Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Angin malam di luar jendela masih berhembus sejuk, membawa aroma tanah dan pohon pinus yang khas kawasan kaki Gunung Fuji. Jam dinding di lorong menunjukkan pukul dua dini hari, saat seluruh penghuni apartemen seharusnya terlelap dalam tidur paling nyenyak. Namun, di dalam kamar Alena, kelopak mata gadis itu perlahan terbuka. Rasa haus yang mendadak mengganggu tidurnya, membuat tenggorokan terasa kering seolah tidak ada cairan sama sekali.
Alena mengerjapkan mata berkali‑kali, mencoba membiasakan penglihatan dengan cahaya remang yang masuk dari balkon. Ia bangkit perlahan dari kasur, menyelimuti bahu dengan selimut tipis karena udara malam terasa jauh lebih dingin daripada saat mereka berjalan‑jalan tadi. Kakinya melangkah pelan, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun agar tidak membangunkan siapa pun—terutama kedua kakek yang tidur di ruang paling ujung.
Lorong apartemen itu hening, hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri yang teredam karpet tebal. Saat mendekati ruang makan yang menyatu dengan dapur, Alena tertegun sejenak. Di sana, di bawah cahaya lampu langit‑langit yang redup namun cukup terang, terlihat ada sosok yang sudah lebih dulu hadir.
Elio duduk di salah satu kursi meja makan, punggungnya bersandar santai, kepala sedikit miring ke samping. Di tangannya tergenggam ponsel, matanya menatap layar yang menyala, sesekali jari‑jemarinya bergerak cepat mengetuk atau menggeser permukaan kaca. Rambut hitamnya yang biasanya rapi kini terlihat sedikit berantakan, seolah ia pun baru saja bangun atau belum sempat tidur nyenyak. Ia mengenakan setelan tidur berwarna abu‑abu muda yang pas di badan, membuatnya terlihat lebih santai namun tetap berkarisma.
Alena tersenyum kecil. Awalnya ia berniat langsung mengambil air minum dan kembali ke kamar, namun sifat isengnya tiba‑tiba muncul. Ia melangkah dengan langkah yang jauh lebih pelan lagi, seolah sedang berjalan di atas kapas. Napasnya ditahan sejenak agar tidak terdengar, matanya terus menatap punggung Elio yang masih fokus dengan benda di tangannya.
Semakin dekat, Alena semakin menahan tawa. Ia tahu betul betapa mudahnya Elio terkejut jika tidak waspada—sesuatu yang sering ia jadikan bahan bercandaan. Saat jarak mereka tinggal satu langkah lagi, Alena mengangkat kedua tangannya, lalu tiba‑tiba berteriak pelan namun cukup mengejutkan:
“Buuu!”
Elio melonjak sedikit dari kursinya, ponsel di tangannya hampir terlepas ke meja. Tubuhnya langsung berputar cepat menoleh ke belakang, mata terbelalak kaget seolah baru saja melihat hantu. Namun begitu ia melihat sosok Alena yang kini menutup mulut sambil tertawa kecil menahan suara, ekspresi kagetnya langsung berubah menjadi kerutan kening yang menandakan rasa kesal—meski tak lama kemudian sudut bibirnya tak bisa ditahan untuk terangkat.
“Kamu ini… benar‑benar tidak ada habisnya, ya?” seru Elio dengan suara berbisik keras, berusaha menekan nada bicaranya agar tidak terlalu nyaring. Ia mengusap dadanya yang terasa berdebar kencang karena kaget tak terduga itu. “Sudah jam dua malam, bukannya tidur malah sibuk mengintai orang. Apa kamu tidak tahu itu bisa membuat jantungku copot?”
Alena masih tertawa pelan, mendekat untuk mengambil gelas dan menuangkan air dari teko yang ada di meja. “Siapa suruh kamu duduk diam di sini sendirian sambil menatap layar benda itu. Aku kira ada apa‑apa. Lagipula… wajahmu tadi lucu sekali saat kaget.”
Elio mendengus namun ikut tersenyum lebar, akhirnya menyerah pada rasa kesalnya sendiri. Ia menaruh ponselnya di meja, lalu menyandarkan siku di permukaan kayu. “Lucu katanya? Nanti kalau aku membalas, jangan mengeluh ya. Apa yang membuatmu terbangun tengah malam begini?”
“Hanya haus saja,” jawab Alena sambil meminum airnya perlahan, merasakan kesegaran yang langsung melegakan tenggorokannya. Ia meletakkan gelas kosong itu kembali ke tempat semula. “Lalu kamu? Kenapa belum tidur? Atau baru bangun juga?”
“Kurang tidur bukan, tapi… rasanya belum terlalu mengantuk. Mungkin karena perjalanan panjang tadi, tubuhku masih terasa terbiasa bergerak,” jawab Elio sambil menguap lebar, seolah membantah ucapannya sendiri. “Tapi sepertinya kantuk mulai menyerang juga sekarang.”
