"Ugh..
aku harus..."
Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.
tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 5 : Bahaya?
"Hati-hati tuan, sepertinya dia mulai mengambil ancang..."
Tidak sempat memberikan informasi kepada Theo, White segera menarik Theo menghindari terkaman dari harimau tersebut.
Bruak!
'Sialan, harimau putih.'
Segera harimau itu menerjang Theo lagi, tetapi Theo sudah siap untuk menghindar.
Daar!
Duar!
Ketika harimau itu meleset, Theo menyadari adanya beberapa detik persiapan.
"Hei, Snow, White, ayo kita kalahkan harimau itu. Nanti, ketika dia menyerang, kita akan menghindar. Lalu, kita akan balik menyerang dengan pisau beracun." Meskipun berkata dengan yakin, dalam benak Theo tertanam rasa takut yang sangat dalam akan kematian.
"Ya" jawab kedua ular itu dengan kompak.
Harimau itu melompat, dan mendarat dengan kasar.
Theo menghindari serangan itu, hendak menyerang. Namun, sebuah pusaran angin mulai menyelimuti harimau itu.
Whuuush!
Perlahan-lahan, pusaran itu berubah menjadi angin ribut. Lalu, angin ribut berubah menjadi angin puting beliung yang besar.
"Lari!" Teriak Theo yang bersiap lari.
Tubuhnya berkeringat deras, jantungnya berdegup kencang.
'hidup. Aku harus hidup.'
Sebuah pikiran yang tertanam di benak Theo.
Sakit? Tentu saja, kakinya mulai berdarah. Efek dari berlari dengan kaki telanjang mulai terlihat.
Terlihat mata Theo mulai tidak bisa fokus. Namun, dirinya berusaha melawan rasa sakit itu.
Ketika Theo berhenti sejenak untuk beristirahat, ia melihat ke belakang.
Badum!
Badum!
Badum!
Terlihat jelas harimau itu ikut mengejar, menabrak pohon-pohon hutan.
Theo berhenti berlari, mau dipaksa bagaimanapun staminanya sudah habis sehingga dia tidak bisa lari lagi. Badannya sudah berubah merah padam, keringat mengalir deras dari badannya, dan jantungnya sudah mau meledak.
'Sakit. Rasanya jantungku mau meledak.
Gila, bagaimana bisa dia tetap mengejarku?'
Dia tahu, bahwa hari telah berubah malam. Hal itu kemudian memaksanya untuk menggunakan kemampuan penglihatannya.
Sekali lagi, harimau itu melompat dan menerkam Theo.
Theo segera menghindar, lalu ia melempar harimau itu dengan kedua pisau yang sudah berisi bisa.
"Akhirnya, berhasil. Sialan, hampir saja aku mati lagi." Ucap Theo dengan wajah yang agak tenang.
Anehnya, harimau itu tidak terjatuh. Dengan pisau lempar masih menancap di badannya, harimau itu mulai mengambil ancang-ancang.
Wajah Theo langsung berubah. Terukir jelas wajah ketakutan di wajahnya.
"Kenapa? Kenapa dia tidak jatuh?" Terdengar suara Theo bergetar seperti seseorang yang sudah kehilangan harapan.
"Tuan, bisa yang tuan suntikkan kurang banyak. Mungkin, untuk kucing itu tuan harus menyuntikkan 2 sampai 3 kali." Ucapan ringan dari White mengubah raut wajah Theo menjadi sedikit lebih cerah.
"Hah, baiklah. Terima kasih White atas informasinya." Theo mulai memfokuskan penglihatannya.
'Berarti, aku tinggal menyuntikkan bisa dua kali lagi.'
"Gawat, pisau itu masih tertancap di badannya." Gumam Theo.
Saat sedang memikirkan cara mengambil pisau itu, harimau itu segera melompat, menerkam Theo.
Tidak seperti sebelumnya, Theo berlari menghadang harimau itu. Kemudian, harimau itu mengayunkan cakarnya.
Dengan sigap Theo langsung meluncur di bawah perut sang harimau.
Sreeet
Theo segera menggapai kedua pisau itu.
Kraak!
"Sialan! Bagaimana bisa pisau itu patah?"
Theo dilanda kebingungan, salah satu pisaunya patah.
"Tuan, tinggal dua kali serang lagi."
"Sial, aku tau tapi pisau ini patah."
"Hei, jangan panik. Kucing itu akan semakin kuat kalau kau panik. Huft dasar manusia."
Theo segera berlari, melanjutkan langkahnya sampai ke gua tempat ia pertama kali datang ke dunia itu.
Graak!
Krataak!
"Sialan, harimau itu merusak mulut gua."
Theo segera bersembunyi, pisau lempar terakhir yang dimilikinya segera ia lumat dan ia berikan bisa.
'ukh, amis, anyir. Bagaimana bisa, aku harus mengemut barang semenjijikan ini?'
Di sisi lain, sang harimau terus menerus mengendus dan berusaha mencari keberadaan Theo. Naas, setiap serangannya menghancurkan gua membuat gua itu menjadi gelap total.
Theo menunggu di sudut gua yang tersembunyi, menunggu momen yang tepat untuk melancarkan serangan.
Detik demi detik berlalu, Theo berusaha mengendalikan nafasnya. Jantungnya berdegup kencang, memikirkan bagaimana jika apa yang sudah direncanakannya gagal.
Tidak lama, White mulai mengencangkan lilitannya. Kemudian, White berbisik.
"Sekarang tuan"
Theo segera keluar, dan menyerang harimau yang ada di depannya.
