Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.
Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:
"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."
Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?
Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 - Iblis Berjas
Mobil Max berhenti di depan klinik spesialis kandungan yang super mewah dan tertutup. Bangunannya bergaya minimalis modern, serba putih dan kaca, dikelilingi pagar tinggi dengan penjagaan ketat di pintu masuk.
Sengaja dipilih Max, jauh dari hiruk-pikuk rumah sakit tempat Nami bekerja. Jauh dari kemungkinan ada yang mengenalinya.
Nami langsung mematung ketika melihat plang emas bertuliskan nama dokter spesialis kandungan senior di depan lobi. Huruf-hurufnya mengilap di bawah cahaya matahari siang, menusuk matanya seperti ejekan.
Darahnya berdesir hebat. Jantungnya berdegup tak beraturan. Tanpa sadar, kuku jarinya menekan jok kulit mobil sampai memutih.
Nami menoleh cepat, mengonfrontasi Max yang masih tenang di sampingnya. Wajahnya datar, matanya fokus ke layar tablet. Seolah mereka baru saja berhenti untuk sekadar membeli kopi.
"Kau gila?" Suara Nami pecah, lebih tinggi dari yang ia inginkan. "Kenapa membawaku ke spesialis kandungan?"
Max meletakkan tabletnya perlahan. Gerakannya kalem, seolah sengaja mempermainkan kesabaran Nami. Lalu ia meraih sebuah map cokelat dari laci mobil dan menyodorkannya ke pangkuan Nami tanpa menatapnya.
"Buka."
"Aku bertanya..."
"Itu hasil tes kesuburanku." Max memotong, suaranya datar, sedingin pendingin mobil yang menghembus ke tengkuk Nami. "Keluar tiga hari yang lalu. Semuanya normal. Tidak ada kelainan."
Nami tercekat. Ia menatap map di pangkuannya.
"Aku seorang pebisnis, Namira." Max akhirnya menoleh. Tatapannya lurus, tanpa ekspresi.
"Aku tidak pernah berspekulasi dengan investasi ratusan juta tanpa jaminan keberhasilan."
Jemari Nami mencengkeram map itu hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya tercekat di tenggorokan.
"Kau bilang... Investasi?" Kata itu meluncur dari bibirnya dengan nada tidak percaya.
"Tujuan utama pernikahan kontrak kita adalah anak. Pasal tujuh." Max melanjutkan tanpa beban, seolah membaca klausul kontrak di ruang rapat.
"Aku harus memastikan rahim yang kusewa dalam kondisi siap. Aku tidak mau membeli aset yang cacat fungsi."
Seketika, dunia Nami senyap.
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. Seolah ia bukan manusia. Seolah ia hanya mesin produksi yang sedang diuji kelayakannya sebelum dibeli.
Harga diri Nami sebagai seorang wanita, terlebih sebagai seorang dokter yang selama ini menyelamatkan nyawa orang lain, tercoreng habis.
Di mata Max, ia tidak lebih dari barang dagangan di etalase. Ditelanjangi, diperiksa, dinilai layak atau tidaknya untuk dibayar lunas.
Amarah mendidih di dadanya, panas dan perih. Dengan sentakan kasar, Nami membuka sabuk pengamannya. Matanya memanas, menahan air mata sialan yang ingin jatuh.
"Aku bukan barang pajangan yang bisa kau bawa ke mana-mana!" suaranya bergetar, penuh amarah.
"Cari saja perempuan lain! Aku mundur!"
Tangannya sudah menggenggam tuas pintu, siap kabur dari situasi gila ini. Cukup. Ia tidak sudi diperlakukan seperti ini.
Namun suara Max kembali menghentak udara—tenang, lambat, namun mematikan.
"Silakan mundur."
Nami berhenti. Punggungnya menegang.
"Tapi bagaimana dengan kesepakatan yang sudah kau tanda tangani?" Max bersandar, menatap wajah Nami yang kaku.
"Membatalkan kesepakatan sepihak bisa dijatuhi hukum. Kau tahu dendanya berapa jika aku menuntut? Mungkin lebih besar dari utang-utangmu."
Nami menghentikan gerakannya. Tangannya terpaku di tuas pintu. Ia menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca, menyumbat tenggorokannya. Matanya menatap nanar ke kaca jendela, melihat bayangannya sendiri yang menyedihkan.
Kenyataan pahit itu kembali merantai kakinya. Sialan. Dia tidak punya pilihan. Logikanya dipaksa menyerah pada keadaan. Demi uang, dia harus melipat harga dirinya dalam-dalam. Sampai remuk.
Dengan helaan napas berat yang gemetar, Nami melepas genggamannya di tuas pintu. Ia berbalik dan membuka pintu mobil, langkahnya kaku.
"Kau benar-benar iblis!" desisnya sebelum melangkah pergi. "Iblis yang mengenakan jas!"
Max hanya menaikkan satu alisnya. "Aku menganggap itu sebagai pujian profesional."
Nami melangkah masuk ke ruang periksa sendirian. Dadanya masih naik turun menahan emosi. Sebagai orang kedokteran, ia sudah ratusan kali melihat dan bahkan mendampingi prosedur pemeriksaan seperti ini. Ia tahu setiap alat, setiap gerakan dokter, setiap istilah medis yang akan disebut.
Tapi posisinya sekarang berbeda. Kali ini ia bukan dokter. Ia pasien. Bukan pasien biasa—tapi pasien yang disewa.
Suasana ruangan yang sunyi membuat jantungnya berdebar makin kencang. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidungnya. Dinginnya ruangan membuat kulitnya meremang. Ketika jel USG yang dingin menyentuh kulit perutnya, Nami tanpa sadar menahan napas.
Sungguh canggung. Mengintimidasi. Menghinakan.
Sepanjang pemeriksaan, Nami terus menggigit bibir dalamnya sampai terasa perih. Matanya menatap kosong ke langit-langit ruangan, menghitung retakan kecil di sana agar pikirannya tidak meledak.
Sementara itu, di balik pintu, Max menunggu dengan ketenangan mutlaknya. Seolah ini hanya meeting biasa yang tinggal menunggu hasil.
Setelah seluruh rangkaian tes selesai, Nami keluar dengan pakaian yang sudah dirapikan kembali. Wajahnya pucat, bibirnya kering.
Di ruang konsultasi, Max sudah duduk tegap di salah satu kursi. Nami mengambil tempat di sebelahnya, sengaja memberi jarak selebar mungkin.
Tak lama kemudian, dokter Obgyn dengan wajah berwibawa masuk ke dalam ruangan. Usianya sekitar lima puluhan, gerakannya hati-hati. Di tangannya, ia membawa selembar kertas hasil USG beserta lembar laboratorium kesuburan milik Nami.
Dokter itu duduk di balik meja kerjanya yang besar, menciptakan keheningan yang mendadak mencekam. Suara kertas yang digeser terdengar nyaring di ruangan itu.
Dokter itu merapikan letak kacamatanya yang sedikit melorot. Matanya menelusuri deretan angka dan gambar hitam-putih di atas kertas dengan kening berkerut tipis.
Sesaat, ia menghela napas pendek, napas yang membuat dada Nami ikut sesak.
Lalu ia mengangkat wajahnya. Menatap Max dan Nami bergantian dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Entah apa yang akan ia ucapkan.
Tangannya mengetuk pelan lembar medis di atas meja. Ketukan itu terdengar seperti palu vonis.
Siap membacakan apakah rahim Nami subur dan siap menjalankan Pasal 7, atau justru ada kendala besar yang akan mengancam investasi ratusan juta sang CEO.