NovelToon NovelToon
Sistem Lempar Dadu Monopoly

Sistem Lempar Dadu Monopoly

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.

Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.

Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sinar matahari pagi menyengat wajah Budi melalui celah jendela kamar kosnya yang tidak tertutup tirai.

Budi terbangun dengan kaget dan langsung duduk bersila di atas karpet tipisnya.

'Jam berapa ini, astaga aku ketiduran di lantai semalaman.'

Dia segera menoleh ke arah jam dinding yang jarum pendeknya sudah menunjuk ke angka enam.

Budi mengusap wajahnya lalu pandangannya langsung tertuju pada layar laptop yang masih menyala.

Layar itu menampilkan lembar kerja berisi ribuan data nota yang semalaman dia kerjakan.

Dada Budi seketika dipenuhi oleh rasa lega yang luar biasa saat melihat semua pekerjaannya berbaris rapi.

Permen fokus pekerja keras dari sistem benar benar bukan omong kosong belaka.

Semua data dari dua kardus besar itu telah terinput dengan sempurna tanpa ada satu pun kolom yang terlewat.

Budi segera menyambungkan laptop bututnya ke jaringan internet menggunakan ponselnya.

Dia membuka kotak masuk email kerjanya dan melampirkan fail lembar kerja tersebut.

Alamat email Pak Anton langsung dia ketik di kolom penerima dengan senyum kemenangan yang mengembang di wajahnya.

Klik.

Tombol kirim ditekan dan sebuah notifikasi muncul menandakan email telah berhasil terkirim.

"Selesai sudah urusanku dengan nota nota sialan ini."

Budi bangkit dari lantai dan meregangkan otot otot tubuhnya yang terasa sedikit kaku.

Dia mengambil handuk lusuhnya dan bergegas menuju kamar mandi luar yang ada di ujung lorong kosan.

Pagi ini air bak mandi terasa lebih dingin dari biasanya tapi Budi sama sekali tidak peduli.

Dia mandi sambil bersenandung pelan karena suasana hatinya sedang sangat bagus.

Selesai mandi Budi mengenakan kemeja kerjanya yang paling rapi meski warnanya sudah mulai pudar.

Dia menyisir rambutnya dengan cermat menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang retak.

'Hari ini aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjak injak harga diriku lagi di kantor.'

Budi mengambil tas selempangnya dan melangkah keluar dari kamar kos dengan penuh percaya diri.

Tentu saja dia masih ingat rutinitas barunya pagi ini.

Budi berbelok ke arah gang sempit di belakang pemukiman warga untuk menghindari rute minimarket Maya.

Rasa malunya karena kejadian menyatakan cinta secara tiba tiba itu masih menempel kuat di kepalanya.

'Biar saja jalan memutar sedikit lebih jauh, yang penting aku tidak harus bertemu dengan Mbak Maya hari ini.'

Perjalanan menuju kantor memakan waktu sedikit lebih lama tapi Budi sampai di lobi gedung tepat waktu.

Dia melangkah masuk ke dalam lift bersama beberapa karyawan dari divisi lain.

Begitu pintu lift terbuka di lantai divisinya, Budi berjalan tegak menuju mejanya.

Suasana ruang divisi administrasi masih terbilang sepi karena ini baru pukul tujuh lewat empat puluh menit.

Siska sudah duduk di kursinya sambil memoles lipstik merah di bibirnya menggunakan cermin kecil.

Melihat kedatangan Budi, gerakan tangan Siska langsung terhenti.

"Loh Budi, kamu masih berani datang ke kantor hari ini."

Siska mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan mengejek yang sangat khas.

"Kukira kamu sudah kabur pulang kampung karena tidak sanggup mengerjakan tugas dari Pak Anton."

Budi menaruh tasnya di atas kursi dan menatap Siska dengan tatapan datar yang dingin.

"Kenapa aku harus kabur Siska, ini kan tempatku bekerja mencari uang."

