Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Isyarat Pertama dari Kegelapan
Hawa dingin dari ruang arsip rahasia di lambung kapal seolah merayap naik dan melekat pada benak Clara bahkan setelah ia kembali ke dek tengah.
Bongkahan Kristal Obsidian yang ia lihat bersama Alden menjadi bukti nyata bahwa kedamaian di atas The Sky Leviathan hanyalah ketenangan sesaat sebelum badai yang sesungguhnya tiba. Kutukan sihir hitam yang tertanam di dalam tubuh anak-anak tirinya adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Sore itu, Clara duduk di ruang tengah kabin utama, memandangi Rin yang sedang tekun menulis di buku catatan barunya.
Di lantai karpet, Toby sedang tertidur berbantalkan paha Leo. Anak sulung itu tampak mengelus rambut adiknya dengan gerakan pelan, sebuah pemandangan hangat yang membuktikan bahwa dinding permusuhan di antara mereka telah runtuh sepenuhnya.
"Ibu," sebuah suara isyarat menarik perhatian Clara. Rin mengangkat bukunya dengan ekspresi cemas.
'Kalungku terasa panas hari ini. Apakah di luar ada badai lagi?' tulis Rin.
Clara tertegun. Ia segera mendekati Rin dan menyentuh jemari mungil anak perempuan itu. Ketika pandangannya turun ke leher Rin, jantung Clara berdegup kencang.
Segel perak kuno yang melingkar di leher Rin tampak berdenyut redup, memancarkan garis-garis hitam tipis yang sangat samar. Itu bukan reaksi terhadap badai alam, melainkan tanda bahwa sihir Sirene di dalam tubuh Rin sedang merespon gelombang energi hitam eksternal yang serupa dengan kutukan di dalam dirinya.
"Jangan khawatir, Rin. Ibu akan memeriksa ke luar sebentar. Tetaplah di sini bersama Leo dan Toby," kata Clara selembut mungkin, berusaha menyembunyikan getaran panik di suaranya.
Clara melangkah cepat meninggalkan ruangan, mengabaikan rasa lelahnya. Tujuannya hanya satu, yakni ruang kemudi utama di dek atas, tempat Kapten Alden berada.
Ketika ia tiba di dek atas, atmosfer di ruang kemudi terasa sangat tegang. Beberapa kru navigasi tampak sibuk memutar tuas kuningan dan memeriksa kompas sihir yang berputar liar tanpa arah yang jelas.
Alden berdiri di depan meja peta utama, dahinya berkerut dalam dengan sepasang mata abu-abu badai yang menatap tajam ke arah detektor energi magis di dinding.
"Kapten, ada distorsi energi aneh dalam radius tiga mil di sektor barat laut. Polanya tidak menyerupai badai magnetik biasa," lapor salah satu perwira kemudi dengan nada panik.
"Aktifkan perisai sihir pelapis kedua sekarang. Jangan biarkan kapal kehilangan ketinggian," perintah Alden tegas. Suaranya yang berat langsung memotong kepanikan di dalam ruangan.
Alden menoleh saat mendengar langkah kaki tergesa-gesa masuk ke ruang kemudi. Begitu melihat Clara, ekspresi keras di wajah sang Kapten sedikit melunak, digantikan oleh rasa protektif yang kini selalu muncul setiap kali wanita itu berada di dekatnya.
"Clara? Kenapa kau ke sini? Aku sudah meminta Bernet untuk memastikan kalian tetap berada di kabin bawah," kata Alden, melangkah mendekati Clara dan memegang kedua pundaknya dengan lembut namun erat.
"Alden, kutukan di tubuh Rin mulai bereaksi," bisik Clara dengan suara rendah agar tidak terdengar oleh kru lain. "Segel peraknya berdenyut hitam. Distorsi energi di luar sana... itu adalah mereka. Sekte The Obsidian Dawn telah menemukan posisi kita."
Mendengar kata-kata Clara, rahang Alden mengeras seketika. Genggaman tangannya di pundak Clara mengetat samar, menyalurkan ketegangan yang luar biasa. "Itu tidak mungkin. Perisai sihir The Sky Leviathan selalu diperbarui setiap minggu untuk menyamarkan tanda energi anak-anak."
