NovelToon NovelToon
Di Balik Lavender Marriage

Di Balik Lavender Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Terlarang
Popularitas:881
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

‎Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.

‎Tetapi setelah menikah, ‎Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.

Apa yang membuat Edelia bertahan? ‎Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanda Tangan Kontrak

"Sedang apa kamu disitu?" suara Ren mengejutkan Lia, membuat Lia segera meletakkan foto yang diambilnya kembali di tempatnya. Lia membalikkan badan dan mengangkat kotak tisu di tangannya sambil tersenyum lebar.

"Mengambil kotak tisu. Saya lihat Tuan Muda mengeluarkan banyak keringat, padahal ruangan ini cukup dingin," kata Lia sambil berjalan menuju sofa tempat Ren masih terbaring.

Ren menatap Lia tajam. Ren ingat, Ren belum menyimpan kembali fotonya dengan Arka ke dalam laci mejanya. Ren yakin, Lia melihatnya. Lia menarik dua lembar tisu dari kotak tisu dan menyodorkannya pada Ren.

"Terimakasih," ucap Ren sambil menerima tisu yang Lia berikan dan menyeka keringat di dahinya. Tangan Lia tiba-tiba terjulur ke arah wajah Ren membuat Ren reflek memundurkan tubuhnya.

"Saya hanya mau memastikan Tuan Muda tidak sedang sakit," kata Lia sambil menurunkan tangannya yang hendak menyentuh dahi Ren, untuk mengukur suhu tubuhnya.

"Saya baik. Terimakasih," kata Ren dingin, lalu beranjak dari sofa dan berjalan menuju meja kerjanya.

Ren melirik foto yang masih ada di atas meja kerjanya. Jelas terlihat. Dengan gerakan cepat dan halus, Ren memasukkan foto itu ke dalam laci meja kerjanya dan kemudian duduk di kursi kerjanya.

"Untuk hari ini," kata Ren sambil membuka sebuah map plastik berwarna biru di atas meja kerjanya. Lia beranjak dari sofa dan berjalan mendekat ke meja kerja Ren.

"Kita akan menandatangani kontrak pernikahan kita," lanjut Ren sambil menyodorkan map kepada Lia. Lia menerima map itu dan membaca poin-poin yang begitu detail di atas kertas yang ada di dalamnya.

"Bukankah kemarin Anda hanya menuliskan satu kalimat saja?" tanya Lia sedikit bingung setelah membaca beberapa poin yang tertulis.

"Pembaharuan," jawab Ren singkat.

"Poin utamanya dari saya adalah: kita tidak saling mencampuri kehidupan pribadi masing-masing. Bukankah poin lainnya adalah garis besar untuk apa pernikahan ini dilakukan?" lanjut Ren. Lia kembali membaca perjanjian mereka.

Ada tujuh poin disana. Poin pertama berisi tujuan pernikahan mereka. Poin kedua lama pernikahan mereka yang bisa mereka atur sesuai kebutuhan —bisa satu tahun, dua tahun, atau mungkin selamanya. Poin ketiga tentang syarat masing-masing pihak dimana permintaan Ren dan Lia dibahas di dalam poin ini. Poin keempat tentang rahasia kontrak. Poin kelima tentang sikap di depan publik. Poin keenam tentang tempat tinggal pasca menikah. Dan poin terakhir tentang kebebasan melakukan apapun tanpa menarik perhatian publik.

"Anda bisa menambahkan sesuatu jika memang diperlukan," kata Ren. Lia menatap Ren sambil menutup mapnya.

"Saya rasa, menandatangani perjanjian tanpa ada sanksi jika melakukan pelanggaran itu sama saja sia-sia," kata Lia sambil meletakkan map di atas meja.

"Maksud Anda? Hukuman seperti apa?" tanya Ren, bingung. Lia tersenyum.

"Hukuman itu harus menguntungkan pihak penghukum dan merugikan pihak yang dihukum sehingga akan memberikan efek jera pada pihak yang dihukum," kata Lia. Ren menunggu.

"Mungkin pencabutan hak melakukan kebebasan akan menjadi hukuman yang membuat si pelanggar sama-sama jera," lanjut Lia. Ren diam. Berpikir.

"Apa keuntungannya bagi si penghukum?" tanya Ren. Lia memutar bola matanya, berpikir.

"Si pelanggar tidak akan melanggar kontrak lagi?" tanya Lia.

"Hukuman bersifat permanen atau..."

"Satu atau dua bulan di kurung tidak melakukan apapun saya rasa cukup menyiksa," kata Lia.

Ren menarik map biru itu, menuliskan poin hukuman di bawah poin ketujuh lalu membubuhkan tanda tangan di atas materai. Ren kembali menyodorkan map pada Lia. Lia menerimanya dan menandatangani kontrak di atas materai.

"Terimakasih atas waku Anda, Nona Lavendra," kata Ren.

"Lia,"

Ren menaikkan kedua alisnya.

"Panggil saja Lia. Anda harus membiasakannya. Hanya untuk di depan umum," kata Lia sambil tersenyum.

