NovelToon NovelToon
Cinta Dan Belenggu

Cinta Dan Belenggu

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Romansa Modern
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lenny Utami

"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"


[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CNB 15

Sesampainya di rumah, Layla langsung berjalan menuju kamarnya.

Ia menutup pintu perlahan, meletakkan tas di atas meja, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan napas panjang yang seolah ingin mengeluarkan seluruh lelah yang menumpuk sepanjang hari.

Tubuhnya tenggelam di antara seprai yang lembut.

Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi langit-langit kamar.

Sunyi.

Tenang.

Tidak ada suara langkah kaki Zhao Lee.

Tidak ada tatapan mengawasi yang membuatnya selalu waspada.

Tidak ada perasaan sesak yang selama ini menempel di dadanya.

Senyum kecil pun muncul di bibirnya.

"Duh... capek banget."

Layla meregangkan tubuhnya.

"Semoga Zhao Lee pulang lebih lama dari yang seharusnya."

Ia membalikkan badan sambil memeluk bantal.

"Sudah lama aku nggak merasa bebas seperti ini."

Kebebasan kecil itu mungkin terdengar sepele bagi orang lain.

Namun bagi Layla, beberapa hari tanpa Zhao Lee terasa seperti udara segar setelah terlalu lama terkurung dalam ruangan yang pengap.

Ia bahkan mulai menikmati kesunyian itu.

Namun kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama.

Ponselnya yang tergeletak di atas nakas tiba-tiba bergetar.

Nama yang muncul di layar membuat senyumnya langsung menghilang.

Zhao Lee.

Layla memejamkan mata.

Menghela napas panjang.

Lalu membiarkan ponsel itu berdering beberapa kali.

Sebenarnya ia tidak ingin mengangkatnya.

Tidak ingin mendengar suara pria itu.

Tidak ingin berbicara apa pun.

Tetapi pengalaman telah mengajarinya satu hal.

Membuat Zhao Lee kesal sering kali berakhir dengan sesuatu yang jauh lebih merepotkan.

Pada akhirnya Layla meraih ponselnya.

Seketika ia mengubah ekspresinya.

Merapikan napas.

Lalu berpura-pura baru terbangun dari tidur.

"Halo..."

Suaranya sengaja dibuat serak.

"Ada apa?"

Di seberang sana terdengar suara

Zhao Lee yang tenang.

"Ini aku."

"Hm..."

"Ternyata kau tidur."

Layla mendengus dalam hati.

"Kalau bisa aku ingin tidur sampai kamu lupa jalan pulang."

Namun tentu saja kalimat itu hanya berani ia simpan sendiri.

"Baguslah."

Suara Zhao Lee terdengar lebih lembut dari biasanya.

"Jangan terlalu memaksakan diri bekerja."

"Lusa aku pulang."

Seketika ekspresi Layla membeku.

Senyum santainya menghilang.

Dadanya yang tadi terasa ringan mendadak kembali berat.

Lusa.

Cepat sekali.

Harapan kecil yang sempat tumbuh perlahan runtuh begitu saja.

Belum lama ia menikmati ketenangan.

Belum lama ia merasakan bagaimana rasanya bernapas tanpa merasa diawasi.

Namun kenyataan kembali mengetuk pintunya.

Dan nama Zhao Lee selalu datang bersama perasaan sesak yang sulit dijelaskan.

Layla menggigit bibirnya pelan.

Mencoba menyembunyikan kekecewaan dalam suaranya.

"Kenapa cepat sekali?"

Ia berusaha terdengar santai.

"Tidak apa kalau Anda ingin bersantai lebih lama di sana."

"Semua yang ada di sini baik-baik saja."

Zhao Lee tersenyum tipis di seberang sana.

Ia bisa mendengar dengan jelas nada kecewa yang berusaha disembunyikan Layla.

"Urusanku di sini berjalan lebih lancar dari perkiraan."

"Jadi aku bisa pulang lebih cepat."

Ia berhenti sejenak.

Kemudian menambahkan dengan nada yang terdengar santai.

"Terlebih aku tidak suka melihatmu semakin dekat dengan Benedict."

Layla langsung mengernyit.

"Melihatku?"

Pikiran itu muncul begitu saja.

"Bagaimana dia bisa tahu?"

"Apa dia mengawasiku lagi?"

Layla memutar bola matanya kesal.

"Mungkin Anda sebaiknya sekalian jalan-jalan saja."

"Katanya tempat wisata di sana terkenal."

"Pasti seru."

Terdengar suara tawa pelan dari seberang telepon.

"Layla."

"Aku yang mengelola tempat wisata itu."

Layla langsung terdiam.

"Oh..."

Suasana mendadak canggung.

"Oh begitu rupanya."

Zhao Lee mengembuskan napas panjang.

Entah kenapa ada rasa kecewa yang perlahan muncul di dalam dirinya.

"Aku suamimu."

"Tapi kau tidak tahu apa-apa tentangku."

Kalimat itu terdengar ringan.

Namun ada sesuatu yang lain di baliknya.

Sesuatu yang lebih mirip luka.

Layla menundukkan pandangan.

Kemudian menjawab tanpa ragu.

"Aku luruskan."

"Kita hanya menikah kontrak."

Keheningan sesaat memenuhi sambungan telepon.

Tak satu pun dari mereka mau mengalah.

Pada akhirnya Zhao Lee memilih mengubah topik.

"Baiklah."

"Lusa aku pulang."

"Mau kubawakan apa?"