"Kena"
Theo merasa senang, karena serangannya mampu mengenai harimau itu.
Ketika ia melihat lebih lanjut dengan kemampuan penglihatannya, ia merasa kaget. Bagaimana tidak kaget, pisau itu tertancap di bagian janggut harimau.
Tentu, sebuah daerah yang paling rawan, karena daerah itu membuatnya dapat diserang oleh harimau itu.
"Sial, bagaimana bisa?"
"Hei, aku akan mengikatnya. Nanti kau ambil pisau itu."
"Tidak, kalau kamu melakukan itu, nanti kamu bisa mati." Balas Theo kepada Snow.
"Memang mau bagaimana lagi?" Ujar Snow.
"Jangan aku akan memutar otak."
Theo segera mengendap-endap ke sudut batu yang tersembunyi. Memikirkan cara untuk mengambil pisau itu.
Ketika dilihat lagi, Theo sadar bahwa harimau itu seringkali menyerang menerjang angin.
Terlihat jelas kalau harimau itu tidak dapat melihat dalam kegelapan total.
'aku bisa menggunakan hal tersebut.'
Theo segera mengambil sebuah kerikil. Lalu, ia melemparnya ke belakangnya persis sebuah tembok besar yang cukup kokoh.
Harimau itu langsung melompat menerjang tembok. Cakarnya mengayun membabi-buta, beruntung Theo bisa menggapai pisau di janggutnya dan segera melepaskan diri.
Theo kembali ke celah batu yang tersembunyi, dan lagi-lagi mengemut ujung pisau itu. Mengisi ulang bisa untuk melumpuhkan harimau.
"Tuan, serangan terakhir."
Theo segerang mengangguk kecil. Kemudian, ia menatap mengawasi harimau itu sembari mengendap ke arah luar gua.
Beruntung, ada celah kecil yang pas untuknya keluar dari gua. Lalu, ia segera mencari tempat sembunyi dan sebuah batu kerikil.
Harimau itu mulai mengendus lagi, kanan, kiri, depan, belakang. Kosong, semuanya kosong, tidak ada sedikitpun kehidupan di sana.
Kemudian, Theo segera melempar kerikil ke depannya. Menyebabkan harimau itu langsung melompat ke arah depan Theo.
Harimau itu melayang, hendak menerkam sumber bunyi kerikil jatuh tadi.
"Hiat! Rasakan serangan terakhir!"
Jleb!
Pisau taring itu menancap tajam, menyebabkan harimau itu mulai meronta-ronta. Harimau yang meronta-ronta, menyebabkan seisi gua bergetar.
Namun, ketika Theo hendak keluar, harimau itu seakan mampu menyerangnya.
Slaash!
Sebuah cakaran tajam mengarah ke punggung Theo. Menyebabkan punggung Theo berdarah, dan meninggalkan bekas cakaran yang khas.
Tiba-tiba, Snow dan White pergi melilit kaki harimau itu.
"Hei monyet sialan! Cepatlah keluar dari gua ini!"
"Tuan, biarkan kami menahan harimau ini!''
"Tapi... Kalian..." Sekilas nampak keraguan di dada Theo.
"Cepatlah monyet lamban! Atau kita bertiga akan mati di sini!"
"Baiklah, kalian jaga diri ya. Berjanjilah untuk bertemu denganku di luar gua."
"Ya tuan, kami berjanji. Lagipula tubuh kami dapat menghindari batu yang runtuh. Kamipun dapat melewati celah batu untuk keluar dari gua ini."
Dengan berat hati Theo berbalik meninggalkan kedua ular itu bersama dengan harimau.
"Maaf... Maafkan aku..." Theo mulai menyesal dan bergumam terus sambil berlari ke mulut gua.
Kretek!
Batu batu mulai retak, dan Theo dapat melihat kalau harimau itu mulai terkubur.
Ia segera melompat dan meluncur melalui celah kecil di mulut gua.
Kretek!
Kretek!
Baduuuum!
Terdengar ledakan besar di sekitar gua itu.
Sejam berlalu...
Dua jam berlalu...
Berjam-jam berlalu...
Tentu, di sela jam itu Theo segera mencari buruan. Menyiapkan supaya kedua ular itu bisa makan setelah keluar.
Namun, melihat berjam-jam mereka tidak keluar, Theo mulai panik.
"Snow! White!" Theo terus meneriakkan nama mereka.
Ia terus memanggil mereka, lalu ia mulai mengangkat setiap puing-puing batu.
Sejam berlalu dengan sangat lama.
Jantung Theo berdegup kencang, membayangkan kematian kedua ular itu.
'Tidak, tidak, mereka tidak mungkin mati. Aku yakin.' pikiran Theo segera menepis semua pikiran buruk.
"Snow! White!"
Puing demi puing ia angkat, lalu ia banting ke belakang.
Bruak!
Bruak!
Bruak!
Tangan Theo mulai lecet dan berdarah, tapi rasa sayangnya pada kedua ular melebihi segala rasa sakit yang ada.
Setelah beberapa jam memindahkan puing, Theo melihat ada sebuah tumpukan batu aneh yang berukuran sebesar harimau tadi.
Ia segera menghampirinya, lalu ia mengambil batu demi batu gua yang runtuh.
"Sial.. sial.. sial.. sial!"
Kemudian, ia melihat sosok harimau yang tadi hampir membunuhnya. Disertai, dua sosok ular yang menemaninya.
***
End ch 5. Bahaya?
jangan lupa like dan comment