Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?
Bab 22 (Jaring-Jaring yang Mulai Merapat)
Tiga hari setelah rencana busuk Baskoro tersusun di apartemennya, suasana di kantor pusat Wijaya Group tampak seperti biasa bagi karyawan awam. Namun, di lantai tertinggi gedung, ketegangan tersembunyi sedang terjadi. Yudha berdiri di ruang kerja pribadi Adrian dengan kening berkerut dalam, menatap layar komputernya yang menampilkan data lalu lintas jaringan keamanan internal.
Sebagai tangan kanan tepercaya, Yudha memiliki insting yang sangat tajam. Sejak Baskoro diskors, ia tidak pernah semenit pun menurunkan pengawasannya terhadap sepupu bosnya itu.
"Ada apa, Yudha?" suara dingin Adrian memecah keheningan saat pria itu melangkah masuk dari lift pribadi. Ia baru saja tiba dari penthouse setelah memastikan Arini meminum vitamin paginya.
Yudha segera memutar layar monitornya ke arah Adrian. "Pak, sistem keamanan siber kita mendeteksi ada upaya peretasan berulang pada basis data rekam medis yayasan rumah sakit Wijaya. Seseorang mencoba mengakses riwayat pemulihan pasca-operasi dari Ibu Nona Arini."
Mata elang Adrian seketika berkilat tajam. Aura dingin langsung menguar dari tubuhnya. "Baskoro?"
"Alamat protokol internetnya disamarkan dengan sangat rapi menggunakan peladen luar negeri, Pak. Tapi tanda jejak digitalnya sangat mirip dengan metode yang digunakan biro detektif swasta suruhan Baskoro bulan lalu," lapor Yudha cekatan. "Bukan hanya itu. Tim lapangan saya di rumah sakit melaporkan ada sebuah mobil hitam tanpa pelat nomor resmi yang sering terparkir di seberang gerbang paviliun perawatan ibu mertua Anda selama dua hari terakhir."
Adrian mengepalkan tangannya di atas meja kerja, membuat buku-buku jarinya memutih. "Baskoro benar-benar bosan hidup. Dia tahu dia tidak bisa menembus pengamanan di penthouse, jadi dia mengincar ibu mertuaku untuk dijadikan sandera politiknya."
"Apa perintah Anda, Pak?" tanya Yudha profesional, bersiap mencatat instruksi taktis.
"Pindahkan Ibu sekarang juga malam ini," perintah Adrian final tanpa ragu sedikit pun. "Gunakan helikopter medis pribadi keluarga untuk membawa beliau ke sanatorium privat milik kita di Bogor. Tempat itu terisolasi dan pengamanannya setara dengan pangkalan militer. Jangan sampai ada satu pun media atau pihak luar yang tahu."
"Baik, Pak. Saya akan mengoordinasikan tim medis dan keamanan bandara sekarang juga," jawab Yudha sebelum membungkuk hormat dan bergegas keluar dari ruangan.
Malam harinya, di penthouse Sudirman, Arini sedang duduk di sofa ruang tengah sambil mengelus perlahan perutnya yang masih rata. Meskipun Adrian menyembunyikan masalah ini dengan sangat rapi agar istrinya tidak stres, insting seorang ibu hamil tampaknya membuat Arini merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sejak sore, suaminya itu terus-menerus menerima telepon dari Yudha dengan wajah yang sangat kaku.
Pintu lift pribadi berdenting, menampilkan sosok Adrian yang melangkah masuk dengan setelan jas yang sudah tidak rapi lagi. Wajah tegasnya tampak sedikit lelah.
"Mas..." Arini berdiri dari sofa, melangkah mendekat dan langsung memegang kedua lengan kokoh suaminya. "Ada masalah apa di kantor? Wajahmu tegang sekali sejak tadi siang."
Adrian menatap dalam ke manik mata Arini. Ia mengembuskan napas perlahan, lalu meraih kedua tangan ramping istrinya dan membawanya ke depan bibir untuk memberikan kecupan hangat yang sangat lama. Sifat posesifnya mendadak muncul kembali. Ia menarik tubuh Arini ke dalam dekapannya, memeluknya dengan sangat erat seolah takut kehilangan wanita itu.
"Tidak ada masalah di kantor, Sayang," bisik Adrian rendah di dekat telinga Arini. "Hanya urusan logistik perusahaan yang sedikit menyita waktu."
Arini melepaskan pelukan mereka sedikit, menatap mata elang Adrian dengan pandangan menyelidik khas seorang akuntan. "Jangan bohong padaku, Mas. Aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Apa ini ada hubungannya dengan Baskoro?"
Adrian terdiam selama beberapa detik, menyadari bahwa mengelabui kecerdasan Arini bukanlah tugas yang mudah. Ia akhirnya menundukkan kepala, menempelkan dahinya pada dahi Arini sembari mengusap lembut pipi istrinya yang mulai merona.
“Aku hanya baru saja memindahkan ibumu ke sanatorium privat di Bogor, Baby," aku Adrian jujur dengan suara serak yang seksi. "Udara di sana jauh lebih bersih untuk pemulihan paru-paru beliau pasca-operasi. Yudha sudah mengurus semuanya, dan ibumu sekarang sudah tiba dengan selamat di sana."
Arini tertegun, menatap Adrian dengan binar mata yang penuh rasa haru dan syukur. Meskipun ia tahu ada alasan keamanan di balik pemindahan mendadak itu, perhatian luar biasa dari suaminya yang rela melakukan apa saja demi melindungi keluarganya membuat benteng emosional di hatinya semakin meleleh.
"Terima kasih banyak ya, Mas..." bisik Arini manis, perlahan menjinjitkan kakinya untuk mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir Adrian.
Mendapat kecupan spontan yang manis dari sang istri, kendali logika Adrian seketika goyah. Ia membalas ciuman itu dengan lumatan yang dalam, intens, dan penuh rasa kepemilikan yang posesif, mengunci tubuh ramping Arini di bawah temaram lampu tawang malam itu. Badai konflik mungkin sedang mengintai di luar sana, namun di dalam pelukan hangat mereka, jalinan cinta nyata mereka kini telah menjadi sebuah kekuatan yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun.