Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Persiapan dan Harapan Baru
Kabar kehamilan Anya membawa perubahan suasana yang sangat terasa di seluruh penjuru rumah Wijaya. Setiap sudut ruangan yang dulu terasa serius dan kaku, kini dipenuhi dengan tawa, obrolan hangat, dan persiapan demi menyambut kehadiran anggota keluarga baru. Semua orang bergerak dengan semangat, seolah ingin memberikan yang terbaik untuk calon cucu dan calon anak yang akan lahir itu.
Nyonya Wijaya adalah orang yang paling antusias. Setiap hari ia datang ke kamar Anya, membawa berbagai jenis makanan bergizi, teh herbal, dan buah-buahan yang disarankan oleh dokter. Ia bahkan sudah memesan tempat tidur bayi, pakaian, dan perlengkapan lainnya dari toko khusus yang menyediakan barang impor dengan kualitas terbaik. Namun, Anya yang terbiasa dengan kesederhanaan, kadang merasa terharu sekaligus sedikit malu melihat perhatian yang begitu besar itu.
“Ibu, tidak perlu seberlebihan ini,” ucap Anya sambil tersenyum lembut saat melihat tumpukan barang yang terus bertambah di sudut kamar. “Yang penting sehat dan cukup saja, tidak harus mewah.”
Nyonya Wijaya duduk di sampingnya, lalu mengelus punggung tangan menantunya dengan penuh kasih sayang. “Buat cucu pertama keluarga Wijaya, Ibu ingin memberikan segalanya. Dulu saat Arga lahir, kondisi keluarga belum sebaik sekarang, jadi banyak hal yang belum sempurna. Sekarang Ibu ingin memastikan dia tumbuh dengan kenyamanan yang cukup, bukan hanya dari harta, tapi juga dari kasih sayang yang melimpah.”
Bu Lina yang juga sering tinggal di rumah itu hanya tersenyum melihat interaksi mereka. Ia merasa sangat bersyukur melihat putrinya mendapatkan perlakuan yang begitu baik dan tempat yang terhormat di keluarga besar ini. “Memang benar, yang paling penting adalah kasih sayang dan didikan yang baik. Tapi melihat kalian semua bersemangat begini, hati saya pun ikut merasa bahagia dan tenang.”
Sementara itu, Arga juga tidak kalah sibuk, meskipun caranya berbeda. Ia mengatur jadwal kerjanya sedemikian rupa agar tidak terlalu lama berada di kantor. Setiap sore, ia pasti pulang lebih awal untuk menemani Anya berjalan-jalan santai di taman, mendengarkan keluh kesahnya, atau sekadar duduk berbincang sambil menatap langit senja. Ia bahkan mempelajari banyak hal tentang kehamilan dan perawatan bayi dari buku maupun nasihat dokter, agar bisa mendampingi istrinya dengan benar.
“Dokter bilang, selama masa kehamilan, ketenangan pikiran dan dukungan dari pasangan adalah hal yang paling berpengaruh bagi kesehatan ibu dan janin,” ucap Arga suatu sore sambil memijat lembut kaki Anya yang mulai terasa bengkak. “Jadi, jangan memikirkan hal-hal yang berat, serahkan semuanya padaku. Tugasmu hanya menjaga kesehatan dan beristirahat yang cukup.”
Anya menatap suaminya dengan pandangan penuh rasa syukur. “Terima kasih, Arga. Rasanya saya tidak pernah menyangka bisa mendapatkan kebahagiaan sebesar ini. Dulu saya hanya berharap bisa menyembuhkan ibu dan hidup tenang, tapi sekarang Tuhan memberikan lebih dari apa yang saya minta.”
Namun, di tengah kebahagiaan yang terasa begitu lengkap itu, ada satu hal yang membuat Anya sedikit berpikir. Ia menyadari bahwa kehadiran anak ini akan membawa tanggung jawab baru yang lebih besar, baik bagi dirinya maupun bagi masa depan keluarga Wijaya. Ia ingin memastikan bahwa anaknya nanti tidak hanya tumbuh dalam kemewahan, tapi juga memiliki hati yang rendah hati, kuat, dan mengerti arti perjuangan.