Alena mengangguk mengerti, lalu berbalik hendak kembali ke kamar. “Kalau begitu sebaiknya kita lanjut tidur lagi. Besok pagi‑pagi sekali kita harus berangkat ke Danau Kawaguchi, kan?”
Ia melangkah menuju pintu keluar ruang makan, namun tak lama kemudian menyadari bahwa langkah di belakangnya terus mengikuti. Alena menoleh sedikit bingung. “Kamu mau ke mana? Kamarmu kan di sebelah sana.”
Elio berjalan santai di sampingnya, tangan dimasukkan ke dalam saku celana tidur. “Mana bisa aku membiarkanmu berjalan sendirian di lorong sepi begini. Lagipula…” ia menatap pintu kamar Alena yang kini sudah terlihat di ujung lorong, “…aku rasa kamarmu lebih nyaman untuk sekadar beristirahat sebentar.”
Alena berhenti tepat di depan pintu kamarnya, menatap Elena dengan mata sedikit membelalak. “Maksudmu…?”
“Tidur di sini saja malam ini. Kamar sebelah terasa terlalu sepi,” jawab Elio dengan nada yang terdengar sangat wajar, seolah hal itu adalah hal biasa yang dilakukan setiap malam. Ia bahkan tidak menunggu jawaban, melainkan melangkah masuk lebih dulu begitu pintu terbuka sedikit.
Alena menggeleng pelan namun ikut masuk dan menutup pintu kembali. “Dasar tidak bisa diam. Padahal pintu kamarmu hanya berjarak dua langkah saja.”
“Jarak dua langkah itu bisa terasa jauh sekali kalau tidak ada yang menemani,” canda Elio sambil melepas alas kakinya dan berjalan menuju balkon untuk sekadar melirik ke arah gunung yang masih diam di kejauhan. Udara di kamar ini terasa sama persis dengan di kamarnya sendiri, namun ada sesuatu—mungkin aroma ruangan atau suasana hati—yang membuatnya merasa jauh lebih tenang.
Alena menggelengkan kepala sambil tersenyum pasrah. Ia sudah terlalu sering berdebat soal hal sepele ini dengan Elio dan tahu bahwa ia tidak akan menang. Ia berjalan menuju sisi tempat tidurnya, menarik selimut yang sedikit tergeser, lalu berbaring kembali ke posisi semula. Sementara itu, Elio tidak membuang waktu. Ia berjalan ke sisi lain tempat tidur, menarik selimut tambahan yang ada di ujung kasur, lalu ikut berbaring dengan napas panjang yang terdengar lega.
Kasur itu cukup luas untuk dua orang, namun tetap terasa kebersamaan yang jelas. Jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter, cukup untuk tidak saling bersentuhan namun cukup dekat untuk merasakan kehadiran satu sama lain.
“Kamu yakin tidak akan melakukan hal‑hal aneh?” bisik Alena setengah bercanda, meski hatinya merasa aman sepenuhnya.
Elio tertawa pelan, matanya mulai terasa berat menutup. “Bahkan kalau aku ingin, aku rasa tenagaku sudah habis terpakai seharian ini. Tujuh jam di pesawat, mengurus barang, berjalan‑jalan sore, dan mengobrol dengan kakek‑kakek… rasanya energi sisa hanya cukup untuk memejamkan mata saja.”
Dan benar saja. Baru beberapa menit berbaring, napas Elio mulai teratur dan lambat. Punggungnya yang tadinya sedikit tegang kini perlahan rileks sepenuhnya ke atas kasur. Ia benar‑benar kelelahan, lebih dari yang ia tunjukkan tadi. Di sampingnya, Alena mendengarkan perubahan irama napas itu, merasakan kedamaian yang menyelimuti ruangan. Tidak ada sentuhan berlebihan, tidak ada percakapan panjang, tidak ada keinginan untuk melangkah lebih jauh dari sekadar berbagi tempat istirahat. Hanya dua orang yang saling melengkapi ketenangan malam itu.
Alena memiringkan badannya sedikit, menatap wajah samping Elio yang kini terlihat jauh lebih damai dibandingkan saat terjaga. Garis rahangnya yang tegas terlihat jelas di bawah cahaya bulan yang masuk lewat celah tirai. Ia menyadari betapa beruntungnya ia bisa berada di sini, di negeri asing namun tidak merasa asing sama sekali—karena ada Elio di sampingnya.
“Tidurlah… besok masih panjang,” bisik Alena pelan, seolah menjawab keheningan itu.
Tak butuh waktu lama bagi Alena sendiri untuk kembali terhanyut dalam kantuk. Kehangatan ruangan, udara sejuk, dan kehadiran orang yang paling ia percaya membuat tidur kedua malam di Jepang ini terasa jauh lebih nyenyak dari malam pertama.