"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Penyamaran yangnSempurna
Keesokan harinya, suasana di kelas Hukum Perdata terasa sangat berbeda. Michelle masuk dengan wajah sombong, merasa di atas angin. Sebelum kelas dimulai, ia menghampiri meja Aruna dan melemparkan sebuah flashdisk.
"Ini, kerjakan tugas rangkuman bab sepuluh untukku, Paula, dan Gea. Besok pagi harus sudah ada di email kami masing-masing. Anggap saja ini kompensasi karena kakiku sakit," perintah Michelle seenaknya.
Aruna menatap flashdisk itu, lalu perlahan mengangkat kepalanya. Kali ini, senyum ramah yang biasanya ia berikan hilang. Wajahnya datar, namun memancarkan wibawa yang belum pernah mereka lihat.
"Mulai hari ini, aku tidak akan menyentuh tugas kalian satu kata pun," ucap Aruna jelas. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka menoleh.
"Apa kamu bilang?" Michelle melongo. "Kamu mau aku adukan ke Pak Baskara lagi?"
"Adukan saja. Tapi perlu kamu tahu, Pak Baskara bukan tuhan yang bisa mengatur jemariku untuk mengetik tugas untukmu. Silakan kerjakan sendiri jika kamu memang punya otak untuk melakukannya," balas Aruna tenang.
Di barisan tengah, Devan, sang ketua kelas yang tampan, bersama temannya yang berkacamata, Theo, mendadak tertawa lepas. Mereka berdua memang sudah lama muak dengan tingkah Michelle, tapi selama ini memilih untuk tidak ikut campur.
"Mampus! Akhirnya si pintar ini bicara juga!" seru Devan sambil bertepuk tangan kecil.
Theo menyesuaikan letak kacamata dan ikut menimpali, "Lagipula Michelle, kamu itu mahasiswa hukum. Kalau tugas merangkum saja tidak bisa dan harus menyuruh orang lain, lebih baik kamu pindah jurusan saja ke tata rias. Sepertinya itu lebih cocok untukmu."
"Kalian! Kenapa membela si aneh ini?" wajah Michelle memerah karena malu.
"Kami tidak membela siapa pun, kami hanya membela kebenaran," jawab Devan santai. "Semangat ya, Michelle. Bab sepuluh itu ada seratus halaman lebih. Selamat bergadang!"
Suasana kelas yang riuh itu mendadak hening saat pintu terbuka. Baskara melangkah masuk. Ia merasakan ketegangan di ruangan itu. Matanya langsung tertuju pada Aruna yang kini duduk tegak tanpa ekspresi, lalu beralih pada Michelle yang tampak kesal.
Baskara berdiri di depan kelas, menatap sinis ke arah Aruna seolah gadis itu adalah benalu di kelasnya.
"Sepertinya ada yang merasa sedang menjadi pahlawan di sini," sindir Baskara sambil membuka buku absennya. "Aruna Prawijaya, jangan biarkan pembelaan dari teman-temanmu membuatmu besar kepala. Di mata saya, kamu tetaplah mahasiswa bermasalah."
Aruna tidak membalas. Ia hanya mengambil pena dan bersiap mencatat. Ia tahu, semakin ia ditekan, semakin kuat ia akan bangkit. Dan Baskara... pria itu sama sekali tidak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan seseorang yang bisa menghancurkan reputasinya hanya dengan satu panggilan telepon, jika saja Aruna mau. Tapi Aruna belum mau. Ia ingin melihat sejauh mana "pangeran es" ini akan bertindak sebelum ia menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
Kehidupan asrama tidak jauh berbeda dengan di kampus. Aruna menempati sebuah kamar kecil bersama dua mahasiswi lain yang sejak awal sudah memasang dinding pembatas tinggi karena menganggap Aruna bukan "level" mereka.
Malam itu, saat Aruna sedang merapikan lemari pakaiannya yang tersembunyi di sudut gelap, ia mengeluarkan beberapa potong pakaian yang selama ini ia lipat rapi di bagian paling bawah. Salah satu teman sekamarnya, seorang gadis asal Italia, sempat melirik sekilas ke arah tumpukan kain yang dipegang Aruna.
"Eh, lihat bahan jas itu," bisik gadis itu pada temannya yang lain. "Potongan jahitan di kerahnya... itu mirip sekali dengan koleksi terbatas desainer dari Paris tahun lalu."
"Mana mungkin," balas temannya dengan suara rendah. "Paling-paling barang tiruan yang dibeli di pasar loak. Mana mungkin gadis yang makan nasi bungkus tiap hari punya baju semahal itu."