"Mereka tidak melacak anak-anak dari luar, Alden. Retakan pada Kristal Obsidian di lambung kapal kemarin adalah pemicunya," jelas Clara cepat, matanya menatap lurus ke dalam mata abu-abu suaminya. "Kristal itu bertindak sebagai suar pemancar dari dalam kapal saat kita melewati badai magnetik barat kemarin. Energi badai memicu kebocoran segel hitamnya."
Belum sempat Alden membalas ucapan Clara, sebuah guncangan hebat kembali menghantam kapal terbang raksasa itu. Namun, kali ini guncangan tersebut tidak disertai suara gemuruh petir alam. Keheningan yang ganjil mendadak menyelimuti seluruh atmosfer di luar kapal.
"Kapten! Lihat ke luar!" teriak perwira navigasi dari arah jendela depan.
Clara dan Alden bergegas menuju kaca kemudi besar. Di depan mereka, di antara hamparan awan malam yang semula diterangi cahaya bulan, muncul gumpalan kabut hitam pekat yang bergerak melawan arah angin.
Kabut itu berputar-putar, membentuk siluet tiga kapal layar terbang berukuran lebih kecil dengan layar berwarna hitam legam tanpa lambang militer resmi. Di atas tiang-tiang kapal misterius itu, berkibar bendera dengan lambang mata satu berwarna ungu tua, simbol kebesaran Sekte The Obsidian Dawn.
"Bajak laut langit hitam," desis Alden, sepasang matanya memancarkan kilatan amarah yang mengerikan. Aura magis petarung langit miliknya mendadak berdesir hebat di udara ruangan, membuat beberapa kru kemudi di sekitarnya menahan napas ketakutan.
Namun, di tengah kemarahan dan situasi genting tersebut, Alden tidak melepaskan tangan Clara. Ia justru menarik tubuh Clara ke belakang punggung tegapnya, menjadikannya tameng hidup dari segala ancaman bahaya yang mungkin menembus kaca kemudi.
"Clara, dengarkan aku," kata Alden, membalikkan tubuhnya sedikit untuk menatap wajah istrinya. Suaranya terdengar sangat dalam dan penuh penekanan emosional yang kuat. "Turunlah ke kabin bawah sekarang juga. Bawa Leo, Rin, dan Toby ke ruang perlindungan rahasia di balik kamar kerjaku. Bernet akan memandukan jalurnya."
"Tapi Alden, mereka mengincar anak-anak. Jika mereka menggunakan sihir hitam pemecah segel, Rin dan Leo akan berada dalam bahaya besar jika kekuatan mereka terpicu secara paksa dari luar," bantah Clara, menggenggam erat tangan Alden yang bersarung kulit dengan tangan kanannya yang menggunakan sarung tangan Sutra Laba-laba Salju.
"Aku tahu, karena itu aku akan menghancurkan mereka di langit sebelum mereka sempat menyentuh lambung kapal ini," janji Alden dengan nada dingin yang mematikan, sebuah janji dari seorang Penakluk Badai Barat yang tidak akan membiarkan keluarganya disentuh oleh monster masa lalu lagi.
Pria itu menundukkan kepalanya, mengecup kening Clara sekilas dengan lembut, sebuah tindakan spontan yang penuh dengan rasa cinta dan ketakutan akan kehilangan yang mulai berakar di hatinya. "Pergilah, Clara. Jaga anak-anak kita. Aku mempercayakan mereka sepenuhnya kepadamu."
Clara tertegun merasakan sentuhan hangat di keningnya di tengah kepungan musuh yang mencekam. Rasa debar yang aneh namun menguatkan menjalar di seluruh dadanya. Ia tahu, di saat seperti ini, tugasnya bukan bertempur dengan pedang, melainkan menjadi jangkar emosional bagi ketiga anak tirinya agar kutukan di dalam tubuh mereka tidak lepas kendali selama pertempuran berlangsung.
"Kembalilah dalam keadaan selamat, Alden. Kami akan menunggumu di bawah," kata Clara dengan senyum penuh tekad, sebelum akhirnya berbalik cepat dan berlari meniti anak tangga menuju kabin bawah untuk melindungi buah hati mereka.
Di atas langit yang merambat malam, meriam-meriam sihir The Sky Leviathan mulai berputar dan mengarah ke armada hitam yang mendekat. Babak pertama penyesuaian diri Clara telah selesai dengan keberhasilannya memenangkan hati keluarga sang Kapten.
Namun kini, badai pertempuran yang sesungguhnya melawan kegelapan masa lalu telah resmi dimulai di atas samudra awan yang luas.