NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Pagi itu langit Bandung tampak cerah. Matahari bersinar hangat, seolah mendukung perjalanan survei ke desa yang telah lama direncanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa.

Di depan gerbang Fakultas Ekonomi dan Bisnis, para pengurus BEM mulai berkumpul.

Beberapa berdiri sambil membawa ransel besar, sebagian lagi sibuk memastikan perlengkapan tidak ada yang tertinggal.

Fariz, selaku Ketua BEM, tampak berdiri di depan sambil mengecek daftar hadir.

"Logistik gimana, Ka?"

Azka yang sejak tadi sibuk menghitung kardus berisi perlengkapan langsung mengangkat jempol. "Aman, Kak. Sound system, P3K, banner, sama alat survei udah masuk semua."

"Siap."

Fariz kemudian menoleh kepada Rafka. "Proposal sama surat tugas?"

"Udah. Semuanya lengkap."

"Alhamdulillah."

Sementara Ihsan sebagai wakil ketua sibuk membantu mahasiswa lain memasukkan beberapa kardus ke bagasi minibus kampus.

Di sisi lain, Azel datang bersama dua sahabatnya, Bella dan Sekar. Mereka bertiga mengenakan jaket almamater dengan jilbab yang rapi.

"Wah... Cuacanya bagus banget."

"Fix hari ini bakal seru." Bella langsung mengeluarkan ponselnya. "Foto dulu! Nanti kalau udah capek baru nyesel nggak foto."

Sekar tertawa. "Bener juga."

Mereka bertiga pun berdiri di bawah langit biru.

"Cekrek!"

"Cekrek!"

"Cekrek!"

Beberapa kali foto berhasil diambil. Tanpa mereka sadar, di belakang mereka, Fariz sedang berbincang dengan Ihsan.

Saat kamera mengarah ke depan, Fariz refleks menoleh. Senyum tipisnya ikut tertangkap di dalam foto.

Bella langsung melihat hasilnya. "Eh, Kak Fariz ikut masuk."

Azel ikut melihat. "Hah? Yaudah lah. Biar aja. Kan nggak sengaja."

Tak lama kemudian, Azel mengunggah salah satu foto itu ke status WhatsApp. "Berangkat survei, guys! Bismillah semoga lancar."

Di tempat lain...

Ibra baru saja selesai mengantar Arjun ke sekolah. Ia duduk di dalam mobil yang masih terparkir di halaman sekolah. Sebelum berangkat ke kampus, ia membuka ponselnya.

Tanpa sengaja, status WhatsApp Azel muncul paling atas.

Ia menekannya. Foto itu langsung memenuhi layar ponselnya.

Azel tersenyum ceria bersama Bella dan Sekar. Namun, yang membuat pandangan Ibra berhenti bukanlah Azel. Melainkan sosok Fariz yang berada di belakang foto itu.

Meski posisinya agak jauh, tetap terlihat jelas bahwa laki-laki itu ikut tersenyum ke arah kamera.

Alis Ibra sedikit berkerut. "Fariz..."

Ia mengenali mahasiswa itu. Ketua BEM yang beberapa kali memimpin rapat ketika dirinya hadir sebagai dosen pembina.

Tatapannya kembali tertuju pada foto itu. "Kenapa dia bisa ikut foto?" Gumam itu keluar begitu saja.

Beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan. "Bukan urusan saya."

Ia hendak menutup layar. Namun jempolnya justru berhenti.

Pikirannya kembali mengingat beberapa kejadian. Fariz yang selalu menghampiri Azel di kampus. Fariz yang menawarkan tumpangan. Fariz yang meminta maaf saat insiden dengan Sarah. Fariz yang tanpa sadar sering berdiri di dekat gadis itu ketika rapat.

Entah mengapa, semua potongan kejadian itu kembali terhubung dalam benaknya.

Ibra mengembuskan napas pelan. "Buat apa juga saya memikirkan dia?"

"Tidak ada hubungannya dengan saya."

Ia mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di dashboard mobil. Namun, beberapa detik kemudian, tanpa sadar, ia kembali mengambil ponselnya.

Membuka status yang sama. Memperhatikan foto itu sekali lagi. Lalu menghela napas panjang.

Sejak Azel hadir dalam kehidupannya terlebih setelah gadis itu mampu membuat Arjun kembali ceria dan perlahan mengembalikannya pada jalan yang sempat ia tinggalkan. Ada sesuatu dalam dirinya yang mulai berubah. Perasaan itu masih asing. Dan Ibra sendiri belum mampu memberi nama atas apa yang sedang ia rasakan.

***

Siang harinya, setelah semua pekerjaannya di kampus selesai, Ibra tidak langsung pulang ke rumah. Mobil BMW hitamnya melaju menuju sekolah Arjun.