Suatu malam, saat mereka berdua sedang duduk santai di teras kamar, Anya mengutarakan pikirannya kepada Arga. “Sayang, saya sering berpikir nanti saat anak kita sudah besar, bagaimana cara kita mendidiknya agar tidak menjadi orang yang sombong atau merasa lebih tinggi dari orang lain hanya karena latar belakang keluarganya?”
Arga terdiam sejenak, lalu mengangguk mengerti. “Pertanyaan yang sangat baik. Saya juga sering memikirkannya. Kita melihat banyak contoh anak dari keluarga kaya yang terjebak dalam kemalasan dan kesombongan karena semua keinginannya selalu dipenuhi tanpa usaha. Kita tidak ingin hal itu terjadi pada anak kita.”
Ia melanjutkan dengan nada yang tenang namun tegas, “Caranya adalah dengan menjadi contoh terlebih dahulu. Kita ajarkan dia bahwa kekayaan dan nama baik bukanlah kebanggaan terbesar, tapi kejujuran, kebaikan hati, dan kemampuan untuk menghargai orang lain. Kita ceritakan padanya tentang perjalanan hidup kita, tentang masa lalu yang sulit, tentang kesalahpahaman yang pernah terjadi, dan bagaimana kebenaran akhirnya menang. Biarkan dia mengerti bahwa apa yang kita miliki sekarang adalah hasil dari perjuangan dan kepercayaan, bukan sesuatu yang datang begitu saja.”
Mendengar penjelasan itu, hati Anya terasa lebih tenang. Ia merasa yakin bahwa bersama Arga, mereka bisa memberikan bekal yang tepat bagi anak mereka kelak.
“Kita juga bisa mengajaknya untuk mengenal kehidupan sederhana, mengunjungi tempat-tempat yang mengajarkan rasa syukur, dan mengajarkan dia untuk selalu berbagi dengan mereka yang membutuhkan,” tambah Anya. “Sehingga dia tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tapi tetap memiliki hati yang lembut dan peduli.”
Rencana pendidikan dan persiapan ini tidak hanya dibahas oleh mereka berdua, tapi juga disampaikan kepada Tuan Wijaya dan Nyonya Wijaya. Awalnya, Tuan Wijaya sempat merasa ragu, mengingat tradisi keluarga yang selalu mengutamakan kedudukan dan nama baik. Namun, setelah mendengar penjelasan yang matang dan melihat ketulusan niat mereka, ia pun setuju.
“Kalian benar,” ucap Tuan Wijaya dengan nada bijak. “Selama ini saya terlalu fokus pada kejayaan perusahaan dan nama keluarga, sampai lupa bahwa harta yang paling berharga adalah akhlak dan karakter anak cucu kita. Jika dia memiliki hati yang baik dan pikiran yang jernih, maka dia akan mampu menjaga dan mengembangkan apa yang kita wariskan, bahkan melebihi apa yang telah kita capai.”
Sejak saat itu, persiapan menyambut sang buah hati tidak hanya soal barang-barang dan kenyamanan fisik, tapi juga soal membangun nilai-nilai yang akan ditanamkan sejak dini. Suasana di rumah itu terasa semakin harmonis, seolah setiap anggota keluarga saling melengkapi dan mendukung satu sama lain.
Namun, di tengah ketenangan itu, kabar dari luar rumah kembali mengusik sedikit ketenangan mereka. Beberapa minggu setelah kehamilan Anya diketahui publik, muncul lagi sedikit isu dari lingkungan bisnis. Kali ini bukan soal masa lalu, melainkan spekulasi mengenai penerus perusahaan. Banyak orang mulai bertanya-tanya, apakah kelak anak yang akan lahir ini akan menjadi pewaris utama, dan apakah hal ini akan mengubah arah kebijakan perusahaan Wijaya di masa depan.
Bahkan ada beberapa pihak yang mulai mencoba mendekati Arga dengan berbagai tawaran kerjasama yang terlihat menguntungkan di permukaan, namun memiliki risiko tersembunyi di baliknya. Mereka berusaha memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan keuntungan pribadi, mengira bahwa Arga akan lebih berhati-hati dan cenderung mengambil keputusan yang aman demi masa depan keluarganya.
Suatu sore, saat Arga menerima sejumlah tamu dari perusahaan mitra, ia menyadari niat tersembunyi di balik tawaran mereka. Setelah pertemuan selesai, ia berdiskusi dengan ayahnya dan Anya untuk mengambil sikap yang tepat.