Meskipun curiga, mereka terlalu angkuh untuk bertanya. Aruna hanya diam, menutup lemarinya dengan tenang. Ia belum ingin mengenakan pakaian itu.
Keesokan paginya, London dilanda hujan badai yang membuat suhu udara anjlok. Aruna terbangun kesiangan karena alarm ponselnya mati. Ia panik. Saat memeriksa jemuran kecil di dekat jendela, ia menyadari kemeja lusuh yang biasa ia gunakan masih basah kuyup karena terkena tempias hujan.
"Sial, tidak ada baju lagi," gumam Aruna frustrasi.
Satu-satunya pakaian bersih yang tersisa adalah sebuah kaos hitam polos berbahan premium yang ia bawa dari rumah. Masalahnya, kaos itu berpotongan slim-fit yang sangat mengikuti lekuk tubuhnya, jauh berbeda dengan jaket parka kedodoran yang biasa ia pakai untuk menyembunyikan identitasnya.
Karena waktu sudah mepet, Aruna terpaksa memakainya dan memadukannya dengan rok panjang berwarna abu-abu. Ia bahkan tidak sempat mengepang dua rambutnya seperti biasa. Ia membiarkan rambut hitamnya yang panjang dan sehat itu tergerai berantakan begitu saja karena sisirnya entah terselip di mana.
Aruna berlari menyusuri koridor kampus tepat saat bel berbunyi. Di dalam kelas, Baskara sudah berdiri di balik meja dosen, menatap jam tangannya dengan wajah yang sudah tertekuk kesal.
Tok! Tok!
Pintu terbuka pelan. Aruna muncul dengan napas yang sedikit tersengal. "Maaf, Pak... saya terlambat satu menit."
Seluruh kelas mendadak hening. Bahkan Michelle, yang biasanya langsung melontarkan hinaan, terpaku di tempat duduknya.
Tanpa kuncir dua yang kekanak-kanakan, wajah asli Aruna yang elegan dan berkelas terlihat jelas. Rambutnya yang tergerai membingkai wajahnya dengan sempurna. Meski tanpa riasan sedikit pun, struktur wajahnya yang tegas menunjukkan bahwa dia bukan berasal dari sembarang garis keturunan. Kaos hitam ketat itu juga memperlihatkan bahwa di balik kesan "lemah" selama ini, Aruna memiliki postur tubuh yang sangat terjaga.
Baskara tertegun sejenak. Matanya memicing, menatap Aruna dari pintu hingga gadis itu melangkah mendekat. Ada denyut kaget di balik wajah dinginnya, namun ego Baskara lebih besar.
"Satu menit tetaplah terlambat, Aruna Prawijaya," ujar Baskara, berusaha menetralisir suaranya yang sempat tercekat. Ia memberikan tatapan sinis yang dipaksakan. "Masuk dan duduk. Dan lain kali, tolong perhatikan cara berpakaianmu. Ini universitas, bukan tempat untuk pamer bentuk tubuh."
Aruna menunduk, merasa sedikit tidak nyaman. "Maaf, Pak. Baju saya yang lain basah."
Ia berjalan menuju bangku depan. Saat melewati barisan tengah, Devan dan Theo tidak bisa menyembunyikan senyum mereka. Devan bahkan memberikan jempol sembunyi-sembunyi di bawah meja.
"Sst, Aruna!" bisik Devan saat Aruna duduk di depannya. "Cantik juga kalau rambutnya dilepas begitu. Kenapa tidak dari dulu saja?"
Theo ikut mengangguk sambil membenarkan letak kacamatanya. "Sepertinya kelas kita akan jadi lebih menarik hari ini."
Aruna hanya memberikan senyum tipis, kali ini bukan senyum ramah yang biasanya, melainkan senyum sopan yang sangat berjarak. Ia segera membuka bukunya, berusaha mengabaikan tatapan mata Baskara yang sejak tadi tidak berhenti memperhatikannya secara diam-diam dari depan kelas.
Baskara berdehem keras, mencoba memecah suasana yang mendadak canggung baginya. "Buka buku kalian. Hari ini kita bahas kasus sengketa properti. Dan saya harap tidak ada yang melamun hanya karena penampilan teman kalian berubah sedikit."
Kalimat terakhir Baskara justru membuat Michelle semakin geram. Ia meremas pulpennya hingga hampir patah. Ia menyadari satu hal, Aruna yang "berdandan" ala kadarnya saja sudah bisa mengalihkan perhatian satu kelas, termasuk menarik perhatian dingin dari Baskara.
Pertempuran di kelas Hukum Perdata itu baru saja memasuki babak yang lebih panas.