Beberapa menit kemudian... Bel pulang berbunyi. Anak-anak mulai berhamburan keluar gerbang.

"Ayah!"

Arjun berlari kecil menghampiri ayahnya dengan senyum lebar. Ibra berjongkok, lalu merapikan sedikit kerah seragam putranya.

"Gimana sekolahnya hari ini?"

"Seru!"

"Arjun tadi dapat bintang."

"Alhamdulillah."

Ibra mengusap lembut kepala Arjun. "Pintar."

Setelah berpamitan dengan guru kelas, mereka pun masuk ke dalam mobil. Namun mobil itu tidak mengarah ke rumah.

Arjun yang sedari tadi memperhatikan jalan mulai terlihat bingung. "Ayah."

"Hm?"

"Kita mau ke mana?"

Ibra tersenyum tipis sambil tetap fokus menyetir. "Kita mau ke pesantren."

"Pesantren?"

"Iya."

Arjun mengedipkan matanya beberapa kali. "Pesantren itu apa, Ayah?"

Ibra terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara tenang. "Pesantren adalah tempat orang belajar agama. Belajar mengenal Allah. Belajar membaca Al-Qur'an. Belajar akhlak. Dan belajar menjadi manusia yang lebih baik."

Arjun tampak mendengarkan dengan serius. "Berarti kayak sekolah?"

"Mirip. Tapi yang dipelajari lebih banyak tentang agama."

"Ooo..." Arjun mengangguk pelan. "Memangnya Ayah dulu sekolah di sana?"

"Iya. Dulu Ayah pernah mondok di sana."

Mata Arjun langsung berbinar. "Terus Ayah punya teman?"

"Ada. Banyak. Ayah juga punya guru yang sangat baik."

"Namanya siapa?"

Ibra tersenyum kecil. "Dulu Ayah belajar kepada Kiai Alif dan Kiai Abidzar. Mereka guru yang sangat Ayah hormati."

Arjun kembali bertanya polos. "Kalau guru Ayah ketemu lagi sama Ayah beliau marah nggak?"

Pertanyaan itu membuat tangan Ibra yang memegang setir sedikit mengerat. Tatapannya lurus ke depan.

"Entahlah. Sebenarnya... Ayah yang malu."

"Kenapa malu?"

Ibra mengembuskan napas panjang. "Karena Ayah sudah lama sekali tidak datang. Belasan tahun ayah tidak pernah kembali dan selama itu Ayah tidak pernah memberi kabar."

Arjun menatap ayahnya dengan polos. "Kalau Arjun punya teman terus lama nggak ketemu pas ketemu lagi Arjun tetap senang kok. Guru Ayah pasti juga senang."

Ibra tersenyum tipis mendengar kepolosan putranya. "Semoga saja begitu."

Dalam hati, ia masih diliputi keraguan. Pesantren itu adalah tempat yang dahulu membentuk dirinya. Tempat ia belajar mengaji. Belajar adab. Belajar menjadi pribadi yang dekat dengan Allah. Namun setelah berbagai ujian hidup datang bertubi-tubi...

Ia justru menjauh. Menjauh dari pesantren. Menjauh dari guru-gurunya. Bahkan sempat menjauh dari Tuhannya sendiri.

Kini... Setelah sekian lama. Ia akhirnya memberanikan diri kembali. Bukan hanya untuk bersilaturahmi. Tetapi juga untuk meminta maaf atas dirinya yang pernah begitu lama menghilang tanpa kabar.

***

"Permisi, Bu Nyai."

Salah satu khadimah ndalem menghampiri Uma Azzura yang sedang merapikan beberapa berkas di ruang tengah.

"Iya, Mbak. Ada apa?"

"Di luar ada yang mencari Kiai Abidzar."

"Oh? Siapa, Mbak?"

"Katanya salah satu murid beliau dulu."

Uma Azzura mengernyitkan kening.

"Ya sudah, silakan dipersilakan menunggu di ruang tamu dulu. Nanti saya panggil suami saya."

"Baik, Bu Nyai. Terima kasih."

"Iya, sama-sama."

Setelah Mbak Ratna pergi, Uma Azzura berjalan menuju kamar.

"Mas."

Kiai Abidzar yang sedang membaca kitab mengangkat wajahnya.

"Iya, sayang?"

"Katanya ada tamu yang mencari Mas. Kamu ada janji sama orang?"

Kiai Abidzar menggeleng. "Nggak ada. Siapa memang?"

"Kata Mbak Ratna sih salah satu murid Mas dulu."

"Oh ya sudah, kita ke bawah saja."

"Iya, Mas."

Keduanya pun menuruni tangga menuju ruang tamu ndalem. Begitu sampai di ambang pintu, langkah Kiai Abidzar mendadak terhenti. Matanya membulat sesaat.

