beristirahat di rumah ini " . Bu Wati lagi - lagi menirukan apa yang di ucapkan pak Soni untuk meminta ijin .
Karena pak Soni dan bu Wati masih belum tahu di dalam rumah ada orang nya atau tidak .
" Pak , kenapa tiba - tiba dingin begini ? '' . Seketika bu Wati merasa merinding mengingat rumah tua itu adalah rumah kosong .
" Ini kan sudah malam bu apalagi di hutan jadi wajar kalau hawa nya jadi dingjn " .
" Pak , kita istirahat di teras saja ngga usah masuk " .
" Iya bu , ya wes bentar bu biar bapak bersihkan dulu , kebetulan ada sapu ini " .
" Pak , sudah gini aja " .
" Kursi ini masih kuat bu seperti nya asli dari kayu jati, sini bu baringan di sini aja " .
" Bapak jangan jauh - jauh dari ibu " . Bu Wati meminta pak Soni duduk di kursi panjang sementara bu Wati berbaring dan meletakkan kepala nya di paha pak Soni sebagai bantal .