"Lagi pula pekerjaanku sudah selesai semua, jadi tidak ada alasan untuk membolos."

Mendengar jawaban Budi yang sangat tenang, Siska malah tertawa pelan meremehkan.

"Hahaha, jangan bercanda kamu Budi."

"Mengetik dua kardus nota kusam dalam semalam itu mustahil, kamu pasti cuma asal asalan kan."

"Tunggu saja sampai Pak Anton datang, kamu pasti akan langsung dipecat hari ini juga."

Budi hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh dan memilih duduk di kursinya.

Dia menyalakan komputernya dan mulai merapikan meja kerjanya yang berantakan.

Tidak lama kemudian Reno datang dengan napas sedikit terengah engah karena berlari dari halte.

Reno langsung duduk di sebelah Budi dan menatap sahabatnya itu dengan ekspresi khawatir.

"Bud, bagaimana nasib laporan notanya semalam."

"Kalau belum selesai biar kita kerjakan berdua sekarang sebelum Pak Anton masuk ruangan."

Budi menepuk bahu Reno dengan pelan mengisyaratkan agar temannya itu tenang.

"Tenang saja Ren, semuanya sudah beres kok."

"Aku sudah mengirimkan hasilnya ke email Pak Anton jam enam pagi tadi."

Reno melebarkan matanya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Kau serius Bud, dua kardus penuh itu kau ketik sendirian semalaman suntuk."

"Kau ini manusia atau mesin cetak sih."

Budi hanya tersenyum misterius tanpa berniat menjelaskan keajaiban permen dari sistemnya.

Tepat pukul delapan teng, pintu utama ruang divisi terbuka dengan kasar.

Brak.

Pak Anton melangkah masuk dengan wajah garang seperti biasa sambil menenteng tas kerja kulitnya.

Suasana ruangan langsung berubah sunyi senyap seolah olah ada malaikat maut yang baru saja lewat.

Langkah kaki Pak Anton langsung mengarah lurus ke meja kerja Budi.

Dia berdiri berkacak pinggang di depan meja Budi sambil menatap tajam ke arah karyawan rendahan itu.

"Budi, mana hasil ketikan nota yang saya minta kemarin."

Suara Pak Anton menggelegar ke seluruh penjuru ruangan.

"Jangan bilang kamu belum mengerjakannya sama sekali."

Budi perlahan berdiri dari kursinya dan menatap langsung ke kedua mata bosnya itu tanpa rasa takut.

"Pekerjaannya sudah selesai semua Pak Anton."

"Bapak bisa memeriksa filenya sekarang juga di kotak masuk email Bapak, sudah saya kirim sejak subuh."

Pak Anton mengerutkan keningnya mendengar jawaban Budi yang sangat lugas.

Dia mendengus sinis seolah meragukan ucapan bawahannya tersebut.

"Bagus kalau begitu, mari kita lihat seberapa hancur hasil kerjamu yang terburu buru itu."

Pak Anton berjalan cepat menuju ruangannya sendiri yang berdinding kaca.

Dari luar Budi dan seluruh karyawan lain bisa melihat Pak Anton menyalakan komputernya dengan kasar.

Siska yang duduk di seberang menatap Budi dengan tatapan kasihan yang dibuat buat.

"Siap siap saja bereskan barang barangmu dari meja itu Budi."

Di dalam ruangan kaca, Pak Anton mengklik mousenya dengan sangat kuat untuk membuka email dari Budi.

File lembar kerja itu terbuka dan menampilkan deretan angka serta tanggal yang sangat panjang.

Pak Anton mengambil salah satu nota kusam dari tumpukan kardus di meja Budi yang belum sempat dibereskan.

Dia mencocokkan angka di kertas buram itu dengan baris pertama di layar komputernya.

Cocok sempurna tanpa ada satu pun angka yang meleset.

Pak Anton mengerutkan dahinya lalu mengambil nota lain secara acak dari tengah kardus.

Dia menggulir layar komputernya ke bawah dan mencocokkannya lagi.