“Mereka berpikir bahwa karena saya akan memiliki anak, saya akan takut mengambil risiko dan menerima apa saja yang terlihat menguntungkan,” ucap Arga sambil membuka berkas-berkas tawaran itu. “Tapi mereka salah. Kehadiran anak ini justru membuat saya semakin waspada dan berpegang teguh pada prinsip. Saya tidak ingin membangun masa depan di atas dasar yang tidak jelas atau merugikan orang lain.”
Tuan Wijaya mengangguk setuju. “Keputusanmu tepat. Jangan biarkan kebahagiaan saat ini membuatmu lengah. Kepercayaan yang sudah kita bangun kembali tidak boleh dikorbankan demi keuntungan sesaat. Tetaplah berjalan di jalur yang benar, meskipun kadang terasa lebih lambat.”
Anya yang mendengarkan dari samping juga memberikan pandangannya. “Saya percaya pada kemampuan dan kebijaksanaanmu, Arga. Jangan merasa tertekan karena ada harapan atau pandangan orang lain. Lakukan apa yang menurutmu benar dan adil. Jika keputusan itu diambil dengan hati yang tulus dan pikiran yang jernih, maka hasilnya pasti akan baik untuk kita semua.”
Dengan dukungan yang kuat dari keluarga, Arga pun menolak tawaran-tawaran yang berisiko itu dengan cara yang sopan namun tegas. Ia menjelaskan bahwa perusahaan Wijaya tetap akan berjalan sesuai prinsip yang sudah ada, mengutamakan kepercayaan dan keberlanjutan jangka panjang, bukan keuntungan instan.
Sikap tegas dan konsisten ini justru membuat para mitra bisnis semakin menghormatinya. Mereka menyadari bahwa meskipun sedang dalam masa bahagia dan memiliki tanggung jawab baru, Arga tetap menjadi pemimpin yang kuat dan tidak mudah dipengaruhi oleh bujukan apa pun.
Bulan demi bulan berlalu dengan tenang. Kondisi Anya semakin membesar, namun kesehatannya tetap terjaga dengan baik. Ia tetap melakukan aktivitas ringan di rumah, membaca buku, melukis, atau sekadar berbincang dengan keluarga. Setiap kali ia merasa lelah, Arga selalu ada di sampingnya untuk menenangkan dan menjaganya.
Suatu hari, saat usia kandungan Anya memasuki bulan kedelapan, dokter memberikan kabar bahwa semuanya berjalan sangat baik. Janin berkembang sesuai ukuran, posisinya sudah tepat, dan tidak ada tanda-tanda gangguan kesehatan apa pun. Mendengar kabar itu, seluruh keluarga merasa sangat lega dan bersyukur.
“Tinggal menunggu waktunya saja sekarang,” ucap dokter sambil tersenyum. “Nyonya cukup menjaga pola makan dan istirahat, serta menghindari aktivitas yang terlalu berat. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan dengan baik.”
Malam itu, mereka berkumpul di ruang makan dengan suasana yang sangat hangat. Di meja makan tersajikan hidangan kesukaan Anya yang dimasak sendiri oleh koki rumah. Tuan Wijaya mengangkat gelas minumannya dan berbicara dengan suara yang penuh haru.
“Malam ini adalah malam yang penuh berkah. Kita telah melewati banyak rintangan, membenahi kesalahan masa lalu, dan akhirnya sampai pada titik kebahagiaan seperti ini. Kehadiran anak ini adalah penutup dari segala luka lama dan pembuka lembaran baru yang lebih cerah. Mari kita berdoa semoga dia lahir dengan selamat, sehat, dan tumbuh menjadi kebanggaan keluarga serta kebaikan bagi banyak orang.”
Semua orang mengangkat gelas mereka, mengaminkan doa itu dengan hati yang tulus. Anya menatap Arga, dan Arga membalas tatapan itu dengan senyum yang penuh rasa syukur. Mereka tahu, perjalanan panjang yang telah mereka lalui telah membentuk mereka menjadi pasangan yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih siap menghadapi apa pun yang akan datang.
Di luar jendela, langit malam terlihat cerah dengan bintang-bintang yang bersinar terang, seolah menjadi saksi atas kebahagiaan dan harapan yang tumbuh di dalam rumah itu. Masa depan yang menanti terlihat semakin jelas, terang, dan penuh dengan janji kebaikan.
Bersambung...