"Ibra..."

Laki-laki yang sejak tadi berdiri langsung bangkit dari duduknya. Tatapan keduanya bertemu. Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun.

Ibra lebih dulu menundukkan kepala. "Assalamu'alaikum, Kiai."

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."

Kiai Abidzar tersenyum hangat, lalu menghampiri dan langsung memeluk mantan muridnya itu.

"Masya Allah... Akhirnya kamu datang juga. Saya sudah menunggu kamu sejak kita bertemu di depan daycare beberapa hari lalu."

Ibra membalas pelukan itu dengan canggung. "Maaf, Kiai. Saya baru punya keberanian untuk datang."

Kiai Abidzar menepuk pelan punggungnya. "Yang penting sekarang kamu sudah di sini. Pesantren ini tidak pernah menutup pintu untuk siapa pun. Apalagi untuk murid sendiri."

Ucapan itu membuat dada Ibra terasa sesak. Belasan tahun ia menghilang tanpa kabar. Namun sambutan yang diterimanya masih sehangat dulu.

Uma Azzura yang berdiri di samping suaminya memperhatikan wajah Ibra beberapa saat, seolah sedang mengingat sesuatu.

"Mas... Ini Ibra yang mana, ya?"

Kiai Abidzar tersenyum. "Kamu lupa? Ibra ini anaknya Bu Zulfa. Sahabatnya Arshaf dan Aryan waktu kecil."

Seketika mata Uma Azzura membesar. "Ya Allah... Ibra? Masya Allah, Nak. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Waktu kamu pindah, sama sekali tidak ada kabar."

Ibra segera memberi salam hormat dengan menundukkan badan tanpa bersalaman. "Maaf, Bu Nyai."

Uma Azzura tersenyum sambil menggeleng pelan. "Uma... Dulu kamu memanggil saya Uma."

Ibra tersenyum kecil. "Iya... Uma."

Barulah perhatian Uma Azzura beralih kepada bocah kecil yang berdiri di samping Ibra. Wajahnya langsung berbinar.

"Masya Allah... Ini siapa? Ganteng sekali."

Arjun yang sedari tadi memegang tangan ayahnya tersenyum malu-malu. "Aku Arjun. Anaknya Ayah."

Uma Azzura tertawa kecil mendengar jawaban polos itu. "Oh begitu. Namanya Arjun, ya?"

Arjun mengangguk. "Iya."

"Sudah sekolah?"

"Udah, Aku TK."

"Masya Allah, anak pintar."

Kemudian Uma Azzura menoleh kepada Ibra. "Jadi... kamu sudah punya anak?"

"Sudah, Uma."

Sebelum Ibra sempat melanjutkan, Kiai Abidzar lebih dulu menjelaskan. "Oh iya, Zura. Beberapa hari yang lalu saya bertemu Ibra di depan daycare. Ternyata Arjun dititipkan di sana."

"Benarkah?" Uma Azzura tampak terkejut. "Wah, Uma baru tau."

Ibra mengangguk pelan. "Iya, Uma. Arjun baru sekitar dua bulan dititipkan di sana."

Uma Azzura tersenyum mengerti. "Pantas saja. Belakangan ini Uma memang baru mulai sering ke daycare lagi. Jadi selama ini kita belum sempat bertemu."

Tatapannya kembali jatuh pada Arjun yang berdiri tenang di samping ayahnya. "Masya Allah... Ternyata selama ini kamu sudah dekat dengan keluarga kami, ya, Nak."

Arjun mengangguk polos. "Iya. Aku juga kenal Kak Azel."

Mendengar nama itu, Uma Azzura dan Kiai Abidzar saling berpandangan sejenak. Sementara Ibra hanya terdiam. Entah mengapa, setiap kali nama Azel disebut, bayangan gadis itu kembali memenuhi pikirannya.

"Azel siapa, Nak?" tanya Uma Azzura.

"Yang di daycare. Yang sering main sama Arjun."

Uma Azzura seketika menepuk dahinya pelan. "Astaghfirullah..."

Ia baru teringat cerita putrinya beberapa hari lalu. Tentang seorang dosen yang mobilnya mencipratkan air ke pakaian Azel. Ternyata... laki-laki itu adalah ayah dari anak yang selama ini begitu dekat dengan putrinya.

Uma Azzura menoleh kepada Ibra. Ia tersenyum penuh kehangatan.

"Masya Allah... Berarti memang Allah sudah menakdirkan kita bertemu lagi, Ibra. Karena Azel yang selama ini sering bermain dengan Arjun di daycare adalah putri saya."

Deg!

1
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
Syti Sarah
Masya Allah,lngsung di lamar sndiri sama anak nya 😁😁😁smoga azel bisa membuka hati nya ya untuk mnerima prmintaaan Arjun 😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!