Angkanya kembali cocok sempurna beserta keterangan nama barang dan tanggal transaksinya.

Wajah Pak Anton mulai terlihat sedikit pucat dari balik dinding kaca tersebut.

Dia mengambil lima nota berbeda sekaligus dan memeriksanya satu per satu dengan teliti.

Tidak ada satu pun kesalahan ketik atau spasi yang salah di seluruh dokumen tersebut.

Format tabelnya juga dibuat sangat rapi lengkap dengan perhitungan total pengeluaran otomatis di bagian bawah.

Ini adalah hasil kerja sekelas manajer senior, bukan hasil kerja staf administrasi biasa yang mengetik semalaman.

Pak Anton bersandar di kursinya dengan mulut sedikit terbuka karena tidak percaya.

Dia menatap layar komputernya cukup lama lalu mengalihkan pandangannya menatap Budi dari balik kaca.

Budi yang menyadari tatapan bosnya itu hanya memberikan senyuman tipis dan menganggukkan kepala dengan sopan.

Senyuman itu terasa seperti tamparan keras yang mendarat tepat di wajah kesombongan Pak Anton.

Pak Anton bangkit dari kursinya lalu berjalan keluar dari ruangan kacanya dengan langkah pelan.

Tidak ada lagi suara menggelegar atau wajah garang seperti sepuluh menit yang lalu.

Dia berdiri di tengah ruangan dan berdeham pelan untuk membersihkan tenggorokannya.

Ehem.

"Budi, hasil kerjamu sudah saya periksa barusan."

Semua mata di ruangan itu langsung tertuju pada Pak Anton menunggu vonis pemecatan Budi.

Siska bahkan sudah tersenyum lebar menantikan momen jatuhnya musuh bebuyutannya.

"Pekerjaanmu lumayan rapi dan bisa dibaca."

"Kembali bekerja seperti biasa dan bereskan kardus kosong di mejamu itu sekarang juga."

Setelah mengatakan kalimat singkat itu, Pak Anton langsung berbalik masuk kembali ke ruangannya dan menutup pintu rapat rapat.

Suasana ruang divisi seketika menjadi sangat hening.

1
Rickielessta
baguss...lanjutkan...semangat yaaa thoorr
Just Nokk
semangat 💪
irena
lanjut thor
Gege
baru juga 100jt kurang sebulan bud... masih belom milyarder namanya...🤣🤭 buka saja usaha sesuai kemampuan. misal bikin aplikasi kasir menengan kebawah tidak mahal tapi lengkap dan mudah via bahasa Excel. target 1 juta UMKM yang pakai beli..omset prediksi milyaran sebulannya...contoh lho bud...Yen cocok.
Ahmadi 241215: itu orang kantoran apa supir kantor murah apa gajihnya🤣
total 2 replies
Wega Luna
hidupnya berputar disitu saja ,kerja, supermarket,nasi goreng,kost ,main sistem🤭.GK ada suasana yang lain kah
Just Nokk
mangat Thor
Yui: makasih kak😊
total 1 replies
Gege
disini kesalahan othor. jelas jelas semalam dapat pengetahuannya, Eeh mengklaim nya kemarin siang...🤭🤣
Yui: terimakasih atas koreksinya/Applaud/
total 1 replies
adib
dua vote meluncur efek hari ni update banyak
Yui: Terimakasih kak🤭
total 1 replies
Gege
kita....othor aja kalee😄🤣🤭
Yui: Kita/Smile/
total 1 replies
Gege
kereen Thor.. dibawa ringan santai ceritanya... Yoo mas Budi lemparan dadu kedua dapat semilyar..🤣🤣
Gege
asik ringan ngalir ceritanya
Gege
gass lagi thorrr 10k kata
Gege
laah sisa 200k + 500k dibelanjakan 40k.. sisanya yaa 660k doong bud... sekolah engga ini..😄🤭
Alarycs: waduh
total 2 replies
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!