Layla langsung menjawab cepat.

"Tidak perlu."

"Jangan bawa apa-apa."

Ia melirik jam dinding.

"Oh ya."

"Besok aku ada jadwal bertemu klien bersama Ben."

"Nampaknya aku akan sibuk seharian."

"Mungkin sulit dihubungi."

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Layla tidak menyadarinya.

Namun di ujung telepon sana, rahang Zhao Lee perlahan mengeras.

Bersama Ben.

Seharian.

Dua kata itu langsung menancap di kepalanya.

Layla bahkan memanggil pria itu dengan nama panggilan.

Ben.

Bukan Benedict.

Ben.

Terlalu akrab.

Terlalu dekat.

Dan Zhao Lee tidak menyukainya.

Sama sekali.

"Kalau begitu aku tutup dulu."

"Selamat malam."

Layla memutus telepon tanpa memberi kesempatan Zhao Lee menjawab.

Lalu melempar ponselnya ke atas kasur.

Merasa lega.

Tanpa menyadari badai apa yang baru saja ia picu.

Di kota lain.

Zhao Lee masih duduk diam sambil menatap layar ponselnya yang telah gelap.

"Seharian bersama Ben..."

Ia mengulang kalimat itu pelan.

Rahangnya mengeras.

Tatapannya berubah dingin.

Untuk seseorang yang mampu mengendalikan perusahaan raksasa dengan kepala dingin, rasa cemburu ternyata tetap mampu merusak ketenangannya dalam hitungan detik.

Ia membayangkan Layla dan

Benedict menghabiskan waktu bersama.

Berbicara.

Tertawa.

Bekerja berdampingan.

Dan entah kenapa...

Semua kemungkinan itu membuat darahnya mendidih.

Tanpa peringatan, ia menekan tombol interkom.

"Paman Chen."

Tak sampai semenit kemudian,

Paman Chen masuk ke ruangannya.

"Tuan?"

Zhao Lee berdiri dari kursinya.

"Perintahkan semua tim mempercepat pekerjaan."

"Semua target harus selesai malam ini."

Paman Chen mengangkat alis.

"Malam ini?"

"Jam sepuluh."

"Tawarkan bonus."

"Dan gaji dua kali lipat."

"Setelah itu mereka libur besok."

Paman Chen terdiam beberapa saat.

Lalu tersenyum tipis.

Ia mulai memahami apa yang sedang terjadi.

Dan penyebabnya jelas bukan urusan bisnis.

"Baik, Tuan."

Setelah Paman Chen pergi, Zhao Lee berjalan menuju jendela besar.

Lampu-lampu kota berkilauan di bawah langit malam.

Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.

Di kepalanya hanya ada satu nama.

Layla.

Ia tidak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan.

Tidak peduli berapa banyak jadwal yang harus diubah.

Tidak peduli berapa banyak orang yang harus bekerja lembur.

Yang penting hanya satu.

Ia harus pulang lebih cepat.

Sebelum Benedict memiliki terlalu banyak kesempatan.

Tatapannya berubah semakin dingin.

"Aku sudah memperingatkanmu,

Benedict..."

Suara Zhao Lee terdengar pelan.

Namun sarat ancaman.

"Jangan menyentuh apa yang menjadi milikku."

Mobil yang akan membawanya pulang sudah menunggu di bawah.

Malam terus berjalan.

Dan bersama gelap yang semakin pekat, sebuah rencana perlahan mulai terbentuk di dalam benak

Zhao Lee.

Benedict hanyalah satu bagian kecil dari masalah yang harus ia selesaikan.

Karena di balik semua itu, masih ada sosok lain yang belum muncul ke permukaan.

Seseorang yang selama ini mengirim surat ancaman.

Seseorang yang perlahan mulai terendus jejaknya.

Dan Zhao Lee tidak pernah membiarkan musuhnya bersembunyi terlalu lama.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

Dingin.

Berbahaya.

"Permainan ini hampir memasuki babak berikutnya."

****************

Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.

Terimakasih yang udah dukung aku

semoga hidup kalian lancar jaya..❤️

Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️

1
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
baru sembuh udah di suruh nikah. enggak beres ini si paman nya
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
dih
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
makin parahlah obsesi nya. enggak heran
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
kamu ini perempuan loh
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
siapa itu?
james
semua aku dirayakan ~Nadin
Mingyu gf😘
caramu salah zhao lee, kali ini aku mendukung layla membencimu
Mingyu gf😘
gak usah marah marah atuhh
Mingyu gf😘
aduhh baik banget rekan rekam baru kamu layla
Lenny Utami: lebih takut ke Zhao Lee seh ini /Sweat/
total 1 replies
james
akal-akalan cindo
james: awokawok
total 2 replies
james
untung saja dikasih
james
akit sih/Sweat/
RahmaYesi
Yok Monggo Layla, bawa aja Zhao Lee ke neraka sekalian
Lenny Utami: ya jangan dong ntar GK ada vilainnya 🤣
total 1 replies
RahmaYesi
waduhhhh 🫣
RahmaYesi
Benar banget, Zhao Lee curang
RahmaYesi
Loh loh loh....
Lenny Utami: ngapa mak
total 1 replies
Lenny Utami
Layla kamu yakin baik² saja?
Lenny Utami
Layla dah move on🤧
رزقي سانتوسو
berpikir positif: mungkin lagi sakit🙃
Lenny Utami: ayolahh traveling lahh 🤣🤣
total 1 replies
arsyila putri
waw, fantastis nilainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!