"Baik. Tentu saja. Anda juga bisa memanggil nama saya saja jika di depan umum," kata Ren dingin.

"Tuan Muda tenang saja. Saya memiliki bakat akting alami," kata Lia, lagi-lagi sambil tersenyum.

"Baiklah, kalau begitu, saya permisi," kata Lia lalu membalikkan badannya dan hendak melangkah pergi.

"Salinan..." kata Ren, menghentikan kaki Lia yang sudah hampir melangkah. Lia menoleh menatap Ren.

"Salinan kontrak akan saya serahkan..."

"Saya tidak butuh salinannya," kata Lia memotong kalimat Ren.

"Saya mengingatnya dengan sangat baik," lanjut Lia lalu berlalu keluar dari ruang kerja Ren.

Ren menatap tanda tangan Lia di atas materai. Ada rasa tak nyaman dalam hati Ren saat menatapnya. Ada seorang wanita yang rela menerima lamarannya dan menandatangani kontrak pernikahan dengannya tanpa tahu tujuan sebenarnya dari pernikahan itu sendiri.

Selama ini Ren menutup hatinya dari semua wanita. Hatinya sudah lama mati karena ulah seorang wanita bernama Violetta Valerine. Sejak dua belas tahun yang lalu, Ren berubah menjadi dingin dan menutup dirinya dari wanita.

Ren masih menatap tanda tangan Lia. Lia sama sekali tidak melakukan penolakan sejak awal Ren melamarnya. Ren jadi sedikit penasaran apa yang membuat Lia pasrah menerima lamarannya dan menyetujui kontrak pernikahan itu.

'Dia pasti punya motif. Bisnis? Mungkin. Dia juga seorang pewaris,'

***

Lia menghela napasnya panjang. Kini dia duduk di belakang kemudi dengan perasaan campur aduk —bingung, heran, dan penasaran menjadi satu.

Lia teringat foto di atas meja kerja Ren. Jelas itu foto Ren dengan seorang pria. Tapi, yang membuat Lia bingung adalah kata-kata di balik foto itu.

"Yang tak terlupakan," gumam Lia sambil mengerutkan kedua alisnya.

"Tadi cowok kan yang di fotonya itu?" tanya Lia lebih kepada dirinya sendiri, memastikan dia tak salah lihat.

"Tapi... kenapa kata-katanya, yang tak terlupakan? Best friend?" Lia mencoba menarik kemungkinan yang lebih positif.

"Tapi dia cowok. Dan... aneh sih cowok sama cowok sampe..."

Mata Lia seketika membulat, menyadari satu kemungkinan yang ada. Lia kembali mengingat poin-poin kontrak pernikahannya dengan Ren.

"Tidak boleh saling mencampuri kehidupan pribadi masing-masing, termasuk menanyakan hubungan dengan orang lain, kegiatan yang sedang dilakukan, dan segala sesuatu yang bersifat privasi," gumam Lia, mengulang poin ketiga yang berisi persyaratan Ren dan dirinya.

Lia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kemudi. Sepertinya, dia sedikit memahami mengapa Ren memilihnya. Ren memiliki sebuah rahasia —yang Lia sendiri masih belum bisa memastikan kebenarannya— dan dia membutuhkan orang yang bisa diajak kerjasama untuk ini.

Ren tidak mungkin memilih nona muda yang tergila-gila padanya. Belum tentu nona muda semacam itu menyetujui kontrak dan persyaratan yang dia ajukan. Selain itu, di mata publik, nona muda yang dinikahi Ren adalah nona muda pilihannya sendiri, yang jelas akan diartikan publik sebagai nona muda yang berhasil menarik perhatian Ren. Bukan nona muda yang terlihat tergila-gila padanya.

Lia kini menyadari takdirnya. Menerima lamaran Tuan Muda Ren Damaris ternyata bukan semata sebagai bentuk terimakasihnya pada sang ayah, tetapi juga sebagai perisai bagi Keluarga Damaris untuk menyelamatkan nama baik mereka.

'Jadi intinya... aku hanya... dimanfaatkan?'

***

1
Nanaiko
dari awal aku slalu membayangkan visualisasi Tuan Ren ini adalah Byon woo soek pemeran utama pria di drakor Perfect Crown🤭
Purnamanisa: untuk visualisasi, author serahkan pada imajinasi reader yang budiman 😁😁
total 1 replies
Vivi Zenidar
Good Lia
Vivi Zenidar
semoga Ren sadar.. dia jatuh cinta je Lia
Vivi Zenidar
cerita menarik.... semoga akan banyak yg membaca
Purnamanisa: terimakasih kak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
sabar.. tunggu kelanjutannya besok sore.. sabar..
Nanaiko
Kek lagu Bang Iwan yee Bund😅
Purnamanisa: ide 🤭🤭
total 1 replies
Nanaiko
zaa ampuun🙈🙈
Nanaiko
tuh kan.. kalau baca cuma 2 episode itu kurang😅
Purnamanisa: update tiap hari kak 🤭🤭
total 1 replies
Nanaiko
nah lho..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!